
Mata bulat milik Lesti menatap kosong begitu percakapan antara Billar dan Arfan memggema di telinganya. Lesti memilih duduk di sofa, sementara Billar duduk di kursi depan meja kerja Arfan. Semua yang terekam di telinga Lesti, tidak pernah sedikit pun mereka melewatkan nama Amanda, ditambah adiknya Reina. Secara fisik, mereka benar-benar cantik dan beberapa titik di wajah mereka tampak mirip.
Lesti tidak mau ikut campur, meskipun di relung hati paling dalam ingin sekali ia meluapkan luka yang hadir ketika suaminya menyebut yang seakan meninggikan nama Amanda dibandingkan dirinya. Lesti tidak peduli kalau Billar belum move on dari Amanda, yang ia tahu sekarang bahwa dirinyalah istri Billar, bukan Amanda.
Namun, semua itu seakan terpenjara selamanya di dalam benak. Lesti tidak berani mengungkapkan itu. Lesti memilih untuk diam, meskipun ribuan tombak menghantam perasaannya. Allah tahu yang terbaik untuknya, dan semua hamba tidak akan diberikan ujian oleh Allah di luar batas kemampuannya. Lesti hanya perlu menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Hatinya tidak pernah lelah berdoa untuk keutuhan keluarga yang baru berusia dua hari ini.
“Bi, apa yang sudah polisi tetapkan itu sesuai dengan bukti, fakta yang tertera di tempat perkara. Jangan sampai lo berjalan terlalu jauh, yang pada akhirnya lo menyesal dengan jalan lo itu.” Arfan menatap tegas ke arah Billar.
“Fan—”
“Gue tau Amanda orang baik, tapi bukan berarti dia tidak memiliki kemungkinan untuk melakukan hal jahat. Kita ini manusia, semuanya setara. Jangan sampai lo meninggikan Amanda hanya karena dia baik dilihat dari mata lo.” Arfan tidak melepaskan tatapan tegasnya ke arah Billar, sebelum akhirnya menoleh kepada Lesti. “Inget, lo udah punya istri. Jangan sampai tindakan lo ini menghancurkan istri lo.”
Sayangnya, tekad untuk mengulik kasus Amanda sudah tumbuh dengan sempurna di hati Billar. “Gue bisa hendel semuanya.”
Arfan terkekeh pelan. “Lo memang goblok. Kalo lo masih cinta sama Amanda, seharusnya lo gak ngelakuin ini—”
“Ini bukan soal—”
“Kalo bukan, karena apa, hah? Gak usah munafik, Bi. Mata lo, gelagat lo, udah terbaca, kalo lo masih cinta sama Amanda. Jahat banget lo, Bi! Sumpah!” Arfan berlalu dari hadapan Billar menuju samping Billar. “Lo tau, apa yang lo lakuin sekarang secara tidak nyata, lo udah ngeduan istri lo. Lo menodai ketulusan dia, Bi.”
Billar menopang wajah dengan satu tangan yang berdiri di atas meja kerja, Billar salah menilai soal Arfan. Ia pikir Arfan hanya orang biasa, jenaka, kalem, ternyata dia lebih dar itu. Semua ucapan dia benar-benar menghantam perasaannya secara bertubi-tubi.
“Gue, hanya ingin memastikan tekad gue, Fan. Ini bukan soal perasaan, hati gue tulus sama Lesti. Gue lakuin ini karena gue ngerasa bersalah pada Amanda, lo tau kan kejadian di Bali. Gue rasa semua ini terjadi karena itu. Dan, dengan gue seranjang dengan Manda, gue ngerasa semuanya hancur. Gue yakin lo juga sempat nuduh gue yang ngelakuin hal bejat pada Amanda.” Billar menghela napas panjang, lalu menatap Arfan yang terdiam tenang.
“Terserah lo, jika itu mau lo. Gue cuma ragu sama lo, Bi. Gue takut lo nyesel,” balas Arfan akhirnya. Ia beranjak dari hadapan Billar, sekilas ia menatap ke Lesti yang bergeming di sana. “Oh, iya. Makasih ajakan lo, Bi. Gue bakalan datang, apalagi kalo tempatnya Resto Sanubari.”
Hanya kalimat terakhir dari Arfan yang Lesti dengar, di luar itu obrolan mereka terdengar samar dan Lesti sadar nama Amanda selalu hadir di setiap ucapan mereka. Tidak mengetahui apa-apa lebih baik, dari pada serba tahu tentang apa-apa. Mungkin kalimat itu yang tepat untuk langkah yang Lesti ambil.
“Kita main yuk?” ajak Billar.
__ADS_1
Lesti mengerjap beberapa kali, saat Billar berucap. Ia menoleh menatap laki-laki tampan di sana yang mengumbar senyum kepadanya. Apa dia sedang menghiburnya? Mungkin. Tapi, justru sekarang Lesti pengen pulang, tepatnya tidur di kamarnya dulu. Atau paling tidak melamun, dalam gelap tak peduli jika kamarnya mendadak pengap.
“Pulang aja, aku masih pengen istirahat. Apalagi malam Ibu mengajak kita buat makan malam,” tolak Lesti tenang, meskipun hatinya berlinang.
“Serius?” Billar bangkit, lalu duduk di samping Lesti.
“Iya, tubuhku masih lelah, Sayang.” Lesti membuang muka, untuk menutupi yang memungkinkan tampak di wajahnya.
Billar yang awalnya duduk, kini mengambil posisi tidur dengan kaki Lesti sebagai bantalan. Ia menatap Lesti penuh, kemudian tangannya menggapai pipi Lesti dan mengelusnya dengan lembut.
“Aku minta maaf ya,” ucap Billar.
Lesti terdiam, dadanya menyentak. “Hah?”
“Mungkin, sekarang aku fokus sama kasus Amanda. Sulit untuk aku jelaskan, namun kamu harus tahu, aku tidak pernah berpaling darimu. Jiwa ragaku seutuhnya milik kamu.” Billar menggenggam tangan Lesti dan mengecupnya. “Aku hanya ingin menuntaskan rasa bersalahku pada Amanda.”
Bungkam. Lesti tidak bisa berkata apa-apa, apa dia menyadari sesuatu yang tampak di wajahnya? Apa kecemburuannya tampak?
“Ya, begitulah. Meskipun tidak ada sangkut paut dengan kejadian di Bali, mumgkin dengan ditemukannya pelaku tindakan bejat itu terungkap,” terang Billar.
Lesti mengangguk saja, setelah itu terdiam lagi. Pikirannya terlalu sibuk untuk mengusir segala hal-hal negatif yang menghancurkannya secara perlahan. Akhir-akhir ini semua tindakan, tanggapan, mengenai satu perempuan Amanda cukup menggores ‘kewarasannya'.
Ya Allah, tegakkanlah hamba!
O0O
Malam pun tiba, Lesti dan Billar telah siap dengan pakaian semi formal. Sederhana namun memukai. Lesti menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, sembari menatap bayangannya di cermin.
“Minta dong!”
__ADS_1
Billar langsung merentangkan tangannya di hadapan Lesti, lalu istrinya menyemorotkan parfum yang masih dipegang. Billar mencium aroma wangi yang menyegarkan dan membuatnya candu.
“Jarak restorannya jauh gak, Yang?” tanya Lesti sambil menyoren tas mini di tubuhnya.
“Deket kok, sekitar sepuluh sampai lima belas menit.” Billar merapikan rambut dengan elusan halus tangannya.
Tak lama dari itu Ibu memanggil keduanya untuk segera turun, dan memberi tahu kalau semuanya telah siap. Bagaikan Cinderela dan Pangeran, Lesti dan Billar berjalan berdampingan, memangkas anak tangga, dengan tangan mereka saling menggenggam.
“Masya Allah, kalian ini, ya!” puji Ibu, sebagai jawabnya mereka hanya tersenyum.
Tanpa basa-basi mereka langsung melaju menuju Restoran Sanubari salah satu restoran favorit di ibukota. Mereka duduk di sebuah bangku kosong, dan langsung meraih daftar menu satu berdua.
“Kita pesen seafood aja sama-sama,” saran Ibu.
“Setuju!” timpal Lesti.
Sebagai laki-laki hanya bisa menuruti keinginan mereka, sambil menunggu mereka bertukar cerita tak tentu arah. Mulai dari kisah masa lalunya Ibu, hingga mimpi terbesarnya yaitu ingin liburan keluar negeri.
Sekitar lima menit setelah obrolan itu, seorang datang menyajikan pesanan mereka yang super luar biasa. Tanpa berbasa-basi lagi mereka menyantap satu persatu hewan laut yang tersaji di sana.
“Arfan ma—”
“Hai!” Panjang umur, Arfan sudah tiba sebelum Ibu menyelesaikan ucapannya.
Entah memang karena ini efek dari pertama kali makan seafood, perut Lesti berontak, ada rasa mual dan mules yang saling bersahutan.
“Aku mau ke toulet dulu,” kata Lesti sambil beranjak.
“Mau aku temenin?” tawar Billar.
__ADS_1
Lesti menggeleng, lalu pergi begitu saja. Saat hendak memasuki toilet yang selorong dengan jalan lain untuk keluar dari tempat ini, Lesti terdiam sejenak. Ia melihat Reina di sana, sebelum akhirnya seseorang dari belakang membekap mulut dan hidungnya. Dalam hitungan detik, Lesti merasa semua yang tampak gelap lalu hilang.
...O0O...