Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Hasil Tes


__ADS_3

Jakarta tiga bulan kemudian...


SEMALAM sepasang manusia yang kini sedang terjebak di tengah kemacetan berdebat mengenai pemberangkatan sang laki-laki ke Jakarta. Perempuan yang duduk di boncengannya keras kepala untuk turut menyaksikan sesuatu yang akan terjadi. Apakah bayi yang dikandung sang mantan terbukti bukan ulahnya, atau laki-laki ini memang pelakunya?


Tak ada pilihan lain selain menyetujui keinginan Lesti, karena dirinya sendiri tak mau memperpanjang masalah sepele ini. Apalagi dalam hitungan hari mereka akan terikat janji sehidup semati di hadapan banyak orang, sungguh tidak baik menjelang hari nan bahagia itu dihiasi kemelut seperti ini.


“Seharusnya kamu diam aja di rumah, enggak usah ikut. Nanti kecapean, terus sakit gimana?” ujar Billar.


“Kamu sendiri gimana?” tanya Lesti, balik.


“Aku kan udah biasa perjalanan jauh seperti ini, aku hanya khawatir sama kesehatan kamu,” terang Billar.


“Kamu pikir aku enggak khawatir? Aku juga sama khawatirnya sama kamu, lagi pun kamu belum pernah ngenalin aku sama keluarga besar kamu. Kemarin cuma ibu dan ayah doang yang datang,” tutur Lesti.


Sekitar seminggu yang lalu, orang tua Billar datang ke rumah Lesti untuk menanyakan tentang pernikahan mereka. Cukup deg-degan dan malu, karena mereka malah menceritakan sikap buruknya kepada keluarga Lesti, bahkan sosok yang akan menjadi istrinya ini sempat menertawakannya.


“Ya udah nanti aku kenalin, tapi percuma juga kakak-kakakku kerja di luar kota semua. Paling cuma adik sama kakaknya ibu itu pun kalau mereka lagi mampir ke rumah, ya kalo enggak ya udah kamu ngobrol aja sama ibu,” jelas Billar.


“Kenalin aku juga ke Monas, Kota Tua, Ancol, juga Dufan!” rengek Lesti akhirnya.


“Untuk ngenalin itu semua ada waktunya, tapi bukan sekarang. Toh, kita nginap hanya sehari aja besoknya kita kembali ke Bandung,” balas Billar.


Lesti mendengkus. Sebagai perempuan sederhana dan rajin menabung, baru kali ini Lesti menginjakkan kakinya di tanah Jakarta. Sebelumnya juga ada yang mengajaknya untuk liburan ke sini, tapi, Lesti selalu menimbang-nimbang yang pada akhirnya enggak jadi.


“Ya udah cepetan, pegel nih!” suruh Lesti.


“Iya, iya, lagian kenapa harus ikut!” omel Billar.


“Lagian kenapa enggak ngebolehin aku ikut?” sambar Lesti. “Pokoknya, menuju hari H, ke mana pun kamu pergi aku harus ikut!” seru Lesti.


“Cie takut kehilangan ya,” goda Billar.


“Yaiyalah!” tegas Lesti.


Billar menarik gasnya hingga tiba di sebuah bangunan besar berwarna putih dengan tulisan ‘Rumah Sakit Jakarta’ terpampang besar di dekat gerbang masuk. Dari ribuan orang yang berada di rumah sakit ini, ada tiga orang yang menjadi tujuannya.


“Kita enggak ke rumah kamu dulu?” tanya Lesti.

__ADS_1


“Enggak. Karena dari rencana memang seperti ini,” balas Billar. “Orang tua aku juga akan datang, tapi, entah sudah ada di sini atau masih dalam perjalanan.”


Di apartemen Billar, pada saat itu ia menceritakan rentetan kejadian yang menimpanya saat di Bali. Ada rasa takut saat menceritakan hal ini, tapi syukurlah mereka mempercayainya dan tidak langsung mengambil kesimpulan.


Namun, Billar merasa kasihan pula saat Amanda kena amarah dari orang tuanya. Amanda dibentaknya, dikatai berbagai macam ungkapan mengerikan dari mulut orang tuanya khususnya ibu. Berbeda dengan ayah, yang perlahan menerima keadaan yang sudah menimpa anaknya ini.


Billar dan Lesti sudah berhadapan di depan orang tua Amanda, mereka menyalaminya sopan. Di sini Billar mengungkapkan banyak maaf dan menjelaskan lagi apa yang sudah mereka dengan dari mulut Amanda.


“Enggak usah diungkit lagi, lagi pun kita akan mengetahuinya sekarang,” ujar ibu yang terlihat masih ada kesal di wajahnya.


Tak lama dari sini, orang tua Billar hadir dan langsung merangkul Lesti. Saat Billar dan Amanda dipanggil ke sebuah ruangan, orang tua Billar berbicara banyak hal dengan Lesti terutama ibu. Sementara ayah, menciptakan hubungan baik dengan keluarga Amanda agar tidak terjadi hal-hal tak terduga.


“Nanti, kalo kamu udah sah jadi istrinya Billar, kamu enggak usah kerja lagi sayang. Biar Billar yang berjuang, kamu mengurus rumah dan anak-anak kita.” Ibunya Billar begitu antusias, dan sikapnya membuat Lesti nyaman.


“Kamu naik motor ke sini?” tanya Ayah.


“Iya, Yah,” jawab Lesti, membuat Ibu Billar membeliak.


“Nanti kalo pulang ke Bandung naik kereta aja, ah! Jangan naik motor. Kalian ini calon pengantin, harusnya jangan terlalu banyak beraktivitas di luar rumah, ya? Ibu sama Ayah khawatir banget,” terang Ibu Billar membuat Lesti tersenyum simpul.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya dokter menyilakan mereka masuk ke ruangannya. Laki-laki berkacamata itu menjelaskan secara singkat mengenai tes DNA yang dilakukan Billar dan Amanda.


Dalam hati Lesti tersenyum, tapi ada secangkir duka saat melihat keluarga Amanda. Mereka terlihat bersedih dan memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. Mungkin, mereka sebelumnya membuat Amanda bersedih dan terpuruk karena ucapannya. Dari sini Lesti mengetahui kalau Amanda memang korban atas kelakuan lelaki bejat yang entah siapa.


Amanda, kamu yang semangat ya!


O0O


Billar dan Lesti akan menginap satu hari di rumah orang tua Billar. Sebelum mereka tiba di rumah, orang tua Billar mengajak Lesti untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di supermarket.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Ibu Billar kepada Lesti.


“Apa aja, Bu,” balas Lesti.


“Lesti samain aja sama aku, Bu. Soalnya dia ini serba mau, apa pun pasti suka,” balas Billar yang dibalas dengan cubitan halus di tangannya.


“Bagus dong!” puji Ayah.

__ADS_1


“Betul. Jangan kayak Billar, banyak maunya, kalau enggak ada suka merengek pada bibi,” timpal Ibu, membuat Billar membeliak lalu menampakkan deretan giginya.


“Mana ada kayak gitu,” balas Billar cepat.


“Emang kelihatan sih dari wajahnya,” cetus Lesti membuat suasana di meja ini semakin hangat.


Billar mendengkus merasa menderita saat berada di antara tiga manusia yang menyebalkan, baru kali ini harga dirinya dijadikan lelucon seperti ini. Lagi pun kenapa Lesti malah memperburuk pribadinya yang padahal sangat romantis ini.


“Tapi, Bu. Billar ini orangnya baik banget, dan penuh kejutan meskipun terkadang menyebalkan juga,” puji Lesti akhirnya. “Dan yang membuat saya kagum, Billar ini orangnya laki banget, dan langsung akrab sama bapak,” tambahnya.


Billar yang awalnya terlihat masam, kini senyumnya terbit dan mencubit kedua belah pipi Lesti gemas. “Gitu dong. Gimana Yah, Bu, kerenkan anak kalian ini?” tanya Billar seraya menaikkan salah satu alisnya berkali-kali.


“Keren doang, makan sayuran susah!” ledek Ibu.


“Kok Ibu bilangnya gitu terus, ini loh ada calon mantu Ibu,” protes Billar.


“Gakpapa kali, biar tahu rasa. Pokoknya setelah kalian sah, kamu harus buat Billar bisa makan sayur, kalo perlu buat dia jadi vegetarian!” ujar Ibu semangat.


Percakapan ini membuat Billar ingin beranjak, tapi sayang juga meninggalkan momen di mana Lesti akrab banget sama keluarganya. Syukurlah, mereka sangat menyayangi Lesti dan menerima pilihannya.


“Nanti, setelah makan kita pulang terus pergi lagi. Kita akan keliling Jakarta,” ujar Ibu membuat kedua bola mata Lesti berbinar.


Lesti menoleh ke arah Billar seolah ingin menampakkan raut bahagia yang tak terkira. Akhirnya keinginannya terkabul, ia akan menjelajahi Jakarta bersama calon orang tuanya. Ah, senangnya.


“Tapi, Bu, aku masih cape, Lesti pun—“


“Kalo kamu cape ya udah kamu istirahat aja,” potong Ibu. “Ibu dan Ayah juga Lesti akan jalan-jalan, nanti kalo kalian udah sah waktu ketemu kita akan jarang apalagi Jakarta-Bandung!”


Lesti menatap tajam ke arah Billar. “Kamu harus ikut, gak mau tau!” bisiknya.


“Nanti kalo kamu kelelahan gimana?”


“Maka dari itu kamu harus ikut, biar pas aku lelah nanti ada yang gendongin!” canda Lesti.


“Ish!”


“Gimana rasanya dibuat sebal, enak? Itu yang aku rasakan saat kamu menyebalkan,” tutur Lesti sambil tertawa pelan.

__ADS_1


Billar menggeleng lalu fokus terhadap hidangan di hadapannya, membiarkan Lesti hanyut dalam obrolan orang tuanya yang menggelitik perasaannya. Sungguh momen yang menyebalkan sekaligus menyenangkan.


...O0O...


__ADS_2