
Mendengar teriakan Lesti, Billar membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berlari membekap mulutnya. Billar tidak mengerti kenapa ia bertingkah seperti anak kecil yang diculik om-om. Tatapan Billar beradu dengan netra cokelat terang milik Lesti yang tampak ketakutan. Sementara itu, selimut yang membungkus tubuhnya perlahan melorot dan terjatuh, membiarkan tubuh berisi Billar terekpos dengan celana pendek putih di atas lutut.
Lesti kembali membeliak, sejenak menatap perawakan suaminya yang menggelikan sebelum akhirnya terpejam tidak kuat melihat pemandangan ini.
Sialnya, laki-laki yang merupakan suaminya ini malah mendekapnya erat begitu dia melepaskan bekapan. Lesti bisa mendengar detak jantung Billar dengan sangat jelas, dan ia merasakan kehangatan ketika kulit putihnya bertegur sapa dengannya.
Billar mengerjap. “Kamu kenapa? Kita kan udah jadi suami istri?”
Lesti hanya bisa terdiam, dengan mata masih terpejam. Kian detik, Lesti merasa semakin nyaman dalam dekapan Billar yang memgejutkan ini.
“Bahkan, saat malam pertama, kita melewatkan hal ini. Kita malah sama-sama terdiam menatap langit-langit kamar.”
Demi apa pun, Lesti mengakui apa yang Billar ucapkan barusan. Di malam pertama, yang merupakan malam spesial untuk sepasang suami istri yang baru saja menikah, ia dan Billar hanya diam, tatap-tatapan, seranjang tapi merasa asing.
“Kenapa? Aku ini suami kamu, dan kamu istri aku.”
Perlahan Lesti membuka matanya, sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap waras di tengah dada bidang suaminya ini. Ia menengadah menatap Billar, matanya tampak sendu dan takut. “Maaf, a-aku gu-gup.”
Tawa Billar meledak mendengar jawaban Lesti, istrinya ini benar-benar spesial. Setelah itu, ia melepaskan dekapannya, lalu meraih kaos dan sarung di dalam lemarinya.
“Ayo, katanya pengen aku imamin,” gurau Billar.
Lesti mengerjap beberapa kali setelah terhipnotis dengan pemandangan tubuh suaminya itu. Tangannya meraih mukena putih yang ia bawa di dalam tas, Lesti memakainya kemudian menggelar sejadah di sudut samping belakang.
Billar menoleh memastikan istrinya sudah bersiap.
“Allahu akbar!”
Usia pernikahannya yang masih terbilang dini ini, keduanya berusaha untuk tetap melangkah seirama dan berdampingan. Keduanya tidak mau terjadi sesuatu yang menimbulkan perdebatan apalagi pertengkaran, demi apa pun keduanya saling mencintai.
Meskipun, Lesti benar-benar merasa tergores ketika Billar menyebut nama Amanda akhir-akhir ini hingga ke alam mimpi. Dada Lesti bergetar hebat kala mendengarnya, Lesti cemburu, tentu saja. Karena ia sangat mencintai Billar.
Namun, Lesti tidak mau ambil pusing. Lesti berusaha untuk menumpas semuanya dengan pikiran yang positif, ia tidak mau berdebat apalagi bertengkar. Lesti ingin sehidup sesurga dengan Billar.
“Assalamualaikum warahmatullah...”
“Assalamualaikum warahmatullah...”
Lesti menyalami Billar, dan Billar mengecup dahi Lesti. Keduanya berdoa dalam khusu, setelah itu Billar membalikkan tubuhnya menatap Lesti. Yang ditatap kebingungan, dahinya berkerut seakan bertanya apa yang sedang dilakukannya.
__ADS_1
“Apa?” tanya Lesti, membuang muka.
“Cantik.”
Lesti berdecih. “Udah, ah, katanya mau ke studio.”
Lesti berusaha mengalihkan semuanya, tapi suaminya ini malah tersenyum memandanginya. Kalian tahu, sekarang Lesti mengkhawatirkan dua belah pipinya yang sudah pasti memerah kala tatapan penuh makna Billar menyerangnya.
“Aku masih seneng liatin kamu,” rengek Billar dengan bibir cemberut.
“Apaan sih, ayo cepetan!” balas Lesti seraya melepaskan mukena dan merapikannya kembali seperti semula.
“Cium dulu.” Billar semakin merengek, bahkan posisi kakinya sudah berselonjor bak anak kecil rewel minta dibeliin es krim.
Lesti yang tengah memasang hijab tersentak dan menatap Billar dengan ragu. “A-apaan sih, geli tau!”
“Ya udah, enggak mau pergi ke mana pun.” Billar melipat dua tangannya depan dada.
“Yang, plis! Ayo!” Lesti mendengkus kesal.
“Cium dulu,” pinta Billar.
“Aku kan suami kamu, jadi cium aku dulu. Pipi kanan, pipi kiri, terus bibir.” Billar membiarkan bibirnya untuk terus cemberut.
Beberapa saat Lesti menatap suaminya, lalu mendekatinya.
“Angkat!” pinta Billar seraya merentangkan tangannya. Laki-laki ini benar-benar bertingkah seperti anak kecil.
Lesti menurutinya, ia merangkuk tubuh Billar untuk berdiri di depannya. Dan yang paling mengejutkan, tiba-tiba tubuh Billar membungkuk menatap Lesti dengan masih mempertahankan ekspresi seperti anak kecil.
“Cium.”
Lesti menghela napas panjang, lalu memajukan bibirnya ke arah pipi kanan Billar. Sebelum benar-benar menyentuh pipi Billar, Lesti memejamkan matanya.
Cup!
Dengan sigap, Billar memberikan pipu kirinya, dan Lesti langsung mengecupnya.
Cup!
__ADS_1
Billar tersenyum, ia melihat istrinya yang memejamkan mata sangat menggemaskan. Sebelum, Lesti mengecup bibirnya, ia lebih dulu maju dan cup satu kecupan lembut mendarat di bibir Lesti dan bertahan selama beberapa detik.
Lesti memgerjap, tersentak. Dengan bibir yang masih bertegur sapa, Lesti melihat binar di wajah Billar. Lesti mendadak gugup, dan mengakhiri kecupan itu.
“A, hmm,” deham Lesti.
“Ya, udah yuk!” Karena enggak mau melihat istrinya tenggelam dalam lautan yang membeku, Billar mengakhiri candaan yang serius dan candu ini. Billar tahu, Lesti masih polos dan ya menggemaskan.
“I-iya.”
O0O
Hanya memakan lima belas menit, Billar dan Lesti sudah tiba di studio MRB yang mengusung konsep monokrom ini. Studio yang berdiri di tengah kedai kopi dan jus ini benar-benar tampak sibuk. Terlihat banyak deretan motor yang terparkir di depannya, dan beberapa orang berseragam putih hitam keluar masuk.
Letak studio ini benar-benar strategis, terlebih di depannya terdapat sekolah swasta, pasti di acara akhir semester studio ini akan sangat penuh. Terlebih sayap yang membentang telah merangkul agensi model, dan beberapa artis. Ya, begitulah setelah Lesti mencari tahu tentang MRB Studio.
Billar dan Lesti langsung masuk dan menebarkan senyum kepada kandidat yang menatapnya. Setelah itu, Arfan keluar dari ruangan diikuti dengan seorang perempuan yang tak asing lagi di mata Billar. Perempuan dengan seragam putih hitam itu, tersenyum kepadanya dan juga kepada Lesti.
“Reina?” kata Billar.
“Eh, Kak Billar, apa kabar?” tanyanya sopan.
“Baik, kamu sendiri?”
“Aku baik juga. Halo Kak?” balas Reina sembari menyapa Lesti yang berdiri di samping Billar.
Lesti tersenyum, wajah perempuan di hadapannya seperti tidak asing. Ya, dia mirip Amanda, dan sepertinya dia memiliki ikatan keluarga dengan Amanda apalagi Billar mengenalnya. Mungkin adiknya, atau keponakannya.
“Kamu melamar juga? Bukannya kamu masih sekolah?” tanya Billar.
“Iya, Kak. Minggu depan acara kelulusan aku Kak, jadi bisa di bilang ini persiapan aja,” balas Reina.
Arfan memalingkan wajahnya menatap kandidat lain di sana. “Oke, selanjutnya Fikri.”
“Oh, gitu.”
“Iya, Kak. Kalo gitu aku permisi dulu,” pamit Reina sembari menundukkan kepala, sopan. Entahlah, Reina merasa ia akan diterima kerja di sini mengingat orang-orang studio ini sudah mengenalinya, apalagi Billar dia adalah mantan kekasih kakaknya. Ya, tujuannya ia kerja di sini untuk memastikan atau mengungkap kecurigaannya terhadap Billar.
Gue yakin ada yang ditutupi dari lo, Kak!
__ADS_1
...O0O...