
SETELAH memotret Lesti dan Putra, Billar menyerahkan semua editing foto mereka kepada karyawannya. Dibalik foto yang romantis mereka terdapat, jiwa yang teriris. Billar mengempaskan tubuhnya di kursi kantornya, apa benar perempuan yang ditaksirnya sudah dimiliki? Billar menganggap semua yang Lesti ucapkan tempo hari hanya omong kosong, tapi, sekarang kenyataan sepakat kalau sepertinya mereka memiliki hubungan spesial apalagi pikirannya kembali mengumbar tentang instastory Lesti.
Billar menghela napas cukup panjang, membuang jauh-jauh rasa tak karuan ini. Meskipun pada dasarnya rasa itu tidak akan pernah pergi. Sebelum bertindak, sepertinya ia harus mencari informasi mengenai mereka. Kalau pun mereka memang pacaran, tidak ada salahnya kan Billar berharap kepada Sang Pemilik Hati untuk didekatkannya?
Tubuhnya kembali tegap, menatap layar komputer yang sudah terpasang aplikasi edit. Ia akan menyelesaikan semua editan milik konsumen setelah itu mencari tahu mengenai mereka. Semoga saja mereka hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih.
Tak berlangsung lama dari mengutak-atik aplikasi tersebut, pintu kantornya diketuk dan dibuka oleh seorang laki-laki tinggi dengan raut wajah begitu lelah. Dia menyimpan helm di atas meja yang terdapat di ruangan ini, lalu merebahkan tubuhnya di sofa setelah menurunkan tas gendongnya.
“Gila! Macet parah, ada kecelakaan!” ujarnya, terengah-engah.
“Gak nanya!” balas Billar tanpa mengalihkan tatapannya dari monitor.
“Kalo bukan karena lo, gue gak mau disuruh si Arfan buat anterin tuh motor!” cetusnya, kesal. Hening sejenak. Dia bangkit dari tidurnya, dan menelisik wajah temannya itu dengan fokus. “Lo udahan sama Manda?”
Masih tidak menghiraukan keberadaan temannya itu, Billar merespons seadanya. Karena memang Amanda bukan lagi urusannya, bodoh amat dengan dia, yang jelas sekarang perasaannya hanya bertaut pada perempuan berhijab pelayan restoran.
“Yaelah ditanya malah diem bae!” Dia bangkit dan menghampirinya; menghentikan tetikus yang dipegangnya.
Untuk pertama kalinya Billar menatap laki-laki bernama Haris yang perlahan mengembangkan senyum kepadanya. Billar mendengkus dan menampar pelan wajah Haris. “Iya gue udahan sama Manda. Kenapa? Lo bahagia gue putus?”
Haris mengelus pipinya, pelan. “Dih, kenapa sih lo? Gue bahagia? Enggaklah, gue cuma terkejut aja.”
“Gue udah move on dari dia, kalo lo mau sama Manda silakan gue dukung!” balas Billar. “Tapi, gue saranin jangan tembak dia sekarang, katanya dia putus dari gue karena dia mau raih mimpi dulu,” sambungnya.
“Klasik. Bilang aja kalo dia dah gak betah sama lo,” timpal Haris, kini duduk di kursi depan meja kerja Billar. “Ngomong-ngomong, kok lo cepet banget move on?”
Billar tersenyum tipis. “Kenapa harus lama, kalo gue udah nemu orang yang srek sama hati gue ketika pindah ke sini? Meskipun perlahan kenyataan mengiris harapan gue.”
Kedua bola mata Haris membulat sempurna, kenapa temannya ini sangat mudah mencari seseorang yang pas? Sementara dirinya, setelah menjomlo enam tahun tidak pernah melihat atau merasakan sesuatu ketika bertemu sama perempuan yang kata teman-temannya sempurna. Pernah merasakan rasa itu, tapi, hanya beberapa saat saja setelah itu sirna dan tak pernah kembali.
“Siapa?”
Billar mengangkat kepalanya. “Barusan ke sini habis foto promosi sama yang mungkin gebetannya.”
Haris semakin terkejut. “Lo mau jadi orang ketiga, Bi?”
“Yakali orang ketiga, tapi ia juga sih, orang ketiga jalur doa,” jawab Billar, melanjutkan tugasnya.
Haris terkekeh. “Sa ae lo kang foto!”
“Daripada elo kang jomblo!” pungkas Billar seraya tertawa.
Haris menjitak kepala Billar, seraya tersenyum miring. Padahal sebutan jomblo kepadanya bukan lagi hal yang baru, tapi sudah sangat lama. Semua rekan kerjanya memanggilnya dengan iming-iming jomblo, kenapa? Kalian sudah tahu, sampai saat ini belum ada satu perempuan yang benar-benar mengetuk perasaannya.
“Gakpapa jomblo juga, gue bahagia!”
__ADS_1
“Bahagia?” Billar terkekeh. “Yang ada menderita,” tambahnya membuat Haris mendengkus dan nyaris menjitaknya lagi, tapi ia segera memundurkan kursinya diikuti juluran lidah.
“Anjim!”
O0O
Selepas salat Magrib, Lesti berdoa untuk diberikan petunjuk mengenai dua laki-laki yang berhasil menyentuh kehidupannya. Lesti ingin masalah perasaannya segera terfokus, tanpa harus menyakiti salah satu dari mereka lebih lama. Apalagi sampai mereka bertengkar karenanya, ia sangat menjauhi hal itu.
Lesti membereskan kembali mukena dan sajadah yang baru saja ia kenakan setelah selesai berdoa. Ketika ia beralih untuk keluar dari musala ini, seperkian detik dirinya beradu pandang dengan Putra yang hendak melaksanakan salat. Dia tersenyum begitu manis, hingga napas Lesti kembang kempis dibuatnya. Kulit putih Putra semakin bersinar dibalik selimut air yang masih memenuhi wajahnya, dia benar-benar terlihat sempurna detik ini.
“Eh, nanti kita pulang bareng, kan?” ujar Putra, gugup.
Lesti memutar tubuhnya. “Iya, nanti kita pulang bareng, kenapa?”
Putra tersenyum. “Gimana kalau nanti kita makan malam dulu di luar, yang searah sama rumah kamu aja.”
“Oke!” Lesti mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan Putra untuk melaksanakan salat.
Saat tangannya meraih sepatu, tiba-tiba muncul Ardia tanpa ekspresi. Lesti menautkan salah satu alisnya, heran. Tidak seperti biasanya perempuan ini seperti sekarang, datar, tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya meskipun hanya sebatas sapa.
“Lo kenapa?” tanya Lesti sembari duduk di kursi samping rak sepatu.
“Gak tau, tiba-tiba aja hati gue sakit!” cetus Ardia seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, kemudian mulai mengambil air wudu.
“Karena apa?”
“Kok lo enggak cerita kalo lo punya masalah seperti ini? Dulu, kan, waktu kita sekolah kita itu selalu curhat sana-sini, tapi, sekarang kok lo mendam sendirian. Kenapa?” ujar Lesti.
“Iya nanti gue cerita, tapi sekarang gue mau salat dulu!” tukas Ardia melepaskan genggaman Lesti.
Ardia menghela napas sangat panjang, sepertinya mulai dari sekarang dadanya akan dibuat terguncang hingga waktu menghentikan kenyataan yang ia hadapi. Bahkan setelah menyaksikan semua ini, rasanya ia tak sanggup untuk berada di antara dua dinding yang mungkin akan mengimpitnya nanti. Jangankan berada di antaranya, menoleh, atau pun menyentuhnya sekarang ia tak kuasa. Dadanya sudah sesak, dan Ardia enggan untuk menambah sesak itu.
Tatapan Ardia berusaha fokus, agar tidak terpengaruh terhadap pikiran dan kenyataan detik ini. Mencintai dan mempercayai orang yang ia anggap wajar, ternyata berakhir ambyar seperti ini. Cukup! Ia tidak mau berharap lagi, ia hanya ingin sesuatu yang pasti bukan wajah manis yang ternyata hanya topeng saja.
Selesai melakukan ritual wajib, Ardia langsung pergi dari musala, mengabaikan sapa dari teman-temannya yang lalu lalang untuk bersembahyang. Ardia kembali menghela napas kala topik yang akhir-akhir ini bersarang di telinganya. Kenapa dia tidak jujur saja, kenapa dia harus menyembunyikan rasa yang kentara terlukis dalam jiwa raga mereka?
“Ardia? Ayo cerita cepetan mumpung lagi sepi,” sambut Lesti sambil duduk di samping Ardia yang beristirahat sejenak.
“Nanti aja Les, gue lagi males cerita!” balas Ardia.
“Gue siap kok dengerin masalah lo, kalo bisa gue akan kasih saran atau apa kek biar masalah lo gak mumet,” terang Lesti.
“Menurut lo berhak gak kalo gue melawan balik mereka?”
Lesti terdiam sejenak. “Kalau melawan dengan kejahatan lagi enggak bolehlah, kalau membalasnya dengan cantik boleh kok.”
__ADS_1
“Membalas dengan cantik?”
Lesti mengangguk dan tersenyum.
O0O
Setelah salat Magrib, Billar mengajak Haris untuk mengobrol di Kejora. Padahal Billar hanya ingin melihat gerak-gerik Lesti di sana. Mengajak Haris pun agar dirinya tidak kelihatan sedang mengamati Lesti, yups! Haris hanya pelarian ketika Lesti menatap balik ke arahnya.
“Bi, gue nginep di apartemen lo ya?” kata Haris.
“Iyalah, masa lo mau ngontrak? Di apartemen gue aja ada kamar kosong,” balas Billar begitu duduk di kursi yang berada di hadapan Haris.
“Ya gue takutnya lo gak mau nampung!”
“Tadinya sih iya, tapi setelah dipikir-pikir sebagai imbalan lo nganterin motor gue lo boleh tinggal di apartemen gue.” Billar mulai mengedarkan tatapan ke seluruh penjuru restoran ini.
Haris tersenyum senang. Meskipun sering berdebat dengannya, Billar adalah teman paling baik. Selain mau mengangkatnya sebagai karyawan di studionya yang mulai berkembang pesat ini, dia selalu menjadi pelarian di saat dirinya suka dan duka. Entah sudah berapa bagian, jika seluruh curahannya tersimpan pada diri Billar begitu pula sebaliknya dijadikan sebuah buku cerita.
“Tapi, lo harus bawa motor lo sendiri. Gue gak bisa minjemin motor gue terus ke lo, apalagi sekarang gue punya rencana mengusahakan seseorang!”
“Iya gue tau, besok pagi gue balik ke Jakarta, lusanya gue balik lagi ke sini!” jelas Haris.
Billar mengangguk lalu mulai memesan roti berlapis caramel ukuran sedang dan dua cangkir kopi moka. Setelah itu keduanya mengobrol ria tak tentu topik, hingga tatapan Billar terpaku pada Lesti yang hendak mengantarkan pesanan ke meja pelanggan yang lumayan dekat dengan mejanya. Seperkian detik mereka terlibat saling pandang, tapi, keduanya segera memalingkan pandangannya.
“Bi?”
Billar menoleh dan menautkan salah satu alisnya ke arah Haris.
“Biasanya lo tutup studio jam berapa?” tanya Haris sambil memasukkan potongan roti ke mulutnya.
“Setelah Isya gue suruh karyawan gue pulang, tapi, kadang-kadang mereka suka bablas diam di studio nerusin kerjaan.” Billar menyeruput kopinya. “Meskipun begitu gue tetap bayar jam lebih mereka. Lagian mereka semua serius amat, bahkan gue berniat buat ngangkat mereka langsung jadi karyawan tetap.”
“Karyawan lo ada berapa di sini, gue gak terlalu merhatiin sih,” kata Haris.
“Lima orang. Tapi, kalo nantinya kewalahan gue cari lagi, secara tahap promosi komentar konsumen pada positif semua.”
“Iya sih kalo mereka buat lo yakin, mending angkat aja jadi karyawan tetap.”
“Iya nanti kalo gue udah dapetin impian gue,” timpal Billar.
Haris menatap penuh tanya wajah Billar. “Apa impian lo sekarang?”
Billar terdiam sejenak, menghabiskan makanan yang masih berkemul di mulutnya. Bersamaan dengan Lesti kembali melintasi bangkunya, Billar mengekorinya lalu tersenyum memandangi Haris.
“Memiliki seseorang yang gue yakini kalau dia adalah yang dititipkan Sang Pemilik Hati untuk menyempurnakan rasa ini.”
__ADS_1
...O0O...