Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Peringatan


__ADS_3

SENJA telah menyingsing. Khusus sore ini berjalan-jalan seraya belanja kebutuhan adalah hal yang Lesti lakukan. Ardia yang merupakan teman terbaiknya tidak bisa menemani, karena ada kesibukan lain. Semenjak Billar selalu di sampingnya, Ardia mulai membatasi jarak karena mungkin dia tidak mau mengganggu kedekatannya. Dia memang baik, dan selalu melakukan hal yang membuatnya bersyukur memilik teman sebaik Ardia.


Jika tidak sayang dengan hidup, mungkin Lesti sekarang berjalan berdampingan dengan Putra. Dia kembali menawarkan tumpangan dan kebaikannya kepadanya. Dia siap mendampinginya berbelanja, tapi, Lesti tidak mau memperkeruh keadaan yang sedang menimpanya.


Peneror itu masih gencar memberi peringatan, bahkan entah permainan seperti apa yang akan dimainkannya. Ia takut kalau permainan yang dia mainkan akan melukai orang-orang sekitarnya. Meskipun sampai saat ini, akun baru yang langsung menjelma sebagai peneror itu tidak melakukan hal di luar batas. Hanya sebatas curahan perasaannya yang tiada lain ditujukan kepadanya.


Dia tiada henti mendewakan kata munafik kepadanya, Lesti terus mencari celah apa yang telah dilakukannya hingga orang ini sebegitu bencinya.


Otak yang tak henti menayangkan semua perkataan si peneror, membuat Lesti mengakhiri jalan-jalan sekaligus belanjanya. Ia sengaja semenjak masuk waktu kerja, tak mengaktifkan data ponselnya. Biarlah si peneror itu kesal karena ulahnya, meskipun di balik itu semua rasa penasaran dan mengobrol banyak hal dengan Billar sangat menggebu. Ah, kerinduan akan laki-laki itu membuat si peneror enyah dalam otaknya.


Malam ini, Lesti hanya mampu menatap ponselnya yang bergeming. Tiara pun sudah berkali-kali mengomel, mengeluh, bahkan berteriak meminta perhatian dari kakaknya, hanya direspons dengan dehaman saja.


“Kak! Istighfar!” gugah Tiara. “Jangan melamun! Kesambet baru tahu!”


Lesti terlonjak. “Astaghfiullah!”


“Kakak ini kenapa sih? Aku ngomong gak di dengerin, aku ini lagi kesal, marah, aku butuh saran dari Kakak!” keluhnya.


Lesti menoleh. “Kenapa? Kamu sakit hati saat orang yang kamu cintai dekat dengan cewek lain dan terlihat mesra? Kenapa enggak duluan yang maju? Sekarang ini tuh udah zamannya cewek maju duluan, paham?” jelas Lesti, yang sebenarnya mendengarkan semua keluh kesah adiknya itu.


“Ish, Kakak. Kalo tau lawannya di bawah aku, aku pasti maju. Lah, ini orang kaya, cantik, pokoknya perfect!” geram Tiara.


“Kamu enggak perlu itu, kamu hanya perlu percaya diri aja!” balas Lesti. “Udah, awas, kakak mau tidur!”


Tiara mendengkus. “Tapi, Kak—“


“Kalo kamu berhasil dapatkan dia karena apa adanya kamu, berarti dia tulus. Tapi, kalo dia lebih tertarik sama cewek yang disebutkan tadi, kemungkinan dia itu cuma pengen hartanya. Ingat ya, kamu juga cantik,” pungkas Lesti.


Dalam beberapa saat Tiara terdiam. Kenapa dirinya enggak pernah dideketin laki-laki dengan perasaan lebih seperti kakaknya.


“Gak usah banding-bandingin, Allah sudah ngatur semuanya!” sahut Lesti.


“Iya Kak, Iya!”


Setelah Tiara pergi dan menutup rapat pintu kamarnya, Lesti menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. Tangan kanannya meraih ponsel dan segera mengaktifkan data internetnya.


Entah kenapa saat banyak notifikasi menyerang ponselnya, dadanya terasa bergetar seolah-olah akan ada hal mencengangkan yang sudah menunggu di hadapannya. Notifikasi dari whats app membuat dugaannya semakin menampakkan keberadaannya. Ardia mulai mencemaskannya, Pak Ghifar yang entah sudah berapa kali mencoba menghubunginya, dan Putra turut melayangkan rasa khawatirnya.


Ada apa ini?


Suasana yang tercipta di kamar ini seolah menerkam tubuhnya dengan erat. Semuanya semakin mengerat, saat notifikasi di Instagramnya turut menghadiahi banyak DM. Lesti tak tahu apa yang terjadi, bahkan untuk mengetahui atau mengeceknya saja tak kuasa. Hanya satu nama yang terpaut di pikirannya, ya, si peneror bernama Ayu itu.


Lamunan itu segera dibantah oleh getar panjang dari ponselnya. Pangeran yang baru saja mengenalkan dirinya seminggu ini, seolah tahu kalau dirinya butuh pelarian sejenak dari masalah yang belum diketahuinya secara jelas, selain permainan dari Ayu telah dimulai.


Segera Lesti mengangkat telepon dari Billar, setelah ia menenangkan sejenak jiwa raganya yang sedang terbuncah.


Billar menyapa dengan suara lembut penuh makna, Lesti menyapa balik seraya melayangkan senyum. Tetapi senyumnya mendadak surut, saat Billar meminta untuk panggilan video saja. Lesti membenahi krudungnya, dan mengusap wajahnya berkali-kali agar terlihat baik-baik saja.


Lesti tersenyum dan terkekeh saat Billar melontarkan gombalan demi gombalan. Ia juga membantah kalau ia sangat merindukan Billar, meskipun melihat keadaan saat ini Lesti benar-benar membutuhkan Billar di sampingnya. Setidaknya dengan diajaknya berkeliling, menyimpang ke kedai lesehan, kemudian bercanda bisa menghilangkan masalah yang tengah di hadapinya meskipun hanya beberap saat saja.


“Tunggu!” ujar Lesti, saat Billar hendak menutup teleponnya.

__ADS_1


Kenapa?


“Teman-teman lo pada ke mana?” Lesti berusaha mencari topik pembicaraan agar, bisa mengobrol panjang dengan Billar. Tidak peduli dengan besok hari kerja. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, meskipun aura gelap sudah terbaca pada malam ini.


Lagi pesta, di bawah.


“Kenapa lo gak ikut pesta?” tanya Lesti.


Baru saja gue balik dari sana. Lagian, gue udah enggak tertarik lagi dengan pesta gituan.


Lesti mengerutkan dahinya. “Pesta gimana?”


Wajah Billar tampak menegang, kemudian dia samarkan dengan kekehan miris di wajahnya. Setelah membuang muka beberapa saat dari hadapan kamera, Billar kembali menatap penuh Lesti.


Hm, lo belum tahu? Gue udah cerita ini sama ayah Rahman. Masa lalu gue enggak baik-baik amat, mungkin menyentuh baik pun enggak—


“Ohm, enggak usah diterusin. Gue gak mau kenal dengan masa lalu lo. Yang gue kenal, lo itu orangnya baik meskipun gue sempat nuduh lo yang enggak-enggak. Lo juga nyebelin, dan tukang gombal,” potong Lesti.


Lesti bisa menduga apa yang akan Billar ceritakan. Lesti tak mau mengenal lebih jauh masa lalu laki-laki di hadapannya ini, cukup Billar yang sekarang yang ia tahu. Biarlah masa lalu berevolusi menjadi pembelajaran berarti untuk masa depan. Memang sudah menjadi keharusan masa lalu untuk ditutup agar luka lama enggak kembali menampakkan keberadaannya, apalagi memiliki kemungkinan untuk membuat luka yang baru.


Makasih, udah dulu ya, gue ngantuk. Dan lo besok harus berangkat pagi, bye!


Senyum tipis terpancar di bibirnya. Ia tidak bisa mencari bahan obrolan lagi, juga Billar butuh istirahat. Lesti hanya bisa menghela napas panjang, perlukah ia membuka semua notifikasi yang memenuhi ponselnya? Atau biarkan saja, dengan memberikan kesempatan kepada waktu untuk menjawabnya.


“Bye!”


Tatapan Lesti tertuju pada langit-langit rumah, tidak tahu harus melakukan apa. Ia merasa takut untuk menghadapi hari esok.


Sekali lagi, Lesti menghela napas panjang; memilih untuk beristirahat dibandingkan mengecek notifikasi yang membungkus ponselnya. Berharap, kalau apa yang terjadi tidak seburuk dalam pikirannya.


O0O


Semenjak kakinya memasuki Kejora Cofee and Bakery, hawa tak mengenakan mulai membungkam jiwa raganya. Beberapa karyawan yang datang lebih awal melayangkan tatapan penuh tanya, dan kekhawatiran kepadanya.


Lesti berusaha melayangkan senyum kepada mereka, dan hari ini sepertinya akan menjadi pagi yang berat baginya. Sampai saat ini Lesti belum berani untuk membuka lebih jauh ponselnya, meskipun ia tahu kalau sumber masalah dari salah satu laman sosial media di benda pipih itu.


Segera Lesti berjalan memasuki ruang khusus karyawan, dan menyimpan tas mininya ke loker. Debar dadanya semakin kencang, tembakkan di hatinya semakin menusuk nyaris menumpahkan pertahanannya lewat air mata.


Napas Lesti tertahan, kala temannya datang dan memeluknya dari belakang dengan begitu erat. Lesti menghela napas perlahan mengatur gebu di dada, agar lebih tenang.


“Ti! Lo gak apa-apa, kan? Kok, lo enggak bilang kalo lo sedang diteror oleh akun aneh?” resah Ardia.


“Ke-kenapa emangnya?” tanya Lesti, dengan getar.


“Lo gak lihat whats app atau instagram?” Ardia malah balik bertanya, membuat Lesti menggeleng pelan. “Akun itu menjelekkan lo di kolom komentar Kejora. Pak Ghifar marah, meskipun gue udah bilang kalau itu orang aneh,” terang Ardia.


Percakapan mereka terpotong dengan kedatangan Putra, yang juga mengkhawatirkan Lesti. Wajahnya jauh terlihat panik dibandingkan Ardia, dia seolah-olah memiliki sangkut paut akan apa yang terjadi pada Lesti.


“Kamu enggak apa-apa, kan?” resah Putra, dengan tatapan mengedar ke seluruh penjuru ruangan. “Jesika mana?” tanya Putra.


“Kenapa dengan Jesika?” respons Ardia, bingung.

__ADS_1


“Foto yang dipajang di akun itu, adalah hasil fotonya Jesika. Gue udah hapus foto itu, lo juga tau kan Ar?” jelas Putra.


“Foto?” heran Lesti.


“Iya, Ti. Dia menyebarkan hal yang enggak-enggak tentang kamu, dia benar-benar menjelekkan kamu, Ti!” Suara Putra tertahan, kala rombongan Jesika hadir dengan tampangnya yang sombong.


“Kalian masih mau temenan sama orang munafik seperti Lesti?” ujarnya.


Putra langsung membalikkan badan, menghadang Jesika. “Lo kan di balik akun itu!” tuduhnya, dengan kilatan emosi.


“Heh, lo lupa apa? Lo kan yang kemarin hapus semua foto itu. Gue aja kaget ketika foto itu terpajang di akun sana!” sengit Jesika.


“Lo pikir gue bego. Ponsel lo pasti punya fitur back-up, kan?” ujar Putra.


Jesika berdecih, dan segera memberikan ponselnya kepada Putra. “Nih, lo cek sendiri. Lo ubek-ubek saja ponsel gue sebisa lo.” Jesika menyenggol tubuh Putra. “Dan lo juga tau kalau dia yang hapus foto itu. Lo adalah saksi pertamanya!” lanjutnya kepada Ardia.


Putra mengecek semua isi ponsel Jesika, tapi tak satu pun ia menemukan titik terang di ponsel tersebut. Selain mengecek adakah fitur back up, ia juga mengecek semua sosial media yang terpasang di ponsel Jesika. Tetapi, apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil.


“Enggak ada kan? Sekarang gue setuju sama ucapan lo, Put. Lo bego!” tandas Jesika seraya merebut kembali ponselnya.


Lesti tidak bisa berkata apa-apa, ternyata akun itu benar-benar mencecarnya habis-habisan. Membuat kolom postingannya cukup dipenuhi komentar kebencian kepadanya. Dada Lesti mendadak sesak, saat deretan kalimat menyakitkan itu terpampang nyata di hadapannya.


@lis_setya


Gue salah satu pelanggan Kejora, dan orang ini pernah ngelayanin gue. Gila ternyata separah itu sikapnya.


@darma.septian


Padahal tempatnya gak murahan, eh pelayannya yang murahan.


@istrinya.dilan_


Kalo gini, mesti hati-hati. Bisa-bisanya suami gue digoda.


Lesti menutup laman komentar postingan terakhirnya. Kini ia beranjak, ke kolom DM di mana beberapa orang turut memberikan ujaran kebencian di sana. Namun, hanya satu akun yang hendak ia baca pesannya.


@ayu_liyanti


Selamat bermain sayang


Napas Lesti tertahan, tak terasa air matanya menyembul keluar. Segera ia berlari menuju WC untuk menenangkan batinnya. Lesti menyeka air matanya, lalu membuka pesan whats app dari pak Ghifar.


Pak Ghifar


Lesti, apa pun masalahmu tolong selesaikan. Saya enggak mau citra bisnis saya hancur karena masalah kamu. Selesaikan secepatnya, atau bapak akan memutuskan hubungan kerja dengan kamu.


Dada Lesti semakin tertusuk. Air mata mulai membanjiri kedua belah pipinya dengan ganas. Berkali-kali Lesti menarik napas lalu mengembuskannya. Terus seperti itu hingga keadaannya berdamai dengan rasa sakit.


Ya Allah, bantulah hamba menyelesaikan masalah ini.....


...O0O ...

__ADS_1


__ADS_2