
SEBELUM fajar menyingsing, tepatnya setelah menyelesaikan kewajiban, Billar dan yang lainnya telah turun ke jalanan untuk mengambil video para model di jalanan sepi. Billar tidak membaca skenarionya secara runtut, hanya sekilas saja, toh yang mengatur semua ini adalah Arfan, ia hanya mengikuti apa perintahnya.
Billar hanya fokus ke kamera, begitu juga dengan Haris. Sementara Arfan terus berceloteh menjelaskan dan melancarkan pemotretan ini. Arfan lebih banyak berbicara terhadap modelnya, yang sudah sangat powerfull entah dalam segi make up atau pakaian. Mereka berlima memang sangat cantik-cantik, tidak salah jika manajemen mereka mengirimkan kelima model ini untuk bersaing ke kancah internasional.
Terakhir, William. Selain fotografer, dia juga mengurusi properti. Ia yang menyeting latar pemotretan agar hasilnya semakin bagus.
Dalam beberapa detik, pandangan Billar dan Amanda sempat terkunci. Bahkan dengan tenangnya dia mengembangkan senyum kepadanya, ia pun membalasnya. Setelah itu, Billar berpaling kepada Arfan saat perintah untuk bersiap dilontarkan.
Billar mulai menggerakkan kamera mengikuti para model yang berjalan santai di halaman hotel menuju sebuah taman, kemudian mereka duduk dengan anggun dan meminum jus lalu mengobrol ria hingga kebahagiaan benar-benar terpancar di sana.
“Cut!” seru Arfan.
Billar dan Haris kini mengambil angle berbeda. Di balik tumbuhan yang segar, Billar memasang kamera sementara Haris memfokuskan kameranya terhadap model dari bagian depan. Sedangkan William, terus melakukan pemotretan, mengambil banyak gambar candid yang momennya pas. Terus seperti itu, hingga seluruh story board take Taman selesai.
Arfan meminta semuanya untuk beristirahat sejenak, setelah beberapa menit mereka merekam bagian pertama. Saat Billar duduk dibangku taman sendirian, Amanda datang dan duduk di sampingnya.
“Hai!” sapa Amanda.
Ingin sekali Billar beranjak menghindarinya, tapi aura Amanda seolah memberikan perekat di bangku ini agar tetap di duduk di sini.
“Hai,” balas Billar.
“Katanya, kamu udah dapatin sosok yang bisa gantiin aku?” tanya Amanda to the point, kemudian ia terkekeh pelan. “Sori, to the point banget ya? Okelah, aku ulangi, bagaiman kabar kamu?”
“Kabarku, seperti yang kamu lihat sekarang,” jawab Billar. “Oh, ya, aku lebih suka to the point. Aku membenarkan apa yang kamu bilang tadi, kamu sendiri apa sudah ada yang gantiin posisi aku?” Sebenarnya Billar tak perlu menanyakan hal ini, sudah jelas kalau dia tidak akan mempunyai hal itu. Toh, putus darinya saja karena mimpi.
“Belum, mimpiku masih belum tercapai,” balasnya.
“Oh, sukses dengan mimpimu,” timpal Billar seadanya.
“Makasih. Hm, nanti malam hotel ini adain pesta, kamu ikut?” ujar Amanda antusias.
“Mungkin, sekadar ngecek doang,” kata Billar seadanya.
“Masih aja kaku, ini bukan pesta miras. Meskipun ada miras, kamu tinggal pesan kopi atau jus aja. Santai ajalah, Bi. Anggap aja ini refreshing!” celoteh Amanda.
Billar beranjak dari duduknya, lalu menoleh kepada Amanda yang sudah berdiri juga. “Aku tidak pernah menganggap kalau ini refreshing, tepatnya aku menganggap kalau ini sebuah takdir yang tak diinginkan,” pungkas Billar.
Amanda menyusul Billar dengan ekspresi kesalnya. Jahat sekali dia mengatakan kalau ini takdir yang tak diinginkan. Apakah dia membencinya? Belum sebulan ia memutuskan Billar, laki-laki itu sudah move on dan langsung membencinya? Ah, kalau boleh jujur Amanda masih mencintainya.
“Saking bencinya kamu, menganggap semua ini takdir yang tak diinginkan?” tanya Amanda.
“Aku tidak pernah bilang kalau aku benci kamu. Lagian kenapa kamu mempermasalahkan ini? Bukannya hubungan kita udah selesai?” jawab Billar.
__ADS_1
Amanda mematung. Amanda merasa memungut kembali permen karet yang sudah dibuangnya. Manis yang berubah hambar, lalu ia mengharapkan manis darinya lagi. Setelah itu Amanda mendengkus, kenapa dirinya seolah menyesali apa yang telah dilakukannya. Kenapa dirinya bertingkah seolah orang yang gagal move on? Dan kenapa laki-laki itu harus banget gampang move on, setelah menjalani kisah cinta dengannya selama dua tahun ini?
Lebih dari lima belas menit mereka beristirahat, akhirnya pemotretan kembali dilakukan. Kini mereka beralih ke kolam renang yang di hadapkan ke pemandangan pantai. Berbagai macam gaya dan kostum mereka kenakan, mulai dari gaun hingga ke pakaian seksi mereka kenakan.
“Fan, gue mau ngingetin aja. Besok atau lusa gue pulang duluan ke Bandung, kalian lanjutin aja. Karena gue dah ke kontrak sama yang restoran itu, sorry, ya!” ujar Billar.
“Ya, gak apa-apa. Tapi, lo harus ikut party malam ini, sambil ngobrol-ngobrol dengan rencana bisnis di Yogya,” balas Arfan.
“Iya, kini udah pindah ke Bandung jadi jarang party!” tambah William.
“Iya, nanti gue ikut,” timpal Billar.
“Ikut ke mana?” seloroh Haris.
“Party, Ris!” kata William.
“Iya, dah lama gak ngopi-ngopi sama kalian, pasti seru!” ucap Haris antusias.
O0O
Pukul sembilan malam, seluruh pengunjung di hotel ini sudah memenuhi lobi dan kolam renang. Musik pun turut hadir memeriahkan pesta, yang katanya diadakan oleh salah satu pengusaha di negeri ini.
Billar dan teman-temannya berkumpul di sebuah bangku yang disediakan, mereka mulai mengobrol tak tentu arah hingga membahas usaha pemotretan yang akan dibuka di Yogya. Mereka memiliki semangat yang tinggi dalam berbisnis, mereka selalu gencar promosi dan menawarkan diri untuk mensponsori berbagai event.
“Rencana, memang akan buka di Yogya, masalahnya biaya belum ke kumpul. Mungkin bulan depan baru kita melangkah di Yogya,” jelas Billar.
“Emang lo udah nemu tempat yang pas?” tanya Billar.
“Kemarin ada temen fotografer gue, dia tinggal di Yogya. Dia nawarin tempat, untuk kita. Pas lihat lokasinya, menurut gue pas dekat sekolah juga pusat perbelanjaan. Tapi, gue belum cek tempatnya bagus atau perlu renovasi,” timpal Arfan.
“Ya udah, lo nego-nego aja, nanti kalo udah nemu harga pas, baru kita ngobrol lagi,” kata Billar.
Pesta ini semakin malam semakin meriah, bahkan ketiga temannya turut berjoget bersama DJ di sana. Bukan hanya teman-temannya, para model pun turut larut bahkan Amanda terlihat bahagia, tapi hal ini membuat Billar muak sendiri.
Billar menghela napas pendek, ketika Amanda mengetahui kalau dirinya sedang memerhatikannya. Billar memalingkan wajahnya, seraya meraih segelas kopi dan meneguknya. Alih-alih menyimpan kembali gelas kopinya, Amanda sudah duduk di hadapannya dengan senyum menawannya.
“Kamu enggak ikut joget?” tanya Amanda.
“Enggak tertarik,” balas Billar seadanya.
Amanda terkekeh. “Kamu itu terlalu kaku, enggak kebayang deh cewek yang deket sama kamu nyaman apa enggak.”
“Kamu enggak tau apa-apa tentang itu. Aku enggak masalah dibilang kaku, karena memang ini bukan duniaku,” timpal Billar.
__ADS_1
“Munafik! Padahal kamu sangat ingin berbaur dengan yang lainnya!” Amanda beranjak dari hadapan Billar, dan meraih segelas minuman yang disodorkan orang, entah siapa.
Billar mengangkat bahunya dan beranjak. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya; memilih untuk istirahat atau paling tidak mengobrol dengan Lesti. Hari ini ia belum mengucapkan sepatah kata apa pun padanya, karena memang dihabiskan untuk mengonsep pemotretan dan mengobrol banyak dengan teman-temannya.
Billar langsung merebahkan tubuhnya, dan mulai memanggil kontak Lesti. Awalnya hanya panggilan suara, kemudian Billar meminta untuk melakukan panggilan video. Sosok yang dirindukannya tersenyum.
“Halo, belum tidur? Eh, apa kabar?” sambut Billar.
Gue baik-baik aja, lo sendiri gimana? Terus pemotretannya lancar?
“Gue enggak baik-baik aja, dan pemotretan berjalan lancar.”
Kenapa lo?
“Gue keserang penyakit,” timpal Billar.
Penyakit apa?
“Rindu.” Billar terkekeh, sedangkan Lesti terlihat memalingkan wajahnya menahan kegelian atas apa yang diucapkannya. “Gue rindu banget sama lo. Gue pengen banget jalan-jalan lagi sama lo. Bali terasa biasa aja karena gak ada lo di sini.”
Sa ae lo, kutunya Spongebob!
“Serius. Nanti, gue ajak lo ke Bali deh, serius!” ujar Billar.
Enggak mau ke Bali, gue pengen ke Sumba!
“Boleh tuh! Nanti gue rencanain,” timpal Billar.
Enggak deh. Boro-boro ke Sumba, mending duitnya tabung aja buat yang lain.
“Ya, gapapa. Siapa tau gue punya rezeki lebih, bisa traktir lo buat jalan-jalan.” Billar membenarkan posisi rebahannya menjadi duduk bersandarkan bantal.
Serah lo. Ngomong-ngomong lo mau balik kapan?
“Kenapa? Lo rindu juga?” goda Billar.
Yakali rindu, gue cuma mau nagih hadiah gue!
Keduanya tertawa lepas, bahkan Billar dibuat kesal oleh tingkah Lesti. Billar sangat bahagia melihat Lesti seperti ini. Ternyata perjuangannya selama ini enggak sia-sia, Billar merasa menjadi laki-laki paling bahagia akhir-akhir ini.
“Ya udah gue tutup ya. Lo kan besok harus kerja pagi. Oh, ya gue besok sore pulang dari Bali,” ujar Billar.
Kok cepet banget, katanya semingguan.
__ADS_1
“Gak betah karena gak ada lo. Bye, see you!”
...O0O...