
DI UJUNG SENJA suara gurauan dari sepasang manusia yang dimanjakan dengan kenyamanan tampak renyah dan hangat. Di beberapa titik mereka menghentikan motornya untuk mengambil foto saat cahaya yang matahari salurkan terlihat sempurna di tempat itu. Perjalanan pulang ini sungguh sangat menakjubkan, baru kali ini keduanya menyempatkan diri berfoto tiap melihat pemandangan yang wah di tepi jalan.
Niat untuk langsung pulang terhenti kala sebuah taman menggoda pandangan dengan berbagai macam jajanan berjejer di sana. Motor besar yang mereka tumpangi kembali menepi di antara jajaran motor lainnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Lesti.
“Kayaknya berkuda bukanlah kisah akhir untuk hari ini,” balas Billar seraya melepas helmnya.
Lesti tersenyum, seraya menyodorkan helm kepada Billar. “Lo gak cape apa?”
“Gue enggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kalo perlu dua puluh empat jam sama lo atau mungkin selamanya,” timpal Billar mengulurkan tangannya ke hadapan Lesti.
Perempuan berhijab ini termangu, ucapan Billar kembali berkemul di telinganya dan terjun bebas ke hatinya. Selamanya? Lesti meminta jawaban kepada semesta, apa kata ini akan berlaku kepadanya dengan Billar?
Lesti menyambut uluran tangan Billar, dan mulai menjelajahi setiap pedagang di sini. Jajanan pertama yang akan memanjakan perutnya adalah cimol. Keduanya duduk di kursi kayu panjang, menunggu pesanannya.
“Gue pikir jajanan seperti ini bukan selera seorang fotografer terkenal,” cetus Lesti.
“Emang gue terkenal?” Billar terkekeh. “Kalo gue terkenal, mungkin selama jalan-jalan tadi ada yang antusias untuk minta foto,” lanjutnya.
Lesti terdiam menyerap apa yang Billar ucapkan. Ia kehabisan kata untuk merespons ucapan Billar; di bilang terkenal, dia memang terkenal bahkan followers Instagramnya hampir menyentuh satu juta, ditambah mantannya pemilik akun centang biru.
“Yang terkenal bukan gue, tapi hasil jepretan gue,” ujar Billar membuyarkan tatapan Lesti.
“Iya, tapi kan tetap aja. Follower lo banyak, yang komen pun juga banyak, kenapa lo gak jadi artis atau model aja?” celetuk Lesti.
“Artis? Ribet. Di belakang layar aja udah lumayan, apalagi kalo jadi artis, apa-apa pasti disorot. Mungkin sekarang pun, gue dan lo bakal masuk media. Aktor Billar Aswindra terpergok jalan bareng cewek berhijab. Pacarnya?” Lesti terkekeh saat Billar membacakan headline bak presenter di televisi.
“Emang mungkin ya, kalo lo jadi artis bakal ketemu gue?” ucap Lesti.
“Mungkin. Enggak ada yang gak mungkin di dunia ini, selagi Tuhan berkehendak,” timpal Billar. “Sekarang lo adalah titik ternyaman gue di luar dari keluarga gue. Lo sudah tau buktinya, sampai orang tua lo gue deketin karena senyaman itu gue deket lo. Maka dari itu, semesta lo juga adalah semesta gue.”
Bak tersengat listrik, tubuh Lesti menegang tatapannya mendadak luruh menetralkan sesuatu yang menggebu keras di hatinya. Hal ini membuat semua doa yang ia panjatkan selepas doa, seolah memberikan cahaya atas jawaban dari doa-doa tersebut. Hatinya mencengkeram erat doa-doanya, meyakinkan kalau titik terang ini adalah jawabannya.
“Oh, makasih, Mas,” ujar Billar seraya meraih dua plastik cimol yang disodorkan kepadanya. “Nih, satu buat lo.” Billar memberikan satu bungkus cimol ke Lesti.
“Makasih,” balas Lesti, tersenyum canggung.
Sembari menikmati cimol, mereka berbicara banyak hal. Banyak topik yang Billar lontarkan dalam percakapan ini. Billar menceritakan tentang tiga saudaranya, dua di antaranya sudah menikah dan adiknya masih kuliah. Semua yang menyangkut pertengkaran berbalut gurauan dengan saudaranya ini, menjadi kisah asik hingga cimol yang mereka nikmati tandas.
“Gue gak habis pikir, gue selalu bertengkar sama kakak dan adik gue karena hal sepele. Gue udah sering banget diomelin apalagi saat adik gue nangis, setelah itu gue kabur kemana aja agar gue enggak denger omelan mereka,”cerita Billar.
__ADS_1
“Gue juga sering berantem sama adik gue, dia nyebelin sama kayak lo,” tandas Lesti.
Billar terkekeh. “Tapi hal terbaiknya adalah yang nyebelin selalu dirindukan.”
Keduanya beranjak dan mencari jajanan yang menggugah selera. Sepanjang di taman ini, mereka hanya makan dan makan seraya melihat aktivitas anak kecil yang bermain baling-baling juga kejar-kejaran.
Tiba ketika langit sudah menghitam seluruhnya, suara kemenangan saling bersahutan, keduanya beranjak pergi meninggalkan taman itu.
“Kita salat dulu, setelah itu gue antar lo pulang,” ujar Billar.
Lesti mengangguk. “Oke.”
Billar memasukkan motornya ke pekarangan masjid, begitu bangunan itu tertangkap oleh pandangannya. Mereka berjalan menuju tempat wudu masing-masing. Sebelum air itu menyentuh tubuh Billar, bibirnya tersenyum mengingat kisah hari ini. Sementara itu, Lesti terdiam dengan debar dada yang mendadak mengguncang kala satu persatu pengamatannya terhadap Billar berputar di pikirannya.
Di waktu yang sama di bagian yang berbeda, keduanya bergumam. “Aku sedang jatuh cinta.”
O0O
Selesai bersembahyang, keduanya melanjutkan perjalanan pulang. Angin malam semakin mencengkeram, membuat Lesti memeluk tubuhnya sendiri dengan mulut tertutup rapat menahan dingin.
Mengetahui hal itu, Billar memperlambat laju motornya. Hendak menolong perempuan yang diboncengnya, sungguh ia pun merasa kedinginan. Billar mengatur napasnya, kenapa liburannya berakhir dengan kedinginan seperti ini.
“Lo mau masuk dulu?” tawar Lesti.
“Iya, gue mau minta maaf sama Mamah Mala,” balas Billar. “Gue nyuliknya terlalu lama, nanti kalo mau main lagi gak diizinin,” sambungnya.
“Enggaklah, orang gue udah chat mamah biar enggak khawatir,” timpal Lesti.
“Tetap dong, sebagai lelaki yang bertanggung jawab gue harus tetap minta maaf,” tegasnya, kemudian menampakkan deretan gigi dengan bangga.
“Ya udah, tunjukkin dong,” tantang Lesti.
“Baik, siapa takut!” Billar bangkit dari duduknya dan mulai mengetuk pintu rumah. Sementara Lesti diam saja, tak banyak berkutik.
Suara mamah Mala terdengar menyahut, dan tak perlu menunggu lama beliau membuka pintu, perlahan senyumnya mengembang dan menyuruh Billar masuk.
Lesti bangkit dari duduknya menyusul mereka ke dalam, dan langsung berjalan mengarah ke kamar. Tapi, ia tahan di ambang pintu berniat untuk menjadi cicak putih; mendengar apa yang akan Billar ucapkan.
“Mah, sebelumnya minta maaf pulangnya kebablasan,” ujar Billar dengan nada tenang.
“Iya, enggak apa-apa, asalkan jangan macam-macam aja. Tapi, lain kali sore udah tiba di rumah , apalagi kalo mainnya jauh, khawatir mamah,” kata Mala.
__ADS_1
“Iya, Mah, maaf ya?” balas Billar.
“Iya, udah. Kamu ikut makan malam yuk, mamah udah siapin,” ajak Mala.
“Enggak usah Mah, aku pulang aja ya?” tolak Billar, padahal hatinya berteriak setuju, tapi supaya terkesan seperti tamu lainnya.
“Udah kamu makan dulu di sini.”
Lesti yang tertegun mulai melayangkan senyum, tapi kalau sudah di rumah selalu saja menjadi objek asyik bagi adiknya. Dengan ekspresi tanpa dosanya dia meniup kedua samping kepalanya, sambil terkekeh.
“Ternyata, doa orang tua itu benar-benar keramat, bapak enggak salah mempercayai kak Billar untuk, Kakak,” komentar Tiara. “Dan, sepertinya mamah juga setuju dengan bapak, ah gak sabar punya kakak ipar sama keponakan,” celetuk Tiara.
“Kalo bicara itu jangan ketinggian, Ra!” omel Lesti.
“Dih, emang kenapa? Kakak enggak usah pura-pura gak suka deh, Kakak suka bilang jangan munafik, lah kakak sendiri?” cetus Tiara, yang tanpa sadar membuka pikiran atas teror yang selalu masuk lewat DM.
Lesti kembali tertegun, sementara Tiara memaparkan senyumnya melihat calon kakak ipar. Tiara sangat setuju kalau kakaknya menikah dengan Billar, maka dari itu mulai sekarang ia akan memanggil Billar dengan calon kakak ipar.
“Ra?” panggil Mala, membuyarkan dua buah hatinya.
Tiara beranjak dari tempatnya, tersenyum malu saat bertatapan sedekat ini dengan calon kakak iparnya. Tampan, mulus, dan dari sorot matanya terlihat pandai. Enggak tahu harus bagaimana kalau kakaknya malah melepas laki-laki di hadapannya ini.
“Kamu siapin makanan di sini, kita makan bersama, minta tolong sama kakak juga,” kata Mala.
“Oke, Mah,” balasnya.
Tiara langsung beranjak dan menyeret kakaknya ke dapur. Sebelum menjalankan perintah Mala, Tiara senyum-senyum sendiri membiarkan getar di dadanya mendera.
“Apa? Gak usah lebay deh!” cetus Lesti.
“Kak, sumpah, kalo Kakak sampe melepas kak Billar kebangetan, BTW dia cocok kok asli banyak kemiripan dari wajah juga,” ujar Tiara.
“Udah-udah, mau apa ngajak kakak?”
“Oh iya, kata mamah, bawa semua ini ke ruang tamu, kita akan makan bersama,” kata Tiara.
Lesti mengangguk, lalu meraih dua piring berisi lauk dan pergi meninggalkan Tiara. Lesti enggak mau mendengar Tiara mengoceh terus, memuja Billar, mendorongnya supaya lebih yakin, memang sih ini membuat dadanya bergetar. Lesti hanya berharap kabar baik dari Allah. Jika memang Billar jodohnya, dia tidak akan pergi untuknya dan mungkin segera melayangkan keseriusannya.
Ya Allah, mudahkanlah jalannya jika dia untukku
...O0O...
__ADS_1