
Di tengah kebahagiaan keluarga Billar menikmati hidangan seafood, tiba-tiba setitik kegelisahan muncul satu persatu dalam benak mereka. Mata mereka saling pandang, menyuarakan satu nada, satu irama, sudah tiga puluh menit berlalu tapi Lesti belum muncul di tengah-tengah mereka, apa dia kabur dari acara ini? Sungguh sangat tidak mungkin jika dia melakukan hal ini.
“Bi, Lesti belum kembali, coba kamu susul, takutnya dia kenapa-napa,” perintah Ibu.
“Iya, Bi. Kamu susul udah setengah jam loh,” susul Ayah.
Sementara Arfan hanya diam, tanpa menyuarakan hal yang sama, Billar sudah bisa membaca raut wajahnya. Arfan gelisah sama sepertinya dan orang tuanya. Billar beranjak dan langsung menuju toilet. Billar bingung, karena sungguh tidak mungkin ia masuk ke sana. Bahkan dengan ia berdirinya di sana, beberapa pasang mata dari mereka menatapnya heran, dan takut.
“Hm, maaf, apa kamu lihat perempuan berhijab berwarna biru muda, matanya bulat hitam, usianya dua puluh satu tahun di dalam.” Billar menghadang salah satu perempuan yang keluar dari toilet.
Perempuan berambut sepunggung itu menggeleng. “Enggak ada, semua bilik juga kosong. Aku dan kakak yang tadi adalah yang terakhir keluar di toilet ini.”
Billar mengangguk, kegelisahan akan istrinya semakin meningkat ke mana dia pergi. Apa dia sedang mengerjainya? Tidak. Ini sudah sangat kelewatan jika memang dia memikirkan hal ini.
“Makasih.” Billar beranjak ke luar restoran melalui pintu yang selorong dengan toilet ini. Billar merogoh ponsel, dan langsung menghubungi Lesti. Nomornya tidak aktif hampir sejam yang lalu. Billar mondar-mandir, mengedarkan pandangannya ke semua penjuru tempat di restoran ini, tapi tidak ada satu pun yang membuatnya bisa menghela napas lega.
Pandangan Billar terpaku pada sosok satpam di sana, segera ia menghampirinya dan langsung menanyakan tentang sosok Lesti yang ia gambarkan kepadanya. Tapi, nihil. Satpam tersebut tidak melihatnya.
Sekali lagi Billar berusaha untuk menghubungi Lesti, tapi hanya suara operator yang ada. Billar memborbardir sosial media milik Lesti, tapi tetap saja tidak ada titik terang dari hilangnya Lesti.
Billar kembali menemui orang tuanya, hidangan seafood di depan mereka mendadak kehilangan daya tariknya.
“Gimana? Lestinya ketemu?” sembur Ibu.
Billar menggeleng, dan kembali menghubungi nomor Lesti. “Ponselnya juga enggak aktif.”
Semua wajah di bangku ini mendadak tegang, resah, ketakutan benar-benar mendominasi perasaan mereka, bagaimana tidak Lesti yang bisa di bilang pengantin baru hilang begitu saja. Semua akses untuk menghubunginya tidak berfungsi, bak hilabg ditelan bumi.
“Bi, kamu ada masalah sama Lesti?” tanya Ayah, berusaha tenang.
Billar terdiam sejenak mengingat semua yang telah dilaluinya bersama Lesti, tapi tidak ada satu pun celah yang berkemungkinan Lesti bertindak seperti ini. Semuanya berjalan baik-baik saja, Billar tidak pernah kasar kepadanya, ayolah ini belum seminggu, Billar tidak memiliki niat untuk menyakitinya.
“Enggak, kita baik-baik aja, Yah.” Billar mengusap wajahnya berkali-kali frustasi.
“Yakin?” Arfan seakan meragukan jawaban Billar. “Bukan hanya tentang kasarnya prilaku lo ke dia yang ngebuat seseorang itu pergi lo. Bisa jadi ucapan lo, keputusan lo, dan semua tindakan lo, Bi.”
Sejenak Billar menatap Arfan yang serius dan tampak gelisah juga atas berita ini. Kembali Billar mengingat semua hal yang terjadi akhir-akhir ini, tunggu ... apa Lesti tidak menyukainya kalau ia mencampuri kasus Amanda? Tapi, bukankah dia juga berkata kalau dia siap mendampinginya untuk ini.
__ADS_1
“Arfan benar, Bi. Kamu harus lebih mengerti lagi dengan Lesti, mungkin selama ini yang dia tampilkan sebagai perempuan yang baik-baik saja malah sebaliknya. Ingat, dia itu istri kamu, jangan sampai kamu melukainya.” Ibu menambahkan, disusul dengan tangan yang mengelus tangan Billar.
“Sekarang kamu cari dia, siapa tau di pulang lebih dulu,” kata Ayah. “Tadi, sebelum berangkat ke sini ibu ngasih dia kunci cadangan, biar gampang kalau-kalau kalian mau main dulu lulang dari sini.”
Billar mengangguk, dan bangkit dari bangkunya. Namun, langkahnya terhenti ketika netranya memotret perempuan yang sudah tak asing lagi di hidupnya, Reina. Perempuan itu sadar akan kehadirannya, dia mendekat dan tersenyum.
“Halo, Kak? Kakak sedang apa sendirian di sini? Kak Lesti mana?” tanya Reina beruntun sembari melayangkan tatapannya, mencari keberadaan istri dari mantan kekasih kakaknya itu.
“Hai, Re. Aku lagi ada acara keluarga di dalam.” Billar mengembuskan napas pendek. “Kamu lihat Lesti gak? Dia pergi entah ke mana, aku mencarinya.”
Reina menggeleng. “Enggak, aku juga baru selesai makan bareng sama temen. Dia lagi bayar makanannya, kita mau pulang besok kan aku ada tes di studio kakak.”
“Oke, kalo gitu. Aku duluan ya, semoga berhasil untuk tes besok.” Segera Billar menunggangi kuda besinya, melesat memecah gemerlap cahaya kendaraan yang saling bertegur sapa di jalanan.
Sebenarnya tanpa tes pun, Billar menyarankan agar Reina langsung kerja saja. Semua ini untuk membayar mungkin sebagian rasa bersalahnya kepada Amanda. Billar sudah mengenal Reina, terkadang Billar juga memanjakannya, namun semenjak hubungan dengan Amanda berakhir, kedekatannya dengan Reina berkurang apalagi setelah dirinya menikah.
Billar memarkirkan motornya di depan rumah, kemudian berteriak kepada satpam untuk membuka kunci gerbang. Begitu wajah keriput Pak Sutrisno muncul di depannya, Billar langsung menatapnya penuh harap.
“Pak, apa Lesti udah pulang?” tanya Billar.
Pak Sutrisno menggeleng. “Belum, Kak. Kak Lesti belum pulang. Bukannya Kak Lesti sama Kakak, Ibu dan Ayah?”
Billar berjalan mondar-mandir berharap tiba-tiba Lesti pulang, tidak apa-apa dia datang dengan amarah yang penting dia hadir. Atau paling tidak ponselnya bisa dihubungi, atau membalas semua keresahannya dalam satu huruf seperti huruf ‘Y’ mungkin. Namun semua itu hanyalah sebuah harapan yang sia-sia untuk setengah jam ini, berbeda setelah satu jam bertepatan ketika orang tuanya pulang.
Ting!
Sayang:
Welcome to the game!
Billar Aswindra, tenang saja, istri lo ada pada kita. Jika lo ingin istri lo baik-baik saja, sudahi ambisimu untuk mengungkap kasus Amanda.
Dan jangan lo bawa-bawa polisi kepada game ini, ingat game itu tempat bersenang-senang. Setiap orang punya kesenangannya masing-masing, tapi jika lo nekat bawa polisi untuk join sama game ini, mungkin sudah saatnya game ini kita selesaikan. Istri tercinta lo bakalan lenyap dari muka bumi, sekalipun jasadnya.
Mendadak tubuh Billar lemas, ia ambruk, membuat orang tuanya yang baru saja memarkirkan mobil segera menghampirinya dan merangkulnya.
“Kamu kenapa, Bi? Lesti udah ketemu?” tanya Ibu risau.
__ADS_1
Billar menggeleng. “Lesti diculik.”
Sontak orang tuanya terbelalak, tidak menyangka dengan pengakuan Billar saat ini. Air mata Billar tidak bisa dibendung lagi, air itu tumpah menyusuri pipinya mengubah putih menjadi merah membara dalam netranya.
“A-apa? Kita harus laporkan polisi!” Ayah langsung bangjit, hendak menelepon polisi, tapi Billar langsung mencegahnya.
“Tidak, Yah,” ujar Billar lemas.
Ayah menoleh tegas, sementara Ibu memeluk Billar menenangkan.
“Hah?”
“Nyawa Lesti terancam jika kita melapor ke polisi,” terang Billar. “Ini semua salahku, Yah. Ini semua salahku! Maafin aku!!!”
Ayah menahan ponselnya dan langsung memeluk Billar menenangkan, siapa yang sudah tega melakukan ini? Apa maksudnya? Ayah tidak akan bertanya lebih kepada Billar untuk saat ini, dia terlihat hancur, begitu pula dirinya dan Ibu.
Ting!
Sayang:
Oh, iya. Siapkan uang 1 M, dalam seminggu ini. Maka istri lo bakalan kembali seutuhnya. Gue bakal kembali minggu depan.
Ingat pesan ini jika istri lo gak mau kenapa-kenapa!
“Apa?” Ayah kembali bertanya begitu raut muka Billar kembali berubah.
“Mereka menginginkan uang,” ucapnya.
“Ber—”
Ting!!!!
Panggilan Masuk dari Tiara
Billar terbelalak, apa yang harus ia jelaskan kepada keluarga Lesti? Baru kali ini Billar sangat takut dengan keluarga istrinya, ia tidak berani untuk bercerita tentang apa yang baru saja menimpanya.
“Keluarga Lesti menelepon!”
__ADS_1
...O0O...