
Di hari pertama setelah menikah yang seharusnya mereka habiskan memadu kasih, malah di hadapkan kenyataan di mana Amanda meninggal. Lesti mengerti situasinya, perempuan itu adalah mantan Billar, dan sebelumnya terjadi fitnah di antara keduanya. Bahkan, tak lama dari panggilan dengan temannya kemarin, Billar dihubungi oleh petugas keamanan untuk memberikan keterangan.
Memang semuanya sudah jelas, Billar tidak ada kaitan dengan janin yang ada di perut Amanda, Billar juga tidak tinggal di Jakarta, terakhir ketika tes DNA saja. Pria itu mengakui, sempat melempar pesan dan panggilan sebelum akhirnya Amanda menonaktifkan semua media sosialnya.
“Aku minta maaf, Sayang.” Billar mengembuskan napas pendek menatap istrinya yang tengah menarik ritsleting jaket. “Di hari yang seharusnya spesial ini, aku malah membawamu pada masalah ini.”
Lesti tersenyum tipis. “Kita bersatu karena kesepakatan atas nama cinta. Di mana pun, kemana pun kamu pergi, aku akan tetap ada di samping kamu.”
“Makasih.” Tangan Billar menggenggam wajah Lesti, lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Billar merangkul Lesti sampai ke lantai dasar apartemen. “Kamu tunggu di depan aku siapin motornya.”
Lesti membenarkan tas yang digendongnya, kemudian memasang helm. Ia menghela napas panjang, berharap semua masalah ini cepat selesai dan tidak berkepanjangan.
“Ayo,” kata Billar begitu motornya berhenti di depan Lesti.
Motor gede yang ditumpangi sepasang suami istri itu melesat, memecah kedinginan bumi pada pukul tiga dini hari. Memang sengaja seperti ini, supaya selama di perjalanan sedikit lancar meskipun kemungkinan terjebak macet tetap ada. Seenggaknya mereka bisa memangkas waktu lebih cepat dari jam kerja nanti.
“Kalau ada apa-apa kamu bilang, ya?” Billar menatap bayangan istrinya di spion, dengan setengah menoleh.
Lesti mengangguk. “Siap!”
Selama perjalanan mereka hiasi dengan canda dan tawa, hingga tak terasa motor mereka telah memasuki Jakarta. Dan hari pun sudah cerah, matahari telah menyapa penduduk bumi Jakarta dengan sempurna.
“Kamu tunggu di rumah aja ya?” Billar memperlambat laju motor.
“Aku ingin ikut sama kamu, aku ingin tetap disampingmu, Sayang!” tegas Lesti seraya memgeratkan pelukan di tubuh suaminya itu. “Aku enggak bisa jauh dari kamu.”
“Nanti kamu kecapean gimana?” tanya Billar.
__ADS_1
“Terus kalo kamu kecapean juga gimana?” Lesti malah balik bertanya.
“Ya udah iya,” balas Billar akhirnya. “Pokoknya kalo ada apa-apa bilang, jangan diem mulu.”
“Aku lapar,” cetus Lesti.
“Mau makan apa?” tanya Billar.
“Terserah kamu, yang penting makan dulu.”
Billar melayangkan pandangannya mencari pedagang untuk disinggahi, menyumpal rasa lapar istrinya begitu juga dengannya. Akhirnya motor mereka berhenti di depan penjual bubur depan sebuah ruko, tempatnya tampak ramai, dikerumuni orang-orang.
“Bang buburnya dua,” ujar Billar, setelah itu ia mengajak Lesti untuk duduk. Tangan Billar mengelus-elus tangan Lesti sembari menatapnya lembut. “Kamu lelah?”
Lesti mengangguk ragu.
Kepala Lesti menggeleng. “Aku juga enggak mau kamu kenapa-kenapa. Aku ini istrimu, aku salah satu sayap yang diciptakan untuk kamu. Kamu enggak bisa terbang dengan satu sayap, jadi biarkan aku ada di sampingmu.”
Billar terhipnotis dengan ucapan Lesti yang lembut namun menggelora, perempuan di hadapannya tersenyum manis membuat dirinya turut tersenyum dan mengangguk. Billar bersyukur ditakdirkan dengannya, dia benar-benar membuatnya mabuk setiap harinya. Bagaimana tidak? Tingkah lakunya, ucapannya, tatapannya, dan juga senyumnya membuat dirinya jatuh ke dalam semesta yang dihuni hanya olehnya dan istrinya.
“Makasih, Sayang.”
Dua bubur ayam tersaji di hadapan mereka, asapnya mengepul, memberikan pesan kepada dua insan yang menghirupnya: “nikmatilah aku, kau akan merasakan sensasi yang berbeda setelahnya.”
Mereka pun menyantap bubur itu dengan lahap, sesekali mereka saling suap dengan diiringi canda dan tawa. Sesederhana ini untuk mereka merasakan bahagia.
Hanya perlu memakan waktu tiga puluh menit, keduanya kembali melakukan perjalanan menuju kantor polisi yang dirujuk. Billar langsung di suruh masuk untuk dimintai keterangan, tentang Amanda dan apa saja yang telah mereka bicarakan setelah kejadian di Bali.
__ADS_1
“Amanda adalah mantan pacarku, dia memutuskanku karena dia ingin fokus dengan mimpinya. Setelah itu aku tidak pernah menghubunginya lagi, kecuali ketika kejadian di Bali. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi pada malam itu, tiba-tiba saja Amanda ada di sampingku dengan keadaan mungkin tanpa sehelai benang, begitu juga denganku. Lagi-lagi aku tidak pernah menghubunginya, hingga seminggu setelah itu dia hadir dan memberiku kabar kalau dia hamil.”
Billar menghela napas panjang. “Aku selalu menanyakan kabar, karena semua yang terjadi belum jelas. Setelah tiga bulan, barulah dia menghubungiku untuk melakukan tes DNA. Hasilnya, bayi yang dikandungnya bukanlah anak aku.”
Tangan Billar mengusap wajahnya beberapa kali. “Aku selalu ngingetin dia untuk hati-hati, dan jangan pernah mencoba untuk melakukan hal-hal yang membahayakan. Dia menyetujui semuanya. Setelah itu nomor dia tidak aktif, semua media sosialnya pun sama.”
“Kamu tidak tahu kalau sebelum kejadian ini Amanda sempat berpesta di apartemennya?” tanya petugas di hadapannya.
Sontak mata Billar terbelalak, menggeleng lantas mengerutkan dahi. “Apa, pesta?”
“Iya, dia pesta. Setelah itu, semua orang tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Amanda ditemukan tiga hari setelah pesta itu selesai, karena apartemen yang ia singgahi sudah berakhir masa kontraknya.”
“Aku tidak percaya jika apa yang terjadi dengannya adalah murni bunuh diri, aku tahu Amanda orang yang baik. Dia sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang mencelakainya.” Suara Billar bergetar. “Aku yakin ada orang lain yang menjebaknya.”
“Semua yang terlibat sudah kami periksa, dan kamu adalah orang terakhir dari pemeriksaan ini. Semuanya bersih, tidak ada sesuatu yang dicurigakan.”
Billar terpejam beberapa saat, menarik udara panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Billar masih belum bisa terima, dalam benaknya ia bertekad untuk mencari tahu siapa orang yang sudah menodai Amanda.
“Tapi, kami masih akan melakukan penyelidikan, untuk memastikan semuanya. Kalo begitu terima kasih atas waktunya, sesi pemeriksaan telah selesai.”
Billar menjabat tangan petugas setelah itu keluar dari ruangan ini, ia menyambut istrinya dengan pelukan. Demi apa pun Billar belum bisa menerima kenyataan ini, laki-laki yang telah menodai Amanda harus bertanggung jawab sekali pun ini adalah kasus bunuh diri. Setidaknya dia telah mengakui kebejatanya di publik, dan dia juga harus di hukum atas semua yang dilakukannya terhadap Amanda.
“Amanda dinyatakan bunuh diri,” ucap Billar lemah. “Kamu tau aku tidak mempercayai ini, Amanda orang baik, dia tidak akan melakukannya.”
Lesti berusaha menenangkan suaminya, ada sedikit cemburu ketika melihat tingkah Billar saat ini. Namun, Lesti berusaha untuk memakluminya, berusaha untuk berdamai dengan segalanya.
“Aku juga mempercayaimu. Amanda memang orang baik.” Lesti tersenyum samar, entahlah perasaan Lesti tidak terarah saat ini. “Kita pulang, kamu harus tenangkan semuanya
__ADS_1
...O0O...