Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Di Ujung Kejora


__ADS_3

SUASANA pagi ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pagi ini tampak kelam, berselimut simfoni kedinginan yang membekukan. Guguran air yang lembut, perlahan membasahi bumi Bandung. Namun, hal itu tak mampu menghentikan kicau burung yang bersahutan dan terbang sana-sini mencari sarapan untuk keluarganya.


Perempuan berkerudung segi empat itu merengek, baru kali ini ia merasa malas untuk pergi bekerja. Setelah sembahyang subuh, biasanya perempuan ini langsung bersiap untuk meraup rezeki di sebuah kedai kopi dan roti. Tetapi, pagi ini sungguh sangat menyebalkan. Kehangatan yang ditorehkan selimut membuatnya enggan untuk beranjak, mengajak untuk tenggelam dalam balutannya.


Lesti menyibakkan selimutnya, dan bangkit. Berkali-kali tangannya mengusap wajah, menggosok sudut matanya. Dengan tubuh lemasnya, Lesti meraih handuk dan mulai membersihkan tubuhnya.


Selama melakukan ritual paginya, pikiran Lesti melayang meraih rangkaian kejadian yang beberapa jam lalu terjadi. Lesti baru saja meluapkan rasa rindunya kepada Billar, meskipun ia tak mengakuinya saat berhadapan dengan laki-laki itu. Jadi begini ya menjadi budak cinta. Baru juga ditinggali sehari rindunya minta ampun, apalagi jika sebulan atau setahun. Parahnya, hubungannya dengan Billar hanya sebatas teman, tapi rindu itu sudah melampaui batas.


Sore ini Billar akan kembali dari Bali. Lesti berdoa agar dia dilancarkan dalam perjalanannya, dan bergegas kembali ke Bandung. Sekarang Lesti membutuhkan Billar di sampingnya, dengan begini seenggaknya semua masalah yang mehadangnya bisa hilang sejenak dari pikirannya.


Billar itu ajaib. Dia selalu berhasil membuatnya kagum dengan kejutan-kejutan yang diberikannya. Sekarang ia pun merasa penasaran dengan kejutan yang disiapkan olehnya setelah pulang dari Bali. Dia bilang akan memberikan kejutan kepadanya.


Lesti mengakhiri ritualnya, dan secepat kilat membungkus tubuhnya dengan seragam karyawan. Terakhir, wajah mungilnya dilapisi make up tipis dengan pelembab bibir yang ia gariskan di bibirnya.


Tidak lupa, Lesti juga memesan ojek online. Ya, laki-laki berseragam hijau inilah yang mengantarnya ke tempat kerja. Padahal, Putra menawarkan diri untuk mengantar jemputnya, tapi Lesti tolak. Karena selain enggak mau merepotkan Putra, Lesti juga tidak mau Putra turut masuk ke dalam masalah yang sedang dihadapinya. Bahkan, Lesti berniat untuk memberitahu Billar mengenai foto yang tersebar di akun orang bernama Ayu.


Ya, akun itu mengunggah fotonya saat sedang mengobrol dengan Billar. Jujur, Lesti sempat menuduh Jesika, tapi setelah Putra mengubrak-abrik ponselnya tidak ada satu pun hal yang mencurigakan di sana. Padahal jelas-jelas foto itu diambil dari arah bar, yang pasti kalau pemilik akun bernama Ayu itu adalah salah satu karyawan di sini. Atau bisa juga, orang dibalik nama Ayu ini menyuruh karyawan di sini untuk mengawasinya.


Masalah ini membuat Lesti takut dan merasa sangat tidak nyaman. Bahkan sekarang untuk pergi kerja pun langkahnya terasa berat, seolah ada rantai yang menariknya untuk tetap di rumah saja.


Begitu sampai di tempat kerja, Putra langsung menyambutnya dengan sapa dan senyum manisnya.


“Hai! Gimana kabarmu?” tanya Putra.


“Baik. Tumben udah datang?” Lesti balik bertanya.


“Bukannya leader harus paling pertama datang?” Putra menampakkan deretan giginya.


“Eh, Put. Untuk akhir-akhir ini kamu enggak usah dekat-dekat lagi denganku. Aku enggak mau kamu juga terlibat dalam masalah yang lagi terjadi sama aku—“

__ADS_1


“Tapi—“


Lesti menyentuh tangan Putra, dan menatapnya penuh arti. “Makasih udah ngebantu aku, Put. Tapi, aku enggak mau karena aku kamu jadi terlibat dalam masalah ini. Kuharap kamu paham,” pungkas Lesti seraya masuk ke dalam ruangan khusus.


Putra menatap punggung Lesti, lalu mengembuskan napasnya pelan. Ia sadar kalau dirinya bukan siapa-siapanya Lesti, selain dari teman. Meskipun begitu Putra masih berharap kalau ingin hidup bersama Lesti selamanya, padahal dari gerak-gerik Lesti ia sudah tahu kalau perempuan itu lebih mengarah kepada Billar. Namun, tetap saja hati ini masih berteduh di bawah rasa yang diperuntukkan Lesti.


Dalam hitungan menit seluruh karyawan yang bertugas pagi ini berkumpul, dan langsung mengambil alih posisi ketika satu persatu pelanggan datang. Tidak ada yang berani menyahut atau melontarkan kalimat tidak menyenangkan pagi ini, namun, tatapan mereka khususnya geng Jesika begitu kentara merendahkan Lesti. Sementara Ardia tiada henti memberikan senyum semangat kepadanya.


Sekarang Lesti enggak tahu apa yang diperbuat akun Ayu di Instagram. Semenjak kejadian kemarin, Lesti sangat enggan membuka aplikasi tersebut. Notifikasi yang membual di ponselnya Lesti abaikan, bahkan pesan dari bosnya. Lesti tidak tahu bagaimana ia bertindak, selain diam karena memang ia tak memiliki bukti apa pun untuk mengungkap masalah ini.


Hari ini Lesti tidak banyak berinteraksi, semuanya ia fokuskan pada pekerjaan. Bahkan ocehan, ejekan, hinaan, tatapan merendahkan, semua itu Lesti abaikan. Berkali-kali Jesika berceletuk menghinanya, Lesti tetap diam. Biarkan dia capek sendiri, sampai mulutnya berbusa karena menghinanya Lesti akan tetap diam.


Ketika Lesti menghampiri, maju yang baru saja terisi oleh pelanggan baru, bahkan Lesti telah memberikan daftar menu dan memaparkan senyum, seketika terdiam. Kesedihan merenggut senyumnya, mengubah dengan bulir air yang perlahan menyelimutinya.


“Maaf ya, Mbak. Aku enggak mau dilayani Mbak,” ujarnya.


Lesti membalikkan tubuhnya, menabrak pelan bahu pelayan lain. Baru kali ini ia mendapatkan ujaran menyakitkan dari pengunjung. Lesti berjalan cepat menuju ruangan khusus, dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang berada di sini.


“Aku mau bagian manggang aja, Put,” ujarnya.


Sebenarnya Putra ingin memberikan izin kepada Lesti untuk pulang dan beristirahat saja, tapi, perempuan itu kukuh kalau dirinya tidak mau mencampuri urusan kerjanya dengan masalah itu. Pada akhirnya Putra mengiyakan apa yang diminta Lesti, dan semuanya kembali fokus bekerja hingga waktu istirahat tiba.


“Heran deh, lo itu punya berapa banyak topeng sih?” celetuk Jesika. “Emang sih, gue enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi, ketika membaca postingan itu gue jadi miris dan gak salah langkah buat benci sama lo.”


“Topeng? Cepat atau lambat, topeng yang sebenarnya akan terungkap,” jawab Lesti.


Jesika tersenyum simpul. “Oh, ya? Lagian kenapa sih lo masih bertahan di sini? Kenapa enggak mundurin diri? Selain untuk mempercantik nama tempat ini, gue juga akan tenang.” Jesika menyandarkan tubuhnya. “Owh! Jangan-jangan, alasannya bertahan di sini karena Putra? Atau si fotografer itu?” Jesika beranjak dan mengelilingi tubuh Lesti. “Lagian, kalo lo keluar dari sini lo bisa goda fotografer agar lo kerja di sana, dengan begitu masalah bakal kelar bukan?”


“Sekarang gue yang tanya, berapa banyak topeng yang lo pakai?” ungkap Lesti membuat Jesika mengerutkan dahinya. “Dari ucapan lo, udah jelas kalo lo ada sangkut pautnya dengan masalah ini? Gila!” tajam Lesti.

__ADS_1


“Hey! Hati-hati kalo bicara, bukannya ini bisa jadi fitnah?” Jesika tersenyum sinis. “Cup ... cup ... cup, sayang. Jangan ucapkan kalimat yang tak berbukti!” balas Jesika sengit.


“Kalian berdua, hentikan!” cetus Putra seraya melipatkan tangannya di depan dada. “Kalian istirahat, setelah itu fokuslah bekerja!” perintah Putra.


Jesika menaikkan salah satu sudut bibirnya. “Gak usah sok profesional, gue muak!” ucap Jesika begitu berdampingan dengan Putra.


Putra membiarkan Jesika yang terus melangkah menjauh darinya, sementara Lesti masih berdiam diri di tempat memandangi pelanggan yang sedang menyantap pesanannya. Putra menghela napas pendek, ingin sekali ia memeluknya—menenangkannya dari masalah yang sedang menghadapinya.


“Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya Putra sambil maju beberapa langkah. “Aku tau ini sangat berat, tapi, aku harap kamu bisa mengontrol emosional kamu sendiri. Cepat atau lambat jalan terbaik pasti akan datang,” hibur Putra.


“Sampai kapan?”


“Tuhan masih mempercayaimu, Ti. Tuhan masih percaya kalau kamu bisa menghadapi masalah ini, kamu perempuan kuat, kamu terjatuh tapi kamu langsung bangkit, terus seperti itu.” Putra turut memandangi pelanggan di sini.


Lesti menoleh, tersenyum tipis kepada Putra. “Aku mau istirahat dulu.”


Lesti bergegas menuju musala, ia mulai berwudu, tak peduli celetukan dan tatapan merendahkan dari Jesika yang baru saja keluar dari musala. Perempuan itu benar-benar sangat membencinya, dan ia mengetahui hal itu kala Pak Ghifar memberikan perhatian lebih kepadanya. Di antara karyawan di sini, hanya Jesika dan kedua temannya yang enggan menganggapnya ada di sini.


Dalam sujudnya, Lesti berdoa agar masalah ini cepat selesai. Lesti pun berniat untuk menceritakannya kepada Billar, karena dia juga terseret pada masalah ini. Foto dia terpajang di akun Ayu, Lesti takut performa Billar runtuh karenanya.


Namun, baru saja keluar dari lorong yang menghubungkan antara musala dan ruangan khusus ini, Lesti menangkap sosok Pak Ghifar di sana. Dan saat mata mereka beradu pandang, Pak Ghifar terlihat membuang muka lalu menghampirinya.


“Lesti ... Lesti ... Lesti, kenapa kamu bisa seperti ini? Gara-gara masalah kamu, banyak orang yang men-DM saya. Ya Allah!” ujarnya. “Gini ya, kemarin saya sudah bilang untuk segera menyelesaikan masalah ini, kan? Saya kasih waktu tiga hari dari sekarang, jika kamu enggak berhasil menyelesaikan masalah ini tidak ada jalan lain selain memecat kamu, Lesti.”


Lesti menenggelamkan kepalanya, dan mengangguk pelan. Tak terasa, air mata kembali membasahi kedua belah pipinya, sementara karyawan yang berada di sini terdiam hening tak terkecuali Jesika dan kedua temannya.


Putra maju mendekati Pak Ghifar. “Pak? Bapak enggak bisa begitu, ini fitnah Pak. Bapak enggak lihat kalau foto yang diunggah di akun itu mengambil angle bar? Pasti ada karyawan kita yang iseng untuk menjatuhi Lesti,” jelas Putra.


“Kalau begitu, kamu interogasi semuanya setelah selesai kerja di sini. Bapak enggak mau tahu!” tandas Pak Ghifar. “Bapak capek menghadapi orang-orang yang menanyakan masalah ini, jika memang di antara kalian adalah dibalik akun Ayu, bapak enggak akan segan-segan untuk memecatnya!” lanjutnya, sebelum pergi.

__ADS_1


Semuanya hening. Semua karyawan di sini, membisu dan tanpa semua orang sadari dari mereka merasakan gejolak batin yang sangat tidak tenang.


...O0O ...


__ADS_2