
Seharusnya ia bisa menikmati kehangatan selimut di malam hari, kasur empuk, memeluk guling dengan mesra hingga semua kenikmatan itu membawanya berkencan dengan mimpi indah. Namun, hal ini tidak berlaku untuknya. Kenyataan yang baru saja di dapatnya beberapa jam lalu membawanya ke titik di mana ia harus meratapi kembali apa yang menimpanya ketika di Bali.
Janin yang berusia tiga bulan ini benar-benar menghipnotisnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Selain harapan untuk menjadi model di kancah internasional lenyap begitu saja gara-gara aksi laknat dari pria bertopeng yang entah siapa. Dia harus tanggung jawab. Seenaknya saja dia meninggalkannya sendirian, bersembunyi di balik wajah tanpa dosanya.
Amanda bangkit dari tidurannya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tangan kanannya meraih ponsel yang bergeming di atas nakas, melihat portofolio miliknya dari waktu ke waktu. Senyum yang terpancar si foto penutup portofolio, sangat menampar hingga membuatnya menitikan air mata. Senyum itu tidak akan pernah bisa mengekspresikan lagi betapa bahagianya ia.
“Amanda....” ujarnya pelan. “Hidupmu sudah hancur, teman-teman yang kamu percayai sebagai yang terbaik menampakkan topeng yang sebenarnya. Mereka tampak biasa, namun beberapa ekspresinya seakan berkata, kamu adalah perempuan paling hina.”
Tetesan air di matanya semakin deras hingga membasahi layar ponselnya, selama tiga bulan ini Amanda benar-benar mengundurkan diri dari kehidupan sosial media. Notifikasi yang ditawarkan, berhasil menamparnya. Entahlah, siapa yang membocorkan berita ini padahal pihak agensi sudah memerintahkan semua membernya untuk tutup mulut. Namun, kenyataannya salah satu atau mungkin lebih, memilih menciptakan akun fake untuk menebar fakta ini ke media sosial.
Semenjak kejadian itu, Amanda langsung menghubungi pihak agensi untuk membatalkan semua kontrak konsumen dengannnya. Pada saat itu pula Amanda langsung mengundurkan diri kepada pihak agensi secara daring, dan setelah mengurung sendirian dari kehidupan selama tiga bulan ini, Amanda akan datang ke kantor untuk menjelaskan secara langsung. Dalam tahap ini juga, Amanda akan belajar untuk menerima semuanya.
Baru pukul dua dini hari Amanda bisa merasakan dunia mimpi seutuhnya meskipun hanya beberapa jam saja. Masih dalam keadaan mengantuk, Amanda bangkit dari tidurnya. Mengusap wajahnya berkali-kali, lalu beranjak meraih handuk yang menggantung di gantungan dengan kamar mandi. Ia akan berangkat ke kantor pagi ini.
Hanya sepuluh menit, Amanda telah keluar dari kamar mandinya. Ia meraih celana yang longgar, juga baju yang longgar berwarna putih. Terakhir ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, dan memoles bibirnya dengan liptint.
“Manda, kamu sarapan dulu,” kata Ibu begitu Amanda keluar dari kamarnya.
“Nanti deh Bu, aku udah pesen mobil,” tolak Amanda sopan.
“Kamu ini!” omel Ibu.
“Nanti aku sarapannya depan kantor ada tukang bubur sama nasi juga ada,” timpal Amanda, sambil memeluk Ibu lalu mencium pipinya singkat. “Aku berangkat dulu, dah, Bu!”
Benar saja begitu Amanda membuka pintu, sebuah mobil berhenti depan rumahnya sambil memencet klakson. Amanda setengah berlari dan langsung duduk di kursi belakang.
“Sesuai aplikasi ya, Mbak?” Sang Supir memastikan.
“Iya, Pak.”
Sekujur tubuh Amanda mendadak merinding, suasana hari ini sangat berbeda. Dadanya berdebar tidak tenang, tak terasa dua tangannya mengelus-elus perutnya yang kian bulan kian kentara perkembangannya.
Amanda tidak pernah berpikir kalau dirinya akan mempunyai anak di usia sekarang, toh setiap harinya ia selalu fokus terhadap karir dan mimpinya. Bibirnya mengulas senyum sekali lagi tangannya mengelus perutnya.
“Berapa bulan, Mbak?” tanya Supir sembari menatap Amanda dari cermin depan.
Kedua bola mata Amanda mengerjap kala supir mengeluarkan pertanyaan, sejenak ia terdiam sebelum akhirnya tersenyum dan menjawab.
“Tiga bulan, Pak.”
__ADS_1
Sangat aneh, Amanda merasakan hal itu. Kehadiran jiwa lain di perutnya benar-benar menciptakan sesuatu yang baru. Padahal sebelum kejadian itu, Amanda sering sekali dihujani dengan pertanyaan jodoh atau pernikahan. Tapi sekarang, kehadiran jiwa suci di perutnya mengubah keadaan itu.
Supir mengangguk. “Mbak, mau kemana pagi-pagi begini? Enggak dianterin suaminya?”
Kalimat itu menusuk batinnya dengan keras. Suami? Amanda terdiam sejenak, mengatur napasnya yang mendadak tersendat-sendat. “Saya mau resign dari kantor, Pak. Kebetulan suami saya kerja, lagi ada tugas di luar kota.”
“Owalah, begitu ya, Mbak.” Sang Supir tidak lagi mengeluarkan pertanyaan selain siulan lembut mengikuti irama musik yang diputarnya.
Amanda mengembuskan napas setengah lega karena Supir kembali fokus ke jalanan. Setengahnya lagi masih anteng dengan segala sesak yang berkelindan dengan segala emosi yang ada di hatinya.
Mobil yang ditumpangi Amanda berhenti di depan gerbang kantor, cepat-cepat ia turun begitu membayar ongkos. Ia mengembuskan napas panjang melihat bangunan berdinding kaca untuk—mungkin—yang terakhir kalinya.
Pelan tapi pasti Amanda sudah masuk di lobi kantor disambut dengan beberapa teman model yang mematung kala dirinya hadir. Amanda mengerjap berusaha tetap tenang, dan tatapannya langsung mengarah pada pria paruh baya namun tampak bugar yang muncul di sisi lain dari lobi.
“Halo, selamat pagi, Pak.” Amanda berusaha mengumbar senyum saat pria itu menatapnya dengan terkejut.
“Amanda?”
“Aku mau—”
“Kita ngobrol di ruangan saya aja,” potong pria itu seraya membuka pintu ruangannya. “Silakan duduk, dan gimana?”
Pria bernama Jonathan itu terdiam, menatap sendu kepada Amanda. “Siapa yang melakukan ini?”
Amanda menggeleng pelan, bersamaan dengan jatuhnya air dari matanya. “Aku enggak tahu, semuanya berlalu begitu saja.”
Jonathan mengangguk pelan mengerti. “Baiklah, kamu sekarang sudah tidak terikat lagi dengan agensi, nanti semua data profil kamu akan di hapus permanen dari database agensi. Aku menyayangimu, Manda.”
Amanda tersenyum samar. “Terima kasih, Pak.”
“Iya.” Jonathan membalas senyum Amanda.
“Kalo begitu aku pamit, aku berterima kasih, dan aku juga minta maaf jika selama bekerja di sini aku ada salah—”
“Ssstt...” Jonathan bangkit dan mendekati Amanda, lalu memberikannya pelukan tulus. “Jaga kondisi kamu dengan baik, dalam diri kamu sekarang ada dua nyawa. Aku yakin kamu adalah perempuan yang kuat, dan serahkan semuanya pada Tuhan.”
“Terima kasih, Pak. Aku pamit, selamat pagi!”
Selama berjalan menuju pintu keluar dari kantor ini Amanda menunduk sembari menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya. Tidak peduli dengan tatapan dari para model di sana, mereka terlalu mengerikan untuk ditatap. Hingga ketika di beranda tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.
__ADS_1
“Amanda?” ujar laki-laki yang ditabraknya.
Amanda mengangkat kepala menatap laki-laki di hadapannya. “Arfan, William?”
“Lo enggak apa-apa, kan?” tanya Arfan dengan dahi berkerut.
“Gue baik-baik aja, kalian mau photoshot?” Sebenarnya Amanda tidak perlu bertanya sudah jelas jika laki-laki ini atau orang-orang dari MRB Studio ke sini pasti akan melaksanakan photoshot.
“Iya. Kok lo belum siap-siap?” tanya William.
Amanda tersenyum samar. “Gue udah gak kerja lagi di sini. Gue pergi dulu ya, bye!”
Mulai saat ini Amanda akan mengurangi interaksi dengan siapa pun, ia akan menyendiri fokus terhadap dirinya dan jiwa dalam perutnya ini.
Arfan dan William saling tatap, lalu berlalu masuk ke kantor. Tanpa ba-bi-bu, Arfam menarik salah satu model yang merupakan temannya Amanda ke penjuru ruangan.
“Aw! Apa?” semburnya.
“Amanda kenapa?” tanya Arfan serius.
Dia menaikkan salah satu alisnya. “Dia ngundurin diri, masa lo lupa sama kejadian di Bali.” Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Arfan. “Dia sedang hamil.”
“Hah?” Arfan terkejut.
“Lo baru tau? Ini udah lama, sekitar tiga bulan yang lalu. Pokoknya pas pulang dari Bali itu,” terangnya.
Arfan mengangguk, kembali terngiang sesuatu yang menimpa Amanda ketika di Bali. Dia terbangun tanpa sehelai benang, seranjang dengan Billar. Eh, Billar?
Ting!
MRB Studio
Billar:
[Foto undangan]
Jangan lupa pada hadir kalian! Kalo enggak gue pecat!
Mata Arfan menatap sepasang nama di foto undangan itu. Entahlah, apa yang Arfan rasakan hari ini, yang jelas sosok di balik kehamilan Amanda bukanlah Billar. Toh, dia tetap menikah dengan pegawai restoran itu: Lesti Andriyani
__ADS_1
...O0O...