
LIMA BELAS MENIT sebelum jarum panjang jam menyentuh angka dua belas, Billar sudah ada di rumah Lesti. Sekarang ia membawa beberapa buah tangan untuk keluarga Lesti, berupa buah-buahan. Jeruk, apel, mangga, dan buah naga telah terbungkus rapi di kantong keresek di atas meja ruang tamu.
Kabar terakhir mengenai Lesti, perempuan itu sedang bersiap-siap di kamarnya. Seraya menunggu Lesti hadir, Billar menyibukkan diri dengan membalas pesan dari grup inti MRB Studio. Penghuni yang terdiri dari empat orang ini, tengah membahas banyak hal terutama tentang manajemen yang mengajaknya kerja sama.
MRB Studio sudah berdiri ketika mereka lulus sekolah hingga lulus kuliah, mereka rintis bersama dengan meminjam sebagian harta dari ayah Billar kemudian digabung dengan tabungan mereka. Bukan hanya itu, ayah Billar yang merupakan seorang pengusaha di bidang properti memperkenalkan pada sebuah manajemen dan Billar memasukkan Amanda pada manajemen tersebut. Maka dari itu, Billar agak kesal dengan alasan Amanda saat memintanya putus.
Billar menghentikan aksinya kala Lesti keluar dari kamarnya, dengan penampilan seperti biasa. Sederhana dan natural.
“Enggak kecepetan ke sini?” tanya Lesti. “Maksudnya kemarin, lo berangkat dari studio jam dua aja bukan jam dua sudah ada di sini,” sambungnya.
“Emang sengaja, gue lemes banget tadi. Malah WA gue dikacangin, baru bangun ya?” tebak Billar.
“Dari jam sebelas juga gue udah bangun,” balas Lesti.
Billar merasakan ada yang berbeda dari Lesti hari ini, wajahnya terlihat masam dari biasanya. “Lo kenapa?”
“Enggak apa-apa, mau berangkat sekarang?” jawab Lesti.
Billar menghela napas pendek. “Kalo lo sakit gak usah maksain kerja, nanti tambah parah.”
“Dih, siapa yang sakit?” sergah Lesti.
Billar terkekeh dan mendekatkan sekeresek buah-buahan ke hadapan Lesti.
“Buat gue?”
Laki-laki berjaket putih di hadapannya mengangguk tanpa menghilangkan senyum manisnya. Lesti balas tersenyum, dan berkat senyuman itu semesta mulai memberitahu tentang tekadnya. Ia harus menjadi Lesti yang diketahui oleh Billar bukan yang dia kenali.
“Makasih. Ya udah ayo berangkat sekarang aja,” ajak Lesti.
“Lo enggak nganggap gue beban kan?” Billar mengingatkan tentang hukuman kemarin.
“Gue gak pernah menganggap lo beban, dan gue udah setuju sama apa yang lo pinta,” balas Lesti.
Senyum Billar tambah merekah dan menarik tangan Lesti dengan semangat keluar dari rumah ini. Yang ditarik diam saja, karena genggaman Billar benar-benar sangat nyaman dan penuh dengan sesuatu yang dulu ia rasakan dengan Raziq.
“Gue mau ajak lo keliling Bandung sebelum ke tempat kerja. Wajah lo perlu disegarkan, sayang banget udah dandan tapi wajahnya tanpa ekspresi,” kata Billar.
“Terserah,” susul Lesti.
Baru kali Billar memuji kata ‘terserah’, biasanya perempuan ini selalu melemparkan penolakan kepadanya yang berujung perdebatan. Tanpa menunggu lama lagi, begitu Lesti duduk di belakangnya Billar langsung membawanya berkelana tanpa arah, namun memiliki tujuan yaitu menumbuhkan rasa nyaman.
Sepanjang jalan, Billar tiada henti berbicara. Terkadang apa yang dibicarakannya berhasil menimbulkan senyum atau tawa di bibir Lesti. Billar tidak pernah kehabisan topik, apa saja selalu diceritakannya. Semua pengalaman yang Billar alami selama hidup berhasil membuat Lesti tersenyum dan tertawa. Enggak apa-apa kan Billar menceritakan semua kejenakaannya kepada Lesti?
“Gue juga waktu SMA enggak terlalu pintar, tapi teman-teman gue banyak yang merasa tersaingi. Gue tipikal orang yang dekat sama guru, hampir semua guru SMA kenal gue. Selain gue aktif di organisasi, dulu gue orang paling percaya diri di kelas. Apa pun yang dipinta guru pasti gue yang paling semangat mengangkat tangan, sekalipun jawaban gue salah kalo misalkan disuruh untuk isi soal.” Kini giliran Lesti yang bercerita, wajahnya tambah berseri kala kenangan masa SMAnya diceritakan.
“Dan gue ini gak mau kalah kalo berdebat, gue punya teman debat namanya Ayu dulu. Masalah sepele dengannya pasti ujungnya debat, dan Ardia yang selalu melerai. Dulu gue juga sering disebut tomboi, karena bisa semua dalam olahraga.”
__ADS_1
“Pantesan, lo selalu gencar kalo ngobrol sama gue. Bawaannya ngegas mulu, ternyata bawaan dari lahir,” canda Billar. “Tapi, lo asik sih. Gak salah Tuhan kasih rasa nyaman di lo,” lanjutnya.
Lesti tersenyum mendengar balasan dari Billar, ia tidak akan terkejut lagi dengan ucapannya yang penuh rasa itu. Lesti juga merasa nyaman saat berada di dekat Billar, apalagi saat seseorang itu terus menerornya. Ingin sekali raga ini memeluk tubuhnya, dan mengakui semuanya.
“Kemarin lo bilang bakal ngajak gue jalan hari minggu, kemana?” tanya Lesti.
“Rahasia dong, biar surprise,” jawab Billar.
“Baiklah, jam berapa lo jemput gue?”
Billar kembali tersenyum, mempertanyakan apa yang Lesti lakukan kepadanya. Ini bukan mimpi kan? Perempuan ini sepertinya sudah mulai nyaman dan mulai menunjukkannya pula. Ah, enggak sia-sia ia melontarkan kalimat-kalimat itu.
“Jam tujuhan, biar kita bisa ngabisin hari minggu lebih panjang lagi,” jelas Billar.
“Oke, gue tunggu,” timpal Lesti dengan dada berdebar. Ah, bodoh amat dengan tekad, yang penting hatinya benar-benar membutuhkan waktu yang lebih lama dengan Billar.
Sejenak seluruh jiwa raga Billar seolah terempas pada lautan kapas yang sangat empuk dengan alunan harpa di sekelilingnya. Zat-zat yang berkerumun di hatinya seolah berpesta dengan meluncurkan ribuan kembang api, syukuran atas keberhasilan tuannya yang sedang dilanda jatuh cinta tingkat tinggi.
Lesti Andriyani. Perempuan ini berhasil memeluk erat perasaan Billar sepenuhnya mulai hari ini, memang metamorfosis yang sempurna.
Setelah puas mengelilingi jalanan Kota Bandung, Billar mengarahkan motornya ke tempat di mana keduanya bekerja. Lesti turun dari boncengannya begitu motor Billar terparkir di Kejora coffe and bakery, sebagai salam perpisahan untuk detik ini dia melantunkan senyum dan lambaian tangan kepadanya.
Cekatan, Billar membalas lambaian Lesti dengan perasaan berbunga-bunga. Perempuan di hadapannya berlalu, tapi, senyum dan lambaian tangan itu masih melekat pada sanubarinya.
O0O
Lesti memasuki ruangan khusus karyawan, dan langsung melepas jaket yang terbuat dari rajutan lalu menyimpannya di dalam loker bersama tas gendong mininya. Setelah itu, Lesti duduk di kursi panjang yang ternyata sudah ada Putra yang sedang memerhatikannya seraya tersenyum.
“Kamu berangkat sama Billar?” sambut Putra.
Lesti mengangguk kikuk, “Iya.”
“Gimana kalo minggu kita jalan-jalan? Seperti kemarin,” usul Putra.
Belum sempat Lesti menjawab usulan Putra, geng karyawan yang kemarin menyindir Lesti membuka pintu ruangan ini. Seketika keduanya menoleh ke arah mereka yang mendelik ke arahnya.
“Kemarin sama tukang foto, sekarang sama leader,” cetus salah satu dari mereka.
“Iya, bukannya kalian selalu cekcok. Oh, iya ini pasti gara-gara si Ardia.” Kini perempuan berambut ikal, yang menyahut.
“Emang masalah buat kalian?” balas Putra dengan raut wajah datar.
“Enggak sih, cuma aneh aja. Lagian kenapa lo mau deket sama cewek yang lagi deket sama cowok lain, eh, atau kebalik ya?” Perempuan yang bernama Jesika itu terkekeh.
“Bilang aja lo iri Jes, karena gak ada yang deketin lo!” balas Lesti tiba-tiba.
Apa yang baru saja Lesti ucapkan, berhasil menyita semua perhatian orang-orang yang berada di ruangan ini. Jesika menatap tajam ke arah Lesti, tidak menyangka perempuan manja itu melontarkan kalimat cukup menusuk itu.
__ADS_1
“Apa yang harus gue iriin dari lo, Ti? Tampang lo? Yaelah, berhasil ngedeketin dua cowok kok lo banggain sih, gak malu apa sama pakaian yang lo pakai?” balas Jesika.
“CUKUP JES!” tegas Putra dengan sorot mata tajam.
Jesika terbelalak. “Kenapa? Lo mau berlagak sebagai pangeran? Silakan, gue kasih panggung,” pungkas Jesika seraya membalikkan tubuhnya.
Menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapannya, dada Lesti berdebar sangat kuat membuat napasnya tersendat. Enggak menyangka sekarang kebencian mereka atas dirinya akan terbuka seperti ini. Biasanya mereka hanya mendumel, enggak jelas atau saling sindir di grup saja.
“Lo gak apa-apa kan, Ti?” tanya Putra.
Lesti menggeleng, mata yang sempat berkaca-kaca lenyap seketika.
“Jangan masukin kata-kata mereka ke hati ya Ti, mereka hanya iri aja sama seperti apa yang kamu ucapkan,” hibur Putra.
“Makasih ya Put, udah bantu aku,” ujar Lesti.
Ardia yang baru saja datang langsung disambut dengan pandangan yang tidak mengenakkan dari Jesika dan yang lainnya, segera tatapannya menoleh cepat ke arah Lesti yang duduk berdampingan dengan Putra. Sempat ragu, tapi, ia tidak bisa diam seperti ini karena dia adalah temannya.
“Lesti, kenapa?” tanya Ardia yang duduk di samping Lesti.
“Kisah ini semakin menarik dengan datangnya pemeran satunya lagi,” celetuk Jesika seraya pergi dari ruangan ini, karena memang sekarang jadwalnya mereka bekerja.
“Enggak kok, gue gapapa. Yuk, kita kerja kasian si Ady nanti dia ngomel lagi. Apalagi kamu Put, kamu kan leader di sini,” tukas Lesti seraya bangkit dari hadapan mereka.
Dalam beberapa saat, Ardia dan Putra sempat beradu pandang hingga akhirnya mereka beranjak dan mulai bekerja. Apa pun yang terjadi saat ini mereka harus tetap profesional, dan tentunya menyemangati Lesti untuk tidak mendengarkan Jesika dan yang lainnya.
“Mereka sangat keterlaluan,” cetus Putra.
Ardia menaikkan salah satu sudut bibirnya. “Dari dulu juga, tapi sekarang mereka jadi terbuka.”
Putra menoleh, begitu juga Ardia.
“Lo udah tau Put, sejak Lesti mendapatkan perhatian lebih dari pak Ghifar mereka jadi begini. Lo juga udah tau kalo di grup, Lesti sering disindir. Tapi dia orangnya sabar dan berusaha bodo amatan,” terang Ardia.
“Iya, gue tau. Dan lo teman dekatnya Lesti, pasti lo lebih mengerti dia,” kata Putra.
Begitu Putra dan Ardia keluar dari ruangan ini, tatapan mereka tertuju pada dua sosok. Jesika yang sibuk memfokuskan ponselnya ke Lesti yang tengah mengobrol dengan Billar.
“Apa yang lo lakuin Jes?” serang Ardia yang langsung maju ke hadapan Jesika.
“Ups! Serah gue, kok lo yang sibuk!” cetus Jesika.
“Hapus gak?” perintah Putra.
“Kenapa, lo panas lihat kebersamaan mereka?” Jesika terkekeh. “Nih, hapus sendiri.” Jesika memberikan ponselnya ke hadapan Putra.
Putra segera menghapus semua potret yang menunjukkan kebersamaan Lesti dengan Billar di ponsel Jesika. Meskipun terasa sakit melihatnya, ia tidak mau perempuan di hadapannya ini memperburuk Lesti.
__ADS_1
“Lo cemburu?” Jesika pergi begitu saja, menabrak Putra dan Ardia yang berdampingan. “Gue harap lo tetap profesional, Leader!”
...O0O ...