
“Arfan mana?” tanya Billar pada William yang tengah berkumpul dengan karyawan lainnya.
“Keluar, beli jajanan.” William menyomot melon yang sudah dipotong di depannya.
Setelah berbincang sebentar dengan Reina, Billar masuk ke studio melihat karyawannya tengah istirahat. Ia masuk ke ruangan Arfan dan berniat untuk menyetel sebuah lagu dari youtube, sambil menunggu laki-laki itu kembali dari belanjanya.
Begitu Billar duduk di bangku Arfan, sejenak tubuhnya mematung. Tatapannya tertuju pada lembaran kertas yang ada di dalam laci yang sedikit terbuka, namun cukup berhasil untuknya membaca kertas apa itu. Sejak kapan Arfan menyewa vila di daerah Bogor.
Detik berikutnya, Billar mendengar derap langkah yang mendekat, seketika Billar memalingkan wajahnya kembali ke monitor. Ia mengetikan sebuah lagu, hingga akhirnya Arfan membuka pintu dan tampak tersentak.
“Sejak kapan lo di sini?” todong Arfan seraya mendekati Billar.
“Barusan.” Sebuah lagu pun terputar. Billar bangkit dan pindah ke kursi yang ada di depan meja ini. “Gimana udah ada kabar dari Pak Jo?”
“Belum Bi, mungkin tiga harian, tenang aja Pak Jo udah pasti bakalan ngasih.” Arfan duduk dan membeberkan jajanannya di meja. “Nih, lo mau? Ada Cilor, ada melon, dan satu boba. Tapi ini buat gue, kalo lo mau beli aja sendiri.”
“Terus maksud lo ngebeberin gini apa?” tanya Billar.
“Biar lo tau dan gak asal nyomot nanti,” balas Arfan langsung melahap satu gagang cilor.
“Dih! Btw, sejak kapan lo sewa vila di Bogor?” Billar menyomot satu gagang cilor di depannya, tak peduli Arfan memelototinya.
Arfan mengerutkan dahi. “Tau dari mana, kan gue belum cerita?”
“Laci lo sedikit terbuka, gak sengaja gue baca,” timpal Billar polos.
“Kebiasaan lo!”
“Salah sendiri gak tertutup rapat!” sangkal Billar.
“Gue mau liburan ke Bogor besok atau mungkin lusa, sama temen-temen gue,” terang Arfan kini tangannya menyomot potongan melon.
“Terus?”
__ADS_1
“Tadinya gue mau berangkat kemarin, tapi gak mungkin, toh, kondisi lo lagi kayak gini. Masa iya gue tinggalin.” Arfan menyeruput minuman bobanya. “Mungkin, gue ke sana di penghujung aja, toh yang penting temen gue tetap liburan kan?”
“Kalo lo mau liburan ya liburan aja, gak usah sok mikirin gue. Ada William juga,” ujar Billar sembari menyandarkan tubuhnya. “Berapa hari?”
“Seminggu.”
“Gila, lama banget!” Billar terkejut.
“Heh! Gue belum pernah minta libur loh tiga bulan ini!” sewot Arfan.
Billar terkekeh pelan. “Ya udah, lagian studio lagi gak ada acara sama agensi atau perusahaan yang kerja sama kan?”
“Enggak ada, makannya gue mau liburan. Toh, Jakarta Bogor deket juga.”
“Ter-se-rah!”
“Ya udah gue liburan sebulan,” tantang Arfan.
Billar membeliak. “Auto open recruitmen!”
O0O
Gelap, pengap, dan tak tau sekarang ada di mana. Lesti benar-benar tidak pernah membayangkan ini akan terjadi padanya. Terbangun dalam keadaan linglung, di sebuah kamar yang sama luasnya dengan kamar di apartemen. Bahkan udara yang sejuk mampu menusuk-nusuk kecil pori-pori kulitnya.
Sudah hampir dua hari Lesti terpenjara di kamar ini, ada rasa syukur dan takut yang bertengkar di benaknya. Syukurnya, selama ini Lesti diperlakukan dengan baik, bahkan sosok bertopeng itu tidak pernah menyentuhnya. Dia hanya datang membawa makanan tiap waktu, dan beberapa pakaian tanpa sepatah kata. Terakhir kali Lesti mendengar suaranya ketika awal-awal saja, dia mengancamnya kalau dirinya berniat kabur.
Takutnya, bagaimana jika perlakuan baiknya ini hanya pemanis saja. Sisanya dia telah menyiapkan serangkaian alur untuk melakukan tindakan jahat kepadanya. Seperti di film-film atau berita-berita tentang penculikan yang berujung pembunuhan.
Selama di sini, Lesti berpikir keras untuk bisa lari. Tapi keberaniannya kalah besar oleh ketakutannya.
Dan Billar—suaminya—apa dia baik-baik saja? Apa dia mengkhawatirkanku? Atau lebih mengkhawatirkan kasus Amanda? Lesti tidak tahu. Teringat nama Amanda terucap ketika suaminya tertidur, perempuan itu bukan hanya mengambil jiwa raga Billar, bahkan merenggutnya dari alam mimpi.
Klek!
__ADS_1
Lesti terdiam menatap hamparan hijau di balik jendela. Ia sudah sangat persis dengan kisah Rapunzel yang terjebak di atas menara tengah hutan. Dan si sosok bertopeng itu adalah penyihir yang sedang menyamar jadi orang baik, dan seharusnya Lesti mengharapkan ada pangeran yang datang membebaskannya. Tapi, entahlah pikiran itu benar-benar hampa.
“Lo gak perlu ngarepin Billar datang kemari! Lo tau dia masih mencintai Amanda, dia benar-benar ambisius dengan Amanda. Mungkin sekarang dia sedang bersyukur karena lo hilang!” Setelah banyak jam, akhirnya Lesti mendengar sosok itu berbicara.
Dada Lesti serasa tersayat kala kalimat itu menari-nari di telinganya. Tak terasa air mata menyembul, membuat kilauan luka di sana.
“Seharusnya lo gak usah terlalu percaya pada cowok yang baru saja ditinggal pacarnya selama beberapa bulan. Dan akhirnya seperti ini.” Sosok itu menyajikan sepiring sarapan. “Lo makan dulu, mengharapkan Billar datang ke sini juga perlu energi.”
“Siapa lo sebenarnya?” tanya Lesti dengan getar dalam suaranya.
“Gue? Gue hanya sebagian kecil dari rencana yang telah terjadi. Merusak kabel, lalu membopong tubuh Amanda ke samping suami lo saat di Bali. Meskipun pada akhirnya gagal juga, tapi setidaknya bayaran gue tetap di transfer.”
Lesti membeliak, lalu bangkit dan memutar tubuhnya menatap laki-laki bertopeng itu. “Kenapa lo lakuin ini, hah?”
“Uang segalanya bagi gue, jadi lo gak usah berontak atau berusaha kabur dari sini! Seenggaknya sampai kontrak kerja gue selesai!”
“Lantas siapa yang menodai Amanda?” Lesti bersungut-sungut.
“Yang jelas bukan gue, tapi orang yang ada di balik penculikan lo. Andai saja suami lo itu tidak ribet sama mantannya, ini gak bakalan terjadi! Ya, tapi seperti yang gue bilang sebelumnya, Billar belum bisa move on dari Amanda,” terangnya tenang.
“Amanda bukan bunuh diri tapi dibunuh, kan? Dan pembunuh itu adalah orang yang sama dengan semua yang terjadi ini?” Lesti semakin menggebu, tidak percaya kalau dirinya akan terlibat dalam kasus mengerikan seperti ini.
Dia bertepuk tangan, sambil tertawa kecil. “Pinter! Ya, itu benar! Amanda emang di bunuh secara perlahan.”
Tangis Lesti pecah, tidak menyangka orang itu akan melangkah jauh seperti ini. “Kenapa dia tega melakukan itu, dia sudah membunuh dua nyawa, lo paham, dua nyawa!”
Dia terkekeh. “Lo tau, semua itu gara-gara suami lo. Kalo dia tidak bertindak berlebihan, lo gak bakalan diculik, dan Amanda akan selamat.”
“Dasar psikopat gila!” racau Lesti.
“Sudahlah, berhenti marah-marah. Mungkin lo korban selanjutnya dari psikopat gila itu, selamat makan!” Dia berlalu, dan kembali mengunci kamar ini.
Tubuh Lesti mendadak lemas, dadanya benar-benar terasa sangat sakit mendengar fakta yang baru saja terungkap. Billar benar, kalau Amanda tidak bunuh diri melainkan dibunuh. Lesti berharap Billar kembali melanjutkan penyelidikannya, ya, Lesti lebih berharap Billar melakukan itu ketimbang menyelamatkannya. Amanda harus mendapatkan keadilan, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan bejat dari psikopat gila itu.
__ADS_1
Lesti memeluk lututnya. Tubuhnya bergetar hebat, sekali lagi Lesti tidak pernah membayangkan kalau hidupnya akan terjebak dalam konflik yang rumit.
...O0O ...