Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Epilog


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian itu akhirnya mereka memutuskan untuk pergi menuju tanah Sumba, bagian timur Indonesia. Semua masalah yang menyelimuti mereka berhasil dihempaskan, tanpa sisa sedikit pun. Pergolakan batin nyaris membuat keduanya stres, bahkan sampai saat ini Lesti lebih memilih diam ketimbang mengungkap apa yang telah Billar lakukan ketika tidur dulu. Dia memanggil nama Amanda.


Semuanya sudah selesai, tak perlu ia ungkap lagi. Sudah saatnya mereka menumbuhkan kebahagiaan yang tak berujung.


Dalam perjalanan menuju bandara, Lesti terdiam memandang pemandangan yang tersaji di luar sana. Menatap gedung-gedung tinggi, dan volume kendaraan yang lancar. Dalam benak Lesti terbayang akan keindahan Sumba, mengukir kisah romantis bersama suaminya.


“Akhirnya setelah cukup lama, kita akan melewati hari dan malam yang panjang!” bisik Billar seraya bersandar lada bahu Lesti. “Kamu jangan malu-malu lagi.”


Tubuh Lesti menegang. “A-apaan sih.”


“Pejamkan matamu dan nikmati segalanya. Itu aturannya.” Billar malah menyembunyikan kepalanya ke bahu Lesti.


“Makin gak jelas!” tukas Lesti.


“Kamu udah nyiapin nama untuk calon anak kita belum?” Billar semakin melonjak, membuat Lesti kembali menegang.


“A-anak?”


“Iya, kalo cowok namanya siapa, kalo cewek namanya siapa. Terus kalo kembar cowok-cowok siapa, kalo kembar cewek-cewek siapa, dan kalo kembar cewek-cowok siapa.” Billar menatap Lesti sembari menahan tawa.


“Heh, i-itu masih lama,” balas Lesti gugup.


Billar bangkit dari sandarannya, menatap atap mobil. “Kalo cowok aku mau kasih nama Fatih Aswindra, kalo cewek Calisa Putri Aswindra, kalo kembar cowok-cowok Daniel-Samuel, kalo kembar cewek-cewek Salma-Silma, kalau kembar cewek-cowok Aira dan Sagara.” Billar menatap penuh wajah Lesti. “Gimana?”


Demi apa pun Lesti hanya bisa tertegun, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikiran Lesti belum sampai untuk hal itu. Pada akhirnya Lesti mengangguk setuju apa yang Billar lontarkan. “Ba-bagus.”


Setelah lumayan lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di bandara. Sebelum, benar-benar mereka melakukan perjalanan di udara nanti, mereka memutuskan untuk makan dulu di sebuah restoran yang ada di sekitar bandara.


“Sayang! Kamu mau makan apa?” tanya Billar.


“Apa aja yang penting bikin kenyang aja,” timpal Lesti.


Billar mengangguk, dan memesan dua ramen dan dua gelas es teh. Billar benar-benar merasa sangat gerah setelah berada di tengah-tengah jalanan Jakarta. Selama mereka makan sambil menunggu pemberangkatan, mereka habiskan dengan mengobrol hal-hal random.


Hingga akhirnya waktu pemberangkatan pun tiba, setelah melakukan serangkaian pengecekan mereka duduk dengan tenang. Lesti sudah tidak sabar untuk melihat pemandangan dari ketinggian, toh ini merupakan kali pertama Lesti berpergian menggunakan pesawat.

__ADS_1


“Akhirnya aku ke Sumba,” seru Lesti sontak memeluk Billar dan mengecup pipinya senang.


Billar yang mendapatkan hal itu hanya bisa bengong, apa ini mimpi? Seorang Lesti yang notabenenya malu-malu, dan selalu heboh akan hal yang intim seperti itu, tapi entah apa yang merasukinya saat ini sampai dia berani melakukan hal itu.


“Gimana kamu seneng?” tanya Billar.


“Seneng banget!” timpal Lesti semangat.


O0O


Setelah berjam-jam melintasi provinsi dan pulau, akhirnya mereka tiba di bandara Nusa Tenggara Timur. Mereka langsung memesan taksi untuk mengantarkannya ke sebuah hotel yang langsung menghadap ke arah pantai.


Tak sedikit pun Lesti menyurutkan binar semangat di wajahnya, sementara Billar begitu tiba di kamar langsung melempar tubuhnya ke kasur. Dia sangat lelah dengan perjalanan panjang ini. Ia ingin istirahat sebentar sebelum akhirnya berpetualang menjelajahi tanah Sumba.


“Pemandangannya bagus banget! Sayang, ayo kita renang di sana!” seru Lesti tidak sabar.


“Kamu enggak cape?” tanya Billar.


“Aku enggak mau nyia-nyiain kesempatan ini!” balas Lesti.


“Istirahatlah dulu, nanti sore kita main ke sana. Mataharinya terik banget!” terang Billar.


“Oke deh! Ya udah kamu mandi dulu,” perintah Lesti.


“Iya bentaran dulu, masih lelah!” balas Billar.


“Kamu lapar?” tanya Lesti sambil mengeluarkan nasi timbel yang ia beli di sekitaran bandara tadi.


Billar langsung bangkit dan duduk berhadapan dengan Lesti di lantai. “Iya, lapar.”


Mereka menandaskan makanan yang tersaji di depannya dengan sangat lahap, tidak lupa mereka saling menyuapi satu sama lain. Mulai saat ini Lesti tidak akan membuat kehebohan lagi karena hal-hal biasa yang sering di hadapi pasangan suami istri.


“Ah, kenyang!” Billar memukul-mukul pelan perutnya.


“Habis ini kamu mandi, terus istirahat. Sore kita harus jalan-jalan sambil nikmatin sunset!” terang Lesti yang masih menggebu. Ia menggulung kertas nasi lalu dimasukan ke kantong kresek.

__ADS_1


“Iya, aku tau.” Billar mengembuskan napas panjang, dan tangannya kembali meraih botol air mineral. Matanya menatap Lesti menuju wastafel dan memcuci tangan. Dalam diam Billar tersenyum, merasa sangat bahagia ketika perempuan yang dicintainya bahagia. Setelah itu, barulah Billar bangkit dan langsung masuk ke WC. Sengaja ia melupakan handuk, Billar telah merencanakan sesuatu untuk Lesti


Tangan Billar, mulai memghidupkan shower, dan menanggalkan bajunya. Ia berjalan ke bawah shower, membiarkan tubuhnya di banjiri air. Billar meloloskan sabun cair ke seluruh tubuhnya, kemudian tersenyum nakal.


“Sayang!” teriak Billar di tengah air yang menghujani tubuhnya.


“Hmm, apa?” Lesti membalas.


“Ambilin handuk dong!” pinta Billar.


Tak lama dari itu suara ketukan terdengar, segera Billar membuka pintu tersebut lalu menarik Lesti dan mengunci pintu WC. Billar membawa Lesti untuk menari bersama di bawah shower, Billar membuka hijab Lesti dengan lembut.


“Ish, mau ngapain?!” Dada Lesti menggebu kencang, namun sekuat tenaga untuk tetap tenang.


“Mandi bareng,” balas Billar singkat.


Lesti terdiam.


Billar terkekeh. “Pejamkan matamu, dan nikmati segalanya.”


Lesti menurut, ia memejamkan matanya dan membiarkan Billar menghiasi semestanya seutuhnya. Darah Lesti berdesir ketika Billar mulai membelainya dengan lembut, mengecupnya pelan.


“Kau adalah terakhir untuk selamanya!” bisik Billar. “Aku benar-benar sangat beruntung bisa dapetin kamu, aku merasa sangat bahagia dan selalu ingin di sampingmu. Ketika ikrar sehidup semati terucap pada saat itu, kebahagiaanku semakin tinggi. Sekarang kau milikku seutuhnya, dan aku milikmu seutuhnya.”


Lesti membuka matanya. “Aku milikmu, lebih dari selamanya. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, aku benar-benar bersyukur kau hadir untukku.”


Billar tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lesti, dan secara perlahan ia mencium bibir manis milik Lesti.


Cup!


Lesti terpejam menikmati embusan napas Billar dan tidak lupa dengan ciuman itu, ia membalasnya. “I love you, baby!”


Billar memeluk tubuh Lesti, kemudian membawanya ke bathub yang sudah berisi air dan gelembung sabun yang menyembul. Keduanya masuk, dan melanjutkan aksi kasih sayangnya hingga waktu yang tak ditentukan.


“I love you more!” Billar mengawali ciuman itu untuk cerita yang sangat panjang.

__ADS_1


 


...———SELESAI———...


__ADS_2