
SINAR matahari memaksakan diri untuk menyelinap masuk ke sela-sela tirai yang bergeming menutupi jendela besar kamar yang ditempatinya. Ia merengek dan mulai menyesuaikan tatapannya dengan cahaya yang menabrak tirai.
Selepas salat subuh, Billar memutuskan untuk tidur kembali meskipun ia tahu kalau hal itu tidak boleh ia lakukan. Namun, apalah daya kantuknya mencuat memerintahkannya untuk kembali bertegur sapa dengan kasur empuknya dan memanjakan mimpi yang penuh keajaiban juga keindahan.
Billar mengecek ponselnya, barangkali pesan yang ia lontarkan ke Lesti dijawab. Sayangnya, tidak. Jangankan dibalas di ikuti balik saja enggak.
Namun, Billar segera melangkah untuk membersihkan tubuhnya. Pekerjaan di studio lumayan menumpuk, apalagi sekarang masih tahap promosi pasti membeludak dua kali lebih banyak. Malah, ia juga harus mengembalikan motor milik karyawannya ini, dan berterima kasih kepadanya. Berkat motornya ia berhasil mendekati Lesti dan mendapatkan izin ayahnya untuk mengantar jemput.
Setelah bersiap dengan setelan lebih rapi dari biasanya, Billar menelepon Haris yang dijanjikan oleh Arfan yang akan mengantarkan motornya. Billar ingin motornya sudah ada di sini hari ini juga, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini hanya karena temannya itu terlambat membawa motornya.
“Ris?”
Ya
“Motor gue udah sampe mana? Kalau siang ini tuh motor belum di sini, gue tabok lo!”
Iya! Nih, gue lagi di jalan!
“Cepetan! Ngebut kek! Urusan cewek yang belum tentu mau sama lo cepet, urusan motor gue yang super penting lelet!”
Lo kenapa sih? Pagi-pagi dah kayak cewek PMS aja!
“Pala lo PMS!” Billar memutuskan sambungan telepon dengan Haris. Ia mendengkus sebal, dan kembali berhadapan dengan cermin mengecek sesuatu yang mungkin ada yang salah dengannya. Apa jangan-jangan ini efek jatuh cinta yang sudah tak karuan untuk diluapkan? Jadi ia mudah emosi karena hatinya sedang ada pesta kembang api; merayakan keberhasilan move on-nya dari Amanda.
Billar meraih jaketnya dan segera berangkat menuju studionya, selain untuk menuntaskan tugas editingnya ia juga harus memantau kinerja para karyawan barunya. Ditambah motor yang ia pakai milik salah satu karyawannya, yang tanpa sengaja ia berikan gelar karyawan tetap.
Dari kejauhan Billar melihat karyawannya sudah berkumpul di depan studio, dalam hati ia tersenyum melihat karyawannya bersemangat seperti ini. Baru saja Billar menginjakkan kakinya di beranda studio, salah satu karyawan tersenyum mengadangnya diikuti sama yang lainnya kecuali Rendi yang terdiam menciut.
“Ada apa?”
“Pak aku mau protes,” ujar perempuan berhijab hitam, tanpa melunturkan senyumnya.
Billar mengerutkan dahi, tatapannya perlahan mengarah ke Rendi yang terlihat ketakutan. “Protes apa?” tanya Billar.
“Kenapa Rendi diangkat jadi karyawan tetap? Padahal potensi kita setara dengannya Pak? Kita juga pengin kali Pak diangkat jadi karyawan tetap? Ya kan Pak?” protes perempuan berhijab itu seraya tersenyum.
Billar menghela napas pendek, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalian pengin jadi karyawan tetap?”
“Iya Pak!” jawab mereka serempak.
“Baiklah!” Billar melangkah melewati mereka dan membuka pintu studio. “Tapi, kalo saya sudah berhasil menjalin hubungan spesial dengan seseorang.”
__ADS_1
“Kami siap kok kawal Bapak sampai halal, ya, kan teman-teman?” timpal perempuan itu semangat empat lima.
“Iya, Pak, kami siap kok, serius!” timpal karyawan lainnya.
Billar memutar tubuhnya, tersenyum memandangi mereka yang tengah memaparkan wajah berserinya. “Oke, tapi, sekarang kalian harus serius bekerja, jangan leha-leha, apalagi mengeluh.”
“Siap, Pak!”
Baru saja Billar melangkah beberapa langkah, ia sudah membalikkan tubuhnya menatap karyawannya yang bersorak kecil. “Ya udah, cepetan, nanti saya cancel lagi!”
“I-iya Pak!”
O0O
Tidak seperti biasanya, siang ini langit mendadak muram menahan amarah dan kesedihannya. Lesti yang selepas dari salat zuhur rebahan, akhirnya bangkit kala guntur mulai menyahut penduduk bumi dengan suaranya yang menggema.
Lesti meraih handuk dan mulai melakukan ritual sebelum berangkat kerja. Hari ini ia akan dijemput oleh Putra dan sepertinya sekarang dirinya dan Putra akan melakukan foto promosi untuk tempatnya bekerja. Mengingat hal itu dadanya malah berdebar kencang, dengan perasaan tak menentu.
Namun, segera Lesti netralkan. Kenapa setelah Raziq menikah, tepatnya ketika Putra dan Billar menyentuh kehidupannya mendadak perasaannya mendadak tak karuan. Meskipun kenal dengan Putra sudah lama, tapi, ia baru bisa merasakan ‘sosok Putra’ sekarang ini. Sebelumnya dia terlihat cuek; seolah tak memiliki selera apa pun, tapi, sekarang Lesti bisa merasakan sesuatu yang lain dari Putra.
Sementara Billar, laki-laki baru pindahan dari Jakarta. Kenapa laki-laki ini lancang sekali menyentuh perasaannya dengan cepat. Tak perlu menunggu dua puluh empat jam, dia berhasil membuat dirinya nyaman, tapi, Lesti mengabaikan kenyamanan itu karena menurutnya hal itu tidak biasa. Bahkan berkenalan dengan Raziq agar dirinya benar-benar nyaman dan resmi menjadi sepasang kekasih, membutuhkan waktu berminggu-minggu.
Lesti mengguyur seluruh tubuhnya dengan lembut, tanpa membiarkan bayangan dua laki-laki itu terlepas dari pikirannya. Jika memang salah satu dari mereka adalah malaikat yang akan mendampinginya selama hidup di dunia hingga akhirat nanti, Lesti berharap segera menemukan jalan terbaiknya.
“Kak Lesti! Cepetan ya, mandinya!” seru Tiara, membuyarkan pikirannya.
Lesti mendengkus kesal, dan segera melakukan aksi gerak cepatnya. Adiknya itu memang hobi banget merusuh dan mengganggu dirinya. Suka malak, entah itu uang atau barang, juga sering penasaran akan kehidupan percintaannya. Tentunya, dia selalu iri jika dirinya dikelilingi banyak laki-laki tampan dan idaman. Pasti, ketika Putra datang menjemputnya dia akan merengek agar bisa dekat.
“Aduh! Kak! Cepetan kek! Ini perutnya udah enggak bisa diajak kompromi lagi!” serunya lagi, membuat Lesti meraih handuknya dan beranjak dari WC.
“Bawel banget jadi orang!” sembur Lesti begitu melewati Tiara.
“Bodo amat!” Tiara membalas semburan Lesti dan segera masuk ke WC.
Lesti segera memakai seragam kerjanya, dan merias wajahnya dengan make up natural. Tak lupa ia menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya. Di sela-sela seperti ini, ia juga melayangkan pesan kepada Putra untuk menjemputnya. Tak masalah mereka datang lebih awal dari biasanya, karena ia sudah bisa menduga langit akan segera meruntuhkan amarah dan kesedihannya. Dan Lesti tidak mau terjebak dalam kesedihan langit, apalagi harus berkencan selama beberapa menit dengan apa yang namanya jas hujan.
Sepuluh menit telah berlalu. Lesti telah bersiap dengan segalanya. Tak perlu menunggu lama, laki-laki yang ditunggunya datang dengan motor klasiknya seraya membunyikan klakson.
“Kak!” teriak Tiara dari belakangnya. “Kak untuk ke sekian kalinya aku iri pake banget ke Kakak kenapa laki-laki yang deketin Kakak ganteng-ganteng? Gak mau tau nanti Kakak harus cerita, kalo boleh aku minta tipsnya supaya dapat cowok ganteng!”
Lesti menghela napas pendek, menahan luapan emosi yang siap terjang ke adiknya ini. Kenapa di otaknya Tiara isinya hanya tentang laki-laki tampan? Apa di sekolahnya enggak ada teman laki-laki yang tampan? Masa iya.
__ADS_1
“Baiklah. Tipsnya cuma dua, jadi cantik dan jangan malas!” pungkas Lesti seraya berlari kecil menghampiri Putra. “Dah, Tiara, semoga berhasil dengan tipsnya!” ledek Lesti.
Putra melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Semenjak mendapatkan pesan dari Lesti untuk jemput, dada Putra sudah berdebar. Sepertinya semesta mulai memberikan cahaya untuk masalah perasaannya.
“Tadi, adik lo kenapa? Kok ekspresinya kayak kesal gitu?” Putra membuka percakapan.
“Kata dia, lo ganteng banget,” jujur Lesti.
“Oh, ya?”
“Iya. Dia itu emang begitu, kalo lihat cowok ganteng selalu di depan. Gak ngerti deh, masa iya di sekolahnya enggak ada cowok yang ganteng satu pun. Tapi, gue setuju sih sama adik gue. Lo emang cakep, meskipun gue sering sebel banget sama lo dulu. Kerjaannya nyeramahin karyawan mulu!” jelas Lesti panjang lebar.
Tunggu, apa baru saja Lesti memujinya? Oh, kenapa enggak dari dulu ia mengambil kesempatan untuk dekat dengannya meskipun hanya sebatas teman saja. Kalau dari dulu, sudah dekat mungkin sekarang ia akan lebih leluasa menyampaikan perasaannya.
“Ya, kan, gue ditunjuk utuk mimpin tim ini. Ya, gue profesional aja,” balas Putra.
“Eh, Btw, lo disuruh photoshot sama gue kan?” tanya Lesti mengalihkan pertanyaan sebelumnya.
“Iya, kenapa? Lo gak setuju?” Dada Putra berdebar, mengubah perasaannya seratus delapan puluh derajat.
“Tadinya, karena menurut gue kenapa pak Ghifar milih gue padahal banyak karyawan yang lebih cantik dari gue,” timpal Lesti.
“Terus kenapa lo mendadak setuju?”
“Kenapa ya? Entahlah mungkin karena lo.”
Astaga belum genap satu jam, bahkan setengah jam, perempuan manis ini sudah berhasil membuat perasaannya kesurupan. Kenapa dia sangat mudah mengutarakan kalimat yang membuat pendengarnya terhanyut dalam ucapannya. Apakah dia sadar kalau ucapannya itu mengandung virus baik bagi hatinya? Dia terlalu dewasa jika dianggap polos dan tak peka terhadap ucapan yang bisa membuat seseorang meleleh.
“Oh, iya, gue minta agar saat di foto studio nanti bilangnya aku-kamu lagi,” sambung Lesti.
“Baiklah, tapi kenapa enggak setiap hari aja bilang aku-kamunya?” Entah dari mana datangnya keberanian ini. Putra terdiam membeku, karena ucapannya yang terlalu berani ini.
Lesti terlihat berpikir. “Boleh, kalau kamu enggak keberatan.”
Putra menggeleng pelan. “Enggak!”
Tepat ketika motor Putra terparkir di depan tempatnya bekerja, langit mulai meruntuhkan kesedihannya satu persatu yang perlahan berubah menjadi ribuan bahkan jutaan. Keduanya segera menepi, dan tersenyum senang kala beberapa rintik hujan mengenai keduanya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata dari jarak kurang lebih sepuluh meter, dari balik kaca menatapnya penuh arti. Luka yang perlahan menyayat perasaanya, tapi wajahnya seolah menolak luka itu dan tetap terlihat baik-baik saja.
Semesta sedang becanda, tapi, gue enggak suka. Dan akan gue buat candaan ini menjadi serius, sangat serius!
__ADS_1
...O0O...