Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

HUBUNGAN antara Lesti dan Billar semakin dekat dan terbuka. Kehadiran Billar sudah bukan lagi hal yang baru di mata keluarga Lesti. Pintu rumah sederhana itu akan selalu terbuka untuknya. Billar dan keluarga Lesti mengobrol banyak hal, bahkan sampai menyenggol masalah-masalah jodoh dan pernikahan.


Dari percakapan itu Billar sudah merasakan aura yang berbeda berhaluan positif mengenai kedekatannya dengan Lesti. Billar selalu gencar berdoa, bahwa Lesti adalah tulang rusuknya yang ia cari selama ini.


Obrolan-obrolan itu membuat seorang Billar enggak bisa tidur, tatapannya memang tertuju pada televisi yang menayangkan sebuah acara tapi pikiran dan perasaannya malah memikirkan sosok Lesti.


“Lo belum tidur, Bi?” ujar Haris yang keluar dari kamar hendak menuju dapur karena merasa haus.


“Gue gak bisa tidur,” balas Billar.


“Yaelah Bi, kayak yang baru pertama kali ke Bali aja,” cetus Haris, seraya duduk di sofa di samping Billar. Gara-gara percakapan ini, Haris jadi lupa tujuan utamanya yaitu untuk minum segelas air.


“Bukan itu yang ngebuat gue belum tidur,” balas Billar.


Haris menaikkan salah satu alisnya. “Lesti?” tebak Haris.


Billar terdiam sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di atas sofa, mengabaikan tebakan Haris yang benar adanya. Perempuan berhijab itu tidak pernah lepas dari ingatannya, dan tak akan pernah.


“Beruntung banget lo cepet banget dapetin cewek, gak kayak gue yang susah,” keluh Haris.


“Mungkin tipe lo ketinggian kali, Ris!” celetuk Billar.


“Gak ada yang namanya ketinggian, sama aja kayak lo,” timpal Haris. “Yang penting bisa buat gue nyaman, seperti perasaan lo sama Lesti.”


“Nyamannya gue saat dekat dengan Amanda beda banget sama nyamannya gue saat dekat dengan Lesti. Sesuatu yang tak bisa gue jelaskan membuat gue yakin kalo dia itu yang terbaik buat gue,” terang Billar. “Banyak kok yang buat nyaman, tapi banyak yang gak lama bertahan. Tapi, ungkapan ini enggak mempan sama sosok Lesti Andriyani putri dari pasangan Abdul Rahman dan Kamalasari—“


“Di bayar tunai, sah?!” potong Haris, kemudian terkekeh.


“Sah! Aamiin,” balas Billar seraya tersenyum.


“Bucin mulu, cepet tidur biar besok gak ngantuk!” ujar Haris, melancarkan niat utamanya.


Haris beranjak dari tempat duduknya menuju dapur untuk meneguk segelas air sebelum mimpi mengambil jiwanya. Sejenak ia terdiam, membiarkan pikirannya berisyarat melalui senyum yang perlahan terukir di bibirnya.


“Assalamualaikum jodoh, kamu di mana?” gumamnya pelan.


Haris menggeleng pelan, jika sudah berbicara mengenai jodoh pasti pikirannya langsung bereaksi berlebihan. Mungkin karena sudah lama menjomblo, pikiran dan perasaannya seolah mendapatkan cahaya ketika jodoh menjadi topik obrolan.


Setelah, meneguk habis air minum, Haris kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti kala temannya malah tertidur di sofa depan televisi yang masih menyala. Segera Haris menutup tayangan televisi, lalu berjalan lagi menuju kamarnya.


Haris meraih ponselnya yang bergeming di nakas, lalu mengecek laman sosial medianya seraya tiduran. Jempolnya berhenti bergulir di sebuah postingan, tatapannya tertuju pada deretan angka yang berada di salah satu sudut postingan.


Secarik keinginan timbul dalam hatinya. Haris tersenyum, tepat ketika dua hari setelah pulang dari Bali ia berniat untuk menyaksikan pameran foto dari komunitas fotografer Jawa Barat di gedung kesenian. Entahlah, Haris merasa kalau pameran ini akan sangat menarik apalagi fotografi yang merupakan minatnya.


Haris mengakhiri aksinya, dan mulai memejamkan matanya. Memetik bunga tidur dari ribuan bunga tidur yang tertanam indah di dunia yang penuh keajaiban itu. Berharap mimpi malam ini adalah sebuah jawaban atas penantiannya selama ini.


Wa Alaikumsalam, jodoh ...


O0O


Pagi ini dua orang laki-laki dengan style berbeda telah bersiap untuk pemberangkatan ke Pulau Dewata. Sebelum mereka berangkat menuju stasiun, mereka memutuskan menengok sebentar ke studionya. Mereka memberikan arahan, bahwa selama kurang lebih seminggu studio ini akan dipimpin oleh Rendi, karyawan kepercayaan Billar. Mereka juga menjelaskan tata tertib darurat selama dirinya dan Haris berada di Bali.


Bukan hanya itu, Billar pun mengajak Haris untuk sarapan di Kejora dan membeli beberapa bungkus roti untuk perjalanannya ke Bali. Tapi, Billar meminta agar Haris berbeda kursi saja, karena Billar enggak mau pembicaraannya nanti bersama Lesti di dengar olehnya. Karena ini sangat rahasia. Billar pun memberi tugas, untuk memotretnya saat mengobrol nanti.

__ADS_1


Haris sempat protes, dan heran kenapa Billar menyuruh memotretnya dari jarak jauh. Tapi, sudahlah, mungkin Billar sedang merencanakan sesuatu yang sangat rahasia atau romantis untuk Lesti. Ia masih ingat, dulu saat Billar masih pacaran sama Amanda selalu memberikan kejutan luar biasa. Mungkin ini juga yang akan dilakukan Billar ke Lesti.


“Ti, gue mau pergi ke Bali. Nanti kita ngobrolnya lewat telepon,” ujar Billar.


“Ya udah, kenapa masih di sini?” balas Lesti.


“Kan gue mau pamitan sama lo. Oh, ya, gue punya hadiah, tapi nanti setelah gue balik dari Bali,” kata Billar.


“Hadiah?”


“Iya, gue harap lo suka nanti.” Billar tersenyum. “Ya udah gue sama Haris pesan roti, kita belum sarapan.”


Lesti mengangguk, dan segera beranjak dari hadapan Billar menyiapkan pesanan. Lesti menoleh dan tersenyum singkat, yang dibalas senyuman juga oleh Billar. Di ujung penglihatannya, Lesti melihat Haris duduk di kursi di hadapan Billar, lalu keduanya larut dalam obrolan.


“Enak ya, setiap harinya bisa ngobrol, padahal lagi jam kerja,” sindir Jesika yang jaga di bar.


Lesti mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Gak enek apa kerjaannya nyindir terus,” balas Lesti seraya melongos begitu saja.


“Gak malu apa kerjaannya berduaan terus,” timpal Jesika kesal.


“Kasihan ya, udah berumur tapi masih sendiri,” cetus Lesti begitu kembali dengan pesanan yang ditadahnya.


“Apa lo bilang?”


“Sabar Mbak, gak usah emosi,” ucap Lesti.


Sesekali Lesti perlu melawan sindiran yang terlontar dari mulut Jesika, ia enggak mau selalu direndahkan. Bukan untuk mempermalukannya, Lesti hanya ingin Jesika sadar kalau apa yang diucapkannya bisa melukai batin seseorang.


Namun, Lesti bisa menghela napas panjang karena Billar pergi bertepatan dengan dirinya yang bekerja di bagian pertama. Ia tidak perlu-perlu meminta bapak untuk menjemputnya pada malam hari. Cukup menaiki sebuah angkutan umum, lalu jalan kaki memasuki kompleks sekitar sepuluh menit.


Selesai menyajikan pesanan pelanggan yang lain, Lesti kembali menyiapkan pesanan roti dari Billar. Sekarang dia memesan beberapa bungkus roti untuk perbekalannya, meskipun selama persiapan ini mulut lihai miliki Jesika terus mengusik pendengarannya. Sungguh, tak sedikit pun ia peduli padanya. Beruntung Ardia datang dan menyumpal mulut Jesika dengan sekali bentakan.


“Makasih” ujar Lesti lalu memberi kode kepada Billar kalau pesanannya selesai.


Bukannya Billar yang menghampiri, tapi Haris. Laki-laki yang sama tampannya dengan Billar berhadapan dengan Jesika untuk membayar semua pesanannya, setelah itu Lesti menyodorkan sekantong keresek ke hadapan Haris.


“Makasih, Ti. Sampai jumpa lagi, dah!” ujar Haris.


“Iya, hati-hati,” balas Lesti.


Ardia terdiam sejenak dari aksinya, sebelum akhirnya menyodorkan pesanan itu ke hadapan Jesika. “Daripada ngedumel gak jelas, mending lo anterin pesanan ini ke nomor lima belas,” ujar Ardia.


“Lah, kok jadi gue. Gue kan bagian kasir!” elak Jesika.


“Enggak ada aturan yang seperti itu, rolling aja!” celetuk Putra yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa hasil panggangan roti.


Jesika mendengkus, dan enggan untuk berdebat dengan Putra. Di bagian ini, Putra memiliki kepercayaan tertinggi dari pak Ghifar. Mau tidak mau apa yang diperintahkan Putra harus ia lakukan, entah dengan senang hati atau terpaksa.


“Jangan cemberut, senyum!” perintah Putra seraya memajangkan roti yang dibawanya di dalam etalase.


Ardia dan Lesti terkekeh bersamaan. “Eh, Ti, yang tadi siapanya Billar?” tanya Ardia.


“Sahabatnya. Mereka sudah bersahabat sejak SMA,” balas Lesti.

__ADS_1


“Lo pacaran sama Billar?” celetuk Ardia.


Putra yang sibuk menghias etalase dengan roti, menghentikan aksinya sejenak. Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ardia seolah tombak yang disengaja diberikan kepadanya, tapi segera ia netralkan. Putra enggak mau kelihatan bagaimana bulat perasaannya terhadap Lesti.


Lesti yang juga merasa pertanyaan Ardia sangatlah rawan, apalagi terlontar di dekat Putra yang sampai saat ini belum dapat jawaban apa pun atas pengungkapan cintanya. Lesti sedikit berpaling, sebagai usaha untuk memikirkan kalimat yang tepat.


“Enggak, hanya teman biasa,” balas Lesti setenang mungkin.


Ardia mengangguk. “Tapi, bagaimana kalau Billar nembak lo?”


Bersamaan Lesti dan Putra membeliak, sebelum Lesti menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ardia, Putra sudah menegakkan tubuhnya menghadap kedua temannya dengan ekspresi datar.


“Bisakah kita profesional, pelanggan semakin bertambah,” ujar Putra lalu beranjak.


“Sory Put. Ar, nanti ngobrolnya ya,” kata Lesti sambil beranjak untuk menyambut pelanggan yang datang.


Sementara Ardia mengangguk, dan langsung memasang senyum siap menerima pelanggan yang sudah puas memanjakan segalanya di sini. Tapi, ada satu titik di mana Ardia memasang wajah tanpa ekspresi, seolah kehilangan mood. Apalagi pikirannya masih belum beranjak pada permasalahan cintanya.


Setalah semuanya beres, Lesti mengambil istirahat di awal bersama Ardia termasuk Jesika dan karyawan lainnya. Lesti menghela napas pendek, perasaannya perlahan berubah saat melepas Billar pergi ke Bali. Beginikah rasanya kehilangan?


Lesti meraih ponselnya dan menghidupkan data ponselnya. Banyak notifikasi yang menyerang ponselnya, tapi yang pertama kali dibuka pesan dari Billar.


Billar:


Kereta gue udah mulai jalan. BTW, lo mau hadiah apa, nanti gue beliin.


Lesti tersenyum singkat, hatinya kembali tergugah saat mendapati pesan dari Billar. Sekarang kalian tahu, merasa kehilangan adalah fakta. Lesti merasa kehilangan sosok laki-laki yang selalu hadir di sampingnya akhir-akhir ini.


Gue gak butuh hadiah apa pun. Kalo udah tiba di Bali kasih kabar, setidaknya gue bisa mensyukuri itu.


Setelah membalas pesan itu, Lesti membuka Instagram dan mengecek akun yang menerornya terus. Dan pesan darinya sudah menumpuk. Lesti menggeleng dan membukanya.


­@ayu_liyanti


Gila nih orang, demen banget diemin gue.


Woy!


Heran deh


Lo gak niat buat minta maaf, atau lo pura-pura amnesia sih. Gila, ya sampai sekarang gak pernah lo introspeksi atau sadar.


Gue bisa ngelakuin lebih dari ini


Atau lo memang sengaja pengen main sama gue?


Oke, gue bakal mulai.


Kedua mata Lesti membulat, si peneror semakin menjadi-jadi. Lesti merasa akan ada sesuatu yang lebih gila dari ini. Di saat sosok yang sudah dianggap sebagai pelindung oleh dirinya juga keluarganya, kenapa si peneror ini semakin menggila.


Lesti kamu pasti bisa melewati ini!


...O0O ...

__ADS_1


__ADS_2