Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Hukuman


__ADS_3

SETELAH cukup banyak hidangan yang disantap, Billar kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Menatap menawan terhadap Lesti yang baru saja berwudu, dan hendak memasuki ruangan yang dikhususkan untuk beribadah. Dia mendelik dan bergidik saat tatapannya beradu pandang, tapi Billar malah menambah tingkat ketertarikan pada matanya.


“Mau gue imamin?” cetus Billar.


Lesti menoleh cepat. “Enggak!”


“Atau gue halalin dulu baru imamin gitu?” Billar terus menggoda Lesti. Perempuan itu menegang ketika kalimat itu terlontar dari bibirnya, jelaslah tujuannya dekat dengan Lesti untuk itu. “Kenapa? Gue gak pernah main-main soal pasangan. Gue selalu serius kalau obrolan ini menjurus terhadap seseorang yang gue idamkan untuk menjadi pendamping gue dunia akhirat.”


Dada Lesti menggebu keras, intonasi ucapan Billar memang sangat serius bahkan tatapannya pun sangat mendukung perihal ini. Tajam, menawan, dan melahirkan titik-titik terdalam yang sangat sulit diungkapkan. Ya, seserius itu. Sampai jiwa raganya seolah berselawat mendengar ucapan itu.


“Bukankah niat baik harus segera dilaksanakan, enggak boleh ditunda-tunda? Semakin ditunda semakin kuat ujiannya?” sambungnya lagi.


Jiwa raga Lesti seolah terikat di tempat, sesuatu didadanya semakin menggebu. Bukan karena sesuatu yang menyakitkan, tapi, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kagum, tak percaya, bahkan pintu yang semula tertutup rapat untuk Billar kini terbuka secara perlahan hingga menampakkan seberkas cahaya di dalamnya.


“Gu-gue salat dulu. Kalo lo mau wudu, lo tinggak ke WC aja,” pungkas Lesti sedikit gugup dan getar dalam ucapannya.


Lesti tidak menyangka sosok yang selalu dihindarinya akhir-akhir ini berbicara hal yang tak pernah dibayangkan, bahkan saat memiliki hubungan dengan Raziq tidak pernah laki-laki yang sekarang berbahagia dengan kehidupannya berbicara seperti ini. Lebih mengagumkan lagi, kenal dengan Billar belum seminggu tapi ucapannya sudah seserius itu.


Lesti ingin menarik kembali ucapannya pasal doa yang minta di-cancel, tapi, ia tidak akan menunjukkan sesuatu yang berlebihan pada Billar. Lesti ingin tampak seperti Lesti yang dilihat Billar, merasa enggak suka dengannya, dan selalu menolak permintaannya. Lesti enggak mau Billar menertawakan aksinya, jadi ia harus memendamnya sampai jawaban yakin diberikan Allah untuknya.


Di ujung ritualnya, Lesti kembali berdoa dengan doa yang sama kala itu. Meminta petunjuk perihal dua laki-laki yang sedang dekat dengannya. Jika Putra adalah jodoh yang dititipkan-Nya, maka permudah jalannya, begitu pula dengan Billar.


Begitu langkahnya menginjak bagian luar ruangan, Lesti dikejutkan oleh penampakan Billar yang tengah bersandar di samping lawang. Billar mengumbar senyum manis, sementara Lesti mengangkat bahu sebagai responsnya. Ia sudah bertekad untuk menyembunyikan fakta kalau hatinya mulai terbuka untuk Billar karena ucapan seriusnya.


“Setelah ini langsung berangkat. Gue udah enggak sabar buat ngehukum lo!” ujar Billar seraya masuk ke musala.


Lesti terdiam sejenak, sebelum akhirnya kedua indra pendengarnya menangkap suara takbir di musala. Diam-diam Lesti mengintipnya, memperhatikan laki-laki menyebalkan dengan banyak kejutan bersembahyang dengan fokus. Entah kenapa aura yang tampak di mata Lesti membuat bibirnya melengkung, mengumbar senyum.


Namun, Lesti akhiri karena ia harus bersiap-siap untuk berangkat. Semuanya kembali menyebalkan ketika ucapan Billar mengenai hukuman merebak pikirannya. Kenapa laki-laki itu bisa membuat hal ‘romantis’ dan menyebalkan di waktu bersamaan? Kenapa dia tidak menuntutnya minta maaf saja untuk membayar kebohongan kecilnya? Kenapa harus hukuman yang sampai saat ini, Lesti tidak tahu hukuman apa yang akan dia berikan padanya.


Lesti sudah siap. Kaus berwarna putih berlengan panjang, terbungkus oleh jaket kainnya. Sementara bawahannya, Lesti mengenakkan celana kain agar nanti ketika jam kerja hanya perlu mengganti atasannya saja. Sebagai kegiatan akhir dari mempercantik diri, Lesti menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Kemudian, Lesti beranjak dari kamarnya menemui Billar.


Seraya menunggu Billar yang masih salat, Lesti memungut beberapa kue kering yang masih tersaji di meja. Kemudian mengirimkan pesan ke Putra agar tidak lagi menjemputnya. Lesti tidak membalas pesan Putra yang menanyakan alasannya, toh, nanti ia akan ceritakan di tempat kerja.


“Mamah mana?” sambut Billar begitu duduk di hadapannya.


“Di kamar, lagi salat kayaknya,” balas Lesti tanpa menatap ke arah Billar.


Lebih dari sepuluh menit mereka hening, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Lesti mencuri pandang ke Billar untuk memastikan raut wajahnya, tapi, tidak terjadi yang mencurigakan.


“Ayo katanya mau berangkat sekarang,” ujar Lesti. “Biar cepet hukumannya,” tambahnya begitu berdiri.

__ADS_1


Billar menatap Lesti dan mengangguk. Ponselnya ia kantongi dan memerintah Lesti untuk memanggil mamanya untuk pamit dan meminta izin.


“Mah, aku berangkat dulu,” kata Lesti.


“Lah, ini baru setengah satu loh,” heran Mala.


Billar langsung maju beberapa langkah. “Jadi gini Bu, aku mau ajak dulu Lesti keluar. Ada sesuatu yang mau aku sampein ke Lesti,” timpal Billar seraya tersenyum meyakinkan.


“Oh, gitu. Ya udah, hati-hati, jagain Lesti, jangan diapa-apain!” wejang Mala.


“Iya Bu, aku mau ajak makan siang, terus jalan-jalan sebentar sebelum akhirnya kita berangkat kerja,” jawab Billar.


“Ya udah, gih berangkat.”


Lesti dan Billar menyalami Mala kemudian beranjak ke luar. “Assalamualaikum, Bu!” seru keduanya bersamaan.


O0O


Tempat pertama yang dikunjungi mereka adalah restoran kecil tapi tampak mewah di luar. Bercat hitam, tapi terlihat hangat dan menyegarkan juga sepi. Billar mengajak Lesti untuk masuk dan turut makan siang dengannya.


“Jadi kapan hukumannya dimulai dan apa?” tanya Lesti begitu duduk di hadapn Billar.


“Baiklah. Yang pertama lo harus turutin perintah gue—“


“Enggak, selamanya!”


“Gak mau. Atau gue cabut sekarang?” tantang Lesti.


Billar menghela napas. “Kan gue yang bikin hukuman kenapa lo gak nerima?”


“Lagian apa yang gue lakuin enggak merugikan lo? Kita ini baru kenal, dan jangan karena lo udah ngobrol sama bapak gue lo jadi seenaknya!” jelas Lesti.


“Gak rugi, tapi buat gue deg-deggan,” timpal Billar jujur.


“Kenapa begitu?”


“Lo udah buat gue nyaman, jadi lo harus tanggung jawab,” jawab Billar. Setelah Lesti terdiam cukup lama Billar menghela napas pendek. “Baiklah untuk hari ini aja. Yang kedua, lo jangan nganggap kehadiran gue ini beban dan yang terakhir lo harus mengiyakan dengan senang hati apa yang gue pinta kepada bapak Rahman. Maksudnya lo harus menyetujui gue antar jemput lo, paham?”


“Kalo gak mau?”


“Gue akan lakuin sesuatu agar lo bilang mau, bahkan mengharapkan yang lebih dari gue.” Billar tersenyum merekah.

__ADS_1


“Ini hukuman atau jebakan?” tanya Lesti.


“Terserah lo mau bilang apa. Intinya lo harus tanggung jawab atas kenyamanan yang lo berikan,” timpal Billar.


“Tapi—“


“Gue gak mau tau, dan gue gak menerima penolakan apa pun!” Billar menatap Lesti dengan tatapan tajam.


“Tapi, ini ulah lo juga. Kenapa lo repot-repot sok baik ke gue tempo hari?” sengit Lesti.


“Terus kenapa Tuhan ngirimin rasa nyaman ke gue lewat lo?” Jawaban Billar kali ini membuat Lesti membatu seutuhnya. “Dan ingat, gue gak sok baik. Karena gue memang baik, apalagi sama pesan yang dikirim Tuhan buat gue,” tandas Billar beriringan dengan datangnya pesanan mereka.


Lesti kehilangan banyak kata dan nafsu. Kenapa ucapan Billar selalu menyentuh batinnya? Lesti pikir kebersamaan dengan Billar hanya sesaat tapi faktanya tidak. Entah apa yang sekarang menghujani laki-laki ini, apa karena dia genius hingga membuatnya terjebak, atau licik. Kegeniusan sama kelicikan ternyata beda tipis. Endingnya, Lesti akan terjebak dengan Billar.


“Kenapa enggak dimakan?” tanya Billar ketika mengetahui Lesti malah melamun.


“Selera gue ilang gara-gara lo!”


Billar menghela napas panjang menghentikan aksi makannya. Ia memberikan tatapan teduh kepada Lesti, semburat kesalahan mulai tampak di hatinya.


“Mau gue suapin?” ujar Billar lembut.


Lesti menggeleng cepat. “Enggak usah.”


Billar kembali menghela napas, dan kini menatap penuh wajah Lesti tanpa mengeluarkan sepatah kata untuknya.


“Kenapa lo liatin gue?” lontar Lesti.


“Gue bakal liatin lo kalo lo gak makan,” balas Billar, tersenyum singkat.


Lesti mendengkus dan segera meraih sendok dan mulai menyantap makanan yang tersaji di hadapannya. Makanan yang menurut Lesti tidak akan mengenyangkan ini masuk ke mulutnya, daripada membawanya ke restoran lebih baik membawanya ke warteg. Bukan apa-apa, masalahnya ini tubuh akan dibawa kerja yang artinya membutuhkan energi banyak.


“Kalo makan jangan cemberut. Nanti setan ketawa liatin lo,” terang Billar, menghibur.


“Biarin!” ketus Lesti.


“Jangan marah-marah, nanti cepet tua, wajah cepet keriput. Emang lo mau tua lebih cepat dari orang pada umumnya?” Billar terus mengomel membuat Lesti mendelik berkali-kali dari wajah Billar.


“Jangan ngomel terus, kalo lagi makan,” balas Lesti nggak mau kalah.


“Cie perhatian,” balas Billar sembari diikuti tawa.

__ADS_1


Ya Allah, ini orang maunya apa sih? Masa iya, aku harus cancel lagi doanya! Batinnya berteriak jengah.


...O0O...


__ADS_2