Takdir Nafizah

Takdir Nafizah
Jangan Naura


__ADS_3

Aku kembali ke hotel dengan perasaan yang terluka, ingin ku hancurkan saja mereka berdua, alangkah menyenangkan, jika aku bisa menggagalkan rencana pernikahan mereka, mungkin dengan fitnah atau apapun yang terpenting saat ini adalah project untuk menggagalkan pernikahan mereka.


Hingga aku mendapatkan informasi, bahwa tuan Hardian yang memesan sebuah gaun yang istimewa, untuk acara sehari sebelum akad nikah, aku tahu dari pemilik butik, padahal itu pesanan sangat spesial dan hanya di produksi satu saja, harusnya pemilik butik tidak memberi tahukan pada pihak lain tapi justru malah mengingkari sebuah kesepakatan tentang gaun tersebut.


Akhirnya aku pun bisa memiliki satu rancangan yang sama dengan kakakku, tak kukira pemilik butik itu pun menjualnya kembali ke pada orang lain, asal bisa membayar sejumlah uang yang di sebutkan itu.


Singkat kata Gaun yang tadinya hanya satu menjadi tiga Gaun. sang desainer menolak tapi pihak pemiliknya tetap bersikukuh untuk membuat tiga gaun. karena harganya memang fastastis.


Aku sangat senang ketika mendapatkan apa yang kuinginkan, aku sudah membayangkan apa yang harus kulakukan pada saat itu, ketika aku bertemu calon kakak iparku dengan pakaian yang sama dengan calon istri, pasti akan sangat mengejutkannya.


'Aku akan selangkah lebih maju untuk mendapatkannya,' pikirku.


aku kabarkan ini pada mamaku, dia terkejut mendengar apa yang kuceritakan padanya lalu dia berkata, "Aku akan menyusulmu."


Aku heran kenapa Mama harus menyusulku ke sini, Apakah ada sesuatu rencana yang akan dilancarkan oleh mamaku karena setahuku Mama begitu tidak suka kepada kak Nafizah.


Aku tak pernah berpikir sesuatu yang lebih detail dari mamaku, aku hanya berpikir bahwasanya Apa yang kulakukan saat ini adalah suatu rencana yang benar-benar hebat, di mana Aku nantinya akan memaksanya untuk membatalkan pernikahannya, dengan cara apapun.

__ADS_1


Hari Berganti Hari setiap ada waktu kesempatan, aku selalu menemuinya walau pada akhirnya aku harus diusir dari ruangannya, atau tidak bisa bertemu sama sekali, itu semakin membuatku menjadi ingin merusak kebahagiaan mereka, aku tak peduli tentang apa yang namanya saudara karena memang aku baru tahu bahwa aku punya saudara ketika usiaku sudah 15 tahun.


Persetan yang namanya saudara, aku tidak peduli yang penting hatiku saat ini adalah bahagia, membuatnya hancur adalah kebahagiaanku.


Beberapa kali aku datang ke kantornya, tapi tidak pernah bisa masuk, hingga suatu ketika aku diizinkan untuk bertemu dengannya. Akan tetapi aku harus menunggu seseorang yang masih berada di ruangan itu, walaupun tidak terdengar jelas, kurasa orang bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana, sebuah perdebatan atau bisa disebut pertengkaran yang hebat di dalam ruangan itu, Aku tidak tahu permasalahannya apa tetapi setelah satu jam berlalu maka wanita itu pun pergi dengan hati gusar.


Setelah perempuan itu pergi, aku pun diizinkan masuk lalu Mas Hardian pun menyuruhku duduk.


"Duduklah! Ingin ku katakan padamu, bahwa aku mencintai kakakmu, dan akan menikahinya, bukan hanya paras yang cantik tapi hatinya juga cantik dan lembut. Apakah kau tidak menginginkan sifat yang seperti kakakmu memiliki? Apa yang kau lakukan padaku akan sia-sia saja, ketika seseorang tidak mempunyai ketertarikan terhadapmu dan kau memaksanya maka tidaklah ada gunanya, hatinya tetap tidak akan kumiliki, maka ku sarankan padamu berhentilah! Mulai mencintai kakakmu karena sebenarnya dia pun juga mulai menyayangimu, sebagai seorang adik jadi jangan pernah kau lukai hatinya," katanya padaku.


"Kau ingin merubah niatku, tak akan pernah terjadi padaku, jika aku ingin memilikimu, maka harus memilikimu, jika tidak, orang lain tidak boleh memilikinya, walaupun itu kakakku," kataku padanya


"Aku tidak perlu alasan untuk membenci seorang, Aku hanya tidak ingin kasih sayang ayahku terbagi dan karena aku tertarik padamu, itu sebabnya aku tetap ingin memilikimu walau aku tak akan pernah memiliki hatimu, tidak masalah, yang penting dia tidak jadi menikah denganmu," kataku padanya.


"Kau gila, Kau benar-benar gila, bahkan tidak punya hati pada orang yang masih mengalir dari darah yang sama, justru kau yang merebut kasih sayang ayahnya, usia di usia tujuh tahun pria yang kau sebut daddy itu meninggalkannya untuk menikahi ibumu, dan kau mendapatkan kasih sayangnya, dari bayi hingga sekarang," katanya padaku.


Jika kau ingin menghentikan niatku kau salah, Tuan, Aku tak akan berhenti apapun yang kau katakan padaku, tak akan berhenti, jadi jangan sia-siakan waktu dan tenaga, untuk memberitahukan padaku dan nantikan saja apa yang akan bisa kulakukan padamu," kataku padanya.

__ADS_1


"Pergilah! Aku sudah memberitahukan apa yang ingin ku beritahukan padamu, setelah ini jangan pernah kau temui aku," katanya padaku.


Aku pun meninggalkan ruangannya dengan hati yang begitu marah, hingga akhirnya aku tetap ingin melakukan rencanaku yaitu menggagalkan, pernikahan.


Di sore harinya aku pergi ke apartemennya, yang baru ku tahu siang tadi, dari anak buah mamaku.


Aku mau mengetuk pintu dan tak lama kemudian, terbuka. Terlihat olehku seorang pria gagah berdiri di depan pintu dan dia terkejut ketika aku memakai baju yang sama, ia pun bergegas pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua untuk mengambil handpone, dan keluar dari kamarnya dan berdiri di ruang kosong yang terbuka.


Dia pun sibuk menghubungi sebuah nomor yang pada akhirnya tersambung, Dia mulai berbicara dengan serius, kudengar dia memaki butik tersebut, setelah selesai ia menatapku dan bertanya," "Kenapa kau bisa masuk di sini?" tanyanya padaku


"Tentu saja aku bisa masuk disini karena pintunya terbuka," jawabku sambil tersenyum.


Dia melihat pintu itu masih terbuka ia menghela nafas.


"Kenapa kau lakukan ini? Jika ku tahu akan terjadi padaku seperti ini, mungkin aku akan memilih menelpon ayahmu saja," katanya padaku.


"Batalkan pernikahan Mas ataukah aku memotong nadiku di sini dan kau akan punya masalah setelah ini," kataku padanya

__ADS_1


"Jangan, Naura!'' Dia memukul tanganku yang memegang pisau dan benda tajam itu pun lepas dari gengamanku. Namun, aku melihat sebuah tangan yang memakai sarung tangan, dengan cepat mengambil benda itu dan menusukkan keperut mas Hardian dan langsung mencabutnya, pria yang belum sempat berdiri tegak itu terhuyung ke belakang dan terdorong kuat oleh kedua tangan wanita yang bersarung tangan itu. Tubuh mas Hardian itu pun jatuh ke bawah menimpah meja kaca.


__ADS_2