Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Dia Yang Menyebalkan


__ADS_3

SUDAH hampir setengah jam ponsel Lesti diserang getaran oleh banyak pesan, yang tiada lain adalah Billar. Lesti masih tidak menyangka kehadiran Billar akan mengubah alur kehidupannya saat ini. Dia memang tampan, dan sangat berani berhadapan dengan ayah sama seperti Raziq waktu itu. Tapi, kenapa hatinya masih belum terbuka menyambut kehadirannya.


Sementara Putra, dia memang enggak berhadapan dengan ayah dan membahas banyak hal. Dia hanya bertatap muka saja, selebihnya dirinyalah yang menjelaskan kalau Putra itu baik meskipun sering berdebat dengan di tempat kerja. Namun, itu dulu. Sekarang dia malah menyelinap secara perlahan lewat rencana yang diusulkan Ardia. Hatinya pelan-pelan terbuka untuk Putra.


Karena merasa jengah, Lesti membuka kolom obrolan bersama nomor Billar yang menghantuinya setiap detik. Semua yang dilontarkannya di sana, berupa pujian, omelan, marah-marah enggak jelas, terus baik lagi, dan ketika ia membukanya stiker hujan bunga dia lontarkan.


Lesti:


Berisik tau! Gue mau tidur, ngantuk!


Billar:


Calling....


Lesti mendengkus ketika laki-laki itu malah memberikan panggilan untuknya. Segera ia menutup ponselnya dan memejamkan matanya, berharap sekarang benar-benar tertidur dan bangun saat hendak salat subuh. Namun, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Ponselnya terus merengek meminta agar dirinya merespons panggilan tersebut.


Saat menutup telepon dari Billar, Lesti terperanjat ketika kolom notifikasi memaparkan obrolan darinya.


Billar:


Gue mau jemput lo habis salat zuhur. Gak menerima penolakan!


Tak lama dari itu, Billar kembali menghubungi dan dengan malas Lesti menerimanya. Lesti semakin kesal saat Billar mengalihkan panggilan biasa menjadi panggilan video. Lesti menekuk wajahnya, dan terus melebarkan mulutnya seolah-olah lagi mengantuk berat.


“Apa?” ujar Lesti malas. “Pokoknya gue gak mau dijemput lo jam segitu. Jam dua saja pokoknya!”


Billar malah terkekeh. “Selamat malam, mimpi indah. Jangan lupa mimpiin gue, dah!”


Lesti membulatkan matanya sempurna, diikuti dengan adegan menjatuhkan tubuh dan menghela napas sangat panjang. Tidak habis pikir sama spesies manusia bernama Billar ini, bisa-bisanya melakukan hal yang mengganggunya untuk mengucapkan selamat malam? Parahnya dia mengabaikan tolakannya. Fiks! Dia memang sangat menyebalkan.


“Ya Allah, cancel aja deh doanya!” keluh Lesti. “Pak, jangan dikencengin doanya buat dia!” rengeknya.


Lesti menggulingkan tubuhnya secara berkala, untuk menumpas apa yang terjadi antara dirinya dengan Billar. Semua ini karena dirinya yang terlalu semangat mengiyakan ajakannya waktu itu, andaikan ia memesan ojek online atau menunggu dengan sabar sebentar saja pasti hal ini tidak akan terjadi.


Lesti menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah kejadian tadi, tidak ada pergerakan aktif selain dengkuran halus dari balik selimut yang perlahan tersingkap karena si empunya mulai kegerahan


“Billar....” Mulutnya berucap samar, seiring menyampingnya tubuh.


O0O


Di tengah keremangan ruangan yang luas ini, di mana beberapa aksesoris bola dan beberapa peralatan kamera terpajang di lemari di hadapan sebuah kasur, yang terbungkus seprai bola yang acak-acakan ulah seorang laki-laki yang beberapa menit belakangan ini tertawa puas.


Bagaimana tidak tertawa, Billar baru saja mengerjai Lesti dengan berbagai macam pesan spam dan panggilan. Ia sangat yakin kalau perempuan yang didambakannya itu belum tertidur, apalagi setelah dirinya memberikan kejutan berupa kedatangannya dan mengobrol panjang dengan ayah Rahman.

__ADS_1


Beliau memberikan banyak informasi mengenai Lesti, mulai dari kebiasaannya bahkan cara mengatasi kalau dia lagi marah dan sebagainya. Hal ini membuat Billar percaya diri untuk melanjutkan masa pendekatan, sebelum akhirnya melangkah ke hal yang lebih jauh dan dalam.


Billar tambah senang ternyata apa yang diucapkan Lesti bohong, dan Rahman mengklarifikasi kalau Putra itu tidak pernah mengobrol seperti ini dengannya. Menurut Rahman, selama ini hanya laki-laki yang bernama Raziq yang selalu hadir ke rumah ini sebelum akhirnya laki-laki itu mengakhiri hubungannya dengan Lesti.


Bukan hanya dirinya yang mendapatkan banyak informasi, tetapi ia juga membeberkan semuanya kepada Rahman. Ia memberikan banyak informasi tentang kehidupan pribadinya, dan keluarganya kepada pria paruh baya itu. Toh, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia juga tidak bodoh, kalau orang tua melakukan hal ‘protective’ seperti ini, arti sebuah percaya semakin tinggi, dan Billar tidak akan merusaknya.


Billar mengempaskan tubuhnya, menyurutkan tawa setelah mengucapkan ucapan selamat tidur kepada Lesti. Ia pun harus beristirahat dan menyiapkan segalanya untuk keperluan dalam hal pendekatannya.


Billar memejamkan matanya, dan mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya peri mimpi membawanya jiwanya berkelana.


“Lesti Andriyani Aswindra....”


O0O


Sebenarnya Lesti ingin sekali mengaktifkan data ponselnya dari tadi, tapi, ia sangat malas jika harus berhadapan dengan Billar. Semalam ia telah dibuat kesal olehnya, dan siang ini ia enggak mau hal itu kembali terjadi. Dan yang membuatnya sangat kesal, di dalam mimpi pun dia sangat menyebalkan. Ya, semalam ia memimpikan dia.


Lesti menatap jam dinding, masih ada waktu satu jam lagi Billar datang menjemputnya. Ia tidak tahu apa yang Billar rencanakan sampai menjemputnya lebih cepat seperti itu, padahal ia masuk kerja pukul tiga sore.


“Ti? Kamu kenapa cemberut mulu?” tanya Mala sembari duduk berdampingan dengan Lesti di sofa ruang tamu.


“Mah, masa bapak ngizinin cowok buat anter jemput aku, padahal aku kenal baru sebentar, seminggu juga belum,” rengek Lesti.


“Masa sih? Putra, kan?”


“Bukan, masih mending Putra kalo yang diizini, secara aku udah kenal dia lama banget, lah ini baru beberapa hari, Mah!” Lesti menyandarkan kepalanya ke tubuh Mala.


“Siapa namanya?”


“Billar, Mah. Nanti, Mamah bantuin buat bilang ke bapak ya?” pinta Lesti.


Mala tersenyum. “Ti, bapaknya udah ngobrol sama Billar?” Mala menatap Lesti yang perlahan mengangguk. “Berarti apa yang bapak lakukan itu pasti yang terbaik. Dulu, Raziq juga begitu, kan?”


“Raziq beda Mah. Kalo Raziq, kan dulu kita sama-sama cinta. Lah, Billar siapa? Ya, Mah, bantuin bilangin bapak?”


Mala malah bangkit dari samping Lesti tanpa mengeluarkan sepatah kata, selain dari geleng kepala dengan raut yang berseri. Lesti mendengkus, dan segera mengaktifkan data ponselnya; pasrah jika laki-laki bernama Billar itu memberikan spam ke ponselnya. Apalagi detik-detik penjemputan mulai tercium olehnya.


Baru saja beberapa detik, notifikasi dari Billar saling kejar-kejaran dengan yang lainnya. Billar memang sosok menyebalkan yang memiliki hobi melayangkan pesan spam kepadanya. Dan pesan terakhir yang dikirimnya baru terjadi beberapa menit yang lalu.


Lesti mengabaikan pesan dari Billar yang berjumlah lebih dari seratus, yang sudah dipastikan isinya pesan-pesan enggak jelas. Lesti heran kenapa di jam kerja masih bisa bermain ponsel seperti ini, apalagi sekarang lagi masa promosi yang selalu dikerumuni oleh pengunjung.


Lesti membalas pesan dari grup-grup, dan teman-temannya tanpa sedikit pun tertarik untuk membaca pesan dari Billar atau sekadar membukanya. Sekarang Lesti malah melayang ke Instagram yang ternyata juga kena spam dari Billar yang sampai saat ini belum diikuti balik.


Saking keasyikannya, hingga suara azan zuhur berkumandang berbarengan dengan suara motor yang memasuki pekarangan rumahnya. Lesti hampir beranjak untuk mengecek, tapi, Mala sudah lebih dulu berlari pelan untuk mengeceknya. Lesti berpikir ibunya sedang menunggu sesuatu, makannya gerak cepat sekali.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Bu?”


Lesti terperanjat kaget, sontak memutar kepalanya menatap tamu yang kini sedang berbincang sejenak sebelum akhirnya menampakkan batang hidungnya.


“Billar?”


“Hai!”


“Silakan duduk.” Mala menyilakan sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua ke dapur.


“Lo gila? Kan gue bilang jemput gue jam dua aja bukan sekarang!” dengkus Lesti.


“Lo lupa, kalo gue ini enggak nerima penolakan?” balas Billar penuh dengan kemenangan.


“Tapi mau ngapain, sampai lo jemput gue jam segini?”


“Gue mau ngehukum lo karena udah ngebohongin gue, dan gue enggak suka kalo dibohongi. Jadi, lo harus nerima hukuman dari gue. Lo enggak usah takut, karena gue enggak akan kasih hukuman yang berat buat lo.”


Lesti melongo, tapi segera tersadar kala Mala hadir dengan menyajikan minuman dan beberapa toples camilan di sana.


“Silakan diminum, Ibu mau beresin pekerjaan dapur sebentar lagi,” ujar Mala.


“Iya, Bu, terima kasih,” jawab Billar.


“Enggak, gue gak mau dihukum! Lagian gue cuma bercanda doang agar lo gak deket sama gue,” timpal Lesti setelah Mala berlalu.


“Kenapa begitu?”


“Karena lo aneh, nyebelin, dan lo play—boy!” ketus Lesti meski ragu mengungkap kata terakhir.


“Kata siapa gue playboy?”


“Muka lo!”


Cekatan, Billar membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin dan langsung memberikan tatapan menawan kepada Lesti dengan senyum tipis di bibirnya. Yang ditatap celingak-celinguk salah tingkah, dan refleks melayangkan tangan kanannya ke pipi Billar.


“Aw!” Billar terkejut.


“Jijik tahu!”


Billar terkekeh pelan. “Gimana? Masih mau bilang kalo gue ini playboy?” Billar menyandarkan tubuhnya ke dinding sofa. “Gue gak mau tahu lo harus nerima hukuman dari gue karena kebohongan lo. Dan gue mau bilang jangan bohong lagi meskipun dari hal-hal kecil, gue gak suka. Jangankan gue, orang tua lo, bahkan Tuhan pun enggak suka sama orang yang suka berbohong,” pungkasnya.


...O0O...

__ADS_1


__ADS_2