
PESTA pernikahan baru saja selesai dalam beberapa jam yang lalu. Kini sepasang kekasih yang sudah terikat dalam ikatan abadi tengah berbincang-bincang ringan bersama keluarga di sisi lain gedung seraya mengempaskan rasa penat yang masih berkemul di tubuh mereka.
“Beda ya kalo udah sah, mainnya senderan terus,” sindir Tiara seraya menuangkan es krim ke wadah yang lebih besar.
“Iyalah, kan kita udah halal udah enggak ada jarak,” balas Lesti, mengeratkan pelukan di tangan Billar.
“Tiara!” omel Mala.
Suasana kekeluargaan di ruangan ini begitu terasa, di mana topik yang mereka paparkan begitu mengalir penuh canda dan tawa. Hal ini berlangsung sampai kedua keluarga ini memutuskan untuk pulang, apalagi sebentar lagi langit mulai gelap total.
“Kita pulang yuk, kasihan anak kita,” kata ibunya Billar.
“Iya, ini kan hari bahagia mereka, tak boleh kita ganggu,” balas Mala.
Lesti dan Billar tersipu malu mendengar percakapan mereka, apalagi membahas soal cucu. Padahal topik ini biasa saja, tapi seolah menumbuhkan sengatan di pipi mereka hingga bersemu merah.
“Udah-udah ah, kalo kita ngobrol terus tambah lama dapat cucunya,” celetuk ayah Billar.
“Iya, malah ngobrol lagi,” tambah Bapak Rahman.
Kedua keluarga itu melambaikan tangan saat dua mobil mulai melaju meninggalkan pasangan yang baru saja halal ini. Keduanya saling merangkul, memasuki sebuah mobil yang dihadiahi ayah Billar kepadanya. Semua barang Lesti dan kado pernikahan dari para tamu telah memenuhi mobil ini dan mobil suruhan Billar.
“Alhamdulillah, semua acara sudah selesai. Kita akan memulai lembaran baru, kita akan membuat sejarah,” ujar Billar.
“Iya, Alhamdulillah.”
Tangan mereka saling menggenggam, sesekali Billar menciumnya lalu tersenyum. Sekarang mereka akan menuju apartemen. Mereka akan beristirahat di sana, sementara Haris telah pindah ke kos-an. Dia telah pindah tiga hari sebelum pernikahan Billar, dan sekarang dia selalu semangat mengikuti seminar fotografi, pameran, atau acara lainnya. Dia bercerita menemukan sosok bidadari yang berhasil menyentuh hatinya.
Begitu semua barang yang mereka bawa mendarat dengan selamat di apartemen ini, Lesti melemparkan tubuhnya ke kasur mengempaskan segala lelah yang membahagiakan ini, begitu juga dengan Billar yang terbaring di sampingnya.
“Aku punya kejutan buat kamu, Yang,” cetus Billar.
Lesti menoleh. “Apa?”
Billar bangkit, dan menarik Lesti untuk bangkit juga. Wajah Billar menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Serinya tak pernah padam dari matanya. Sekarang dia benar-benar terlihat sempurna di mata Lesti.
“Tutup mata kamu,” perintah Billar.
“Hah?” kejut Lesti.
“Iya tutup mata kamu,” ulang Billar.
Dada Lesti berdebar sangat kencang, menerka-nerka apa yang akan diperbuat suaminya ini. Yang Lesti tahu, Billar adalah sosok penuh kejutan, dan selalu punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya.
__ADS_1
“Ini adalah mimpi kita, dan besok kita akan menunaikannya,” kata Billar.
“Apaan nih?” timpal Lesti.
Billar beranjak dari hadapan Lesti meraih sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi terikat pita berwarna kuning keemasan dari balik nakasnya. Kemudian ia kembali ke hadapan Lesti menatap wajah manisnya cukup lama.
“Udah boleh buka belum?”
Billar terperanjat, segera fokus terhadap apa yang menjadi tujuannya. Ia mempersiapkan semua ini sudah lama dan sangat rapi, tidak satu pun Lesti curiga kepadanya meskipun rencana ini hampir ketahuan olehnya.
“Iya, kamu boleh buka mata kamu,” kata Billar.
Objek pertama yang dilihat Lesti adalah wajah Billar, kemudian luruh ke bawah menatap sebuah kotak yang disodorkan Billar kepadanya. Lesti menaikkan salah satu alisnya, menatap heran penuh tanya.
“Buat aku?”
Billar mengangguk. “Coba buka.”
“Makasih sayang,” ucap Lesti senang.
Begitu kotak itu dibuka, dua lembar kertas yang tertidur di sana membuat kedua bola mata Lesti membulat sempurna. Mimpinya dari dulu kini berada di hadapannya, ah, suaminya membuatnya menangis bahagia.
“Kita akan bersenang-senang di sana!” seru Billar, yang langsung mendapatkan pelukan dari Lesti hingga keduanya bertimpuk di atas kasur. Karena sudah terlanjur nikmat, Billar melingkarkan tangannya di tubuh Lesti dengan erat lalu mengecup kepalanya berkali-kali.
Di hari pemberangkatan ini, Billar dan Lesti mengemas perbekalan mengabaikan tumpukkan kado yang entah apa aja isinya. Sore ini mereka akan berangkat ke salah satu surga yang menjamur di Indonesia bagian timur.
Keduanya sangat kompak dalam hal berkemas, hingga mereka kelelahan dan saling bersandar di sofa depan televisi yang menyajikan berita.
“Sejak kapan kamu menyiapkan kejutan ini?” tanya Lesti.
“Saat kita teleponan di Bali, tapi dulu kamu nuduhnya cuma candaan ternyata kenyataan. Kenapa harus Sumba?” Billar balik bertanya.
“Karena Sumba adalah tempat istimewa,” balas Lesti.
“Emang yang lainnya enggak istimewa?”
“Bukan gitu, ya pokoknya hati aku lebih milih Sumba dibandingkan yang lainnya,” terang Lesti gemas.
Namun, sandaran mereka berakhir ketika ponsel Billar berdering. Satu nama temannya terukir di sana, tanpa rasa curiga sedikitpun Billar mengangkatnya.
“Gimana Will?”
Bi, Amanda meninggal bunuh diri!
__ADS_1
Seketika tubuh Billar mematung, napasnya mendadak berhenti dalam beberapa detik, bersamaan dengan bola mata yang terbelalak.
“Kamu serius Will?”
Billar berharap ia salah dengar, bagaimana Amanda melakukan ini? Bukannya dia sudah berjanji kepadanya agar tidak melakukan hal yang aneh? Sekujur tubuh Billar mematung, sekitar tiga hari yang lalu, Billar sempat mengangkat telepon darinya, kalau dia tidak bisa hadir ke pernikahannya karena badannya sedang tidak enak.
Serius Bi! Gue gak bohong, gue juga kaget, astaga kenapa dia ngelakuin ini padahal dia sedang hamil!
Lesti yang sedari keheranan berusaha membaca apa yang sedang terjadi pada suaminya ini, dia terlihat cemas bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
“Sekarang lo ada di mana?”
Gue, Arfan, sama yang lainnya sedang di sekitar apartemen Amanda. Gue gak tega Bi, lihat pemandangan di sini!
“Kalo gitu gue akan ke sana,” ucap Billar.
Oke-oke!
Lesti langsung menangkap Billar. “Ada apa?”
Billar menghela napas panjang, dan ia harus menceritakan semuanya. “Amanda meninggal bunuh diri,” ucap Billar berhasil membuat Lesti kaget dan menutup mulutnya.
“A-A-Amanda?”
Billar mengangguk.
“Innalillahi ....”
“Kita tunda perjalanan ke Sumba, kita harus ke sana. Kemungkinan—“ Billar ragu melanjutkan kalimat selanjutnya.
Lesti mengangguk. “Aku tau, tapi kamu tak perlu merasa bersalah, ini sudah menjadi takdir-Nya,” semangat Lesti.
“Maafin aku ya sayang?”
“Enggak, kamu enggak perlu minta maaf. Kita sudah berjanji untuk melewati semuanya bersama, aku akan mendampingimu,” ujar Lesti.
Billar benar-benar tidak menyangka Amanda akan melakukan hal keji seperti itu, kenapa? Billar merasa sakit hati mendengar kabar seperti ini, apalagi saat mengetahui kalau Amanda tengah mengandung. Kemungkinan, Billar akan dimintai keterangan setelah polisi mengecek ponsel Amanda. Ia dan Amanda telah melakukan panggilan dan pesan di whats app beberapa hari lalu.
Amanda, aku harap, kamu tidak benar-benar melakukan hal itu ....
Sungguh Billar tak percaya jika Amanda melakukan bunuh diri, alasan seseorang di balik meninggalnya Amanda lebih berkenan di hati Billar.
...O0O...
__ADS_1