
Sore kala itu terlihat indah, kesiur angin menerpa wajahnya dengan lembut yang diiringi senandung kicauan burung bertegur sapa dengan keluarganya setelah seharian bekerja mencari makan. Namun, dalam sekejap keindahan itu lenyap. Hawa dingin membungkus semesta seutuhnya.
Lesti memandangi bayangannya dalam cermin, ia tersenyum kemudian mengelus pipinya. Seharian ini, Lesti disibukkan dengan memikirkan bagaimana caranya ia bisa melarikan diri dari sini. Sebuah ide hinggap, tapi Lesti sedikit pesimis dengan idenya ini. Bagaimana kalau dirinya gagal dengan rencana ini? Apa ia akan dibunuh karena melarikan diri dari ruangan indah tapi terkutuk ini.
Lesti memalingkan wajahnya dari bayangannya menatap jam, sebentar lagi sosok bertopeng itu akan hadir di sini membawanya makanan. Lesti bangkit dari duduknya, dalam hatinya berharap kalau pria bertopeng itu sangat bodoh, karena sekarang ia akan membodohinya dengan sedikit meloloskan trik penipuan.
Kaki Lesti melangkah mendekat kamar mandi lalu menyalakan keran, dan shower bersamaan. Setelah itu ia menutup pintunya tanpa di kunci. Tak lupa ia telah menggantung handuk di dalamnya, biar menambah efek bayangan di pintu kaca bercorak bunga itu.
Lesti menghela napas panjang, lalu bergegas di balik pintu kamar. Bahkan, sekarang Lesti sudah bisa mendengar samar-samar derap langkah yang menghampiri kamarnya. Di beberapa waktu Lesti sempat menahan napas.
Klek!
Sosok bertopeng itu masuk, dan menghela napas panjang. Setelah jarak langkah kaki pria bertopeng itu cukup jauh dari pintu, perlahan Lesti melangkah keluar. Lalu menutup pintu kamar tersebut dengan cepat, tak lupa ia menguncinya dan juga membawa kuncinya.
“AH! BANGSAT!!!!” racaunya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, Lesti bergegas turun dari lantai atas. Tidak percaya jika dirinya dipenjara di rumah yang super megah ini.
“WOYYY!!! ANJING!!!!”
BRUK!
BRUK!
BRUK!
Teriakan yang diikuti pukulan kuat ke pintu itu, rupanya menyadarkan temannya yang berjaga di luar. Cepat-cepat Lesti memcari tempat persembunyian di sisi ruangan lainnya. Lesti memgintip pria bertopeng lainnya itu memangkas anak tangga. Setelah dirasa yakin orang itu tak memyadarinya, Lesti berlari sekuat tenaga. Namun getar ponsel yang berada di meja ruang tamu itu mengalihkan perhatiannya.
Demi apa pun, Lesti dibuat terkejut dengan nama yang melakukan panggilan. Tanpa berpikir panjang, ia meraih ponsel itu dan kembali berlari meninggalkan rumah besar ini. Lesti tidak tahu ia berada di mana, namun ia sangat yakin kalau tempat ini bukanlah di Jakarta.
Lesti terus berlari menyusuri jalanan sepi yang diimpit pohon-pohon besar. Jika bukan karena sedang melarikan diri, mungkin Lesti akan menangis ketakutan dengan situasi seperti ini. Hingga langkah Lesti berhasil tiba di sebuah pemukiman kecil, ia melihat sebuah warung yang masih buka. Cepat-cepat ia menghampirinya.
“Assalamualaikum?” ucap Lesti dengan napas terengah-engah.
“Wa Alaikumsalam, mau beli apa?” tanya ibu bertubuh gempal itu. Dahinya berkerut, memandangnya heran.
__ADS_1
“Bu, tolongin saya. Saya diculik oleh dua orang bertopeng yang tinggal di rumah besar itu. Saya melarikan diri dari sana, tolongin saya, Bu!”
Ibu itu tersentak dan langsung keluar dari warung, membawa Lesti untuk masuk ke rumahnya. Ia langsung dikerumuni keluarganya.
“Ini ada apa, Bu?” tanya bapak paruh baya.
“Pak sekarang bapak ke pak RT, kakak ini korban penculikan di vila itu.” Ibu itu memberikan isyarat kepada suaminya, setelah itu ia langsung membawakan segelas air hangat. Sementara dua anaknya yang sepertinya masih SMP dan SD itu hanya terdiam.
“Kamu dari daerah mana?” tanya sang Ibu.
“Saya dari Bandung, tapi saya sekarang lagi di Jakarta sama suami saya. Malam itu, seseorang datang membekap saya dari belakang, dan saya terbangun sudah ada di rumah itu,” terang Lesti.
“Oke-oke, sekarang kamu tenang. Kamu aman di sini.” Ibu itu bangkit dan langsung menutup warung.
Lesti mengangguk, tubuhnya bergetar. Pikirannya tiba-tiba kembali tertuju pada sebaris nama di ponsel yang berada di sakunya ini. Lesti tidak tahu apakah orang ini ada kaitannya, atau memang orang di balik ini semua?
O0O
Sementara itu, di tempat gemerlap lampu yang beradu dengan lagu. Kepala Reina mendadak pusing, ia bahkan terkejut ketika Arfan membawanya ke tengah ruangan dan berjoget bersama. Sekuat tenaga, Reina menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya.
“Apa kamu senang?” Arfan terkekeh. “Kamu akan terbiasa dengan ini, Re!”
Reina berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kewarasannya, ia meraih ponselnya dan memotret sesuatu ketika Arfan memeluknya. Lalu Reina mengirimkan foto tersebut terhadap seseorang, Reina butuh bantuan.
Sejenak kewarasannya terenggut, Reina kembali menikmati permainan yang Arfan mulai. Reina melenguh dan mendesah. Reina bisa mendengar dan melihat Arfan tertawa puas.
Di tengah kegilaan yang tengah terjadi ini, Arfan membawa Reina ke sudut ruangan, sedikit menepi dari orang-orang yang bahagia di tengah ruangan. Arfan memegang bibir Reina, lalu melum*tnya dengan ganas. Sesekali Reina menyerangnya.
“Ah! Lepasin!”
“Kamu mirip kakakmu, Re. Kamu cantik, aku jatuh cinta sama kamu!” Arfan kembali memborbardir bibir Reina, tapi lagi-lagi Reina berontak.
“Dasar gila! Apa yang akan lo lakukan, hah?” Reina benar-benar marah saat ini, meskipun dalam keadaan mabuk. Semua ini karena laki-laki sialan di depannya. Reina menarik kata-katanya tentang menyukai laki-laki ini.
“Jangan marah sayang, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu.” Arfan mengunci tubuh Reina.
__ADS_1
“Lo mabuk! Hentikan!”
“Kamu lebih galak dari kakakmu ternyata, harusnya aku menambahkan obat itu untuk kamu!” Arfan terkekeh, kembali memegang bibirnya lalu melum*tnya lagi.
“Anjing!”
Arfan tertawa pelan. “Kamu tau, aku sangat mencintai kakakmu. Tapi dia menghianatiku, dan berpacaran dengan cowok sialan itu. Dan lo tau, siapa yang menghamili dia? Ya, aku. Aku mencintainya!”
Napas Reina tertahan, tidak menyangka orang di balik luka kakaknya itu adalah Arfan. Laki-laki bejat ini benar-benar keterlaluan.
“Dan saat aku melihatmu, obesesiku kembali tumbuh. Kamu sangat mirip dengan kakakmu.” Arfan memiringkan kepalanya dan mengelus pelan pipi Reina.
“Lepasin!” Reina membanting tangan Arfan dari wajahnya. “Dan lo juga yang membunuh kakakku, hah?” Suara Reina bergetar hebat, air matanya sudah tak terbendung lagi. Reina menangis dan sangat membenci laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Lagi-lagi Arfan terkekeh. “Iya, semua itu aku lakukan karena aku mencintainya, tapi dia selalu menolaknya. Dengan membunuh kakakmu itu mungkin aku bisa tenang, tapi ternyata tidak. Kamu malah hadir, sekarang aku mencintaimu!”
“Dasar psikopat gila!” Di sisa tenaganya itu, Reina mendorong tubuh Arfan dan pergi. Tapi laki-laki itu menariknya dan langsung menciumnya, menyentuhnya.
Reina menangis dan berusaha melawan, orang-orang di sini terlalu asik hingga tidak sadar jika ada orang yang tengah dilecehkan. Namun, tiba-tiba seseorang tiba dan langsung melepaskan Arfan dari Reina.
“Anjing lo ya!”
Reina memeluk laki-laki itu dengan erat, dia menyembunyikan tubuhnya di belakang.
Arfan terkekeh. “Hei! Lo datang juga. Dasar perempuan ******!”
“Apa yang lo lakukan, hah?”
“Gue hanya ingin bersenang-senang dengannya, Bi. Seperti gue bersenang-senang bersama Amanda di Bali!”
Billar mematung, menyerap kalimat yang keluar dari mulut Arfan yang sudah mabuk itu. Billar tidak menyangka jika Arfan akan melakukan itu terhadap mantan kekasihnya itu. Tanpa aba-aba Billar langsung menghantam Arfan. Dalam sekejap semua kegiatan di tempat ini terhenti dan langsung menyorot ke arah Billar dan Arfan.
“Anjing lo! Bangsat!” Billar meninju wajah Arfan, hingga babak belur. Namun, orang-orang di sini langsung menahan Billar dan memgamankan Arfan.
Billar menatap Reina dan langsung memeluknya menenangkan.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa, kan?”
...O0O...