
Malam ini penuh bintang, cahaya bulan menggelora membuat pemandangan di atas sana tampak indah. Namun semua itu berbanding terbalik dengan keadaan yang tengah menimpanya. Entah sudah berapa lama mata sendu, sedikit merah, bahkan mukanya tampak pucat dan lelah itu memandang kosong ke luar jendela yang sengaja di buka. Dalam beberapa jam ke depan, sang mentari akan menggantikan peran bulan. Sementara laki-laki itu masih sibuk dengan pikiran-pikiran yang membuatnya terluka dan semakin merasa bersalah.
Meskipun setidaknya dalam telepon yang terjadi beberapa jam lalu, ia berhasil meyakinkan Pak Rahman untuk mempercayainya, melambungkan janji akan membawa Lesti kembali. Padahal kenyataannya, Billar sangat kebingungan ia tak memiliki tabungan sebanyak itu.
Setelah dipikir-pikir, Billar merasa kalau yang menculik Lesti ada kaitannya dengan kasus Amanda. Mereka memintanya untuk berhenti mendalami kasus Amanda, tapi bagaimana mereka tahu kalau dirinya bertekad untuk memecahkan kasus Amanda?
Billar menggeleng, tidak tahu siapa orang di balik semua ini. Billar juga tidak tahu apakah orang yang menculik Lesti adalah orang yang sama dengan orang yang menodai Amanda? Billar juga tidak tahu, apakah orang ini juga orang yang mungkin secara sengaja membunuh Amanda. Jika tiga orang ini sebenarnya orang yang sama, lantas siapakah dia?
Ingat, polisi pernah bilang kalau Amanda sempat berpesta di apartemennya. Apa jangan-jangan ini ulah teman satu agensinya? Billar akan diam-diam menyelidiki kasus ini, serapat mungkin. Di titik ini, tidak ada satu pun orang yang Billar percaya. Dunia ini memiliki banyak mata-mata, siapa pun bisa menjadi penjahat. Ya, mungkin dia atau mereka tengah tertawa karena berhasil bermain peran tanpa Billar curigai sebelumnya.
Beberapa menit menjelang subuh, sayup-sayup suara pengajian mulai terdengar di beberapa masjid. Billar benar-benar kehilangan nafsu untuk bercengkerama dengan mimpi malam ini, jiwa raganya dipenuhi dengan rasa gelisah yang tak berkesudahan. Lesti Andriyani yang merupakan istrinya diculik, apakah dia baik-baik saja di sana? Bagaimana kalau dia di siksa, diikat di kursi dengan mata dan mulut ditutup? Atau yang paling parah, bagaimana kalau dia dilecehkan?
Di pagi ini, Billar kembali menitikkan air mata. Semua bayangan itu benar-benar menyiksanya, membuatnya terluka tanpa darah.
“Ya Allah, tolong lindungi istriku!”
Begitulah doa Billar hari ini. Setelah bersembahyang, Billar bergegas mandi ia akan pergi ke studio untuk mengecek tabungan perusahaannya. Setelah itu, ia berencana untuk mengobrol dengan beberapa model dari agensi yang pernah menaungi Amanda. Tunggu ... Billar tidak bisa melakukan ini sendiri. Ia perlu bantuan orang lain.
Billar menatap ponselnya dan langsung menelepon seseorang di seberang sana.
Halo? Gimana Kak, apa Kak Lesti udah ditemukan?
“Ra, aku butuh bantuan kamu. Kamu datang ke Jakarta ya?” ujar Billar.
Gimana-gimana?
“Pokoknya kamu datang ke Jakarta, dan berpura-puralah jadi orang lain. Kalo udah di Jakarta chat aku!”
Hanya Tiara yang bisa Billar percaya. Ya, Billar sudah tahu segala sikap Tiara, karena Lesti selalu bercerita kepadanya. Kalau Tiara adik yang luar biasa, tiada hari tanpa berdebat, berpelukan, dan selalu saling support. Bahkan di hari pernikahannya, Billar melihat Tiara menangis sesenggukkan. Bahkan, malamnya setelah pernikahan dia masih menangis sambil rebahan di kamar Lesti. Dalam panggilan video itu, Tiara mengaku sangat kesepian dan rindu Lesti padahal belum genap satu hari Lesti tidak di sana.
__ADS_1
Pukul tujuh pagi, Billar sudah ada di studio. Beberapa kandidat sudah menunggu di kursi luar termasuk Reina. Dia mengumbar senyum kepadanya, sebisa mungkin Billar membalasnya. Billar langsung masuk ke ruangan Arfan, dan ya laki-laki itu sudah stay dengan komputer lengkap dengan laman kerjaan.
Arfan terkejut dan langsung bangkit, mentap Billar yang tampak menyedihkan. “Lo, kenapa?”
“Tolong cek tabungan studio, Fan,” perintah Billar.
“Tunggu-tunggu, pagi-pagi lo datang ke sini dengan muka yang .... menyedihkan minta untuk cek tabungan. Ada apa?” Billar menarik napas panjang lalu mengembuskannya. “Coba lo tenang dulu, duduk dulu, cerita sama gue, ada apa?”
Billar mengusap wajahnya, lalu menatap Arfan. “Istri gue diculik, mereka minta uang 1 M.”
Sontak Arfan membeliak, bahkan mulutnya menganga tidak percaya. “Hah?”
“Gue gak mau istri gue kenapa-kenapa!” timpal Billar.
“Lo gak lapor polisi?” tanya Arfan masih dengan keterkejutannya.
Arfan mendadak lemas. “Kenapa jadi seperti ini, dasar penculik sialan!”
“Ini semua gara-gara gue,” ungkap Billar membuat Arfan menoleh. “Kayaknya, mereka adalah orang yang sama dengan orang yang menodai Amanda di Bali. Dan lo tau, sekuat apa gue pengen mengungkap kasus ini? Mereka ingin gue mengakhirinya.”
Arfan menghela napas panjang. “Gue paham sama perasaan lo. Mungkin kalo gue ada di posisi lo, gue bakal ngelakuin hal yang sama. Gue bakal ngungkap kasus itu. Gue cek dulu tabungan studio.”
“Lo benar mungkin gue gak seharusnya cari tau fakta yang sebenarnya sudah terpapar itu, Fan,” kata Billar sambil mengekori Arfan.
“Gue hanya ngingetin kalo lo udah punya istri, Bi. Gue hanya ingin lo gak terlalu fokus sama kasus Amanda, maksudnya lo masih bisa selidiki tapi tanpa harus membuat istri lo terluka. Hanya itu.”
Arfan mulai mengecek tabungan studio di komputer. “Ini sisanya, sebelum lo nikah, kita udah bahas tentang alat-alat fotografi. Ini sisanya dan mungkin akan berkurang untuk gaji karyawan bulan ini.”
Billar mendengkus. “Ah!”
__ADS_1
Mata Arfan memandang wajah Billar. “Lo gak usah khawatir, sisanya kita bisa pinjam ke perusahaan yang kerja sama dengan kita.”
Billar mengangguk. “Lakukan segera, Fan. Mereka hanya kasih waktu seminggu.”
“Apa?! Astaga!”
“Satu lagi, biar William yang urus para pelamar di depan. Lo fokus bantuin gue dulu,” kata Billar lalu duduk di sofa sana.
“Baiklah, dan mungkin lo harus istirahat sekarang. Jangan sampai lo sakit!” tegas Arfan.
“Gue gak bisa, Fan.” Billar meraih ponselnya dan menelepon nomor Lesti yang di sandera penculik. Seperti biasa tidak seorang pun yang mengangkatnya. “Ck!”
“Kenapa?” tanya Arfan.
“Gue hanya ingin denger suara istri gue, Fan. Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sarapan pagi ini? Gue benar-benar khawatir!”
“Gue juga khawatir Bi, tapi plis lo juga harus lihat diri lo. Lo gak bisa kayak gini, lo harus bisa melawan pikiran negatif itu. Gue tau ini bukan hal yang mudah, tapi lo juga harus istirahat. Jangan sampai lo sakit, kalo lo sakit gimana? Lo gak bisa jadi pahlawan untuk Lesti.”
Billar mengembuskan napas panjang, berusaha untuk menumpas semua pikiran negatif yang memerogotinya. Tubuhnya memang lelah, tapi keresahan itu lebih besar dari lelahnya.
Ting!
Sayang:
Gue cuma mau laporan kalo istri lo baik-baik saja, percayalah. Dia sudah sarapan juga. Dan gue mau ngingetin waktu lo tinggal enam hari lagi.
Gimana, game ini menyenangkan bukan?
“AAAHHHH!!!! BANGSAT LO ANJ*NG!!!!”
__ADS_1