
Beberapa saat setelah memutuskan telepon dari Lesti, Billar mengembuskan napas panjang. Pikirannya berkelana meraih banyak harapan untuk hidupnya. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya, dan melihat Amanda bahagia dengan orang yang sudah menodainya. Kemudian, Billar akan menunaikan niat baiknya untuk menyempurnakan separuh agamanya.
Billar memasukkan ponselnya ke saku, bersamaan dengan hadirnya Amanda di samping. Menurut pengakuannya, Amanda akan menerima apa yang sudah terjadi padanya. Dia siap menghadapi apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Meskipun berat untuk melupakan mimpi, tapi, hal ini harus ia lakukan karena menyesal pun tak akan berarti.
“Kenapa kamu membatalkan pulang hari ini?” ujar Amanda. “Jangan karena gara-gara aku, kamu membatalkan hal itu, Bi. Aku tidak apa-apa di sini, lagi pun kita bukan siapa-siapa, kita hanya teman,” lanjutnya.
“Iya, aku tau. Tapi, aku enggak bisa pergi setelah apa yang disaksikan oleh orang. Aku takut, hal ini malah memperkeruh masalah kita. Jadi, aku akan tetap di sini, melindungi kamu,” terang Billar.
“Kamu terlalu berlebihan. Aku sudah percaya kalau ini bukan ulahmu, kita hanya korban, jadi, kalau kamu mau pergi silakan. Jangan jadikan keadaan aku menjadi penghambat untuk seseorang yang penting di hidupmu, Bi.” Amanda menepuk bahu Billar. “Aku akan baik-baik saja. Temui dia, dan lakukan apa yang sudah menjadi niatmu,” tambah Amanda.
Billar menoleh memandangi wajah Amanda. Perempuan itu terlihat lebih baik dari sebelumnya, meskipun Billar yakin kalau perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Billar tak habis pikir terhadap orang biadab itu, kenapa dia melakukan hal ini, apa karena dia mabuk? Tidak. Terlalu pandai jika dia melakukan hal ini dalam keadaan mabuk. Billar yakin kalau apa yang dilakukan orang itu pasti ada alasannya.
“Aku akan tetap di sini,” ungkap Billar.
“Aku akan tambah terluka kalau kamu melakukan itu. Dia pasti sangat mengharapkanmu, Bi. Kamu jangan sia-siain apa yang telah membuat kamu nyaman. Memang masih banyak kesempatan untuk itu, tapi kesempatan yang pertama adalah yang paling istimewa,” ujar Amanda.
Sejenak Billar terdiam, menyerap apa yang baru saja Amanda ucapkan. Apa harus ia pulang? Lesti merupakan titik ternyamannya sekarang di luar dari keluarga. Perempuan itu mempunyai daya tarik luar biasa baginya. Memang sangat disayangkan jika ia menyia-nyiakan dia, apalagi perasaan lebih terhadapnya bertumbuh baik hingga berbuah keseriusan yang mendalam.
“Apa kamu yakin akan baik-baik saja?” tanya Billar.
“Aku janji!” Amanda mengangkat jari kelingkingnya.
Billar menyambut kelingking Amanda dengan senyum tipis di bibirnya. Setelah itu ia pamit kepada teman-temannya untuk pulang sekarang. Mengingat masih ada waktu untuk menyeberang ke Jawa Timur, setelah itu ia akan melesat ke Bandung melalui kereta cepat.
Namun, sebelum itu ia membeli banyak hadiah untuk Lesti di sekitar pantai. Mulai dari berbagai macam Pia, Kebaya khas Bali, Udeng sampai tas rotan. Terakhir yang paling spesial, sebuah benda yang akan mengikat niat baiknya.
Selama di perjalanan, Billar memandangi hasil jepretannya kala itu. Dalam foto tersebut, ia menangkap sosok yang sedang mengarahkan ponsel kepadanya. Dulu ia hanya curiga saja, takut disalahgunakan, dan ternyata terkaannya tepat.
Billar terus menggulir layar ponselnya, hingga terpaku pada foto di mana ia berduaan dengan Lesti. Ia memandangi semua foto kebersamaan dengan perempuan itu. Senyum yang dia torehkan sangat candu, dan menular.
Kereta yang Billar tumpangi seolah berubah haluan menjadi kereta kenangan yang menampilkan banyak kejadian lalu yang membuatnya bahagia. Namun, ruang kenangan itu dipaksa berhenti ketika sekelebat kenyataan yang sedang menimpanya sekarang turut hadir di sana.
Billar memiliki tanggung jawab yang tak berdasar kepada Amanda, ia masih belum bisa menemukan titik terang sampai hari ini. Beberapa kali ia menanyakan mengenai pesta tersebut pada saat itu, respons semuanya sama. Keadaan menjadi tak terkendali, apalagi hampir seluruh penikmat pesta dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
Perlahan hari semakin larut, dan kereta yang Billar tumpangi berhenti tepat di stasiun Bandung. Billar segera memesan taksi daring untuk membawanya ke apartemen, setelah itu beristirahat dengan nyenyak menghilangkan penat yang mengerumuni jiwa raganya.
Bandung, selamat datang, dan selamat malam....
O0O
Lesti benar-benar terkejut, ketika mendapati banyak pesan dari Pak Ghifar. Seketika itu, ia langsung mematikan ponselnya. Peneror itu benar-benar memainkan perannya dengan sangat baik. Bagaimana ini? Dan kenapa sosok Billar menyuruhnya untuk berdiam diri, bagaimana bisa ia melakukan hal itu. Bahkan, sekarang Lesti tak yakin kalau malam ini ia akan tidur dengan nyenyak.
Hidupnya dihantui dengan berbagai ketakutan yang teramat. Apakah besok ia meliburkan diri? Atau tetap melangkah dengan memasang seolah tidak tahu apa-apa? Namun, firasatnya mengatakan kalau besok adalah hari di mana dirinya akan berada di posisi terendah dalam hidupnya.
Lesti menggeleng keras. Lesti bukan perempuan lemah, melarikan diri? Tidak. Kenapa harus melarikan diri, toh, ini cuma fitnah. Ini hanya bentuk keirian seseorang atas apa yang sudah dicapainya. Lagi pun, Billar tidak mempermasalahkan hal ini.
Lesti, kamu harus tenang. Tidak mungkin Allah memberikan ujian ini di luar kemampuan kamu. Kamu pasti bisa melewatinya!
Tiada henti hatinya memberikan semangat, dan berusaha menyerap hal-hal positif. Jika memang besok adalah hari terakhirnya bekerja di Kejora, tidak masalah, enggak perlu bersedih. Ambil hikmahnya, kemudian fokus menjalani hidup seperti biasanya.
Mungkin, jika ini benar. Butuh waktu, untuk menghilangkan masalah ini dari muka bumi. Lesti akan mengisolasi diri dari pekerjaan selama beberapa minggu, sampai masalah ini tenggelam sedalam-dalamnya. Lesti akan siap melakukan itu, karena bukan tak mungkin jika Pak Ghifar sudah menyerangnya dengan banyak pesan dan telepon melakukan tindakan ini.
Namun, dari banyaknya memori tentang keindahan selama hidupnya, selalu kalah sama memori tentang permasalahan yang sedang dihadapinya. Kemana memori tentang persahabatannya pergi? Atau kemana memori tentang kebersamaannya dengan Billar akhir-akhir ini? Bukankah memori itu membuatnya senang dan merasa dunia milik berdua? Ah, sudahlah mungkin memang malam ini Lesti ditakdirkan begadang dalam bayang-bayang masalah itu.
Pukul dua belas malam, Lesti memberanikan diri dengan mengaktifkan kembali ponselnya. Beberapa saat setelah benda pipih itu menyala, banyak notifikasi yang masuk. Tapi, yang menarik perhatiannya hanya pada notifikasi Instagram. Setelah mengembuskan napas panjang, Lesti memberanikan diri untuk membuka aplikasi tersebut.
Akun Ayu menjadi pusat perhatian sekarang. Bagaimana tidak, beberapa jam yang lalu dia kembali mengunggah foto di saat Putra mengungkapkan perasaannya. Gila! Kenapa Lesti tidak sadar kalau dari seberang sana ada yang memotretnya kala itu. Bagaimana dengan Putra? Apakah dia akan marah, dan menjauhinya?
Lesti sudah mengingatkan kepada Putra agar tidak mengulurkan tangan kepadanya, tadi sebelum pulang Putra kembali beraksi menginterogasi satu persatu karyawan Kejora, tapi tak ada satu pun yang mencurigakan dari mereka.
Lesti menggigit bibir bagian bawahnya, setelah melihat unggahan akun Ayu dengan caption yang sangat berlebihan. Segera, Lesti menutupnya lagi. Tak perlu mengetahui isi komentar dari postingan itu, karena ia sudah sangat yakin seratus persen semua komen di sana adalah keburukan. Lesti tidak mau mengambil risiko untuk membaca isinya, ia masih sangat sayang sama dirinya.
Kini ponsel Lesti beralih pada laman Whats app, ia mengabaikan semua pesan yang masuk kecuali pada satu sosok laki-laki. Lesti membuka pesan dari laki-laki berkacamata itu, dan pesannya berisi agar dirinya tak usah membuka Instagram.
Lesti tersenyum miris.
Lesti:
__ADS_1
Put, sorry.....
Tak terasa linang air mata hadir membasahi pipi Lesti. Alih-alih ia melempar ponselnya ke sembarang tempat di kasurnya, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Lesti tidak tahu harus apa sekarang, mungkin apa yang Jesika ucapkan tempo hari benar. Ia harus keluar dari Kejora.
O0O
Selama empat jam ini, Lesti memilih bekerja di pemanggangan. Selama empat jam ini pula, mulut Lesti dibiarkan kering. Hari ini Lesti lebih banyak diam, dan gerak tubuh sebagai respons dari orang-orang yang berbicara kepadanya.
Ketika sosok bertubuh gempal hadir dari balik pintu, Lesti sudah tidak bisa berharap apa-apa selain pasrah terhadap kemungkinan besar yang akan menimpanya sekarang: dipecat!
“Lesti, semalam kamu membuat saya kesal. Kamu benar-benar menghindari saya akhir-akhir ini. Tapi, bapak paham posisi kamu sekarang. Masalah kamu dengan akun yang bernama Ayu semakin tak terkendali, dan respons orang-orang semakin tak karuan. Bapak mau minta maaf, kalau bapak akan melakukan ini.”
Lesti mengangguk pelan. Dadanya sudah berdebar dengan sangat kencang, bahkan air mata dan peluh berlomba-lomba untuk keluar dari persinggahannya.
“Bapak akan memutuskan kontrak kerja dengan kamu.” Pak Ghifar menghela napas.
“Tapi Pak—“
“Enggak Put. Memang pantas Pak Ghifar melakukan ini. Mungkin dengan begini, Kejora akan damai.” Lesti mengembuskan napas kasar. “Aku mau minta maaf, atas segala kesalahanku selama aku kerja di sini. Dan terima kasih atas pembelajaran dan pengalaman selama ini, aku akan merindukan kalian—“
Kedatangan seseorang yang tiba-tiba, membuat banyak pasang mata menyorot pada laki-laki bertubuh tegap, berselimut jaket levis, dengan senyum semringah menyertai bibirnya.
Billar?
“Maaf, mengganggu waktunya. Saya ke sini mau bawa barang bukti atas apa yang terjadi pada Lesti. Dia tak bersalah, dan apa yang dilakukan akun Ayu hanya bentuk keirian belaka.” Billar merogoh ponselnya, sementara beberapa karyawan di sini menampilkan wajah yang mendadak tegang.
“Ini orangnya, Pak!” Billar menampakkan hasil jepretannya, dan beberapa vidio singkat yang merekam aksi mencurigakan dari sosok yang berselimut di balik akun Ayu.
Pak Ghifar menoleh tegas, menatap tajam terhadap orang yang terekam di ponsel Billar. Dia meruntuhkan tatapannya, dan mulutnya tampak terkunci kala Pak Ghifar berjalan menghampirinya.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
...O0O...
__ADS_1