Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Billar vs Lesti


__ADS_3

SIANG ini tidak ada tanda-tanda akan turun hujan seperti kemarin, setidaknya dengan kemuraman langit Lesti bisa mempersingkat kebersamaannya dengan Billar atau mungkin memperpanjang waktu bersama Billar karena terjebak hujan? Entahlah, jika menuruti kenyataan ia benar-benar ingin cepat terbebas, tapi jika menurut perasaan ingin tetap di sini menyaksikan laki-laki yang mulai memiliki tempat di hatinya.


Lesti meneguk habis teh dinginnya sebelum berdiam lagi tanpa menatap ke arah Billar. Seperti tekadnya, Lesti tak ingin menampakkan kenyamanan atas Billar. Ia harus tenang, tidak boleh terburu-buru dalam meyakinkan seseorang. Mungkin sekarang Allah sedang mengujinya, dengan memberikan kesempatan yang sama atas dua laki-laki yang dekat dengannya; Billar atau Putra.


“Bisa enggak kalo dipercepat, gue gak mau telat hanya karena hukuman aneh dari lo!” tutur Lesti begitu menatap Billar yang baru saja menghabiskan hidangannya.


“Santai, baru juga jam satu,” balas Billar tenang. “Lo gak ada niatan foto gitu di sini? Atau sebenarnya lo mau tapi gengsi karena nyuruh fotografer profesional seperti gue?” lanjut Billar seraya terkekeh.


Lesti menatap Billar. “Dih, pede boros!”


“Udah, gak usah bohong. Belum genap dua puluh empat jam gue bilang jangan berbohong, lo udah bohong aja. Sini ponselnya, kasian feed IG lo latarnya itu-itu aja,” tutur Billar seraya meraih ponsel Lesti di sana.


Kalau boleh jujur Lesti kepingin banget berfoto di tempat ini, tapi seperti apa yang diucapkan Billar, ia sangat gengsi yang pada akhirnya kena semprot Billar yang menyatakan dirinya senang diajak jalan oleh Billar apalagi ke tempat estetik seperti ini.


“Masa difoto cemberut, senyum kek!” tegur Billar.


Lesti mendengkus kesal, tapi karena enggak mau memperpanjang masalah dengan Billar segera ia lengkungkan garis bibirnya dengan setengah terpaksa.


“Yang tulus dong senyumnya, jangan kaku gitu,” komentar Billar, membuat Lesti kembali mendengkus dan menghela napas menenangkan semuanya agar bisa tersenyum tulus seperti yang diperintahkannya.


Akhirnya wajah Lesti memancarkan ketulusan, setelah beberapa jam ini Billar disuguhkan ekspresi dongkol darinya. Bagaimana tidak dongkol, ucapan laki-laki di hadapannya ini selalu menyebalkan. Sekalinya serius, membuat perasaannya terbius oleh rasa tulus yang terpancar di wajah tampan Billar.


“Nah gitu dong, kan cantik, hasilnya bagus. Coba gaya lain, biar gue fotoin lagi. Lumayan buat feed IG,” ujar Billar.


Lesti memangku wajahnya, dengan tatapan ke samping. Perempuan ini berpose candid, bibir tersenyum tipis dan tatapan berseri. Setelah itu, Billar kembali menyuruhnya untuk bergaya lagi. Kini Lesti memejamkan mata sambil tersenyum manis.


Tanpa sepengetahuannya, si fotografer terdiam sejenak untuk menikmati senyum Lesti. Perempuan di hadapannya ini benar-benar memiliki daya tarik luar biasa dari cara dia tersenyum dan menatap. Seolah-olah ekspresi yang ditonjolkan oleh dua elemen ini memiliki makna; tampak bercerita.


“Sudah. Sebagai imbalan dari ini gue pingin di foto bareng lo,” ujar Billar. Selanjutnya meminta tolong kepada pelayan untuk memfotonya.


Lesti hendak menolak tapi pose yang ditampilkan Billar membuatnya turut berpose. Sekitar lima foto bareng berhasil mereka dapatkan, segera Billar mengirimkan foto tersebut dari ponsel Lesti ke ponselnya melalui whats app document.


“Dah, yuk cepetan!” ajak Lesti.


“Iya, sabar dikit. Gue juga mau bayar dulu!” tahan Billar, sementara Lesti telah beranjak dan berdiri di samping motornya.


Billar segera membayar pesanannya terhadap pelayan yang berdiri di depan komputer di balik bar. Setelah itu, Billar menghampiri Lesti yang tengah asyik mengutak-atik ponselnya.


“Lo ngehapus foto kita berdua?” tanya Billar.


“Bukan urusan lo!” balas Lesti seraya duduk di boncengan begitu Billar telah bersiap dengan motornya.


“Kenapa sih lo itu galak bener kalo deket gue? Kalo deket Putra nempel terus, kayak buku sama sampulnya!” heran Billar.


“Gak tau, mungkin karena aura lo!” jawab Lesti seadanya.


“Padahal pas awal-awal lo itu baik banget, hangat, tapi sekarang kek mak lampir!” cetus Billar membuat seorang Lesti mencubit punggungnya.


“Lagian lo itu nyebelin, aneh, seperti yang gue bilang!” Lesti mengucapkan kalimat itu lagi.

__ADS_1


“Daripada Putra diem bae, dikit-dikit senyum terus kaku lagi. Tipe idaman lo emang kek gitu? Padahal kata Bapak Rahman Raziq orangnya asyik gak pendiam, terus lo mau banting setir gitu?”


Demi apa pun, Lesti benar-benar terkejut kenapa bapaknya sampai mengobrol sedalam itu kepada laki-laki ini. Memang sih, Raziq orangnya agak mirip Billar sikapnya tapi Raziq enggak separah Billar. Paling tingkat menyebalkan Raziq sekitar 60% sementara Billar 90% atau mungkin 100%.


“Kok elo ngorek-ngorek masa lalu gue?” kesal Lesti.


“Lagian lo itu gak boleh galak sama gue, gue udah tahu semua tentang lo dan bapak Rahman juga udah tahu semua tentang gue. Makannya bapak Rahman enggak keberatan gue antar jemput lo,” terang Billar.


“Tapi guenya keberatan!” seloroh Lesti.


“Emang lo gendut? Gue bisa angkat lo kalo lo mau!”


“Tuh, kan, lo itu nyebelin!” Lesti kembali mencubit punggung Billar kesal.


“Aw! Lo itu selain galak hobinya nyubitin orang ya? Masih baik gue kebal, kalo enggak mungkin gue udah ninggalin lo nikah sama kayak si Raziq.” Billar sengaja memberikan amunisi seperti ini biar sosok yang diboncengnya terhibur dan biar cepat akrab. Rasa sakit dari cubitannya, suatu hari akan menjadi kenangan yang luar biasa.


“Tau ah! Raziq putus sama gue bukan karena gue suka nyubit, ya karena memang bukan jodoh gue aja,” jelas Lesti, masih sangat kesal oleh Billar.


“Gimana rasanya jagain jodoh orang?” celetuk Billar.


“Mau tau rasanya? Coba aja lo minta ke Amanda buat ninggalin lo nikah!” jawab Lesti.


Billar terdiam sejenak, menyerap kalimat yang terlontar dari mulut Lesti. “Ternyata lo udah tau tentang Amanda, dari bapak?”


“Gak! Gue tau karena postingan lo.”


Billar menghela napas panjang, ia lupa tidak menghapus postingan kebersamaannya saat dengan Amanda. Padahal ia sudah putus dengannya, dan sudah move on juga.


“Bilang aja belum bisa move on!” Kini giliran Lesti yang memberikan tombakkan.


“Lo itu yang bikin gue cepet move on, makannya gue cari berbagai cara agar gue bisa deket sama lo. Karena seorang Lesti Andriyani pegawai Kejora Coffee and Bakery ini telah membuat gue nyaman. Makannya gue gak mau lo nganggap kehadiran gue ini beban baru buat lo,” terang Billar membuat Lesti kikuk.


Perasaan Lesti diterkam detak yang terus menggertak tak karuan, bagaimana kalimat penjelasan itu mengalun indah di telinganya meski terdengar samar karena efek angin. Tanpa Billar sadari Lesti kehilangan nafsu untuk berucap lagi, kalimat itu sudah sangat merasuki hatinya.


O0O


Lima belas menit berlalu, Billar menghentikan motornya di area Alun-alun Kota Bandung. Awalnya Lesti hendak protes, tapi hukuman aneh yang dilontarkan Billar membuatnya tak bisa apa-apa.


“Tunggu, gue cuma mau minta satu ke lo. Jangan buat gue datang telat,” ujar Lesti ketika langkahnya sejajar dengan Billar.


“Iya, gue tau! Lagian gue juga mau ngurusin kerjaan,” timpal Billar.


“Terus kenapa lo repot-repot kasih hukuman kek gini kalo ada kerjaan?” tanya Lesti.


“Gue bos. Gue bebas mau ngelakuin apa aja, masih ada karyawan gue, lagian kerjaan gue gak banyak,” jelas Billar. “Coba lo berdiri di sana biar gue yang fotoin!” suruh Billar.


“Gue gak mau difo—“


“Gak usah bawel deh, lo kan harus ngikutin perintah gue hari ini,” potong Billar.

__ADS_1


Lesti mendengkus, tapi segera berjalan ke tempat yang ditunjuk Billar. Dengan perasaan tak karuan Lesti memamerkan banyak gaya, dan tak sekali Billar mengomel karena ekspresi tidak bermain. Dan yang terakhir Billar menghampirinya dan meminta untuk difotoin orang. Billar melukiskan gaya kece, keren, dan Lesti kehilangan alasan buat nolak bahkan sekarang ia merasa sangat percaya diri berfoto dengan Billar.


“Lo harus beli suvenir pokoknya,” kata Billar seraya menarik Lesti ke depan sebuah stan aksesoris.


Billar memilih banyak aksesoris untuk Lesti yang malah diam saja. Tapi, enggak masalah pokoknya Billar harus bisa memberikan sesuatu yang bisa membuat Lesti benar-benar tak bisa jauh atau melupakannya.


“Jam tangan kayu dengan hiasan kujang Pak dua!” pinta Billar.


Tak banyak menawar Billar langsung membawakan jam tersebut ke hadapan Lesti. “Coba lo tutup mata sebentar!”


“Apa?” balas Lesti sembari melotot.


“Gue minta tutup mata bukan melotot, Lesti,” greget Billar.


Ketika Lesti menutup matanya, segera Billar meraih tangan kanan Lesti dan memasangkan jam tangan yang dibelinya. Setelah sepasang jam itu terpasang di masing-masing pemilik, tanpa sepengetahuan Lesti, Billar memotret satu gaya seperti postingan gelang Lesti dengan Putra.


“Sekarang lo boleh buka mata,” ujar Billar.


Lesti membeliak ketika jam kayu pemberian Billar melingkar, memang ketika benda itu melingkar di tangannya ia bisa merasakan kalau itu adalah jam tangan. Namun, kalau yang dipasang jam yang terbuat dari kayu yang dipernis beda lagi rasanya. Ini benar-benar terlihat keren dan pasti harganya enggak main.


“Ja-jam i-ini?”


“Gimana lo suka?” tanya Billar.


Refleks Lesti mengangguk. “Ta-tapi, ini harganya—“


“Ya ada harga ada kualitas. Gak usah mikirin harga, gue kasih dan gue ikhlas,” potong Billar seraya mengajak Lesti untuk jalan-jalan di area pinggir lapang seraya menikmati secangkir es teh di masing-masing tangan.


“Billar,” panggil Lesti. Billar menoleh. “Makasih untuk ini, gue gak nyangka bakal dapat jam ini,” lanjut Lesti.


“Tenang aja, gue ikhlas. Ya udah kita pulang, mmh, maksudnya kita kerja.” Billar meraih tangan Lesti; menuntunnya hingga ke tempat di mana motor Billar terparkir.


Sudah ke berapa kali perasaan Lesti dibuat jedag-jedug seperti ini oleh laki-laki yang kini menggenggam tangannya. Billar benar-benar baik, perhatian, fisik enggak usah ditanyakan lagi, dia benar-benar sempurna.


“Lesti, makasih udah mau nemenin gue meski dengan rasa terpaksa. Satu hal yang harus lo tau, gue benar-benar bahagia lo ada di samping gue,” ungkap Billar dengan senyum manis terpancar di bibirnya.


Lesti terdiam sejenak. “Cepetan, gue udah bilang kalo gue gak mau telat!” Lesti mengalihkan semuanya, karena memang tak mau kelihatan kalau dirinya juga bahagia saat ada di sampingnya.


Billar tersenyum. “Oke.”


Mereka beranjak dari keramaian Alun-alun, menuju tempat di mana mereka berpenghasilan. Selama di perjalanan mereka tidak terlalu banyak bicara, hanya pertanyaan yang terlahir karena skenario yang sedang berlangsung di sepanjang jalan.


“Besok gue bakal jemput lo jam dua, lo harus udah siap, dan jangan lupa follback IG gue. Jadi orang gak boleh pelit, nanti kuburannya sempit,” celoteh Billar.


“Ya, nanti gue follback kalo gue inget.” Lesti menampkkan deretan giginya, sayangnya hal itu tak diketahui oleh Billar.


“Sekarang lo yang nyebelin, lo balas dendam sama gue?” Tak terasa Billar pun tersenyum menanggapi hal ini.


“Terserah,” balas Lesti.

__ADS_1


“Dasar cewek!”


...O0O...


__ADS_2