
KILATAN kemarahan tergambar jelas di mata Pak Ghifar, saat tampilan di layar Billar tertangkap oleh matanya. Angle yang sempurna untuk hasil foto yang tengah ramai diperbincangkan di laman sosial media. Karena ulah sosok ini, nama Kejora Cofee and Bakery nyaris tercoreng seutuhnya.
“Kenapa kamu lakukan ini Jesika?” tanya Pak Ghifar dengan nada berat, penuh emosi.
Perempuan yang menjadi pusat curiga Lesti dan Putra ternyata benar adanya. Perempuan itu ternyata di balik akun Ayu, sebenci itukah dia sampai harus melakukan permainan jahat seperti ini?
Mulut Jesika mendadak kelu, sorot matanya perlahan berselimut air, tak tahan mendengar bentakan dari Pak Ghifar
“Kalo kamu iri atas apa yang dicapai Lesti, seharusnya kamu mikir dan meningkatkan kinerja kamu, bukan melakukan permainan norak seperti ini!” bentak Pak Ghifar. “Karena ulahmu, yang menjadi korban bukan hanya nama baik Lesti, tapi juga nama baik usaha saya!” Pak Ghifar semakin berapi-api, sementara karyawan lainnya hanya mampu berdiam menenggelamkan tatapannya.
Billar beralih ke samping Lesti merangkul dan menenangkannya. Ia menautkan senyum penuh arti kepada Lesti. “Gue kan udah bilang, lo tenang aja. Gue punya banyak bukti. Ide dia buat ngejatuhin orang dari belakang sangat pasaran!” bisik Billar.
“Makasih,” ungkap Lesti.
“Gue punya banyak hadiah buat lo, nanti pulang kerja kita makan di luar ya?” ajak Billar. “Jujur deh, saat orang-orang memuji Bali, di sana gue badmood banget, tau kenapa?” Billar melirik Pak Ghifar yang masih memarahi Jesika. “Karena enggak ada lo. Kalo ada lo di sana, beuh! Keindahannya semakin sempurna,” lanjutnya.
Lesti hanya mampu tersenyum samar. Ia tahu kalau sekarang Billar sedang menghiburnya, nasib baik laki-laki ini hadir di waktu yang tepat kalau tidak mungkin sekarang dia sudah pulang dan menangis di dalam kamar. Tunggu ... bukannya kemarin bilangnya gak jadi pulang? Ah, sudahlah, laki-laki ini memang penuh kejutan.
Di sisi lain, Pak Ghifar masih setia dengan obrolan penuh amarah. Laki-laki yang menjelma sebagai bos ini, benar-benar terlihat berbeda sekarang. Biasanya beliau selalu menampilkan kejenakaannya pada siapa pun, tapi, sekarang sungguh di luar dugaan.
“Saya tidak akan menoleransi, saya akan memecat kamu Jesika!”
“Tapi Pak,” ujar Jesika akhirnya. “Sa-saya hanya diperintah Pak!” lanjutnya membuat seisi ruangan belakang ini hening. Karyawan lainnya saling menatap satu sama lain, dan Lesti yang sedari tadi menundukkan kepala kini mengangkatnya menatap Jesika yang sudah berlinang air mata penuh penyesalan.
“Siapa?” tanya Pak Ghifar.
__ADS_1
“Ardia.”
Semua pasang mata yang awalnya terarah kepada Jesika kini beralih terhadap sosok yang berada di samping Putra. Perempuan itu sudah berkaca-kaca, mulutnya tertutup rapat seolah menahan sesuatu agar tidak termuntahkan.
Sedangkan Lesti sangat terkejut mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Jesika. Ardia, benarkah temannya ini yang berada di balik semua teror mengerikan ini? Enggak mungkin, bagaimana bisa orang yang Lesti anggap sebagai teman terbaiknya melakukan hal murahan seperti ini.
Lesti sangat tahu Ardia. Perempuan itu sangat baik, bahkan saat teror dan Jesika menjatuhkannya, dia selalu mendukung dan menyemangatinya. Jadi apa maksud semua ini?
“Ardia?” Pak Ghifar tersentak. Kakinya langsung melangkah menghadap perempuan yang akhirnya menghancurkan pertahanannya. “Benar apa yang Jesika ucapkan?” Ardia bergeming, kalap dalam kesedihannya. “Jawab Ardia!” lanjut Pak Ghifar dengan nada naik satu oktaf.
“I-iya, saya yang melakukan semua ini,” jawab Ardia akhirnya.
Pak Ghifar menghela napas panjang, menepuk jidatnya tak percaya jika teman dekatnya Lesti melakukan hal ini. Seperti yang sering dilihat olehnya, mereka itu selalu bersama, mendukung dan menguatkan, tapi, faktanya salah satu dari mereka malah ingin menjatuhkannya.
Sementara Lesti, mendadak tubuhnya terasa lemas. Billar yang berada di sampingnya segera menahan dan membawanya ke sebuah kursi yang tak jauh dari sana. Lesti benar-benar tidak menyangka, orang yang ia percayai selain keluarga menjadikan kepercayaannya sebagai senjata untuk melukainya dari belakang.
“Saya sangat kesal dengan dia. Dulu dia pernah berjanji akan mendukung saya dalam hal apa pun, termasuk perasaan. Namun, faktanya dia malah menikung dan membuatku kesal.”
Pak Ghifar tersenyum miris mendengar jawaban Ardia. “Cinta bisa sejahat ini? Menghancurkan pertemanan yang telah kalian bangun. Siapa orang yang telah membuat kamu melakukan hal ini?”
Ardia sesenggukan, menundukkan kepalanya. “Putra.”
Putra yang sedari tadi diam terkejut mendengar pernyataan Ardia begitu juga dengan yang lainnya termasuk Lesti. Sekarang Lesti tahu kenapa Ardia melakukan hal ini, memang dulu Ardia sempat bercerita kalau dirinya sangat mencintai Putra dan ya, ia berjanji akan mendukungnya.
“Huft! Bapak enggak akan ikut campur sama masalah pribadi kalian. Bapak tahu kalian ini sudah dewasa, maka selesaikan secara dewasa,” ujar Pak Ghifar seraya mengontrol emosinya yang meluap-luap. “Tapi, Bapak tak punya pilihan lain selain memecat kalian berdua. Hukum tetap berlaku, entah apa itu alasannya—“
__ADS_1
“Pak!” potong Lesti, seraya beranjak menghadap Pak Ghifar. “Saya sangat meminta kepada Bapak agar tidak memecat mereka. Beri hukuman tapi jangan pecat mereka, saya mohon! Maafkan mereka, Pak, ya?” pinta Lesti dengan sangat.
Lesti menatap Ardia yang masih tak berkutik, lalu memeluknya erat. “Gue minta maaf, Di. Gue lupa, tapi jujur gue sama Putra hanya teman. Meskipun saat lo ngebiarin gue sama Putra sempat tumbuh rasa itu, tapi hanya sesaat saja,” ucapnya pelan.
Melihat hal itu, Jesika menghampiri mereka dan turut memeluknya. Dia meluapkan mohon maaf kepada Lesti dengan sungguh-sungguh, begitu juga dengan Ardia.
“Baiklah. Saya tidak akan memecat kalian, tapi kalian harus membuat permohonan maaf di sosial media,” pungkas Pak Ghifar seraya beranjak dari hadapan karyawannya.
Lesti, Ardia, dan Jesika menghela napas lega. “Makasih,” ujar Ardia dan Jesika bersamaan.
O0O
Setelah mendengar pernyataan Ardia beberapa menit yang lalu, Putra memilih diam lebih lama di musala. Putra sempat sadar terhadap sikap Ardia yang memang selalu mencari celah agar bisa di sampingnya, tapi ia selalu beranggapan hanya kebetulan atau memang hubungan rekan kerja saja.
Perihal rasa memang sangat sulit ditebak. Kalau boleh jujur, Putra tidak memiliki perasaan lebih terhadap Ardia selain dari rekan kerja. Dan ia sangat tidak percaya jika Ardia akan melakukan sejauh ini karena dirinya dekat dengan Lesti.
Lebih dari lima belas menit Putra berdiam diri di musala, sampai akhirnya ia kembali bekerja membantu yang lainnya. Gara-gara kejadian tadi, Putra menjadi sangat canggung dengan Ardia begitu sebaliknya.
Tiba-tiba ketika Putra menyajikan roti di etalase, Ardia menyapanya dan menghampirinya. Perempuan itu tersenyum kepadanya dengan canggung.
“Gue mau minta maaf sama kejadian tadi. Sekarang gue sadar kalau perasaan tidak bisa dipaksakan. Jangan karena gue bilang begitu, sikap lo jadi berubah dan kaku lagi. Gue sempat bersyukur, saat lo mengobrol dengan Lesti karena lo menunjukkan sisi lain dari lo. Gue lebih suka yang itu,” ujarnya, lalu pergi.
Putra terdiam sejenak. Benar. Semenjak bersanding dengan Lesti, ia merasa leluasa dan nyaman. Perempuan berhijab yang kini tengah melayani konsumen, memang penuh dengan aura positif. Tanpa dia sadari hal itu menyebar terhadap orang-orang di sekitarnya, dia memang istimewa. Siapa saja yang menjadi pendampingnya kelak, sungguh seseorang itu sangat beruntung.
Putra menggelengkan kepalanya berkali-kali, saat pandangannya terpergok oleh Lesti. Segera ia berbalik arah kembali ke pemanggangan, seraya mengulum senyum malu.
__ADS_1
Putra ... oh Putra!
...O0O ...