
SIANG HARI ketika istirahat, Billar memberi kabar kepadanya kalau dirinya masih dalam perjalanan. Tidak lupa dia mengingatkan agar dirinya makan, kemudian salat, dan tetap fokus pada pekerjaan. Lesti hanya bisa mengulum senyum mendapati semua perhatian itu, ah kalau dia mengetahui hal ini pasti sebuah ejekan terlontar dari mulutnya.
Lesti tahu hatinya mulai menerima kehadirannya, dan ia tidak pernah menganggap kalau kehadiran Billar adalah beban. Bukannya rasa nyaman adalah kebahagiaan? Itulah arti dari kehadiran Billar.
Namun, sayang, sekarang sosok itu pergi dalam beberapa hari ke depan. Lesti tidak bisa berbagi cerita dengannya secara langsung, dia tidak akan memberi kejutan-kejutan kecil yang luar biasa kepadanya.
Kejutan yang Lesti dapatkan tidak hanya berbentuk benda, tapi ucapan dia adalah kejutan. Selalu saja perkataan dia membuat dirinya terkejut dan terhanyut di dalamnya. Dia adalah semesta, dan dirinya adalah isinya. Karena sekarang semesta itu pergi, sekarang ia merasa melayang tanpa pijakan yang pasti, penuh keraguan dan ketakutan.
Apakah ini Billarphille? Hingga ia takut kehilangan Billar? Ah, ungkapan ini membuat dirinya tersenyum kecil, geli mendengarnya. Jadi tanpa Billar ketahui, ternyata dirinya seberharap ini padanya.
Lesti masih menatap ponselnya, membalas pesan yang Billar lontarkan. Jika saja Billar enggak pergi, mungkin dia sudah mengantarkannya pulang sekarang. Lesti masih terduduk di kursi luar Kejora, masih hanyut dalam obrolan Billar. Bahkan ia belum memesan ojek online untuk pulang sekarang.
“Ti, kamu belum pulang?” ujar Putra yang baru saja keluar dari Kejora.
Lesti terlonjak, dan menoleh. “Belum.”
Putra menengok ke arah studio, menyelidiki sesuatu. Tapi yang menjadi tujuan dari penyelidikannya ini, tak tampak di sana.
“Billar ke mana?” tanya Putra.
“Billar ke Bali, ada pemotretan,” jujur Lesti.
Sebenarnya, Lesti masih belum tenang jika berhadapan dengan Putra. Laki-laki yang ditatapnya ini masih belum mendapatkan jawaban darinya.
“Mau bareng sama aku?” tawar Putra.
Lesti tersenyum singkat seraya menggeleng. “Enggak usah, aku udah pesen ojek online kok.”
Bukannya pergi, Putra malah duduk di sampingnya. Dia membenarkan kacamatanya, sementara Lesti ditikam detak yang intonasinya semakin cepat. Bagaimana jika Putra menanyakan jawaban tentang ungkapan hatinya?
“Ya, udah aku temenin kamu sampai ojeknya datang,” balas Putra. “Oh, ya, aku mau tanya tentang ungkapkan itu, apa kamu udah punya jawabannya?” lanjut Putra, dengan getar dalam ucapannya.
Lesti membeku. Dugaannya benar, Putra menagih jawaban atas ungkapan itu. Haruskah Lesti menjawab sekarang?
Melihat kebekuan dan perubahan ekspresi dari wajah Lesti, membuat Putra tersenyum singkat. Putra menghela napas pendek. Sebenarnya Putra sudah menduga jawaban Lesti, apalagi kacamatanya menangkap banyak kedekatan antara Lesti dan Billar. Mulai dari sana pil pahit sudah memaksa untuk singgah di hatinya.
“Kalau kamu memang enggak menerima ungkapan itu, enggak apa-apa. Setiap manusia berhak memutuskan, meskipun keputusan itu membuat manusia lainnya terluka.”
Lesti menoleh cepat ke arah Putra dengan ekspresi bersalahnya, bahkan mulutnya terasa kelu untuk mengungkapkan permintaan maaf kepadanya. Tapi, laki-laki itu masih menampakkan senyum meskipun tampak terluka.
“Kita masih bisa berkawan baik, kan?” tanya Putra, pedih.
“Put, a-aku minta ma-maaf—”
Putra menggeleng cepat. “Enggak ada yang salah dalam hal ini, Ti. Jadi, kamu enggak perlu minta maaf atau merasa bersalah.”
__ADS_1
Lesti menunduk dalam. Di ketegasan dan ke-profesionalan seorang Putra, ada sesuatu yang membuat dadanya terenyuh. Kenapa dia masih bisa menampakkan senyum, setelah dibuat terluka oleh sikapnya ini.
“Hidup itu tentang menerima, Ti. Luka dalam hal percintaan itu sudah menjadi satu kesatuan. Meskipun kita memaksa, kalau takdir tak berkehendak hubungan itu tidak akan bahagia,” ujar Putra.
“Makasih, Put. Aku tidak bermaksud untuk menggantung jawaban itu, aku hanya takut kalau jawaban aku akan melukaimu juga membuat kedekatan kita retak,” balas Lesti, menenggelamkan tatapannya.
“Jadi kita akan berdebat lagi?” hibur Putra.
Lesti mengangkat kepalanya, kemudian bibirnya melengkung selebar-lebarnya. “Siapa takut?”
“Oke, kamu gak boleh dekat sama Billar saat jam kerja, gak boleh bantah. Keprofesionalan dalam kerja bahkan apa pun itu, keprofesionalan nomor satu!” ucap Putra.
“Emang kamu siapa? Bos di sini? Ingat kamu itu hanya leader! Selagi tidak mengganggu dan menghambat yang lainnya, gak masalahkan?”
“Pokoknya di jam kerja gak boleh pacaran!”
Kedua mata Lesti membulat. “Dih, siapa yang pacaran!” elaknya.
O0O
Huft! Benar-benar menyebalkan. Sekarang Lesti menyadari sepenuhnya kalau dirinya sangat berharap parah sama Billar. Selama perpisahannya dengan Putra tadi, Billar bak hilang ditelan bumi. Pesan yang Lesti lontarkan berakhir di centang satu, apakah dia baik-baik saja?
Lesti menenggelamkan kepalanya di balik bantal, berharap kalau laki-laki itu baik-baik saja. Ragam kejadian mengerikan dalam benaknya seketika bermunculan, membuat dada Lesti berdegup kencang setiap waktunya.
Secepat kilat Lesti menyingkirkan bantalnya, mengangkat tangan kanannya, menatap jam kayu yang melingkar di pergelangan.
Lesti yang semula duduk di kasur, kini beranjak ke bangku tempat di mana wajahnya dirias. Dari sana, pandangannya menoleh menatap ponsel yang dibiarkan bergeming di kasurnya. Perasaannya, tambah menciut ketika laki-laki itu sampai di ujung hari belum memberinya kabar.
DRRRRTTTT
Ponselnya bergetar. Lesti segera beranjak sejak saat itu juga. Namun, notifikasi yang memenuhi layar ponselnya bukan dari Billar melainkan dari akun Kejora yang menandainya dalam sebuah kiriman, padahal kiriman yang sekarang dilihatnya sudah sejak sepuluh menit yang lalu terkirim.
Lesti menatap kiriman itu. Foto wajahnya yang berdampingan dengan Putra terpampang di sana, perlahan senyumnya mengembang. Kiriman itu sudah disukai lebih dari seratus orang dan dikomentari lebih dari tiga puluh orang, dan salah satu komen di sana membuat dirinya terbelalak tak percaya.
@ayu_Liyani
Yang kek gini dijadiin model? Wkwkwk. Cewek munafik!
Perlahan ingatannya memberitahu mengenai pesan terakhir yang peneror ini kirimkan. Lesti tidak percaya, kalau peneror ini melangkah sejauh ini. Sekarang apa yang akan ia lakukan, haruskah membiarkannya?
Pikiran dan perasaannya yang sebelumnya dipenuhi oleh sosok Billar, seakan-akan terempas jauh. Tubuhnya kini terlentang di atas kasur menatap langit-langit kamar, sampai-sampai getar di ponselnya ia abaikan.
Peneror itu mengambil semuanya, membawa ke alam antah berantah yang penuh dengan ketakutan.
Sementara ponselnya terus bergetar, menuntut untuk diresponsnya.
__ADS_1
“Huft!” Lesti tergugah dan mulai mengangkat telepon, yang ternyata dari orang yang ditungguinya semenjak tadi.
Halo? Lo baik-baik aja, kan?
Lesti terdiam, bagaimana laki-laki bisa bertanya setepat itu. “Hm, gue baik-baik aja. Lo sendiri dah sampe ke Bali?”
Udah, baru aja tiba di hotel. Sori gak balas chat lo.
“Iya, enggak apa-apa.”
Lesti mendadak kebingungan, bahkan tidak berselera untuk mengobrol dengan siapa pun. Tadinya ia ingin sekali mengobrol panjang lebar, atau mendengarkan cerita perjalanan Billar menuju Bali. Namun, gara-gara si peneror itu membuat dirinya tak fokus dan memilih untuk membalas seadanya saja.
Lo beneran enggak apa-apa? Sedari tadi gue ngobrol kok lo diem terus
Billar mulai mengetahui keadaannya kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi, Lesti masih menutupinya, ia enggak mau kalau Billar ikut campur dalam masalahnya. Ia pasti bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.
“Enggak, kok. Lagi badmood aja,” elak Lesti. “Oh, iya tadi lo nawarin gue oleh-oleh kan?”
Iya.
“Gue mau oleh-oleh khas Bali, apa aja. Yang penting khas Bali.” Lesti terpaksa melakukan hal ini, untuk mencegah kecurigaan Billar lebih lanjut.
Pasir dari Kuta sekeresek, mau?
Lesti terkekeh. “Enggak sekalian aja Tanah Lot-nya pesakin,” timpal Lesti.
Gue mau VC, mau ya?
“Boleh, gue kepo sama Bali.”
Wajah lelah dari Billar mulai memenuhi layar ponselnya, dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Nih, lihat pemandangannya, bagus kan?”
Sebuah langit kelam meneyelimuti langit Bali memenuhi layar ponselnya--sementara di Bandung baru saja azan Magrib—memang sangat indah pemandangan di sana.
“Iya, bagus. Kayaknya lo capek. Udahan aja teleponannya, nanti lo sakit lo gak bisa kerja.”
“Kan lo itu obat lelah.”
“Gombal!”
“Bukan gembel?”
“Iya, lo yang gembel!”
Keduanya tertawa pecah dan terus berlanjut, bahkan Billar setia menunggu Lesti salat kemudian mengobrol lagi hingga semua tentang peneror itu lenyap dalam pikirannya. Billar memang segalanya.
__ADS_1
...O0O ...