Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Komitmen


__ADS_3

LANGIT SORE hari ini begitu sangat menawan. Menawarkan keelokan warna jingga yang mampu menghipnotis para insan yang selalu memujinya. Musik indie yang memenuhi tempat berarsitek klasik ini melengkapi kisah sepasang manusia yang tengah menikmati hidangan yang terhampar di depannya.


“Tadinya gue emang gak bakalan jadi pulang, tapi karena gue rindu sama lo gue pulang deh, apalagi saat lo bilang ada yang fitnah,” ujar Billar.


“Sebenarnya enggak sepenuhnya fitnah.” Lesti kembali menyuap makanannya. “Apa yang diposting di IG itu ada benarnya. Gue sempat punya rasa sama Putra, tapi hanya sesaat,” ungkap Lesti.


“Sesaat tapi nikmat,” lanjut Billar.


“Buktinya sesat,” timpal Lesti, yang direspons kekehan oleh Billar.


Tempat mewah ini dipenuhi pengunjung, selain harganya terjangkau suasana di restoran ini benar-benar sangat indah. Pengunjung bisa memilih tempat makan, entah itu lesehan di saung atau seperti yang Billar dan Lesti tempati; khusus sepasang kekasih.


“Ti, gue mau nanya serius,” ujar Billar setelah beberapa menit hening.


“Tanya aja,” balas Lesti biasa saja.


“Target nikah lo umur berapa?” tanya Billar membuat Lesti nyaris tersedak mendengar pertanyaan yang jauh dari jangkauan otaknya.


Lesti memicingkan tatapannya, menelisik lebih jauh apakah yang diucapkan serius atau hanya berujung gombal. “Gue, mah gak ada target. Kalo ada yang serius ya tinggal bilang, kalau mau komitmen dengan sungguh-sungguh tinggal bilang ajak ke bapak.” Lesti kembali menyantap makanannya lagi.


“Gue mau serius sama lo. Gue jatuh cinta sama lo, mau gak lo menjadi pendamping hidup gue dunia akhirat?” cetus Billar terdengar tulus.


Suasana yang ramai mencekam tempat ini seakan-akan lenyap, ditelan habis oleh apa yang diungkapkan Billar. Sendok yang terangkat siap disantap, mendadak diturunkan kembali, lalu Lesti menatap serius wajah Billar yang tak kalah serius. Lesti mengembuskan napasnya pelan, sejenak membuang muka untuk melenyapkan detak kegugupan di dadanya.


“Jika lo bersedia gue ingin lo pakai cincin ini. Ini adalah bukti keseriusan gue, dan tiga bulan yang akan datang, Insya Allah kita bakal sah. Gue sayang banget sama lo, gue sangat yakin kalo lo adalah yang terbaik buat gue,” ungkap Billar lagi sembari mengeluarkan kotak yang berisi cincin ke hadapan Lesti.


Napas Lesti mendadak tersendat-sendat, linangan air mata yang ia tahan agar tak menyembul malah sekali entak langsung mengalir membasahi pipinya. Sejurus dengan terbitnya senyum dari bibirnya, Lesti menarik napas dan menahannya sejenak.


“Gue, gue juga sayang banget sama lo. Terima kasih atas segala yang lo kasih ke gue, dan sekarang gue yakin lo adalah laki-laki yang dikirim Tuhan buat gue.” Lesti menjeda ucapannya sejenak. “Gue bersedia menjadi pendamping lo dunia akhirat,” sambung Lesti seraya menganggukkan kepalanya berkala.


Billar bersyukur dalam hati, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang perlahan menggebu kencang. Segera, cincin bermata berlian itu Billar pasangkan di jari manis milik Lesti.


“Terima kasih, aku berjanji akan menjaga hatiku untukmu selamanya. Kau adalah yang terakhir untuk selamanya,” ungkap Billar dengan sangat serius, mengubah lo-gue menjadi aku-kamu.


“Aku akan berdoa untukku juga untukmu, dan aku yakin hubungan kita ini lebih dari selamanya,” balas Lesti terdengar sangat tulus dan yakin.


Semesta telah mencatat keseriusan sepasang manusia yang kini tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bersamaan dengan terbitnya suara kemenangan dari ribuan istana termegah di muka bumi. Suara itu membuat para insan yang beriman bersyukur, dan berdoa atas panggilan-Nya.


Lesti dan Billar keluar dari restoran yang dengan kekeklasikannya terasa mewah, megah, dan berkelas. Keduanya menepi di sebuah masjid besar yang berada tak jauh dari restoran ini. Dalam ibadahnya, tiada henti keduanya berdoa untuk kebaikan dan kelancaran niatnya.


“Aku mau ngajak kamu ke apartemen, untuk membawa hadiah dari Bali. Aku udah beli apa yang kamu minta,” kata Billar.


“Serius? Padahal kemarin aku cuma bercanda doang,” balas Lesti.

__ADS_1


“Bercanda kok nadanya serius,” sindir Billar.


“Ya, kan, orang-orang pada gitu,” timpal Lesti cengengesan.


Billar tersenyum. “Aku juga mau ngobrol sama orang tua kamu perihal ini, dan ngobrol lainnya.”


Lesti mengangguk. “Bapak kayaknya udah setuju sama niat kamu, beliau selalu berdoa tentang kamu dan aku,” ungkap Lesti membuat Billar terpukau tak percaya. “Mungkin ini juga jawaban doa dari orang tuaku.”


“Serius?”


Lesti mengangkat bahu. “Kata Tiara begitu.” Lesti naik ke boncengan Billar, begitu laki-laki itu telah siap di atas kuda besinya. “Bukannya orang tua selalu tau apa yang terbaik untuk anaknya?”


Billar mengangguk. “Kamu tau gak saat bapak ngajak aku ngobrol aku deg-degan banget, dan aku malah seolah seperti lelaki yang percaya diri. Padahal aslinya aku takut gimana-gimana,” terang Billar.


“Dulu mantan aku juga begitu, tapi, bapakku baik kok,” timpal Lesti.


“Yang bilang bapak galak siapa?” tanya Billar.


“Anaknya,” jawab Lesti lalu tertawa.


O0O


Mereka telah tiba di sebuah ruangan luas di atas gedung yang menjulang tinggi. Lesti takjub melihat panorama yang tergambar jelas di hadapannya. Ruangan luas bercahaya redup ini tampak tersusun rapi, dan membuat betah siapa saja yang tinggal di sini.


“Siapa dulu kalau bukan Billar Aswindra!” timpal Billar sombong.


“Ck!”


Lesti berjalan menghampiri dinding kaca yang langsung disuguhkan pemandangan perkotaan pada malam hari. Seluas mata memandang, tidak bosan tatapannya menatap keindahan yang tergambar jelas di hadapannya. Hatinya berkali-kali memuji keindahan ini atas nama-Nya.


“Indah, kan?” Billar menyeret pintu kaca yang langsung menghubungkan ke balkon apartemennya.


Lesti mengangguk lalu menyusul Billar yang sudah menapaki kedua tangannya di pagar balkon; menghirup udara dari ketinggian ratusan meter. Lesti tambah takjub, dan hanyut dalam imajinasi tak terbatas.


“Kamu tinggal sendiri di sini?” tanya Lesti.


“Enggak, kalau tiga bulan yang akan datang,” jawab Billar.


Lesti menoleh menuntut kejelasan atas ucapannya.


Billar terkekeh. “Ternyata kamu pelupa. Tadi di restoran aku bilang, Insya Allah kita bakal sah tiga bulan yang akan datang,” jelasnya.


Lesti mendadak gugup dan kembali mengalihkan pandangannya dari Billar. Kenapa ia bisa lupa, padahal itu terjadi dalam beberapa menit yang lalu. Mungkin efek bahagia yang terjadi pada hari ini.

__ADS_1


“Ya udah kita ke rumah kamu, aku enggak siap untuk bercengkerama sama orang tua kedua aku,” kata Billar semangat.


Akhirnya keduanya pergi meninggalkan apartemen Billar, padahal Lesti masih ingin berlama-lama di sana. Bahkan kalau bisa ingin sekali menginap di sana, memandang kembali pemandangan kota Bandung di kala pagi. Namun sudahlah mungkin nanti tiga bulan yang akan datang, ia bisa menikmati hal itu setiap hari. Aamiin. Hatinya mengaminkan harapannya.


Rumah sederhana, dengan cat yang sudah memudar menjadi terminal terakhir dari perjalanan ini. Lesti mengucapkan salam dan memberitahu Mamanya kalau ada Billar. Sosok paruh baya juga adiknya itu, tiba-tiba hadir dan tersenyum memandangi Billar.


“Assalamualaikum, Mah, Tiara,” sapa Billar.


“Wa Alaikumsalam,” balas Mala dan Tiara bersamaan.


“Aku mau ganti baju dulu, ya,” pamit Lesti.


Tiara yang sembari kesemsem, bagaimana laki-laki tampan ini mengenalnya, apakah kakaknya mengenalkannya? Ah, ya ampun hati perempuan muda itu deg-degan.


“Kemarin saya pulang dari Bali, ini ada beberapa hadiah yang saya beli dari sana,” ucap Billar.


Tiara yang sudah tak sabar menyambut hadiah kece dari tangan Billar, namun sikap tak sabarannya tiba-tiba kena jitak dari kakaknya yang tiba-tiba datang dari belakangnya.


“Gak usah norak!” cetus Lesti.


Billar terkekeh dan mulai mengeluarkan barang-barang yang berkemul di dalam keresek hitam besar. Hadiah pertama yang merupakan sekeresek gelang khas anyaman Bali, langsung diambil Tiara.


“OMG! Oh, ini keren banget! Ah!” Tiara langsung mengorek dan segera dipasangnya gelang itu.


“Ish, yang sabar kek!” komentar Lesti.


“Kakak sewot mulu, Kak Billar aja gak protes!” ujar Tiara.


“Lagian rusuh terus—“


“Bilang aja Kakak iri,” potong Tiara.


“Dih, ini tuh yang minta kan Kakak bukan kamu!” balas Lesti.


“Lesti, Tiara, udah gak usah ribut!” serang Mala seraya membulatkan matanya.


Perkumpulan keluarga ini berlanjut dengan cerita asyik dari Billar kecuali Tiara yang masih antusias memanjakan hadiah yang ia dapatkan. Dalam pikirannya terbesit rasa takjub, meskipun belum pernah ke Bali seengaknya dengan hadiah ini bisa membuatnya merasakan nuansa Bali hari ini.


“Makasih ya calon kakak ipar!” pungkas Tiara seraya pergi dari hadapan mereka, karena tak sabar untuk bersolek di hadapan cermin.


Tanpa Tiara sadari, apa yang baru saja diucapkannya sangat menyentuh tiga manusia ini. Lesti dan Billar langsung saling pandang dan tersenyum mengharapkannya.


Aamiin....

__ADS_1


...O0O ...


__ADS_2