
Setelah memutuskan kontrak dengan agensi, Amanda memutuskan untuk membereskan barang-barang di apartemennya. Pada saat itu Amanda masih ingat kenapa ia menyewa satu unit apartemen karena jarak rumah ke tempat kerjanya cukup jauh, apalagi kalau jalanan sudah macet, itu sangat menyebalkan. Namun, karena sekarang ia sudah tidak kerja, Amanda akan pulang ke rumah orang tuanya. Ia akan tinggal bersama dengan mereka selamanya. Hanya mereka malaikat pelindungnya.
Sebelum pulang, Amanda memutuskan untuk membeli beberapa camilan ke supermarket di dekat apartemennya. Selain itu Amanda akan makan siang di sana. Sambil menunggu menu makan siangnya disajikan Amanda menatap kosong ponselnya, benda tersebut sudah seperti bangkai. Semua media sosialnya ia hapus, dan Amanda juga menggunakan nomor baru, ya, hanya untuk menghubungi orang tuanya.
“Silakan, selamat menikmati,” ujar pelayan.
“Iya, makasih.” Amanda langsung melahap pesanannya dengan perlahan, menikmati. Matanya mengarah ke ponselnya, ketika satu notifikasi masuk. Ayahnya menanyakan kapan dirinya berangkat.
Di tengah-tengah itu, perasaan Amanda mulai tidak nyaman. Tengkuknya seperti ditiup seseorang, perlahan ia menoleh kanan-kiri-belakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Amanda merasa seperti ada yang memperhatikannya. Amanda mengembuskan napas panjang, berusaha tenang dan menganggap semua itu hanya halusinasi.
Amanda menandaskan makan siangnya dengan cepat, setelah itu meraih belanjaannya dan langsung membayar ke kasir. Sampai saat ini, Amanda merasa ada seseorang yang mengawasinya. Amanda pernah baca sebuah postingan, jika seseorang merasa diawasi, pasti ada sesuatu yang menatap tengkuknya dalam waktu yang lama.
Berkali-kali Amanda memperhatikan sekitar tapi tidak ada satu pun objek yang mencurigakan, semuanya tampak normal, tetapi kenapa perasaannya sangat tidak normal. Apakah ini salah satu efek dari kehamilannya? Entahlah, Amanda tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu. Jangankan untuk itu, menyadari perutnya berisi terus tangannya refleks mengelus-elus baru kemarin terjadi. Sebelumnya tidak pernah.
Kaki Amanda melintas menyebrangi persimpangan begitu lampu merah menyala. Dalam hitungan menit ia sudah masuk ke komplek apartemennya.
“Huft!” Amanda menghela napas panjang begitu pintu lift apartemen menutup.
Ketika pintu lift terbuka Amanda melintasi lorong dengan cepat hingga akhirnya masuk ke apartemennya. Ia mengunci pintu dan terduduk lemas di sofa depan televisi seraya mengatur napas yang tersengal-sengal. Demi apa pun Amanda merasa ada yang mengikutinya, bahkan berkali-kali tengkuknya dibuat merinding.
Mata Amanda menoleh ke tumpukan tas dan koper, ia akan pulang ke rumah orang tuanya setelah hampir sepuluh hari berdiam diri di apartemen sendirian. Kontrak apartemennya akan habis dalam tiga hari ke depan.
Untuk meredakan rasa tegang yang tersisa, Amanda meraih satu camilan untuk ia santap sambil menonton tayangan kartun di televisi. Ketika Amanda bangkit untuk meraih segelas air sisa pagi tadi di dekat televisi, tiba-tiba pintu apartemennya diketuk beberapa kali diikuti seruan memanggil namanya.
“Iya!” Amanda mengerutkan dahi, siapa yang bertamu di hari terakhirnya di apartemen. Orang-orang pelayanan? Amanda belum menginformasikannya pada siapa pun, selain keluarganya.
Begitu pintu apartemennya dibuka, sontak Amanda membeliakkan matanya melihat teman-teman dari agensi model yang datang. Mereka membawa banyak sekali bingkisan, dengan wajah yang bahagia. Tidak lupa juga dengan Arfan, William, dan beberapa anak MRB Studio lainnya yang ikut.
__ADS_1
“Kalian? Ada apa?” Amanda menautkan salah satu alisnya.
“Kita mendengar kabar kalau kamu enggak bakalan berhenti dari Pak Jo, ya, sebagai salam perpisahan kita pesta kecil-kecilan deh!” Namira model berkulit eksotis tersenyum selebar mungkin. “Oke guys!!! Kita pesta!”
Amanda yang tadinya akan pulang, mendadak mengamankan tas dan kopernya. Tak lupa ia mengabari orang tuanya kalau ia akan pulang esok hari, karena teman-teman modelnya datang untuk salam perpisahan.
“Tadinya, mau kita tuh dulu, tapi karena ada projek ya udah sekarang!” terang Namira. “Gue bakal ngerinduin lo, Manda!”
Baiklah berarti Amanda telah menuduh mereka yang tidak-tidak saat pengunduran diri dulu, ia mengira kalau teman-temannya menyebalkan, menatapnya sinis, dan sebagainya. Namun faktanya, mereka peduli padanya.
“Iya, enggak apa-apa, thanks!” balas Amanda.
Tak lama dari itu layar televisi berubah menjadi tayangan musik disko, semua orang berseru saling bersulang dan joget-joget ringan. Ada rasa bahagia dalam diri Amanda, setidaknya dengan adanya pesta kecil ini, sejenak ia bisa melupakan semua kesedihan yang sepertinya berjamur di hatinya.
“Hai!” sapa Arfan seraya meneguk minuman bersoda. “Gimana kabar lo?”
Amanda tersenyum. “Baik. Lo sendiri gimana?”
Bahu Amanda terangkat, lantas menatap laki-laki bernama lengkap Ardi Fernando itu. “Entah, gue udah gak punya media sosial lagi. Gue hapus semua.”
“Kenapa?” Arfan mengerutkan dahi.
“Hidup gue udah berubah, udah beda. Udah gak ada lagi yang harus dipublikasikan, gue udah lel—“
“Ssst ... lo gak pantes ngomong begitu. Jalan itu tidak selamanya lurus, Manda. Ada yang menanjak, ada yang menurun. Lo pasti bisa ngelewatin itu semua, lo berharga.” Arfan berusaha menenangkan luapan emosi yang membara di raga Amanda. “Gue percaya sama lo, Manda.”
Amanda menggeleng lemah. “Gue bakal ngerasa berharga kalo laki-laki brengsek itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Hati gue sakit, ketika mimpi gue ada di depan mata tiba-tiba seseorang menusuk gue dari belakang.”
__ADS_1
“Gue tau itu sakit, tapi lo gak bisa berdiam diri di sana, lo harus bangkit!” balas Arfan.
“Bagaimana caranya bangkit? Jika laki-laki itu masih berkeliaran di luar sana, hah? Mungkin sekarang dia sedang berpesta dengan teman-temannya, sambil ketawa-ketawa? Atau mungkin sekarang dia sedang bersantai sambil mengesap kopi di depan rumahnya? Bagaimana gue bisa bangkit, sementara dia tebar kebahagiaan dengan dunianya?”
Entah dari mana kekuatan itu datang, perlahan Arfan memeluk tubuh Amanda dengan lembut. “Ya, gue tau. Tapi waktu itu berputar, Manda. Kalo lo ingin membalasnya lo harus bangkit, di bahagia, lo harus lebih bahagia dari dia bukan terpuruk seperti ini.”
Amanda melepaskan pelukan Arfan yang mengejutkan itu. Matanya menatap laki-laki di hadapannya dengan degup dada yang masih terguncang, dan terasa sesak setelah ditampar oleh kalimat yang keluar dari mulut Arfan.
“Ya, lo benar kalimat lo sempurna. Tapi, sejatinya lo gak pernah ngerasaan bagaimana posisi gue sekarang. Lo gak bakalan bisa ngerasain gimana hancurnya gue, Fan. Tapi, thanks untuk semuanya,” pungkas Amanda sambil berlalubke arah WC.
Arfan menatap punggung Amanda hingga dia benar-benar masuk ke WC, setelah itu ia menandaskan minumannya dan bergabung dengan teman-temannya untuk berjoget santai.
“Kenapa lo?” tanya William.
Dengan santai Arfan mengedikkan bahu. “Entah!”
“Gara-gara cewek nih pasti,” tebak William.
“Sok tau lo!” ketus Arfan.
William terkekeh pelan. “Lah, ngambek.”
Arfan memutar bola matanya kesal, kenapa temannya ini selalu mengejeknya apalagi soal perempuan.
“Tau gak Fan, mencintai seseorang yang gak cinta sama lo itu pilihan paling bodoh. Hambur! Udah deh, self love aja!”
Sementara itu, Amanda terdiam di WC menghadap cermin yang menampakkan betapa menyedihkannya ia. Matanya sembap, dadanya engap, semuanya terjadi gara-gara kesalahannya yang terlalu menikmati pesat Bali.
__ADS_1
“Dasar laki-laki brengsek!” Amanda mengumpat seraya menyandarkan dahinya ke cermin.
...O0O ...