
SEMUA karyawan MRB Studio sudah pulang sejak sejam yang lalu, tinggal Billar seorang diri dengan segala kesibukannya di layar ponsel dan laptop. Billar menjawab pesan yang masuk, sementara monitor menunjukkan laman editing yang tinggal Billar ekspor saja. Semua tugasnya sudah selesai. Sebenarnya sore tadi pun bisa selesai, tapi kebersamaan Lesti membuatnya berkhayal jauh yang semoga saja bisa tergapai.
Billar beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan depan, ia akan menunggu Lesti di sini menyaksikan rekan kerja Lesti yang keluar dari sana. Billar tak lepas pandang hingga ia melihat gerak-gerik seseorang di sana. Billar memutuskan untuk keluar dan tersentak kala tatapannya memotret Lesti dan Putra yang duduk di sana.
Pandangan Billar terbagi selama beberapa menit, sebelum akhirnya fokus terhadap mereka. Keduanya tampak mengobrol, diselingi dengan senyum dan tawa. Tak lama dari itu, raut wajah Putra mendadak serius, dan Lesti berkali-kali memalingkan wajah dengan ekspresi bingung. Ingin sekali Billar melangkah sekarang, tapi hatinya berpegang teguh untuk tetap di tempatnya. Ah, laki-laki itu membuatnya resah.
Tak disangka, Putra beranjak dari samping Lesti dengan raut yang memendam rasa sakit. Bersamaan dengan Putra berangkat, Billar mengunci studionya dan pergi menghampiri Lesti yang melamun di sana.
“Kenapa?” cetus Billar.
Lesti tersentak dan langsung menoleh ke sampingnya. “Mmh, enggak. Enggak kenapa-kenapa. Ya udah ayo, nanti kemaleman.”
Billar merogoh saku celananya meraih ponsel. Ia menghindari Lesti sejenak untuk menelepon seseorang. Bibirnya mengulum senyum ketika seseorang dari seberang sana mengangkatnya.
Melihat hal itu, Lesti memutar matanya dan kembali memikirkan apa yang baru saja menimpanya. Ia tidak percaya Putra akan mengungkapkan perasaan kepadanya malam ini, mungkinkah jawaban Lesti menyakitinya? Mungkinkah kehadiran Billar yang mengakibatkan dirinya menjawab demikian? Takdir tidak perlu dipertanyakan, ini termasuk ketentuan-Nya. Sekarang Lesti hanya perlu berdoa kembali meminta petunjuk agar kegundahan ini segera terjawab.
Lesti tidak menolak Putra. Ia hanya meminta waktu untuk berdiskusi dengan Tuhan. Lesti enggak mau salah langkah yang pada akhirnya saling melukai. Cukup sudah Lesti ditampar kenyataan atas menikahnya Raziq. Ia tidak mau ditampar oleh kenyataan yang menyedihkan, yang diharapkan hanya kebahagiaan.
Netra cokelat Lesti mengerjap kala Billar kembali dengan wajah semringahnya. Dia memasukkan ponselnya dan duduk di sampingnya, seraya menatapnya dengan senyum menawan dan tatapan memesona. Sepertinya dua unsur ini adalah ciri khas terindah dari laki-laki ini.
“Gue udah dapat izin dari bapak Rahman. Gue akan bawa lo jalan-jalan malam ini selama satu jam,” ungkap Billar membuat Lesti terlonjak kaget.
“Whats!”
“Gak usah sok-sokan terkejut dan berekspresi seolah gak nerima deh!” omel Billar.
“Gue emang gak nerima. Gue capek, gue pengen istirahat!” balas Lesti.
“Cuma sejam kok. Kita akan makan-makan di pinggir jalan sambil ngobrol, setelah itu pulang,” terang Billar dengan wajah tanpa dosanya.
Lesti mendengkus enggak mengerti dengan spesies laki-laki seperti Billar, selalu ada saja ulahnya. Anehnya kenapa ayahnya malah mengizinkan Billar untuk membawanya main, apa dia enggak khawatir kalo anak sulungnya ini kenapa-kenapa? Mentang-mentang sudah mengobrol mendalam dengan Billar, ayah menjadi segampang ini.
“Ayo cepetan enggak usah melamun,” gebrak Billar.
“Serius nih? Enggak bisa besok aja? Gue capek, serius,” rengek Lesti.
Billar terkekeh, baru kali ini ia melihat Lesti memaparkan kemanjaannya. Ternyata di balik tingkah sok jual mahalnya ini ada sikap yang menggemaskan, yang siapa saja pasti pingin meremas wajah Lesti saking lucunya, termasuk Billar.
“Ya udah ayo.” Billar mengulurkan tangannya ke hadapan Lesti.
__ADS_1
“Plis, jangan lama-lama, gue lelah,” imbuh Lesti.
“Iya.”
Begitu Lesti naik ke boncengannya, perlahan Billar melajukan motornya. Di balik helm berwarna merah dengan variasi hitam, sebuah senyum kebahagiaan tercetak. Enggak ada yang bisa membantah kebahagiaan yang Billar rasakan. Lesti telah menjadi semestanya, dan ia adalah isinya.
Sepanjang perjalanan, Billar mengoceh, bercerita, dengan sesekali tertawa sementara sang pendengar hanya mampu mengulum senyum. Perasaan Lesti sangat bahagia mendengar tawa, cerita, yang keluar dari mulut Billar. Sejenak pesan aneh yang menghantuinya beberapa jam yang lalu terempaskan.
Billar menghentikan motornya di depan sebuah roda pedagang pecel lele, yang menyatu dengan sate. Keduanya duduk berdampingan memesan dua puluh tusuk sate dan dua porsi pecel lele.
“Minggu depan gue enggak bisa antar jemput lo untuk beberapa hari,” ungkap Billar. “Gue ada pemotretan di Bali, sama yang lainnya. Gapapa?” lanjut Billar.
“Enggak, dari awal gue emang gak maksa lo buat antar jemput gue,” balas Lesti datar.
Billar terkekeh. “Iya juga sih, tapi, gue takut aja lo merasa kehilangan gue. Lo itu udah jadi bagian dari tanggung jawab gue, makannya gue bilang.”
“Emang pemotretan apa, kenapa harus Bali?” tanya Lesti.
“Pihak manajemen Amanda sudah langganan sama studio kita, mungkin bisa di bilang sudah terikat kontrak kerja sama. Jadi nanti itu manajemen itu akan mengirim lima modelnya untuk bersaing ke kancah internasional,” terang Billar.
Lesti mengangguk kecil.
Lesti menoleh dan membeliak. “Ya kali gue cemburu. Mau lo CLBK, mau lo balikan, mau lo mesra sama Amanda gue gak peduli,” bantah Lesti yang jelas sekali bertolak belakang dengan apa yang ada pada hatinya.
“Serius?” goda Billar.
Lesti mengangguk mantap. “Seriuslah!”
“Boro-boro mau balikkan, orang dia putus sama gue karena pingin fokus sama mimpinya,” ujar Billar. “Kalo dia berhasil sekarang, berarti dia udah berhasil tuh raih mimpi.”
“Terus lo mau ngajak balikkan?” timpal Lesti.
“Menurut lo gimana?” lempar Billar.
“Yang akan ngejalanin kan lo bukan gue, kenapa nanya sama gue?” sewot Lesti. Perlahan Lesti mengolah napasnya yang mendadak menggebu-gebu.
“Baiklah gue bakal jawab pertanyaan lo.” Billar mengembuskan napas pendek. “Kalo ada yang lebih sempurna dan membuat gue nyaman dari Amanda, kenapa gue harus balikkan?” sambung Billar sambil menatap Lesti dengan intens.
Demi apa pun, apa yang Billar lakukan hari ini selalu membuat dadanya berdegup kencang. Lesti gelagapan dan perlahan memalingkan wajahnya, untuk menghindari tatapan Billar. Apa dia tidak sadar kalau tatapannya selama ini memiliki aura kuat yang bisa menyentuh perasaan seseorang dan berubah berontak.
__ADS_1
“Ya ... kan, siapa tau lo masih berharap kembali lagi ke dia,” balas Lesti.
“Emang lo bakal ikhlas kalo gue kembali ke dia?”
“Apa hubungannya sama gue?”
“Bapak Rahman sama gue udah buat chemistery yang uwu.” Billar cengengesan. “Jika lo penasaran sama kehidupan gue, tanyain aja sama bapak Rahman, pasti dia jawab.”
Pesanan mereka akhirnya datang, dan dengan segera mereka langsung menyantapnya. Hari ini semakin sempurna, kisah yang Billar rangkai akan terjeda setelah ini. Billar sudah tidak sabar untuk melangkah lebih jauh lagi bersama Lesti. Semesta harus tahu, tentang kebahagiaannya, dan Lesti harus bahagia di atasnya.
Di saat keduanya fokus menyantap pecel, entah kebetulan atau memang takdir, tanpa sengaja tangan mereka saling bertumpuk di atas tusuk sate. Keduanya menoleh bersamaan, dan terjadi adegan saling pandang selama beberapa detik tapi keduanya menuntut untuk selamanya.
Segera Lesti menarik tangannya, dan memalingkan wajahnya. Ingat, tekadnya. Ia tidak akan menunjukkan sesuatu yang terkandung dalam hatinya untuk Billar. Ia harus menjadi Lesti yang Billar ketahui bukan kenali.
“Nih!” Billar memberikan beberapa tusuk sate di atas pecel milik Lesti. “Mau gue suapin, atau lo yang nyuapin gue?”
Lesti mengerjap, dan semakin takjub ketika Billar sudah membuka mulutnya dan memejamkan mata. Apa ia perlu melakukan ini?
“Ayo dong, perut gue udah manggil-manggil,” pinta Billar.
Awalnya ragu, tapi Lesti langsung menunaikan permintaan Billar. Setusuk sate yang terdiri dari beberapa potong daging, Lesti masukan ke mulut Billar dengan perlahan. Tak peduli pengunjung di sini akan berpikiran seperti apa, yang jelas ini adalah bagian dari hukuman yang dilontarkan Billar.
“Nah, gitu dong! Jangan debat mulu!” sergap pedagang pecel, membuat Billar terlonjak nyaris tersedak potongan daging. Hal itu juga membuat Lesti terkejut dan mengulum tawa melihat laki-laki di depannya terbatuk dalam beberapa saat.
Billar segera meraih segelas air dan langsung meneguknya secara perlahan. Billar mengatur napasnya dan menatap pedagang pecel yang malah terkekeh tanpa dosa.
“Bapak ganggu aja!” ketus Billar.
“Lo gakpapa?” tanya Lesti, masih tersisa tawa di bibirnya.
“Enggak, ulangi lagi!” pinta Billar, kembali membuka mulutnya.
Lesti menggelengkan kepalanya pelan, lalu kembali menyuapi Billar dengan enteng. Terus seperti itu, hingga mereka larut dalam semesta yang mereka ciptakan.
Billar tersenyum kala Lesti memaparkan ekspresi yang tak tergambar sebelumnya. Dia terlihat bahagia dengan senyum yang merekah, dan mata penuh rasa juga cerita.
Semesta, aku sedang jatuh cinta!
...O0O...
__ADS_1