Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Usaha Mendekati


__ADS_3

DI MALAM yang masih diselimuti air yang lembut ini, Billar dan Haris masih sibuk mengobrol di studio seraya menyambut kepulangan para karyawannya. Mereka masih setia membahas banyak hal terutama bisnis foto studio. Dalam waktu beberapa bulan, Billar juga berniat untuk membuka foto studio di Yogyakarta—tepatnya ketika MRB studio cabang Bandung ini memiliki banyak penikmatnya.


“Setelah Yogya, lo mau buka di mana lagi?” tanya Haris.


“Yogya kayaknya yang terakhir untuk saat ini. Karena teman gue yang paling gue percaya cuma lo doang Ris,” balas Billar. “Nanti lo mimpin yang di Yogya, nantinya gua bakal ngecek ke sana tiap bulan.”


Haris menatap penuh Billar, sungguh ucapan Billar membuat pikirannya flashback ke masa di mana mereka bersekolah. Haris kenal dengan Billar semenjak masuk masa putih abu, orangnya asyik, meskipun terlahir dari keluarga berada dia tetap berbaur dengan yang lain tanpa melihat status.


“Thanks udah nerima gue selama ini, gue sangat bersyukur punya sahabat kayak lo. Gue gak tahu harus membayar semua ini dengan apa. Semoga hidup lo selalu ada dalam kebaikan, dan semua mimpi lo tercapai!” kata Haris penuh dengan penghargaan.


Billar tersenyum. “Gue juga, terima kasih untuk sampai saat ini lo masih bertahan sama gue!”


Tepat ketika jarum jam menyentuh pukul sepuluh, sayup-sayup suara motor mulai bersahutan Billar keluar dari studionya diikuti oleh Haris. Sampai saat ini Haris belum bisa menemukan jawaban kenapa tingkah Billar mencurigakan seperti ini.


“Ada apa Bi? Semenjak gue hadir, tingkah lo kayak nyimpen sesuatu gitu, ada apa?” tanya Haris.


“Lagi mengejar impian, Ris!” jawab Billar membuat Haris terdiam menyerap makna yang berada dibalik kata impian.


Beberapa detik berpikir, Haris mulai mengembangkan senyumnya. Ia masih mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Billar saat menghabiskan waktu di Kejora. Impian itu bermakna perempuan yang diharapkan Billar kepada Tuhan untuk landasan hatinya. Tunggu ... kenapa dia menatap ke Kejora? Perempuan yang diimpikan kerja di Kejora?


“Impian lo kerja di Kejora?” Haris menatap satu persatu karyawan Kejora yang mulai beranjak dari sana.


“Semoga memang dia yang gue impikan,” kata Billar.


“Kalo gitu gue pulang duluan deh, kirimin alamat apartemen dan paswordnya,” timpal Haris seraya masuk ke studio untuk membawa perlengkapannya.


Malam ini dan selama membantu Billar, Haris mendapatkan tumpangan gratis darinya. Sudah tidak diragukan lagi tingkat kebaikan Billar. Besok pagi ia akan kembali ke Jakarta untuk membawa motor pribadinya, dan beberapa perlengkapan lainnya selama tinggal di Bandung. Setelah membenahi barang-barangnya, Haris memesan ojek online dan pergi meninggalkan Billar dengan tatapan yang tak luput dari Kejora.


“Gue duluan ya!” seru Haris.


Selang beberapa menit dari kepergian Haris, akhirnya sosok yang ditunggu Billar nongol bersamaan dengan datangnya ojek online. Matanya menatap tiga manusia yang keluar dari sana, salah satu dari mereka adalah Lesti. Perempuan berhijab itu melambaikan tangan ke temannya yang naik ojek, sementara dirinya berjalan beriringan dengan laki-laki yang tiada lain adalah Putra.


Billar memalingkan wajahnya sejenak sebelum menatap lagi mereka. Rasa suka terhadap Lesti telah berevolusi jauh sampai menimbulkan cemburu seperti ini. Cemburu adalah bentuk semesta memberikan rasa percaya kepada orang kalau orang tersebut masih diberikan kesempatan untuk memiliki apa yang dicemburuinya.


Lesti terlihat mengobrol asyik bersama Putra. Keduanya terlihat saling mengumbar rasa suka, senyum, dan juga tawa.

__ADS_1


Namun, semua itu akan terjawab sekarang. Apa benar ucapan Lesti tempo hari? Atau hanya sebuah usaha untuk melepaskan jeratan darinya? Jika dia berbohong, tak segan Billar akan melontarkan hukuman kepadanya. Jika semua itu benar, sudah saatnya ia mempererat doa untuknya.


Billar mengikuti mereka dari belakang, mempersiapkan segalanya demi seseorang yang telah ia yakini sebagai pelabuhan terakhirnya. Ia tidak mau menunda masa sendirinya lebih lama, baginya usia dua puluh lima tahun ini sudah saatnya memiliki calon untuk dipinangnya. Mengingat hampir semua teman sekolahnya sudah menikah, tersisa kurang dari sepuluh temannya yang masih bertahan di status pacaran atau jomblo; dua di antaranya Billar dan Haris.


Di depan sebuah rumah yang tampak senyap, Billar menghentikan motornya. Ia melihat Lesti berbincang sebelum memutuskan untuk masuk rumahnya dengan Putra. Dalam hati Billar mengutuk Putra agar pergi dan tak perlu bertemu lagi dengan Lesti agar usahanya lebih cepat.


Begitu Putra beranjak, Billar kembali melajukan motornya dan memarkirkannya di depan rumah Lesti. Baru beberapa detik Lesti menutup pintu, kembali dia menariknya dan memajukan kepalanya untuk melihat keluar.


“Hai!” seru Billar sambil melambaikan tangannya.


Lesti mendengkus, hendak menutup pintu namun dicegah oleh ayahnya. Billar yang nyaris menyurutkan senyum kembali mengembang.


“Makasih, udah anterin anak saya,” ujar Pak Rahman—ayahnya Lesti—seraya menghampiri Billar.


Dada Lesti berdebar, kenapa Billar bisa berada di depan rumahnya. Lesti pikir setelah melihat kebersamaannya dengan Putra, Billar akan berhenti mendekatinya. Lagi pun kenapa dia harus hadir di kehidupannya, dan salahnya kenapa Lesti malah menerima tawaran Billar pada saat itu.


Dari pada dapat masalah, Lesti beranjak dari tempatnya menuju kamar dan mengunci diri. Billar mau apa kembali ke rumahnya? Lalu kenapa ayahnya malah melebarkan tangan untuk menerima dia di sini, padahal perkenalan mereka baru seumur jagung. Pasti semua ini ada sesuatu, tidak mungkin kan seorang laki-laki seumur Billar datang dan terlihat mendekatkan diri padanya juga ayahnya.


Jangan sampai bapak bilang ‘kalau Billar cocok jadi imam kamu’!


Malam ini berhasil membuat Lesti resah, meskipun ia tidak tahu pasti kenapa dirinya menolak kehadiran Billar dalam hidupnya. Toh hatinya merasakan ketidaknyamanan saat berhadapan dengan Billar. Apalagi saat melihat foto pasangan dengan perempuan bernama Amanda di Instagramnya.


Pak Rahman mengajak Billar untuk berbicara di kursi yang terpasang di beranda rumah, saat laki-laki berjaket itu menjawab pertanyaan Pak Rahman dengan nada gugup.


“Ada apa?” tanya Pak Rahman.


“Sebenarnya yang mengantar jemput Lesti hari ini bukan saya, Pak,” jawab Billar jujur.


Pak Rahman mengerutkan dahinya, heran. “Lalu siapa, dan kenapa enggak kamu?”


“Enggak tahu Pak, mungkin pacarnya, soalnya tadi saya lihat kayak dekat gitu. Terus Lesti juga enggak ngerespon pesan saya saat bertanya mengenai jam kerja,” jelas Billar terus terang. Toh, Billar tidak berbohong karena secara resmi ia tidak pernah berkenalan dengan sosok Putra. Ia tahu karena Lesti menandai laki-laki tersebut di Instagramnya.


Raut terkejut terlukis di wajah Pak Rahman, karena setahunya Lesti sudah putus dengan pacarnya bahkan kemarin mantan pacarnya telah menikah. Kalau pun Lesti punya pacar kenapa tidak bilang. Ia selalu menekankan kedua putrinya kalau punya pacar harus dikenalkan kepadanya. Karena bagaimana pun Pak Rahman sangat khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa kedua putrinya.


“Lesti!” seru Pak Rahman.

__ADS_1


Billar hanya diam. Dalam hatinya berharap kalau usahanya ini berjalan sesuai dengan rencananya. Mungkin sekarang Lesti akan dimintai penjelasan mengenai Putra, dan ini juga akan menjadi jawaban atas pernyataan Lesti yang mengganggu pikirannya.


“Iya Pak. Ada apa?” balas Lesti, malas.


“Siapa yang nganterin kamu pergi dan pulang hari ini? Kata Billar kamu terlihat dekat dengan dia. Dan kenapa tidak dikenalin ke bapak?”


Lesti cemas. Kalau ia menjawab iya pacaran dengan Putra, pasti ayahnya akan ceramah dan mewawancarai Putra. Bukan hanya itu, pasti teman kerjanya akan heboh apalagi ia juga telah menjawab pertanyaan Ardia dengan tidak.


“Yang anterin Putra. Bapak juga tahu kan Putra itu yang mana?”


“Putra itu pacar kamu?” potong Pak Rahman.


Lesti menggeleng ragu. “Bu-kan.”


Billar tersenyum lega, akhirnya ucapan Lesti tempo hari hanya omong kosong. Ia akan melayangkan hukuman kepadanya, untuk membayar semua keresahan di dadanya.


“Baiklah. Mana nomor ponsel kamu?” ujar Pak Rahman.


Lesti menyodorkan ponselnya yang menampakkan nomor kontaknya ke ayahnya. Lesti terkejut ketika ayahnya memberikannya ke Billar, dan dengan senyuman yang sebenarnya manis menjadi terlihat menyebalkan di mata Lesti.


“Pak?”


“Putra tidak ada kejelasan, sementara Billar sudah jelas. Kamu sudah tahu, kan, bapak enggak mau kamu terjerat sama orang yang salah,” terang Pak Rahman.


“Pak, tapi Putra juga orang baik. Bapak udah tahu itu.” Lesti masih kukuh agar dirinya tidak dengan Billar.


“Tapi tidak menjamin, sementara Billar terang-terangan datang ke hadapan bapak dan berjanji akan menjagamu saat antar jemput nanti. Lagian kalian berdua berdampingan kan tempat kerjanya?”


“Iya Pak, tempat kerja kita bersebelahan. Aku juga suka menghabiskan waktu istirahat di Kejora,” timpal Billar cepat.


Lesti mengerucutkan mulutnya lalu pergi meninggalkan ayah dan Billar, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Tunggu ... bukannya saat salat Magrib dan Isya tadi berdoa agar diberikan petunjuk mengenai hal ini? Apa mungkin ini jawabannya? Atau masih dalam kekeliruan?


Lesti melempar tubuhnya ke atas kasur, menenangkan jiwa raganya yang diguncang oleh kenyataan. Banyak hal mencengangkan yang terjadi pada hari ini; pemotretan bersama Putra dengan beberapa pose yang membuat dadanya berdebar, dan kehadiran Billar yang serba tiba-tiba akan apa yang dilakukan.


Petunjuk itu masih kelabu. Belum menemukan titik terang. Jika Billar memang jawaban atas doanya tadi, kenapa hatinya masih bertolak belakang dengan jawaban ini?

__ADS_1


Aku akan mencari dan memastikan jawaban itu


...O0O...


__ADS_2