Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Alkisah


__ADS_3

SUDAH seminggu laki-laki bertubuh tegap, berpakaian kaos dengan celana jins ini menjaga komitmennya. Hari-harinya dipenuhi dengan rasa bahagia, meskipun rasa bimbang selalu mencari cela dalam hatinya. Hanya satu yang membuatnya bimbang, kejadian di hotel itu masih melanglang buana mencari bandara untuk mendarat di lintasan tanggung jawab.


Setelah melakukan foto produk beberapa hari yang lalu, Billar tidak pernah menghubungi Amanda atau dia yang menghubunginya. Apakah dia baik-baik saja? Billar hanya merasa kasihan terhadap Amanda, bagaimanapun juga dia telah mengisi kekosongan hati selama dua tahun.


Andaikan saja seminggu yang lalu tak ada Bali dalam hidupnya, mungkin sekarang tinggal menghitung hari untuk menghalalkan komitmennya. Billar tidak tahu haruskah ia bercerita kepada Lesti, atau biarkan saja semua ini mengalir layaknya air? Billar takut gagal menjelaskan semua ini, bukti pasti pun tak ada. Namun, cepat atau lambat Billar akan memberitahunya, terlebih pada orang tua Lesti.


Billar mengempaskan tubuhnya, lalu menghirup udara sepanjang mungkin kemudian mengembuskannya secara perlahan menenangkan rasa. Beriringan dengan itu, pikirannya menayangkan deretan rencana yang akan ia lalui nanti dengan Lesti. Hatinya sudah berniat kalau selama seminggu setelah menikah, ia akan membawa Lesti mengarungi Pulau Sumba, seperti yang diminta perempuan itu.


Menyisir pesisir pantai, mengarungi lautan, serta menjelajahi tanah bagian timur Indonesia dengan pakaian adat di sana. Mempelajari tradisi di sana, juga membantu atau berbaur dengan masyarakat dalam hal kerajinan yang mereka produksi.


Billar tak sabar untuk menunaikan semua itu, keinginannya saat ini tengah berada dipuncak tertinggi ruang mimpinya. Sebagai penutup dari mimpinya itu, Billar mengembangkan senyum dengan begitu manis lalu melantunkan doa agar semua mimpinya tercapai dengan lancar.


Ketika Billar kembali memfokuskan terhadap layar komputernya, seseorang mengetuk pintu kantornya seraya mengucapkan salam. Billar meminta untuk masuk, dan alangkah terkejut saat sosok wanita bertubuh langsing dan tinggi menampakkan batang hidungnya di sana. Bibirnya menyungging lembut, bersamaan dengan langkah yang berhenti di depan Billar.


“Amanda?” kejut Billar.


“Hai, gimana kabarmu dan gimana juga niat kamu?” tanya Amanda seraya duduk di hadapan Billar.


“Aku baik, dan untuk rencana semoga setelah masalah ini selesai aku akan menikahi dia,” jawab Billar.


“Kenapa harus menunggu masalah ini? Kamu tidak salah, aku percaya itu.” Amanda tersenyum miris diikuti dengan elusan halus ke perutnya. “Aku mau menyampaikan sesuatu,” ujar Amanda seraya mengorek tasnya.


Sementara Billar berusaha tenang, meskipun ia tidak tahu apa yang membuatnya tidak tenang saat berhadapan dengan mantan kekasihnya ini. Billar mengikuti gerak tangan Amanda, hingga jari-jarinya menunjukkan sebuah alat tanda kehamilan.


“Aku positif hamil,” tuturnya.


Entahlah, apakah Billar harus bereaksi bahagia atau sedih. Tapi, Billar mengangguk saja dan menerima alat itu dari Amanda.


“Kapan kamu memberitahu hal ini pada orang tuamu, Manda?” tanya Billar.


Ekspresi Amanda berubah sendu, dan napasnya perlahan mulai tersendat. Kedua bola matanya mulai diselimuti bulir air, hingga akhirnya tumpah melintasi pipinya. Cekatan, Amanda mengusap air matanya, berusaha menenangkan perasaan dan pikirannya yang mendadak terisi dengan ketakutannya.


Amanda menggeleng. “Aku tidak tahu.”


Billar mengembuskan napas kasar. “Mau aku temenin untuk memberitahu hal ini?”


“Aku rasa enggak perlu. Aku bisa sendiri. Kamu fokus saja sama masa depan kamu, biar aku yang mengurusi masa depanku,” balas Amanda tersendat-sendat.

__ADS_1


“Bukan begitu, Manda. Aku hanya ingin membantumu—“


“Jangan karena aku, mimpi-mimpi kamu jadi terhalang. Aku bisa menangani ini semua, percayalah. Aku hanya butuh waktu untuk memberitahu orang tuaku, pasti aku akan memberitahu mereka,” terang Amanda sungguh-sungguh.


Sejenak Billar membuang muka, menghela napas lagi. “Baiklah. Kamu harus ingat dengan ucapanku saat di Bali. Kamu enggak boleh melakukan hal-hal yang bisa melukai janinmu dan dirimu sendiri. Kamu tidak bersalah, Amanda,” ucap Billar.


“Makasih, aku pamit dulu.” Amanda menganggukkan kepalanya. Tubuhnya telah berdiri dan beranjak dari duduknya, tapi, langkahnya seketika terhenti di ambang pintu. “Haris mana?” tanya Amanda.


“Oh, dia lagi ke pameran foto di gedung kesenian,” jawab Billar.


“Jangan ribut lagi sama dia,” pesan Amanda sebelum akhirnya pergi dari MRB.


Di ujung kepergiannya, Billar mengangguk dan tersenyum.


O0O


Berkencan dengan roti dan minuman yang termuat di Kejora menjadi satu momen yang paling Lesti semangati. Setelah kejadian yang tak diduga-duga seminggu yang lalu, suasana di Kejora menjadi sangat menyenangkan. Tidak ada lagi dusta, tidak ada lagi rasa iri, semuanya berjalan dengan indah.


Bukan hanya hubungan Lesti dengan Ardia, dan Jesika saja yang membaik. Tapi, hubungan Ardia dan Putra pun semakin terbuka. Keduanya selalu terlihat berinteraksi bersama meskipun Ardia selalu menghindar ketika ditanyai tentang status.


Putra pun pernah berkata kepadanya, khususnya tentang sikapnya yang mungkin membuatnya tidak nyaman. Karena tak mau ambil pusing Lesti tak mempermasalahkannya, bahkan Putra berterima kasih atas kesempatannya mengobrol jauh dan membuatnya berubah. Ya, dia terlihat lebih cerah setelah lebih dekat dengab Lesti.


Lesti dibuat terkejut dengan penampakan kosong di ruangan kerja Billar, ah, dia sedang di toilet. Lesti mengarungi ruang kerja Billar, dan menatap sejenak ke arah komputer yang memajangkan sebuah restoran. Lesti tersenyum, tapi, dalam beberapa detik senyumnya kembali lenyap bersamaan dengan timbulnya patah hati.


Apa matanya tidak salah melihat? Kenapa ada alat ini di meja kerja Billar, dan parahnya benda itu memiliki tanda garis yang menunjukkan kalau seseorang positif hamil. Apa dia mengkhianati komitmennya?


“Lesti?” ujar Billar saat mengetahui ada Lesti di sana membelakanginya. “Maaf ya, perutku mules banget, udah lama nunggu?”


“Ini punya siapa?” tanya Lesti dengan mata telah berselimut air mata.


Billar terkejut, ia lupa tidak membuang benda itu atau paling tidak menyembunyikannya. Lesti berusaha menampakkan ketegarannya, tapi Billar segera menenangkan dan membawa Lesti untuk duduk di sofa di ruang tengah studio.


“Usap dulu air matanya,” pinta Billar seraya melayangkan tisu ke wajah Lesti, tapi segera direbut. “Apa yang kamu lihat tidak sesuai apa yang sedang kamu pikirkan. Aku tidak melakukan hal itu.”


Lesti bergeming, tanpa menatap ke arah Billar. Hatinya terlanjur tergores melihat kenyataan di hadapannya. Ya, apa yang diucapkan Billar memang betul, tak seharusnya ia berpikiran negatif. Ujian menuju tanggal membahagiakan itu benar-benar besar, dan kenapa perasaannya sesensitif ini.


“Ini punya Amanda. Ya kamu tahu dia mantanku. Saat di Bali aku dan dia dijebak, tepatnya ketika aku selesai menelepon kamu pada saat itu. Aku memutuskan untuk langsung tidur, sementara yang lainnya masih berpesta. Aku tidak tahu apa yang terjadi, esoknya aku terbangun nyaris tanpa busana dengan sebuah topeng terpasang di wajahku, dan Amanda berada di sampingku.” Billar menghela napas panjang, sementara Lesti terus mengusap air matanya yang entah kenapa keluar terus.

__ADS_1


“Tapi, Amanda percaya kalau yang menimpanya bukan ulahku. Tadi dia ke sini untuk memberitahu berita ini. Kamu tau, ini adalah alasanku berkomitmen selama tiga bulan. Aku harus menyelesaikan dan membuktikan kalau janin yang tumbuh di perut Amanda bukanlah ulahku. Maaf, baru kuceritakan,” jelas Billar dengan rasa sesal di akhir kalimatnya.


Lesti menatap Billar dengan nanar. “Aku bodoh ya,” ungkap Lesti membuat Billar mengerutkan dahinya tak mengerti.


“Tanpa aku sadari, ceritaku saat itu malah menambah beban di kamu. Kenapa kamu enggak cerita dulu, mungkin aku juga akan membantumu—“


“Kamu enggak usah ikut campur dalam hal ini, dan membantu kamu memang sudah jadi tanggung jawabku, karena aku yang memulai,” timpal Billar. “Kamu fokus aja kerja, berdoa, agar niat baik kita dilancarkan.”


“Aku mempercayaimu, maaf sudah salah paham,” sesal Lesti.


Eratnya sebuah hubungan adalah menjaga rasa saling percaya dan jujur satu sama lain. Kalau salah satu dari mereka gagal menjaganya, hilang sudah semuanya. Maka dari itu, kepercayaan dan kejujuran memiliki nilai yang tinggi. Semua kepercayaan akan hancur oleh satu kedustaan.


“Kita berdoa dan berusaha ya?” ucap Billar sambil mengembuskan napasnya. “Kita makan pinggir jalan yuk? Udah lama enggak makan pecel lele,” ujar Billar akhirnya.


“Yuk!”


Keduanya pergi meninggalkan MRB Studio, menyusuru jalanan Bandung yang ramai dan berhenti di tempat pecel. Sambil menunggu pesanan tiba, mereka bercanda dan mengobrol banyak hal yang bisa melupakan sejenak masalah itu.


Billar bersyukur bisa mendapati perempuan sebaik Lesti, dan selama ini keyakinan akan jodoh terbaiknya adalah dia semakin menguat. Begitu juga dengan Lesti, laki-laki yang ingin dihindarinya sejak pertama ketemu ternyata adalah sosok pangeran yang ia tunggu selama ini. Dia adalah jawaban atas doa-doanya, dan Lesti sangat yakin hal itu.


“Suapin dong?” pinta Billar.


Lesti mendengkus. “Apaan sih,” timpal Lesti.


“Ish bunda jangan gitu dong,” balas Billar dengan wajah memelas menyerupai balita.


“Ih, geli tau!” Lesti membeliakkan kedua matanya.


“Makannya suapin aku,” rengek Billar.


“Ya udah, buka mulutnya!” balas Lesti cepat, karena enggak mau mengundang banyak perhatian dari pengunjung lainnya. “Jangan buat malu bundamu, nak!” cetus Lesti seraya memasukkan satu suapan ke dalam mulut Billar.


“Enak Bunda!” komentar Billar, menarik perhatian beberapa pengunjung. Ada yang tersenyum, ada pula yang bergidik geli.


“Ish! Gak usah kencang-kencang!” omel Lesti.


“Maaf bunda,” pungkas Billar seraya tersenyum, sok imut.

__ADS_1


...O0O...


__ADS_2