
Perempuan berhijab itu benar-benar tidak pernah menyangka, kalau dalam sepuluh hari ke depan ia akan menikah dengan laki-laki menyebalkan yang tiba-tiba masuk dalam perasaannya karena ajakan klise di pertemuan pertama. Itu pun terjadi karena rasa terpaksa, dan tentu saja ia sangat was-was.
Sekarang ia tengah bersiap-siap untuk pergi bekerja, dan tantangan setelah diputuskannya tanggal pernikahan keduanya sepakat untuk tidak bertatap muka. Bahkan, dengan senang hati Billar memilih bekerja dari apartemennya.
Sebelum berangkat, Lesti duduk di kasur sembari membolak-balikan surat undangan yang bergeming di atas nakas. Sepasang nama tercetak di sana dengan warna gold.
“Ya Allah apakah ini mimpi? Lindungi dia untuk hamba-Mu ini,” ucapnya pelan.
Lesti memasukkan surat undangan itu ke dalam totebag lalu beranjak dari kamar setelah memesan ojek online. Lesti terdiam sejenak ketika aroma kue tercium, ia menoleh ke arah dapur.
“Mah, aku berangkat dulu!” seru Lesti seraya menyalami Mala yang tengah sibuk masak kue untuk menjamu tamu nanti.
“Iya, kamu hati-hati. Pulang kerja langsung pulang ke rumah jangan nongkrong-nongkrong dulu,” imbau Mala disusul kecupan singkat di dahi anak pertamanya itu.
“Iya, Mah.” Dengan jailnya Lesti mencomot satu kue berbentuk rumah Patrick Stars di sana, tapi sayang pukulan halus di tangannya membuatnya melepaskan kue tersebut.
“Ish! Nih, yang gosong!” Mala menyodorkan beberapa kue yang bawahnya—sedikit—gosong.
Lesti cemberut. “Ya Allah, Mah, cuma satu loh.”
“Itu buat tamu!” timpal Mala. “Udah yang ini aja, ini gosong luarnya doang enggak sampe dalem.”
Dengan raut sebal Lesti meraih beberapa kue itu lalu melahapnya satu persatu, hingga sebuah motor berhenti dan menyembunyikan klakson memberitahu.
“Tuh, ojeknya udah dateng, gih berangkat,” usir Mala seraya melihat Lesti yang masih sibuk mengunyah kue setengah gosong itu.
“Iya, Mah. Assalamualaikum.”
“Wa Alaikumsalam.”
Lesti meraih helm yang disodorkan sopir ojek kepadanya, lalu memakainya sebelum akhirnya ojek ini melesat menuju tempat kerja.
Demi apa pun Lesti merasakan keanehan hari ini, biasanya selalu diantar jemput oleh Billar tapi sekarang kembali sejenak ke setelan awal yaitu bersama ojek.
“Tumben gak dianterin Billar,” ucap Ardia yang juga baru tiba di depan toko. “Lagi marahan ya?” tebaknya, menelisik setiap titik ekspresi Lesti.
Leati menyodorkan uang pas dan helm bergantian, lalu menatap Ardia dengan salah satu alis terangkat. “Marahan banget.”
“Kenapa?” tanya Ardia penasaran.
“Kepo banget sih,” timpal Lesti.
Keduanya masuk ke dalam toko dan berhadapan langsung dengan Putra yang keluar dari ruangan karyawan. Sepertinya laki-laki berkacamata itu juga baru saja tiba ke toko.
“Pagi, Put!” sapa Ardia.
“Pagi!” balasnya singkat sembari meraih kain lalu mengelap bar. “Langsung siap-siap, jangan ngobrol mulu.”
Begitulah Putra, setelah kejadian itu dia kembali sangat menyebalkan, meskipun tak semenyebalkan dulu. Dia juga tampak tak peduli dengan raut wajah dari dua perempuan yang melewatinya.
__ADS_1
“Ini masih pagi—” kata Lesti.
“Yang bilang ini siang siapa? Enggak ada, kan?” potong Putra cepat. “Lagian aturannya, pukul enam empat lima itu udah siap sedia, bukan baru siap-siap!”
“Iya yang mulia Putra, kami tahu. Ini masih setengah tujuh, kita siap-siap enggak memakan waktu sampe setengah jam juga,” timpal Lesti.
“Masalahnya kalo udah ngobrol kalian itu suka lupa waktu!” balas Putra tak mau kalah. “Buktinya udah banyak, setiap malam Pak Ghifar selalu evaluasi.”
“Put—”
“Udah deh, Les. Yo masuk, gak ada ujung ngomong sama dia kalo di jam kerja!” sindir Ardia meskipun hatinya terkekeh melihat wajah jengkel dari Putra.
“Ish!”
Ardia menyeret Lesti ke ruang belakang, mesing adonan sudah di hidupkan dan bahan-bahan sudah tercampur di sana dengan merata.
“Lo itu kek orang amnesia aja Ti, udah tau Putra itu kek gitu masih aja diladeni, diemin aja udah.” Ardia membuka loker dan menyimpan barangnya di sana.
“Ciah cemburu!” goda Lesti yang juga menyimpan barangnya di dalam loker.
Ardia terdiam sejenak. “Plis deh, Ti. Semenjak kejadian itu gue udah gak mau terlalu ngerep lagi.”
“Gue minta maaf ya, Ar. Tapi, jujur gue sama Putra dulu enggak ada apa-apa kok,” kata Lesti, kembali teringat kejadian itu.
Ardia menoleh. “Lo gak salah, Ti. Udah, ah, kita harus buruan nanti ada yang marah lagi.”
Setelah bersiap-siap, Lesti langsung menarik pel dan mulai menyusuri ruang di tengah-tengah bangku yang tersebar. Semua karyawan di Kejora memang memiliki perannya masing-masing, namun tidak menutup mereka untuk tetap berperan di proses lain. Seperti Lesti, ia kerjaan utamanya pelayan, tapi kadang-kadang ia berada di balik kasir atau bahkan di pemanggangan.
Ardia yang tengah mengelap meja di belakang tersentak. “Hah? Apa?”
“Iya kalo misalkan gue berhenti kerja gimana?” ulang Lesti.
“Lo ada rencana berhenti, kenapa? Gaboleh dong, gue gak punya temen gibah yang sefrekuensi lagi dong!” rengek Ardia.
Lesti terkekeh. “Gue cuma nanya doang.”
Tatapan Ardia memicing berusaha mencari celah dari dalam diri Lesti. “Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?”
Lesti malah mengangkat bahu tak peduli. “Entah, menurut lo?”
“Dih!”
Tanpa mereka sadari dari kejauhan Putra memantau mereka, lantas menggelengkan kepalanya pelan. “PROFESIONAL PLEASE!!!”
Keduanya tersentak, serentak menatap ke arah Putra yang juga sedang membersihkan etalase kue di sana. Lesti mendengkus kesal begitu juga dengan Ardia.
“Profesional please!” ledek Lesti. “Tuh, yang lain juga baru datang, santai aja kali!”
“Yang lain gak banyak ngobrol kayak kalian,” seloroh Putra.
__ADS_1
“Meskipun ngobrol nih tangan sama kaki tetap kerja juga!” ketus Lesti.
“Masa?” ledek Putra.
“Ish, nyebelin banget!” desis Lesti.
“Udah deh, Ti. Diemin aja ngapa, anggap aja dia enggak ada. Emang rese dia!” lerai Ardia.
Akhirnya setelah selesai membereskan setiap titik Kejora Coffe and Bakery, Lesti dan Ardia kembali ke ruang belakang tanpa menatap ke arah Putra sedikit pun yang menatapnya sejenak.
“Ar,” panggil Lesti, Ardia mendekat. “Lo adalah temen gue, jadi ini gue bakal informasiin pertama ke lo.”
Dahi Ardia berkerut. “Apa?”
Lesti merogoh totebag, memgeluarkan kertas tebal terbungkus plastik. “Gue bakal married!”
Ardia melotot dan langsung merebut surat undangan di tangan Lesti dengan cepat, menelisiknya, membacanya dalam diam dan serius. “OMG!!! Gilaa!!! Aaaaa!!!”
Ardia langsung memeluk Lesti. “Gak nyangka banget sih!!!”
Lesti hanya tertawa.
“Gila, lo ninggalin gue, Ti! Ya Allah di mana jodohku? Temukan aku dengannya segera!!!” seru Ardia.
BRAKK!
Semua karyawan tiba-tiba menggebrak pintu ruangan membuat Lesti dan Ardia saling tatap dalam keterkejutannya.
“Kenapa?”
“Ada apa?”
“Kalian! Bukannya kerja malah teriak-teriak!” Tatapan sedingin es dari Putra berhasil membekukan Ardia dan Lesti beberapa detik.
“Astaga Putra! Demi apa! Ini masih ada waktu bentaran lagi!” Ardia memasang badan ke hadapan Putra, lalu tatapannya menyapu satu persatu wajah teman yang lainnya di sana. “Kalian, tau ... LESTI BAKAL MARRIED!!!”
Sontak semua terdiam mencerna dan menatap surat undangan yang diangkat oleh Ardia.
“YEAY!!!” Ardia heboh sendiri sebelum yang lainnya ikutan heboh.
Sementara Putra mengembuskan napas panjang, dalam satu waktu tatapannya beradu pandang dengan Lesti yang ternyata sedang menatapnya. Putra tersenyum tulus, dan Lesti membalasnya.
Congratulations Lesti! Gumam Putra.
Ardia langsung terdiam dan menoleh ke arah Lesti, teringat pertanyaan Lesti beberapa menit yang lalu. “Ini maksud pertanyaan lo, Ti? Lo bakal berhenti kerja?”
“Mungkin.”
Ardia kembali memeluk Lesti. “Kalo untuk ini gue gak apa-apa lo pergi, Ti. Jujur gue seneng banget kalo lo mau nikah!”
__ADS_1
...O0O ...