
SELAMA INI Lesti sudah terbuka dengan Billar, dan mempercayai laki-laki tersebut. Sudah banyak hal yang mereka lewati hingga Minggu ini, dan itu sudah menunjukkan segala sisi Billar maka tak ada salahnya ia melukiskan kenyamanan dengannya.
Lesti telah bersiap dengan kemeja berwarna pastel senada dengan celana kulot yang membalut tubuh bagian bawahnya. Tidak lupa dengan tas kecil yang di sorennya, sebagai aksesoris pendukung stylenya ini.
Beberapa akhir ini, Lesti tidak tertarik dengan ponsel. Tak berniat membalas pesan dari rekan kerjanya kecuali Putra dan Ardia. Meskipun ia bodoh amatan, tapi ada masa di mana perasaannya tersulut oleh ocehan-ocehan menyakitkan dari mereka. Di tambah DM dari akun atas nama Ayu, ia telah mengabaikannya. Terserah dia mau bilang apa, lagi pula tidak ada sesuatu yang benar-benar membuat hatinya tersulut.
“Uh! Kakak mau ke mana?” ujar Tiara tiba-tiba. Adik yang satu ini memiliki kebiasaan menyebalkan, hampir semua yang ia lakukan kepada Lesti selalu dianggap menyebalkan. “Ikut dong Kak, ajak adikmu yang cantik dan seksoy ini jalan-jalan. Tiara butuh rehat dan liburan untuk beranjak dari pusingnya dunia perkuliahan!” lanjut Tiara dengan lagak penyairnya.
“Enggak mau! Ini adalah quality time aku!” balas Lesti.
“Kak, apa Kakak tahu, apa yang Kakak lakukan itu jahat!” timpal Tiara mendramatisi.
“Jijik Ra!” komentar Lesti singkat.
Tiara memajangkan deretan giginya, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur Lesti. “Kak, aku itu suka seseorang, dan aku merasa kalau dia juga suka sama aku. Bagaimana kalau dia nembak aku?”
“Ya itu terserah kamu, kok nanya sama kakak,” balas Lesti yang duduk di kursi depan meja rias.
“Ya aku takut sama bapak, nanti dia malah trauma dan ngehindarin aku,” terang Tiara. “Waktu Kakak pacaran sama kak Raziq gimana?”
“Kok jadi bawa-bawa Raziq?” protes Lesti.
“Ya, kan, Kakak pacarannya sama kak Raziq. Sedangkan sama kak Billar enggak pacaran.” Tiara mengingatkan.
Lesti baru sadar kalau dirinya sama Billar hanya sebatas teman atau mungkin sahabat. Kenapa ia baru menyadari hal itu? Apa karena ia sudah tenggelam sama kenyamanan yang Billar ciptakan setiap harinya, jadi merasakan kalau hubungannya dengan Billar spesial. Aish!
“Ya, gitu deh. Kakak kenalin Raziq sama bapak saat kelulusan. Pada saat itu Raziq mengobrol panjang sama bapak. Dulu, kakak juga takut, tapi karena Raziq baik dan kayak sudah yakin gitu ya udah. Tapi, tetap saja yang nentuin jodoh kan Allah,” jelas Lesti.
“Masa iya aku harus nunggu wisuda?” rengek Tiara.
“Ya enggaklah, kalo laki-laki itu beneran cinta ya enggak akan kabur saat ditanyai bapak, aneh!” sahut Lesti.
Lesti menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru pukul setengah tujuh pagi, mungkin Billar akan tiba lima belas menit sebelum jam menunjuk angka tujuh. Biasanya dia selalu seperti itu, katanya dari pada telat mending datang kecepatan.
“Tau gak Kak, laki-laki yang deketin aku orangnya baik, gagah, hitam manis. Ah, kalau beneran dia nembak aku, aku akan mempertahankan dia pokoknya,” kata Tiara antusias.
“Katanya mau Korean Style—“
“Enggak, itu cuma halu. Ya Allah, jika dia jodoh aku dekatkanlah,” harapnya penuh cinta.
“Aamiin,” timpal Lesti sambil mengulum senyum.
__ADS_1
Tiara langsung bangkit dan memeluk tubuh Lesti dari belakang. Lesti mengembuskan napas pelan, beginilah adiknya kalo sedang dilanda sesuatu yang membuatnya senang; jauh berbeda dengan kebiasaannya yang selalu membuatnya kesal.
“Mudah-mudahan yang sekarang dekat sama Kakak, yaitu kak Billar adalah yang terakhir untuk selama-lamanya, aamiin,” ungkap Tiara sambil menyelusupkan wajahnya ke hijab Lesti.
Apa yang baru saja Tiara ucapkan berhasil membuat tubuhnya tersengat selama beberapa detik. Lesti masih membeku sebelum akhirnya tersenyum, mengangguk mengaminkan apa yang baru saja menyusuri telinganya.
Takdir tidak ada yang tahu, tapi setidaknya dengan mengaminkan doa yang baik hasilnya akan baik, Insya Allah.
Pelukan mereka merenggang kala Mala mengetuk pintu kamar yang terbuka lebar, memberikan isyarat. Keduanya menoleh bersamaan, dan mengangguk saat Mala mengucapkan sebuah nama tanpa suara kepada kedua anaknya ini.
Lesti tersenyum dan untuk ke sekian kalinya ia menengok ke cermin memerhatikan penampilan dari ujung kepala hingga kaki. Lesti beranjak diikuti oleh Tiara yang penasaran sama sosok Billar, di foto memang sangatlah keren. Tiara penasaran dengan penampilan aslinya, dadanya sudah berontak saja.
“Hai,” sapa Billar seraya mengembangkan senyum.
Lesti tersenyum membalasnya, sementara Tiara terhanyut hingga tinggi badannya mengerucut sebelum akhirnya membalikkan badan karena tersipu malu alias tak tahan melihat laki-laki yang sangat ia setuju sebagai kakak iparnya.
Tiara melempar tubuhnya ke kasur seraya guling-guling gak jelas, kakaknya selalu beruntung didekati laki-laki tampan semua. Ah, pemandangan ini membuat Tiara ingin lekas-lekas wisuda dan memperkenalkan calonnya kepada orang tuanya biar bisa double date sama kakaknya.
“Sumpah, dia benar-benar perfect,” komentarnya lagi.
O0O
Sepagi ini mereka berangkat ke salah satu bagian di Kabupaten Bandung Barat yang diminati orang banyak. Lembang. Tempat yang dihuni banyak tempat wisata favorit mulai dari wisata alam hingga buatan. Beberapa tempat di sana akan menjadi kanvas baru untuk kisah Lesti dan Billar.
“Iya, kenapa?” Lesti melemparkan pertanyaan balik.
“Kenapa kabur, padahal gue pengin kenal juga. Cuma dia yang belum gue kenal di keluarga lo,” terang Billar.
“Dia udah tau lo. Bapak gue udah cerita tentang lo sama dia, begitu juga gue. Alasan dia kabur, dia itu mudah bucin kalo lihat cowok ganteng,” balas Lesti.
“Emang gue ganteng. Menurut lo?” lempar Billar sebelum mengawali perjalanan.
Lesti tampak berpikir dan melihat-lihat semua sisi wajah Billar dengan saksama. Mungkin netizen bilang, Lesti sedang modus, dan dengan senang hati Lesti mengiyakan apa yang diucapkannya.
“Lumayan,” balas Lesti.
“Baru temenan jadi bilangnya lumayan, tapi kalo udah jadi suami enggak mungkin bilang lumayan.” Mungkin Billar berniat untuk melemparkan gurauan, tapi deretan kalimat itu malah menyuguhkan sesuatu yang membuat kedua belah pipi Lesti menghangat.
Billar menaiki motor gedenya, membuyarkan lamunan Lesti agar segera naik ke boncengan. Laki-laki berkaus putih berbalut jaket, dengan celana jins senada dengan atasan ini sudah sangat tidak sabar mengajak Lesti bertualang di tanah Lembang.
Untuk menumpas kekosongan selama perjalanan, seperti biasa Billar mengoceh yang sesekali membuat Lesti tersenyum, tertawa, hingga kesal dan memukuli punggungnya. Perjalanan ini semakin asyik ketika keduanya bernyanyi riang kala memasuki jalanan teduh, di mana di sepanjang sisi jalan ditumbuhi pepohonan besar nan rindang.
__ADS_1
“If this is my last night with you ... hold me like i’m more than just a friend ... give me a memory i can use ... take me by the hand while we do whats lovers do ... it matters how this end ... cause what if i never love again? ....”
Setelah menyanyikan lagu berbahasa Inggris dengan aksen Indonesia, mereka tertawa lepas. Berkali-kali Lesti merentangkan tangan membiarkan angin mendekap tubuhnya, menebarkan rasa bahagianya ke semesta yang sedang berpihak kepadanya ini.
Dari kaca spion Billar tersenyum melihat Lesti terlihat sangat bahagia, wajahnya benar-benar berseri. Dadanya terguncang semakin kuat dan padat rasa yakin akan kenyamanan yang Lesti berikan kepadanya.
“Lo suka juga lagu itu?” ujar Billar.
“Tahulah, meski Bahasa Inggris gue alakadarnya,” balas Lesti.
“Itu tuh salah satu lagu favorit gue,” cetus Billar.
“Sama dong!” timpal Lesti. “Alunannya itu menghipnotis banget, ah!” komentar Lesti antusias.
Selebihnya mereka kembali mengobrol, hingga motor mereka berhenti di sebuah tempat di mana para pengunjung sudah berlalu lalang keluar masuk ke tempat itu. Tempat yang ditumbuhi banyak bunga dan dihiasi berbagai spot foto menjadi tujuan pertama di petualangan ini.
Begitu masuk, Lesti langsung berlari di antara bunga yang bermekaran di kedua sisinya. Billar langsung mengeluarkan mirolles dan memotret beberapa aktivitas Lesti di Taman Begonia ini. Lesti berlari ke sana-sini seraya menyapu bunga sambil tersenyum dan tertawa.
“Pengin dong di fotoin,” ujar Billar.
Lesti terkekeh. “Sini. Tapi, gue gak bisa ngegunain ni kamera.”
“Lo tinggal tekan saja ini, sama fokusin ke gue,” jelas Billar.
“Oke, gih, cepetan,” perintah Lesti. “Gaya yang keren, jangan lurus-lurus aja kayak tiang listrik,” canda Lesti membuat Billar tertawa kecil.
Billar mulai memaparkan banyak gaya, mulai dari gaya terkeren hingga terkocak. Bahkan Billar mengeluarkan kacamata hitam membuka jaketnya, dan kembali menampakkan ke kerenannya membuat Lesti melorotkan lensa kameranya. Dalam beberapa detik, matanya merasa terpukau dengan sosok laki-laki tersebut.
“Satu ... dua ... tiga! Udah, nih keren!” sahut Lesti.
“Sini, sekarang kita foto berdua!” ajak Billar seraya merebut mirollesnya dan memerintahkan karyawan dari taman ini untuk memotretnya.
“Oke, satu ... dua ... tiga!” Satu foto bergaya foto KTP berhasil dijepretnya. “Coba kasih gaya bebas!” perintah si Karyawan.
Mereka telah melayangkan banyak gaya, bahkan mereka bingung harus bergaya seperti apa lagi, tapi si Karyawan terus memotretnya hingga menghasilkan jepretan candid.
“Satu gaya lagi, Mas! Coba deh dirangkul pacarnya,” cetus si Karyawan.
Entah apa yang merasuki Billar detik ini, entah ia sadar atau kelepasan tangan kiri Billar merangkul tubuh Lesti. Terus seperti itu, ketika adegan saling pandang Billar langsung membeliak dan menarik tangannya ke belakang.
“So-sorry, gu-gue gak se-ngaja barusan!” ujar Billar.
__ADS_1
“Cakep!” komentar si Karyawan sambil mengangkat jempolnya, lalu memberikan mirolles kepada Billar sebelum akhirnya ia pergi.
...O0O ...