
Nafizah tertawa. "Papi nawari om Rudi nikahi mami? Jelas maulah, Om Rudi itu dari dulu suka mami, cuma segan karena majikan."
Aku tersenyum, serasa hatiku bahagia bisa membuatnya tertawa lepas.
"Tertawakan, Papi! Jika itu membuatmu bisa tertawa seperti ini. Papi relah karena telah mengambil senyummu, Nak. Maafkan, Papi," kataku sambil meraih jemari tangannya
"Tidak perlu minta maaf lagi. Papi ada di sampingku untuk menjalani kesedihanku sudah membuat aku bahagia, karena ada tangan yang menggenggamku agar tetap kuat menjalaninya, terimakasih," katanya sambil tersenyum manis.
Aku berhenti di sebuah butik. "Tunggu sebentar yaa," kataku padanya.
Lalu aku masuk kedalam butik membelikan putriku gamis dan hijab serta masker, aku tak ingin dia menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya.
Setelah kudapatkan yang kembali ke mobil mengetuk jendela dan terbuka. "Ganti dulu pakaianmu, sayang," kataku sambil memberikan bungkusan kantong plastik kepada Nafizah.
Aku menunggunya di luar setelah putriku berganti pakaian, aku pun masuk mobil dan mejalankannya kembali ke rumah sakit.
Tak terasa sudah sampai, kami pun keluar dari mobil dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit hingga sampai di ruangan Hardian calon menantuku itu.
__ADS_1
Kami masuk kedalam, terlihat banyak kabel di tubuh lelaki itu. Nafizah berjalan menghampiri pria itu dan duduk di kursi depan ranjang Hardian.
"Mas, ini aku tolong bangunlah! Aku saat ini mendekam di deruji besi, hanya engkau yang tahu siapa pelakunya. Semua orang sedang mencari bukti tapi belum mendapatkan hingga kini," kata Nafizah
Aku membiarkan putriku berdialog dengan calon suaminya. Aku berharap dengan datangnya Nafizah kesini bisa menarik dari alam bawah sadar Hardian untuk segera bangun dari koma.
Hampir tiga jam putriku berdialog dengan calon suaminya, setelah itu kuputuskan untuk mengajaknya keluar. Dia pun pamit pada calon suaminya untuk kembali sel tahanan.
Kami pun keluar dari ruangan itu, lalu aku menelpon Kayla agar bisa bertemu dengan putrinya, di sebuah restoran.
Aku menggandengnya menyusuri koridor keluar dari rumah sakit lalu kami masuk ke mobil kemudian berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah restoran, sepanjang perjalanan dia menyandarkan kepalanya di dadaku.
Kayla berdiri menyambut putrinya, dia merentangkan tangannya dan Nafizah masuk dalam dekapan sang bunda.
"Selamat Mami, Om Rudi," ucap putriku sambil melirikku aku mengangguk dan tersenyum lalu duduk di kursi di sebelah Rudi
Pelayan pun datang untuk mencatat pesanan kami, Rudi tiba-tiba mengajaku berbicara di tempat lain. Aku dan Rudi pun keluar ruangan.
__ADS_1
Berdiri di pojok ruangan kami pun berbincang. "Maaf Tuan saya mencintai Nyoya Kayla. Hidup saya tidaklah lama, biarkan di sisa hidup saya ini membahagiakan beliau. Setelah sepeninggal saya, jagalah dan cintai! Jangan pernah Anda lukai lagi!" kata Rudi padaku
Aku memejamkan mataku, lalu menghela nafas panjang. "Kau menderita sakit apa?"
"Kanker otak stadium empat, diprediksi hidup saya hanya mencapai enam bulan," katanya padaku.
Aku memeluk pria muda Itu. "Andai umurmu panjang dan Kayla bahagia bersamamu, aku rela kau bersanding selamanya dengannya," ucapku tulus pada pria yang kini telah menjadi suami dari mantan istriku.
"Trimakasih, Tuan. Ayo kita kembali jangan sampai mereka menunggu lama," kata Rudi padaku. Aku pun mengangguk dan kembali keruang private.
Begitu kami masuk di todong dengan pertanyaan Kayla pada Rudi. Aku hanya tersenyum pahit ketika melihat tatapan Kayla yang penuh dengan cinta pada suaminya, kuyakin mereka telah mereguk manisnya cinta.
Kami pun makan bersama dan mulai berbincang-bincang sedikit, lalu kami pun berpisah. Aku melanjutkan kencan dengan putri tercintaku, sementara mereka pulang kerumahnya.
Kami mengunjungi beberapa tempat, saat waktu sholat kami berhenti di masjid untuk melaksanakan sholat lalu aku mengantarkan putriku kembali ke lapas.
Sesampainya di sana kuantar hingga di ruang tunggu, kupeluk putriku dan ku cium keningnya. "Akan ku usahakan untuk mengurus ijin keluar lagi agar kau bisa mengunjungi calon suamimu." Dia mengangguk dan pergi meninggalkanku kembali ke sel tahanan.
__ADS_1
Aku menatap punggung putriku hingga hilang di sudut ruangan. Aku berjalan keluar menuju mobil, lalu masuk ke dalam kemudian melajukan dengan kecepatan sedang menuju apartementku.
BERSAMBUNG....