
SINAR matahari semakin lama semakin leluasa merambah bumi, menyalurkan kehangatan untuknya. Beberapa orang mulai beraktivitas, seperti olahraga, bekerja, atau hanya sebatas mencari kesegaran.
Sesi pemotretan pertama telah mereka lancarkan, meskipun selama itu Billar merasa sangat tidak nyaman dan bersalah kepada Amanda. Billar tahu kalau apa yang terjadi semalam bukanlah kehendaknya, ia sangat yakin kalau dirinya benar-benar tertidur lelap setelah mengakhiri telepon dengan Lesti. Namun, melihat wajah penuh derita, kecewa, dan luka yang tergambar di wajah Amanda sangat mengirisnya, apalagi banyak saksi mata yang menyaksikannya.
Billar meneguk minuman teh hangatnya, setelah menandaskan sebuah bubur. Billar memilih untuk membuat jarak dengan siapa pun, terutama Amanda. Perempuan itu tiada henti membuat perasaannya berkecamuk. Ingin sekali, Billar langsung membawanya ke dokter, tapi kehamilan Amanda belum jelas, meskipun hamil Billar harus menunggu selama tiga bulan untuk melakukan tes DNA.
Mendapati masalah ini, membuat Billar tak berdaya untuk melakukan kegiatan apa pun. Apa yang terjadi pada hari ini membuat semestanya kelam dalam sekejap. Menghamili seseorang di luar pernikahan? Tak pernah Billar bayangkan sebelumnya.
“Ini Mas uangnya, terima kasih,” ujar Billar, lalu beranjak dari tempatnya menuju hotel.
Pikiran Billar tidak pernah lepas dari Amanda. Nama itu mendominasi pikiran dan perasaannya, ia bisa merasakan betapa hancurnya dia. Tatapannya begitu menyayat ketika dirinya menyadari sesuatu yang aneh pada tubuhnya, sialnya kenapa Billar menjadi sasaran dalam masalah ini.
Billar menepi ke bagian kolam renang. Ternyata sesi pemotretan telah di mulai, hanya Amanda yang tak terlihat bersemangat. Wajahnya terlihat masam, dan sepertinya teman-teman seperjuangannya tak mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
“Manda?” sapa Billar seraya duduk di samping Amanda.
“Setelah kamu ngancurin mimpiku, kamu juga akan menghancurkan sesuatu yang tumbuh dalam perutku?” balas Amanda to the point.
“Kenapa harus aku hancurkan?” Billar menghela napas pendek. “Dia tidak bersalah. Aku berjanji akan menjagamu dan dia, sampai semuanya jelas.”
Amanda tersenyum miris. “Kamu masih tak mau mengakuinya setelah semuanya terpampang nyata? Kamu enggak perlu menjagaku, duniaku sudah tamat, semuanya hancur karena kelakuan bejat dari seorang mantan!”
“Terserah. Terserah kamu mau bilang apa tentangku, tapi, aku minta kamu jangan macam-macam sama hidup kamu sendiri dan dia,” mohon Billar dengan sangat.
Amanda berlalu begitu saja. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya, percuma mengikuti ajang model internasional. Perlahan perutnya akan bereaksi melukis sebuah jasad yang berdetak yang tak pernah ia bayangkan akan mendapatkannya di saat mimpinya sudah di depan mata.
Amanda tak memedulikan seruan yang lainnya, seluruh jiwanya serasa dicekam oleh mimpi-mimpinya. Air matanya semakin deras, hingga suara isak tangis terdengar dan terbungkam di WC hotel lantai dasar.
“Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus aku yang mengalami ini?” Amanda meluapkan segala tanya yang mendera batinnya. “Jika aku ditakdirkan seperti ini kenapa aku dilahirkan?” isak Amanda semakin tak terbantahkan.
Amanda memukul-mukul pelan perutnya seraya bersandar ke dinding WC hingga terduduk di lantai. Amanda memeluk kedua kakinya, menenggelamkan kepala di baliknya.
Di ruangan sempit ini, Amanda luapkan semuanya melalui air mata yang kian detik kian menderas. Bahkan pakaian yang dikenakannya basah karena tangisnya. Amanda enggak tahu harus bilang seperti apa nanti ke keluarganya, dan bagaimana jika mereka marah dan tak akan menerimanya lagi?
Jika bukan Billar yang melakukan ini, lantas siapa?
Amanda menyeka air matanya, saat kakinya mendengar derap langkah mendekat. Ia menahan tangisnya, dan bangkit setelah namanya dipanggil oleh seseorang yang tak asing lagi, Billar.
O0O
Billar kembali memegang kameranya, sementara Arfan sibuk mengatur konsep fotografi selanjutnya. Billar tidak banyak interaksi, hanya mampu mengangguk dan tersenyum hambar. Fitnah yang tengah menerjangnya merenggut semuanya, andaikan ia mengikuti kata hatinya pada saat itu dengan alasan keberatan, mungkin hal ini tidak terjadi.
Sekarang pun untuk pulang terasa berat, keadaan merantai kakinya untuk tetap di sini. Billar tidak habis pikir kenapa orang itu melakukan hal ini kepadanya, dan kenapa kejadiannya bertepatan dengan terputusnya semua aliran listrik di hotel ini. Billar tak perlu berpikir panjang untuk memahami ini, ia sudah tahu kalau semua ini telah direncanakan, tapi siapa di balik rencana ini.
__ADS_1
Haris?
Entahlah, apa yang menaunginya sekarang membuat hilang semua kepercayaannya pada siapa pun. Billar ingin meluapkan semua amarah yang berkemul di dadanya, tapi pada siapa ia harus melampiaskannya.
Pemotretan sesi kedua tengah berlangsung, dan hampir memakan setengah jam, tapi Amanda masih belum menampakkan keberadaannya. Billar menawarkan diri untuk mencarinya, saat ini hingga waktu yang ditentukan Amanda akan menjadi tanggung jawabnya. Ia rela memendam niat baiknya demi Amanda, perempuan yang pernah ia cintai dulu.
Billar mencari sosok Amanda, dengan menanyakan ke beberapa orang dan menyusuri banyak ruangan hingga ruangan terakhir yang belum di cek yaitu WC. Billar takut jika Amanda akan nekat melakukan yang bisa mengancam nyawanya, jangan sampai itu terjadi.
Saat langkahnya memasuki WC, samar tangis merasuki telinganya. Namun, dalam hitungan detik tangis itu terhenti.
“Manda?” sahut Billar.
Billar tak peduli memasuki WC wanita, bagaimanapun ia harus mencari keberadaan Amanda. Billar enggak mau jika masalah ini semakin menjauh jika Amanda benar-benar melakukan hal nekat yang bisa mengakhiri hidupnya.
“Kamu di sini?” Billar menyusuri deretan pintu yang berada di WC ini. “Manda, aku minta maaf, aku berjanji akan menjagamu. Aku mohon dengan sangat agar kamu tetap berada di sampingku, aku khawatir.”
Perempuan yang masih enggan untuk menampakkan keberadaannya, hanya bisa menggigit bibir. Dadanya berdebar ketika mendengar permohonan Billar yang terdengar tulus itu, ia tak paham bagaimana bisa ia memutuskan laki-laki sebaik Billar? Lagi pun, sekarang semua mimpinya sudah direnggut oleh sesuatu yang akan tumbuh di perutnya.
“Manda?”
Amanda kembali menangis, tapi bukan untuk masalah ini melainkan kebodohan yang telah ia lakukan pada Billar. Apa yang terjadi padanya hari ini membuat ingatan akan kebaikan Billar pada saat menjadi pacarnya kembali berputar dalam pikirannya. Selama dua tahun itu, Billar selalu ada di sampingnya, melindunginya, menjaganya, membelanya, tapi ia malah mengakhirnya.
“Manda, aku mohon,” lirih Billar.
“A-aku minta maaf, Bi!” ucapnya tersendat.
Billar memejamkan matanya, tak kuasa mendapatkan kesedihan dari Amanda. Bagaimana tidak, semua mimpi yang selalu diagungkannya hancur dalam beberapa menit. Terkenal sebagai model internasional dengan segudang prestasi, lenyap begitu saja karena kelakuan manusia bejat yang entah siapa.
“Kamu enggak salah Manda,” balas Billar.
“Aku takut, bagaimana aku menjelaskan semua ini?” kata Amanda. “Sampai kapan aku menutpinya?” lanjutnya.
“Dia suci Amanda. Dia tidak memiliki noda apa pun, kamu enggak perlu menutupinya. Aku tahu kamu perempuan kuat, aku akan mendampingimu melewati masa-masa ini,” terang Billar seraya melepaskan pelukan Amanda dengan perlahan. “Sekarang, kamu enggak usah bersedih lagi. Kamu harus berjanji padaku, kamu akan menjaganya, ya?”
Amanda menatap penuh wajah Billar yang penuh dengan ketulusan. “Aku janji,” jawab Amanda, seraya mengangguk.
O0O
Semua sesi pemotretan dan pengambilan video telah usai, tinggallah mereka menikmati hari di sebuah kedai seafood yang menghadap ke pantai. Mereka bercengkerama renyah, layaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Obrolan mereka mengalir, hingga mengundang tawa dan senyum.
Namun, seketika semuanya diam saat ponsel Billar berdering. Billar meminta waktu untuk mengangkat telepon dari orang yang membuatnya nyaman akhir-akhir ini. Lesti Andriyani. Perempuan berhijab yang manis, dan cantik saat terlihat kesal.
Billar keluar dari kedai menuju sebuah bangku kayu yang terampang di antara pohon rindang di sana.
__ADS_1
“Halo, apa kabar?” sambut Billar.
Baik. Lo sendiri gimana?
“Gue juga baik. Tumben telepon duluan biasanya juga gue yang telepon, lo lagi kangen kan sama gue?” tuduh Billar seraya terkekeh.
Apaan, gue cuma mau ngomongin sesuatu ke lo. Eh, lo jadi pulang hari ini?
Billar terdiam cukup lama. Tadinya memang akan pulang sekarang, tapi, setalah mendapati kenyataan yang luar biasa, Billar memiliki tanggung jawab besar di sini.
“Kayaknya enggak, sorry ya,” balas Billar.
Oh, enggak usah minta maaf kali. Gue mau ngobrol serius, lo jangan marah ya, tapi sebelumnya lo dapat komentar atau teror dari orang gak dikenal gak sih di Instagram?
Billar mengerutkan dahinya, bola matanya memutar sana-sini memikirkan arah pembicaraan Lesti. Billar tahu, dulu Lesti pernah bicara mengenai sosial medianya tentang orang yang menerornya.
“Enggak, kenapa emang?”
Gue bakal dipecat kalau dalam tiga hari ini enggak bisa nyelesain masalah. Gue difitnah oleh akun Instagram yang bernama Ayu. Performa tempat kerja gue jadi buruk bahkan Pak Ghifar kena teror dari banyak orang karena masalah ini. Parahnya, di foto yang menjadi objek fitnah adalah saat gue ngobrol sama lo.
Billar hanya mampu tersenyum. “Hanya karena itu?” Senyum Billar berubah menjadi tawa kecil, apalagi saat pikirannya memberitahu sesuatu yang ia takutkan dulu. “Lo gak usah takut. Lo gak bakal dikeluarin.”
Dugaan Billar pada saat itu ternyata benar. Saat seseorang mengarahkan ponsel ke arahnya, dia turut mengikutinya dengan ponselnya juga. Terus, di saat pamit kepada Lesti, ia juga sempat meminta Haris memotret dan memvideonya dari jauh, hal itu untuk menangkap biangkerok di Kejora Cofee dan Bakery.
“Pak Ghifar ngasih lo waktu sampe kapan?” tanya Billar.
Lusa. Kalo gue, gak bisa buktiin itu gue bakal dipecat.
“Sebenarnya lebih baik begitu. Orang-orang yang jadi rekan kerja lo pada jahat. Kalo gue jadi lo, ya gue bodo amat mau dipecat juga, ngapain diam di rumah hantu berkedok restoran kek gitu,” hibur Billar.
Malah ngoceh gak jelas. Kalo gue dipecat gue harus kerja di mana? Lo pikir cari kerja di zaman sekarang itu mudah apa? Dahlah, gue males sama lo. Tadinya, gue takut nama lo jadi jelek karena masalah ini, tapi, lo nya aja gak peduli. Ya udah gue udahan dulu!
“Jangan marah dong. Percaya sama gue, lo tinggal diam aja, gak usah lakuin apa-apa selain doa. Lo gak bakal dipecat kok,” ujar Billar.
Yakali gue santai—
“Bisa gak lo percaya sama gue? Gue tahu siapa yang ngebuat lo begini, gue tahu. Jadi gak usah khawatir,” potong Billar.
Demi apa?
“Demi lo. Love you, bye!” tandas Billar seraya mengulum senyum dan mematikan ponselnya secara sepihak.
...O0O ...
__ADS_1