Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Satria Berkuda


__ADS_3

MATAHARI sudah naik ke pertengahan langit, nasib baik tidak terlalu terik dan sepanjang jalan dihadiahi pepohonan rindang. Hal ini membuat sepasang manusia yang baru saja mengakhiri kebersamaannya di Taman Begonia semakin bersemangat untuk melanjutkan tujuan selanjutnya.


Jarak dari tempat pertama ke tempat selanjutnya tidak terlalu jauh, masih satu jalan hanya berbeda kelurahan. Tapi, sebelum ke tempat tujuan Lesti mengajak Billar untuk beristirahat di tempat makanan lesehan di mana tempat tersebut beralas kayu jati berdinding anyaman kayu.


Billar mengiyakan ide Lesti, lagi pun perutnya sudah meronta minta diisi. Semua nutrisi yang berada di tubuhnya diserap habis oleh kebahagiaan yang mereka lukis hari ini. Baru satu tempat kisahnya sudah sangat seru dan membuat Billar kecanduan untuk terus berada di samping Lesti lebih lama lagi, mungkin selamanya atau lebih dari selamanya.


Sampai di tempat makan bergaya tradisional ini, Lesti dan Billar langsung memesan paket cobek ikan gurame. Mereka duduk lesehan di salah satu meja yang terpampang di salah satu sudut saung ini.


“Setelah ini kita mau ke mana lagi?” tanya Lesti.


“Ke negeri dongeng,” jawab Billar.


“Dongeng apa?”


“Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Putri yang memiliki sikap yang baik, tapi ia menutupi semua itu di hadapan Pangeran. Karena Pangeran sudah terpikat sejak pertama kali memandangnya, tidak sedikit upaya yang dilakukannya agar bisa dekat dengan sang Putri.” Billar memandangi Lesti dengan tatapan penuh pesona.


“Singkat cerita, Pangeran berhasil membuka hati sang Putri. Ia membawa Putri bermain-main di taman bunga yang jauh dari singgasana, kemudian memetik banyak buah untuk dinikmati di padang sabana. Hingga hari itu menjadi menyenangkan, dan sebagai penutup kisah mereka hari itu, Pangeran membawa sang Putri menunggangi kuda mengelilingi padang seraya bersenda gurau. Keduanya hidup bahagia. Tamat!”


“Jadi lo mau ngajak gue berkuda, serius?” takjub Lesti.


“Iya, kita akan berkuda setelah ini,” jawab Billar.


Lesti tersenyum merekah mendengar pernyataan itu, ia tidak menyangka khayalannya dulu akan terwujud hari ini. Ia sudah tidak sabar untuk berkuda, tapi perutnya terus protes menuntut tuannya untuk sabar sebentar.


“Lo jangan sedih lagi ya?” ujar Billar bersamaan dengan datangnya pesanan mereka.


Kalimat yang terlontar dari mulut Billar merangkak cepat hingga mengenai batinnya, membuat Lesti terpaku sejenak.


“Gue tuh, enggak mau lihat lo sedih lagi. Gue tau lo lagi ngehadapin sesuatu yang mungkin mengganggu lo, gue harap lo abaikan semua itu. Menjaga jiwa lo lebih penting daripada menanggapi sosok gak jelas itu,” lanjutnya.


“I-iya, makasih,” balas Lesti.


Billar mengangkat kedua sudut bibirnya, sebelum akhirnya tatapannya fokus terhadap makanan yang terhidang di hadapannya. “Suapin gue lagi dong,” pinta Billar mengubah senyuman bibirnya dengan menampakkan deretan giginya.


“Makan aja sendiri, lo kan bukan anak kecil lagi,” protes Lesti.

__ADS_1


“Tapi, didekat lo jiwa kebocilan gue kambuh.” Billar memainkan alisnya, menggoda Lesti. “Mama-mama, aku pengin makan, suapin dong. Aku kan lapal,” goda Billar, berlagak menjadi seorang anak kecil.


“Iwwyu, geli!” komentar Lesti. “Ya udah, buka mulutnya,” ujar Lesti.


Check point! Billar membuka mulutnya dengan bahagia. Karena enggak mau ketinggalan momen, Billar memotret banyak aktivitas Lesti. Sesekali mereka melakukan selfie atau meminta pelayan di sini untuk memotretnya.


“Mama-mama, lihat hasil foto aku bagus, kan?” tanya Billar seraya memperlihatkan hasil jepretannya.


Lesti mengerutkan dahinya, enggak tahu apakah ia harus takjub atau geli karena ucapan Billar yang masih membeberkan aksen anak kecil. “Iya bagus, tapi bisa gak lo biasa aja, gak usah berlagak jadi anak kecil.”


“Ya enggak apa-apa, itung-itung latihan jadi Ibu,” kata Billar.


“Ya, bayinya enggak sebesar ini juga kali.”


“Ih, Mama-mama kok jahat sama aku. Aku kan masih kecil,” balas Billar seraya tertawa di ujung kalimatnya.


“Uh, cup-cup, sini Mama suapin lagi. Buka mulutnya, kereta mau datang!” sahut Lesti, yang juga bergidik geli saat suapan itu mendarat di mulut Billar.


“Makasih, Mama.” Billar melukiskan ekspresi sok imutnya.


“Dah, ah. Geli, ih!” Lesti tertawa, begitu juga dengan Billar.


Sebelum berkuda, Lesti dan Billar memutuskan untuk menunaikan salat zuhur di Musala yang berdiri di area D’ Ranch. Kemudian, mereka langsung menyewa dua kuda berwarna putih. Para petugas di sini menuntun kuda yang ditunggangi mereka mengelilingi sabana, melalui rute yang sangat teduh.


“Pak ini enggak bakal ngamuk, kan?” resah Lesti.


“Enggaklah, Neng. Kuda ini sudah jinak,” jawab pria bertopi.


“Coba noleh, biar gue foto,” ucap Billar yang menunggangi kuda di sampingnya. “Pak, tolong fotoin aktivitas kita ya, Pak.” Billar meminta petugas lainnya untuk memotret segala apa yang dilakukan oleh dirinya dan Lesti.


Kuda yang mereka tunggangi mulai berjalan ke padang sabana dan para petugas di sini melepaskan pegangannya, membiarkan mereka bermain sendiri dengan hati-hati. Sesekali Lesti berteriak saat kudanya mulai berjalan, sedangkan Billar tertawa lepas melihat Lesti yang ketakutan.


“Pak! Billar! Gue takut!” rengek Lesti.


“Katanya pengin naik, ya udah nikmatin aja,” seru Billar sambil terkekeh. “Lo tenang aja, jangan berpikir yang macam-macam,” sambung Billar memberi semangat.

__ADS_1


Lesti menumpas pikiran negatif mengenai kuda ini. Degup dadanya mulai tenang, dan seirama. Lesti mengelus-elus bulu di pundak kuda, seraya memanjatkan mantra agar kudanya enggak berontak.


“Yeay!” seru Lesti akhirnya.


Kini Lesti lebih leluasa, karena berhasil berdamai dengan suasana sebelumnya. Lesti mulai berani menggiring kuda untuk melangkah. Senyumnya tidak pernah surut dari bibirnya, malah ia sangat girang dan terus berseru akan keberhasilannya.


Namun, senyum itu surut saat Billar dengan kudanya ada di sampingnya. Lesti takut kalau Billar akan mengusilinya, apalagi saat wajahnya menunjukkan ekspresi jailnya.


“Awas lo, jangan macam-macam!” ancam Lesti.


“Kenapa emangnya?” Billar penasaran, dengan kaki menendang ke arah kuda Lesti.


“Billar!” teriak Lesti.


Tapi, Billar terus melayangkan kakinya ke arah kuda yang ditunggangi Lesti.


“Billar, stop!” Lesti semakin panik.


Karena kasihan melihat Lesti, Billar menghentikan aksinya dan meminta penjaga yang memegangi mirolles untuk segera memotretnya. Keduanya memaparkan raut bahagia; tawa, senyum, dan canda.


“Pak, aku pengin difoto sendirian. Lo minggir dulu!” usir Lesti.


Billar menurut saja, membiarkan perempuan manis itu bergaya sesuka hati. Dalam hati, tiada berhenti Billar meluapkan ketertarikannya kepada Lesti. Hingga rencana ke Bali membuyarkan semuanya.


Haris sudah bercerita panjang lebar dengannya beberapa hari yang lalu, kalau dirinya dengan seluruh tim akan tinggal di Bali paling lama selama seminggu. Billar sudah membayangkan apa jadinya jika hal itu terjadi. Untungnya Billar bisa menjual undangan kerja sama dengan usaha kuliner, meskipun harus berbohong. Ia tidak mau berlama-lama di Bali, kecuali jika bersama Lesti.


“Udah dong difotonya, sekarang giliran gue yang difoto,” ujar Billar.


Lesti menonton laki-laki yang tengah dekat dengannya memamerkan banyak gaya di sana. Apa yang dia paparkan tampak sempurna beradu dengan pemandangan yang melatari proses pemotretannya. Saking fokusnya Lesti, salah satu petugas di sekitarnya berceletuk mengenai hal ini. Lesti dan Billar dituduh sedang melakukan pre-wedding, tapi Lesti hanya tersenyum sebagai responsnya.


Selebihnya mereka bermanja-manja dengan kuda, sampai matahari turun sepertujuh dari luasnya langit. Cahaya yang ditunjukkannya, perlahan berubah menjadi jingga. Burung-burung pun turut meramaikan perpisahan matahari dan bumi Lembang, dengan terbang lalu lalang dari pohon ke pohon untuk menceritakan kisah luar biasa dengan keluarganya.


“Setelah ini kita makan, lalu pulang. Besok lo kerja pagi, gue takut lo kecapean,” ujar Billar yang duduk di samping Lesti yang sedang memakaikan kaki dengan sepatu.


Lesti menoleh seraya melayangkan senyum. “Makasih, untuk semua ini.”

__ADS_1


“Makasih juga udah ada di samping gue sampai detik ini,” balas Billar.


...O0O ...


__ADS_2