Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Sedikit Pergerakan


__ADS_3

''Seandainya aku boleh memilih kuingin pertemuanku denganmu tidak seperti itu," kataku padanya.


"Sayangnya tidak, jika itu pilihanmu kita tak akan mungkin bertemu, karena sepeninggal istriku, aku suka melakukan dengan wanita-wanita milik tuan John," kata Peter padaku.


"Ya, kau betul," kataku sambil menerawang jauh.


"Kenapa, kau menyesal?" tanyanya padaku


"Menyesal, tak ada gunanya juga bukan? Semua telah terjadi yang bisa di lakukan hanya bisa berbuat lebih baik. Sama, ketika aku dilahirkan dari keluarga mafia apakah aku bisa memilih, tidak bukan?" tanyaku padanya


Dia menghampiriku, lalu memelukku. "Sudah berhentilah berbicara yang akan melukai diri sendiri! Aku berjanji akan menjagamu dan menghargaimu, istirahatlah biar segera sembuh. Agar aku bisa segera menikahimu," katanya sambil terkekeh.


"Tidak! Kau harus tahu siapa aku, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari," kataku dengan menatapnya sendu.


"Aku tak akan menyesal, karena aku juga bukan orang baik, jadi ayo kita sama-sama melangkah memperbaiki diri!" ajaknya padaku.


"Sungguh, kau tak akan menyesal?" tanyaku padanya.


"Kenapa kau cerewet sekali hari ini? Lalu dulu kenapa kau hanya diam saja gak mau bicara?" tanyanya padaku


"Karena dulu aku masih shock bahkan tak memahami kehidupanku selanjutnya. Aku mengalami hal yang menyakitkan di hari itu juga," kataku pada Peter.

__ADS_1


"Cukup bicaranya jangan teruskan lagi! Apa kau tidak lelah?" tanyanya padaku dan aku hanya menggeleng.


(Pov Angga)


Aku masuk ke dalam taksi lalu melaju dengan sedang menuju apartemennya.


Aku keluar dari taksi saat berhenti tepat di depan gedung apartemenku. Aku menarik koper melewati lobby dan masuk kedalam lift lalu keluar berjalan menuju apartement, menempelkan key card, pintu terbuka, aku masuk dan berjalan ke kamarku meletakan koper di bawah lantai kamarku.


Aku masuk dalam kamar mandi membersihkan tubuhku, setelah 15 menit kemudian, aku pun keluar lalu berganti pakaian dan naik ke atas ranjang, mengistirahatkan tubuhku sebentar.


Jam 12 aku terjaga dan menunaikan sholat duhur setelah itu, keluar Apartemen mencari makan siang.


Aku parkirkan mobilku restoran masakan Padang, lalu di sana aku memesan nasi dan rendang daging serta segelas Kopi hitam.


Selama satu jam menempuh perjalanan aku sampai di area parkir, aku pun berhenti kulepaskan sabuk pengamanku dan keluar dari mobil lalu berjalan di koridor rumah sakit, menuju ruang perawatan Hardian.


Dia pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan terlihat lelaki gagah berbaring lemah di atas Ranjang dengan kabel-kabel terhubung.


Aku mendekati dan berkata, "Dengarlah! Aku sudah kembali, itu tandanya aku telah membawa bukti-bukti yang akan calon istrimu keluar dari tahanan. Jika dia sudah keluar maka akulah yang menikahinya, lalu kenapa menunggumu, sementara kesadaranmu tidak dapat diprediksi. Mungkin saja kau tidak akan bangun, lalu bagaimana? Apa menunggumu seumur hidup? Tidak kan? Ya sebab itu akulah yang akan menikahinya, jika kau tidak rela maka segera bangunlah!" kataku pada pria terlelap itu.


Ku lihat tangannya ada pergerakan sedikit, aku tersenyum. Setelah berbicara aku pun keluar berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju mobilku, setelah itu aku pun masuk dan melarikan dengan kecepatan sedang menuju klinik Revan.

__ADS_1


Setelah sampai mobilku berhenti di depan kliniknya, lalu aku keluar dan berjalan masuk menemui pelayanan kesehatan, kemudian langsung ke kantor Revan.


Aku mengucap salam sebelum masuk ke ruangannya, dia pun membalasnya lalu mempersilakanku duduk.


"Bagaimana? Apakah aku bisa melihatnya?" tanyaku padanya


"Tentu kau boleh melihatnya agar kau perkembangannya," katanya padaku


Aku pun diajak di ruangan Mbak Indah, kulihat dia sudah bisa berbicara dengan ibunya sambil tertawa. Aku pun masuk ke dalam bersama temanku.


"Hello, Mbak, apa kabarmu?" tanya Revan


"Baik, Dok, saya sehat," kata mbak indah


"Mbak saya pernah bilang ada orang yang menolong Anda yaitu dia teman ku namanya Angga," katanya pada mbak Indah


"Hello, Mbak Indah saya Angga, senang bertemu Anda dengan keadaan sehat," kataku padanya.


"Terimakasih, tuan Angga saya akan bersedia bersaksi di persidangan nanti," kata mbak indah.


"Terimakasih, Mbak, cepat sehat dan bisa jadi penolong orang yang tak bersalah," kataku padanya. Dia hanya mengangguk.

__ADS_1


Aku dan Revan keluar dari ruangan Mbak Indah, lalu lalu kembali ke ruang kerja Dokter Revan. Kami berbincang-bincang sebentar setelah itu, aku berpamitan padanya.


Aku keluar dari klinik Revan dan masuk kedalam mobil.dan melajukan mobilku menuju tempat dimana aku akan bertemu dengan tuan Erwan.


__ADS_2