Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Berita Menggemparkan


__ADS_3

SEPERTINYA malam ini dua manusia yang baru saja kenal beberapa jam tidak akan bisa tidur nyenyak. Keduanya dilanda rasa yang sama, detak yang menyenangkan, debar yang membuat mereka nyaman.


Namun, Lesti langsung menggelengkan kepalanya dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Kenapa ayahnya malah mengiyakan apa yang dipinta Billar, dan dengan lancang kenapa ayahnya membeberkan kalau dirinya ditinggal nikah oleh mantannya. Sebenarnya saat ayahnya bilang begitu, Lesti ingin menabok Billar karena dari wajahnya terlihat tawa yang disembunyikan.


Lesti benar-benar kesal kepada ayahnya, padahal ia belum kenal lama dengan Billar, tapi, kenapa semudah itu dia memberikan izin kepada Billar untuk mengantar jemputnya. Sungguh, ia tidak akan rela di antar jemput olehnya, bagaimana pun caranya ia harus bisa menghindari Billar. Persetan dengan detak yang menyenangkan, persetan pula dengan debar yang membuatnya nyaman.


Dalam usaha pejamnya, Lesti berusaha keras menenggelamkan semua tentang Billar. Oh Tuhan, kenapa kebersamaan yang terjadi tak lebih dari satu jam sangat susah untuk ia lupakan? Lesti juga berharap kalau besok akan ada kejadian yang membuat Billar sadar diri dan akan membuktikan kalau ucapan ia mengenai pacar akan ia tampakkan kepadanya.


Lesti mendengkus untuk ke sekian kalinya, mengakui kebodohannya yang berakibat brutal. Itu hanya mimpi buruk. Begitulah kecaman hatinya saat sosok Billar tak mau lepas dari pengakuan hatinya.


Satu lagi yang berbeda dari Billar dan Putra. Selain Putra lebih pendiam, kenangan bersama Billar sangat sulit untuk dilupakan. Yups! Itu perbedaannya.


Lesti menyingkap selimutnya, dan mengembuskan napas panjang; menenangkan ribut di hatinya. Lesti mengangkat salah satu tangannya. Gelang pemberian Putra melingkar di sana, perlahan Lesti tersenyum.


Jika kehadiran dia adalah mimpi buruk, berarti kehadiranmu adalah mimpi indah yang akan menutupinya.


Di ujung kesadarannya, Lesti mengecup gelang pemberian Putra dan menutup matanya. Meraih mimpi yang bisa menghilangkan kenangan bersama Billar Aswindra. Itu adalah harapannya sebelum akhirnya mimpi itu menjemputnya.


O0O


Lesti Andriyani


Billar tersenyum menatap langit-langit apartemen pribadinya. Cahaya remang yang membungkam kamarnya ini menjadi saksi terakhir untuk kisah pada hari ini. Dinding-dinding kamar seolah berubah menjadi layar digital yang menampakkan apa yang telah ia lewati bersama sosok yang berhasil membuatnya nyaman dalam satu kali tatapan dan satu pertemuan.


Pesona yang dipaparkan oleh perempuan berhijab itu seolah menarik jiwa raganya untuk bertualang dalam semestanya. Bagaimana tidak? Dia benar-benar memiliki daya tarik yang luar biasa baginya. Dia sempurna di matanya, lebih sempurna dibandingkan sosok mantannya.


Terlalu klasik jika dikatakan takdir atas pertemuan dengannya. Billar merasa kalau Tuhan menyempilkan scene ini bukan hanya semata untuk kenal saja melainkan untuk membuat kisah baru di antara kisah baru dari seluruh semesta.


Jatuh cinta? Mungkin terlalu cepat jika ia harus mengakuinya sekarang. Meskipun perihal rasa cinta tidak akan ada yang tahu kapan datangnya, dan dengan cara apa sehingga cinta itu datang. Pertemuan tadi sudah cukup membuatnya jatuh cinta. Sesederhana itu. Bagaimana dengan kalian?


Billar memiringkan tubuhnya memeluk guling. Baru saja matanya hendak memejam, tiba-tiba otaknya kembali diketuk dan dibuka dengan kebodohannya.

__ADS_1


“Astaga! Gue lupa enggak minta nomor hpnya!” Billar bangkit dari tidurnya seraya meracau enggak jelas. Bagaimana ia menghubungi dia kalau nomornya enggak ada? Jam berapa dia berangkat kerja?


Billar meraih ponselnya dan mulai membuka aplikasi instagram dan menuliskan nama ‘Lesti’ pada laman pencarian. Setelah ditemukan, Billar langsung menekan ikon ikuti dan mulai menuliskan pesan kepadanya. Rencananya setelah menanyakan jam keberangkatan adalah tidur, tapi, foto yang tersemat di kolom postingan menyita perhatiannya.


Sepasang manik milik Billar berbinar penuh rasa kagum ketika penampilan Lesti yang penuh dengan kesederhanaan terpotret. Tanpa diundang, debaran yang membuatnya nyaman kembali terusik hingga pandangan Billar tertuju terhadap lingkaran berwarna di foto profilnya.


Debar yang menyuarakan kenyamanan perlahan runtuh kala sebuah foto sepasang tangan dengan gelang kayu melingkar di sana. Debar yang berubah menjadi sebuah bentakan dengan diiringi ucapan Lesti kalau dirinya sudah memiliki pacar terputar dalam pikirannya.


Raut kesenangan di wajah Billar hilang, dan dengan malas menekan akun yang ditandai Lesti di laman cerita instagram.


“Putra Valentino?” ujarnya pelan. “Sepertinya kita akan bersaing dingin untuk mendapatkan Lesti,” sambungnya seraya tersenyum singkat.


Billar melempar ponselnya ke penghujung kasur, kemudian tubuhnya kembali mendarat di benda empuk tersebut. Dengan harapan agar besok lebih menyenangkan lagi, menjadi penutup kisah manis ini meskipun plot twist ini sungguh menyebalkan dan tak diharapkan.


Lesti Andriyani, I love you!


Dalam hitungan detik, mimpi telah membawa Billar menuju alam yang penuh dengan keajaiban dan keindahan. Salah satu keindahan yang hadir dalam mimpinya adalah Lesti. Wajahnya sangat cantik, berbalut gaun putih yang diterbangkan angin lembut dari arah berlawanan.


Billar tersenyum, tapi, tak berlangsung lama karena sosok lain dengan lancang masuk ke mimpinya dan berjalan berdampingan dengan Lesti. Mereka menebar keindahan di hadapannya, namun, yang ia terima benih kecemburuan. Apa ini sebuah pertanda akan nasibnya? Jika iya, kenapa dunia nyata dan mimpi tidak berpihak kepadanya?


Namun, pada akhirnya Billar berhasil keluar dari mimpi itu saat keduanya berada di tengah-tengah tiang kokoh. Pernikahan? Tidak mungkin.


Billar menyeka peluhnya dan meraih ponsel melihat deretan angka yang terpampang di layar utama. Rupanya baru pukul tiga pagi, dan di beberapa istana surga yang ada di dunia mengumandangkan senandung kemenangan.


Dalam kondisi yang sudah sadar sepenuhnya, Billar bangkit dari kasurnya menyingkap sebagian tirai apartemennya. Ia menatap ribuan cahaya dari banyak bangunan, dadanya semakin berdebar kala senandung kemenangan itu berada dalam kalimat bermakna ajakkan.


Entah apa yang merasukinya pagi ini, biasanya Billar selalu melewatkan masa-masa ini dengan bergelut bersama mimpi. Hatinya menggerakan kaki untuk melangkah mengambil air wudhu untuk menuntaskan debar di dadanya.


Setiap keningnya bertegur sapa dengan sajadah, dalam hati, Billar berdoa untuk orang tuanya. Di sujud selanjutnya, Billar berdoa untuk saudara-saudarinya. Hingga di sujud terakhir Billar menyematkan satu nama untuk petunjuk akan perjalanan asmaranya; Lesti Andriyani. Seumur hidup baru kali ini ia menyematkan sebuah nama di luar keluarganya dalam doa. Apa pun jawaban-Nya itu adalah terbaik untuknya.


O0O

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi Lesti baru bisa membuka ponselnya setelah dicas kurang lebih sebelas jam. Seperti biasa notifikasi dari berbagai aplikasi membuat ponselnya tiada henti memberikan getar, yang membuat Lesti tersenyum miris.


“Belum terkenal aja notifnya udah bejibun, apalagi kalo udah jadi orang terkenal meledak kayaknya tuh ponsel!” ringisnya seraya membenahi tempat tidurnya.


Sebelum sarapan terus mandi, Lesti membereskan kamarnya hingga benar-benar ruangan seluas 3 x 4 ini berasa hotel bintang lima. Mulai dari menyapu, mengepel, membereskan benda-benda kecantikan, hingga menyortir pakaian yang kotor tapi masih menggantung. Selesai melakukan itu semua barulah ia mengecek ponselnya.


Kebanyakan Lesti abaikan, karena yang memenuhi notifikasi hari ini kebanyakan dari grup alumni sekolah. Namun, matanya terpaku kala sebaris nama terpapar di antara notifikasi dari aplikasi instagram.


“Nih, orang, ngapain lagi di IG gue?” cetusnya.


Tak berniat sedikitpun untuk mengikuti balik, bahkan ia hanya melihat doang isi pesan yang dikirimkan kepadanya. Tapi, ia malah tersenyum senang. Kenapa? Ia tidak berniat memberitahu kapan ia berangkat kerja. Selebihnya ia mulai menstalking instagramnya, dan melihat deretan followers dari sosok Billar membuatnya tertohok.


“Gila!” pekiknya. “Diikuti para artis lagi!” sambungnya.


Lesti baru mengetahui kalau Billar ternyata bukan sembarangan orang, dia menjadi salah satu fotografer favoritnya para artis. Lalu kenapa dia ngebet banget dengannya? Kenapa enggak pacaran sama artis secara dia bisa menaikkan kepopulerannya dalam bisnis fotografernya?


Lesti terus menggulir layar ponselnya, menatap satu persatu foto pribadinya dan terpaku pada foto sepasang.


“Amanda?” Lesti mengerutkan dahinya. “Ini pasti pacarnya dia, tapi kenapa dia ngejar gue? Apa jangan-jangan dia mau jadiin gue yang kedua? Gila nih orang!” geramnya.


Melihat hal ini, segera Lesti menghubungi Putra untuk menjemputnya nanti. Ia akan buktikan kalau sosok Lesti sudah ada yang memiliki, meskipun faktanya hubungannya dengan Putra hanya sebatas teman untuk saat ini, enggak tahu untuk beberapa saat ke depan, siapa tahu dia jadi pacarnya.


Senyum Lesti semakin sempurna kala Putra memberikan respons bagus. Namun, baru saja Lesti hendak pergi keluar dari kamarnya, ponselnya kembali bergetar dan menunjukkan sebaris nama yang membuatnya deg-degan.


Pak Ghifar


Lesti. Kita kan dapat voucher pemotretan dari MRB. Nah, nanti kamu sama Putra jadi model untuk promosi ya? Selain yang nerima voucher kamu, beberapa karyawan pun memilih kalian untuk jadi model pemotretan.


Lumayan buat promosi, dan kayaknya kamu sama Putra akan jadi maskot Kejora Cofee and Bakery.


Demi apa coba, sekarang Lesti sangat berdebar tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bukannya enggak mau, tapi, kenapa harus dirinya padahal banyak karyawan yang lebih cantik darinya.

__ADS_1


Namun dibalik keterkejutannya, Lesti sangat senang, dengan begini, mungkin Billar akan membatasi tingkahnya. Atau dia akan menarik ucapannya mengenai antar jemput dirinya.


...O0O...


__ADS_2