
Proposal untuk peminjaman dana telah Arfan kir ke pihak agensi, Billar hanya menunggu kabar baik dari mereka. Tanpa sadar Billar tertidur selama beberapa jam di studio setelah meluapkan amarah melalui voice note ke nomor istrinya yang dipegang oleh penculik itu. Billar hancur, Billar kacau, rencananya hari ini ia dan istrinya akan menghabiskan waktu di Sumba.
Billar memutuskan untuk pulang, apalagi setelah memgetahui Tiara akan berangkat besok karena dia harus menyelesaikan terlebih dahulu tugas kuliahnya. Billar memandang tiga karyawan baru di sana, salah satunya Reina. Di tengah fokus melayani klien, dengan mengumbar senyum hangat.
Sementara cowok tinggi berkacamata, tengah memgobrol dengan William sembari menjelaskan beberapa bagian kamera yang mungkin belum dikuasainya. Sementara, cewek dengan muka sedikit jutek di sana tampak sibuk dengan layar monitor yang menampilkan halaman kerja berupa tata letak untuk majalah.
“Mau ke mana lo?” seru William.
“Gue cabut dulu,” balas Billar.
William mengakhiri diskusi lalu menghampiri Billar dengan dahi berkerut dan matanya memicing. “Lo kenapa? Muka lo, astaga, Bi! Lo begadang? Jaga lilin?”
“Bukan jaga lilin, tapi jaga kewarasan. Udah, ah, gue mau pulang!” pamit Billar.
“Seriusan lo pulang dengan kondisi gitu? Mau gue anterin?” William merasa kasihan melihat Billar, matanya sembap, tampak capai, dan mukanya sedikit pucat. Di sela-sela interview tadi, William sempat mendengar suara Billar marah meskipun enggak jelas karena memang ruang yang ditempati Arfan sengaja dibuat sedikit kedap suara.
“Enggak perlu, lo harus pantau karyawan yang baru itu. Lo gak salah pilih kan?” tanya Billar.
William berdecih. “Dikira gue apa sih! Cowok kacamata itu namanya Arif, dia udah paham fotografi karena memang lulusan multimedia. Bahkan beberapa klien tadi, dia yang potret hasilnya oke. Hanya perlu dikasih pemantapan dikit. Terus yang edit majalah, namanya Vio dia juga lulusan multimedia, dia juga freelance layouter di salah satu penerbit jadi gak perlu terlalu ribet jelasin. Terakhir Reina, itu saran lo buat langsung terima.”
“Oke, deh. Gue percaya sama lo, Will. Gue pulang dulu, bye!”
Selama perjalanan menuju rumah, Billar memikirkan rencana untuk Tiara. Ya, sebenarnya Tiara hanya perlu mendengar kesaksian model di sana secara langsung dan terekam. Billar tidak terlalu yakin dengan jawaban-jawaban polisi atau sebagaimana tersurat di surat kabar. Billar ingin Tiara diam-diam merekam percakapannya nanti, siapa tahu ada yang mereka tutupi.
Begitu tiba di kamar, Billar kembali membaca beberapa artikel yang memuat berita tentang Amanda. Ya, selama di sini Billar tidak pernah membaca artikel tersebut, setelah mendengar penjelasan polisi kemarin ketika pemeriksaan. Billar tidak kuasa membaca artikel dengan headline mengerikan itu, bagaimana jika Amanda tidak mengakhiri hidupnya dengan sengaja. Tapi, ada seseorang di balik ini semua.
Billar mengamati kata demi kata, hingga matanya tertuju pada beberapa inisial di sana. “Hah? Anak MRB juga ikut pesta?”
Sumpah Billar baru tahu kalo karyawannya turut hadir di pesta itu. Selama mereka berpesta, Billar memang sibuk dengan acara pernikahannya yang akan berlangsung. Billar tidak sempat melihat ponsel meskipun hanya sebatas melihat status.
Halo, Bi?
“Fan, kok lo gak bilang kalo anak MRB pada ikut pesta di apartemen Amanda? Lo juga ikut kan?” tanya Billar menggebu.
__ADS_1
Lah, gue pikir lo udah tau dari polisi kemarin. Kita emang ikut, karena waktu itu jadwal projek. Tadinya kita-kita gak bakalan ikut, tapi karena disuruh Pak Jo jadi ya ikut. Kenapa? Lagian kita enggak ngapa-ngapain selain pesta nyanyi sama joget kecil-kecilan.
“Ya enggak apa-apa, cuma nanya doang. Gue lagi baca artikel, soalnya dari kemarin gue gak baca karena gak siap,” balas Billar secepat mungkin memurunkan gebu dadanya.
Lagian kan lo gak liat story gue waktu itu? Atau story yang lainnya? Mau ngabarin lo nya sibuk nyiapin pernikahan.
“Iya, sih. Btw, udah ada jawaban?”
Belum, lo pikir uang segede itu bisa langsung cair. Mereka juga mikir-mikir dulu, ngitung dulu, apalagi Pak Jo lagi sibuk buat ajang internasional itu
“Ya udah, gue tutup ya? Kalo ada kabar terbaru infoin gue!”
Setelah memutuskan panggilan dari Arfan, Billar merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar, dan kemungkinan-kemungkinan baru mulai tampak. Bagaimana kalau salah satu karyawanya juga menyembunyikan sesuatu.
Baiklah, Bi. Lo tahan sebentar, tunggu hasil dari rencana Tiara nanti.
O0O
Esoknya, Billar bergegas mencarikan tempat untuk Tiara tinggal. Ya, hal ini tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya kecuali keluarga Lesti. Dalam satu jam ke depan, Tiara akan tiba di Jakarta, maka Billar harus menyiapkan fasilitas untuknya.
Selama satu jam itu, Billar menghabiskan waktu di kos hingga Tiara meneleponnya kalau dirinya sudah tiba di terminal. Billar bergegas menjemputnya, dan tanpa berlama-lama ia langsung membawa Tiara ke kos.
Tiara langsung melempar tasnya ke sembarang arah lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Gila cape banget!”
“Lagian siapa suruh naik bus,” kata Billar.
“Lagian kenapa enggak dua empat pertujuh di dekat Kak Lesti,” sindir Tiara, terdengar jelas betapa sedih dan kecewanya Tiara.
“Maaf,” ungkap Billar seraya menunduk.
“Jadi aku harus ngapain?” tanya Tiara to the point, biar semuanya cepat selesai. Tiara ingin istirahat sekarang, meskipun semenjak berita kakaknya diculik jiwa raga Tiara merasa terombang-ambing tak tentu arah.
“Kamu nanti pergi ke kantor agensi model, nanti aku kirim alamatnya. Bilang aja kamu mau kerja sama iklan produk, terus kamu minta katalog model, nanti ada foto Amanda, kamu senggol dikit tuh, ya? Dan anggap kita ini kek orang yang gak kenal. Jangan coba-coba untuk main ke sekitar MRB nanti ketahuan. Kamu juga harus merekamnya, Ra.”
__ADS_1
Tiara bangkit dari rebahannya. “Kenapa kakak lakuin ini?”
Billar menjelaskan semuanya, kalau penculikan Lesti ada hubungannya dengan kasus Amanda.
“Jadi kakak berpikir kalau penculiknya adalah teman Kak Amanda?”
“Mungkin. Aku tidak tahu, dan kamu harus cari tahu. Maaf merepotkanmu, Ra. Aku tidak bisa melakukan ini, aku diancam.” Billar memalingkan wajahnya dari Tiara, menyembunyikan rasa bersalahnya yang teramat dalam.
“Aku adik kalian, aku akan bantu.”
Setelah itu, Billar pamit pergi membiarkan Tiara untuk beristirahat. Billar menunggangi kuda besi menuju studio, ia akan berusaha untuk mengorek karyawannya untuk mengungkapkan sesuatu tentang pesta itu tanpa dicurigai.
Begitu tiba di studio, Billar melihat Reina tengah terdiam di kursi luar sambil menikmati jajanan yang dipegangnya. Memang sekarang sedang jam istirahat, dan Billar menghampirinya.
“Hai,” sapa Billar sambil duduk sedikit berjarak di samping Reina.
Reina memgerjap. “Eh, Kak Billar. Ada apa, Kak?”
Billar tersenyum. “Enggak apa-apa. Tumben sendirian, gak gabung sama teman yang lainnya.”
“Lagi pengen sendiri. A-ku masih enggak nyangka sama Kak Amanda,” terang Reina. “Aku tidak pernah membencinya, tapi kenapa dia ninggalin aku. Aku rindu padanya.”
Reina menitikan air mata. “Aku harap orang jahat yang sudah melukai Kak Amanda segera terungkap.”
Jujur seperti di awal, Reina memang mencurigai Billar. Meskipun sikapnya berkali-kali menampar kecurigaannya. Kalau bukan Billar siapa? Bukannya yang terakhir berada di kamar itu dan seranjang dengan kakaknya adalah Billar? Tapi kenapa hasil tes itu tidak membuktikan kalau Billar bersalah, apa dia menyogoknya untuk memalsukan hasil tes? Reina akan mencari tahunya.
“Aku juga ingin mengungkap hal itu, tapi tidak bisa. Kamu tau, Re. Istriku diculik, mereka mengancamku agar tidak mendalami kasus ini.”
Bagaikan hujan di tanah gersang, sekali lagi Reina ditampar dengan kenyataan ini ... tunggu apa dia sedang membohonginya? Reina memicingkan mata, menelisik lebih jauh, tapi wajah Billar benar-benar tampak terpukul saat ini.
“Si-siapa yang melakukan itu?”
Billar menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi yang jelas pasti ada hubungannya dengan orang yang sudah melukai kakakmu, Re.”
__ADS_1
...O0O...