Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Sepasang Roti dan Kopi


__ADS_3

DI SIANG yang cerah ini, Lesti tiba lima belas menit sebelum shift pertama selesai. Karena enggak mau jadi pusat perhatian dan dituduh yang enggak-enggak oleh orang lain Lesti langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata. Urusannya akan semakin ramai kalau kepergok rekan kerjanya, apalagi akhir-akhir ini ia dekat dengan Putra. Ya, kali Lesti dibilang murahan.


Semua karyawan terlihat sibuk memanjakan pelanggan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyapanya kecuali senyum. Ya, beginilah suasana tempat kerja Lesti kalo lagi ramai. Semuanya sibuk dan fokus, selain profesional mereka malas banget jika berhadapan dengan Pak Ghifar. Marahnya jadi menyebar ke mana-mana, dan selalu jauh kalau mengawang-awang efek karena kerja karyawan enggak benar.


Lesti mengubah setelannya dengan baju karyawan, perlahan wajahnya dipoles pelembap dan bedak tipis. Tak lupa Lesti juga memanjakan lips balm di bibirnya agar terlihat fresh; tidak kering. Terakhir seluruh tubuhnya dihujani parfum yang menyegarkan bagi siapa saja yang mencium aromanya.


Karena masih ada waktu untuk bersantai, Lesti menyempatkan untuk meninjau sosial medianya. Ia teringat dengan Billar yang meminta untuk diikuti balik, dan sekarang akan mewujudkannya. Dia juga menandainya dalam sebuah postingan cerita, hendak merepost tapi takut semua orang ramai. Biarlah, kasih cinta saja di layar pesannya.


Selesai mengikuti balik akun Billar, Lesti melihat-lihat kembali hasil jepretan Billar yang ternyata memanglah keren. Angle-anglenya begitu pas dan terlihat estetik, teringin sekali Lesti mempostingnya, tapi ia tahan. Lesti enggak mau terburu-buru, apalagi sudah dipastikan si fotografer itu akan mengomentari postingannya.


Satu persatu karyawan yang satu shift dengannya tiba, seperti apa yang dilakukannya mereka mulai bersiap-siap mengganti setelannya dengan seragam. Dan ya, Putra baru saja datang. Sekarang dia memang berubah, lebih hangat dari sebelumnya. Lesti tidak tuli, bahwa kedekatan mereka sering menjadi bahan obrolan atau canda rekan kerjanya.


“Hai!” Laki-laki berkacamata itu duduk di sampingnya dengan senyum sumringah.


Lesti membalasnya dengan senyuman.


“Kamu tadi berangkat dengan siapa?” tanya Putra to the point.


“Hm....” Haruskah ia jujur, baiklah mudah-mudahan ini tidak menggemparkan. “Sama Billar, fotografer itu,” bisik Lesti.


Putra membulatkan matanya, salah satu alisnya terangkat menandakan rasa kaget yang bombastis. Tapi, setelah Lesti menyuruhnya untuk tidak merespons berlebihan Putra kembali biasa lagi.


“Sejak kapan kamu kenal dia?” Putra sangat penasaran, ia tak percaya jika perjuangannya untuk dekat dengan Lesti ternyata ada saingannya.


“Tiga atau empat hari yang lalu,” balas Lesti masih dengan hati-hati.


“Berarti saat pemotretan kemarin, sebenarnya kalian itu udah kenal?”


“Iya, aku udah kenal.”


Putra memalingkan wajahnya dari Lesti. Pikiran Putra melayang mengingat-ingat wajah sang fotografer itu, ah, saingannya sangat berat. Namun, Putra bertekad untuk tetap melanjutkan tujuannya. Tidak mungkin ia memendam kembali rasa istimewa ini lebih lama lagi, apalagi posisinya sekarang adalah tikungan.


Putra enggak bisa diam, ia harus mendapatkan segalanya yang ada pada Lesti. Ingat si fotografer itu hanya orang baru, sementara dirinya sudah kenal lama dengan Lesti. Jangan sampai fakta ini memalukannya, jangan sampai.


“Hm, iya, kamu tunggu sebentar ya?” Putra beranjak dari samping Lesti menuju bar depan dan tempat produksi roti. Ia mencomot dua roti panggang, dan dua cangkir kopi. Kalian harus tahu, Putra akan terus bertekad untuk mendapatkan Lesti meskipun ia enggak tahu apa akhirnya nanti.


“Itu buat siapa Put?” tanya Ady yang baru saja kembali dari bangku pengunjung.


“Buat gue lah, tenang nanti gue bayar, gue lapar,” balas Putra tanpa ekspresi.


Putra menyajikan dua potong roti, dan dua gelas kopi late di atas nampan lalu membawanya ke ruangan khusus karyawan. Tentu saja apa yang dilakukan Putra menyita perhatian dari rekan kerjanya, tapi, Putra enggak peduli yang penting sekarang adalah memiliki Lesti seutuhnya.


“Les, nih aku bawain roti, kamu makan ya, biar saat kerja nanti kuat,” ujar Putra.


“Oh, makasih.” Lesti mencomot salah satu roti yang tersaji di sana, mengingat saat makan siang tadi Billar memesan makanan yang tidak mengenyangkan. Mungkin dengan sepotong roti ini, bisa menambah energinya.


Kebersamaan mereka terpotret oleh seluruh rekan kerja bahkan kamera tersembunyi, dan seluruh rekan kerjanya dibuat cemburu oleh tingkah mereka. Bahkan, beberapa dari mereka mengungkapkan rasa tidak percayanya atas Putra yang terkenal datar, dingin, dan parahnya mereka itu selalu berdebat. Namun, entah apa yang merasuki mereka berdua hingga sekarang mereka akur dan terlihat mesra.


“BTW, nanti pulangnya mau aku anterin?” tawar Putra.


Setelah menghabiskan makanan yang tersisa di mulutnya, Lesti menatap Putra. “Hm, enggak deh, aku pulang sama Billar, sori ya?”


Putra mengangguk. “Iya, tapi, kamu hati-hati. Posisi kamu kan baru kenal dia, siapa tahu dia itu punya niat jahat sama kamu?” Putra mengunyah kembali rotinya. “Kamu harus hati-hati sekarang banyak yang modus dengan menjual wajah yang tulus. Kamu pahamkan maksudku?”


Pikiran Lesti hampir saja setuju dengan apa yang baru saja diucapkan Putra, tapi hatinya langsung menepis semua itu kala ucapan Billar perihal enggak suka orang yang bohong. Tapi, sebagai bentuk menghargai kepada Putra, Lesti menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Iya, Put, aku juga hati-hati,” balas Lesti.


Tak terasa obrolan mereka harus terhenti, kala Ady membeberkan kalau sekarang waktunya shift yang dipimpin Putra yang bekerja. Sebelum ke lapangan, Lesti menghampiri Ardia yang masih terlihat murung.


“Ar, jangan nuduh gue kacang lupa kulit ya,” gurau Lesti.


“Hah?”


“Lo kenapa sih? Dari kemarin kelihatannya lesu banget, semangat dong!” ucap Lesti.


“Masalahnya masih sama. Btw, kok lo makin rapat sama Putra, lo jadian?” kata Ardia.


“Enggak, biasa aja tuh. Ini juga berkat lo, gue udah enggak debat lagi sama dia!” Lesti memajangkan senyumnya. “Eh, gue masih penasaran sama orang yang lo maksud?” lanjutnya.


“Yaelah, nanti juga lo tau!”


O0O


Di ruangan monokrom ini, Billar tak henti menatap foto kebersamaannya dengan Lesti. Ah, baru satu hari menjalankan hukuman yang sebenarnya adalah keinginannya, sudah kalap dengan suasana dan aura yang dipancarkan Lesti. Perempuan ini memang sulit untuk didefinisikan. Dia terlalu sempurna. Semoga memang jawaban atas dari doanya beberapa hari ini.


Beberapa saat kemudian, Billar kembali fokus ke layar laptopnya. Bukannya melanjutkan ppekerjaan, Billar malah mencari tempat-tempat eksotis yang terletak di Kota Kembang ini. Tempat yang akan menjadi saksi atas kebersamaannya dengan Lesti.


Saat tampilan laptopnya berubah menjadi layar yang menampilkan berbagai rekomendasi tempat bermain, seketika pikiran Billar berkelana meraih banyak hal-hal luar biasa yang akan dilakukannya bersama Lesti nanti.


Billar akan membawa Lesti berjalan menyusuri kebun teh dan bermain kejar-kejaran di sana, atau hanya sekadar menikmati alam dan kesejukan yang terjadi di bawah pohon pinus dengan secangkir kopi digenggamnya. Billar sudah tidak sabar melakukan hal itu dengan Lesti, apalagi menaiki kuda menyusuri savana dengan skenario indah. Bak pangeran dan putri raja yang dilanda asmara, di mana sang pangeran menuntun kuda yang ditunggangi putri, atau sang pangeran yang mengajari putri berkuda sambil memanah. Ah, Lesti membuatnya gila hari ini.


Imajinasi Billar teralihkan ketika notifikasi mengudara dari ponselnya. Ia melihat beberapa pesan dari Arfan, yang bisa-bisanya menghancurkan segalanya dalam satu paragraf.


Arfan:


Bii, minggu depan pemotretan di Bali. Management Amanda akan mengirimkan lima modelnya untuk bersaing ke kancah internasional. Gue gak bisa tangani lima model sekaligus, lo harus ikut sekalian promosi studio baru kita.


Arfan:


Besok Haris ke Bandung kan, nanti dia akan jelasin segalanya.


Billar:


Ok.


Seketika tubuh Billar terhempas ke sandaran kursi, laman web yang menampakkan tempat wisata lenyap dalam bayangannya seakan bersedih atas berita ini. Kenapa di setiap kali ia akan berjuang untuk pendekatan dengan perempuan yang didambakan selalu saja ada halangan. Dulu, saat dirinya menembak Amanda pun ada sesuatu yang menggemparkan di mana file foto milik pelanggan ada yang hilang hingga harus ada perdebatan.


Selain bersedih, Billar merasa enggak tenang ketika mendengar nama Amanda. Perempuan itu mendadak kembali hinggap dalam pikirannya, bukan untuk kembali bersamanya, tapi terasa mengganjal saja. Di saat dirinya berhasil move on, kepingan masa lalu malah hadir membuat kepingan itu dan berputar menampakkan segalanya.


Dengan perasaan malas, Billar melanjutkan pekerjaannya. Lupakan segalanya, ia harus profesional apalagi umur studio barunya ini masih sangat dini. Dan apa yang baru saja Arfan sampaikan memang benar, mungkin dengan memajang foto beberapa model terkenal nanti studio ini akan menjadi tambah ramai dikunjungi.


Tenang Bi, gak akan lama. Terpenting lo harus profesional, dan bersikap biasa saja saat berhadapan dengan Amanda....


Nama itu kembali terlibat dalam pemikirannya, membuat layar kerja di monitornya kembali terabaikan. Billar baru sadar kalau sampai saat ini foto bersama dengan Amanda masih terpajang di Instagramnya, cekatan ia langsung menghapus semua deretan foto tersebut.


Tok ... tok ... tok ...


“Silakan masuk,” ujar Billar.


Rendi memasuki ruangan pribadinya dengan membawa amplop cokelat. “Permisi Pak, ini ada surat dari Restoran Asli Bandung.”

__ADS_1


“Oh, makasih Ren. Oh, iya, kasih tau sama yang lainnya, minggu depan saya ada pemotretan ke Bali, kalian harus ekstra ya, dan saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore langsung tutup ya?” pinta Billar seraya membuka amplop cokelat tersebut.


“Siap, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Rendi seraya beranjak dari kantor ini.


Billar membaca lampiran surat tersebut yang ternyata isinya surat kerja sama. Billar tersenyum, MRB studio yang baru saja dibukanya ini langsung merebak ke acara seminar. Baiknya, seminar ini tidak bentrok dengan acara pemotretan di Bali sepertinya. Kalau pun bentrok, Billar akan memutuskan untuk pulang duluan, biarkan teman-temannya saja yang menghandle semuanya.


Tak terasa, sudah lebih dari tiga jam Billar mendekam di kantornya menyelesaikan pekerjaannya. Perutnya telah berseru meminta untuk diisi sesuatu yang mengenyangkan. Ini pun berarti, tiba saatnya ia memandangi Lesti bekerja.


Dengan semangat empat lima, Billar beranjak dan menyeru karyawannya untuk beristirahat sejenak. Kebetulan, sekarang studio sudah enggak ada lagi konsumen yang di foto. Kebanyakan mengambil hasil cetak dan edit.


Billar memasuki ruangan hangat ini, dan menyeru Lesti yang kebetulan berbalik dan menatapnya.


“Gue pesan roti kesukaan lo dua sama minuman kesukaan lo dua,” pesan Billar seraya menampakkan deretan giginya.


“Kok kesukaan gue?” heran Lesti.


“Gue pengin nyobain selera lo. Ayo cepetan, gue lapar,” ujar Billar tak menyurutkan senyumnya.


Lesti segera beranjak dari hadapan Billar dengan perasaan berdentum-dentum. Sembari menunggu pesanan Billar disiapkan, Lesti mengantarkan pesanan lainnya ke meja pelanggan yang sebenarnya sore ini tak seramai pada saat shiftnya Ady.


Selesai disiapkan, Lesti menyampaikan pesanan Billar. Sebelum benar-benar tiba di hadapannya ia menghela napas pendek, menenangkan. Lesti menyajikan pesanan Billar kemudian berbalik.


“Lo mau kemana, temenin gue bentar. Lo pikir gue bakal makan sebanyak ini gitu? Roti dua potong, kopi dua gelas, ya kali gue overdosis,” ujar Billar.


Lesti memutar tubuhnya. “Gue lagi kerja, gue gak bisa temenin lo.”


Billar mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat ini. “Semua pelanggan udah dapat jatahnya. Udah lo duduk aja, nanti gue bicara sama bos lo, pak Ghifar kan?”


“Tapi, Bi—“


“Lo takut?” Lesti tak menyahut. “Mana leader lo?”


Lesti memutar wajahnya, dan menunjuk laki-laki berkacamata yang ternyata menatap ke arahnya dengan dagu.


“Putra?”


Lesti mengangguk.


Billar bangkit dari duduknya, menghampiri Putra yang masih mempertahankan tatapannya hingga Billar berhadapan dengannya.


“Hai, lo Putra, kan?” tanya Billar dengan senang hati.


Putra mengangguk dengan wajah datarnya. “Kenapa, ada masalah dengan pelayanan kami?”


“Oh, enggak. Gue Billar, lo tau kan?”


Putra mengangguk. Tentu saja ia tahu, toh, Lesti tadi bercerita tentangnya ditambah kemarin ia dan Lesti baru saja dipotretnya.


“Gue mau minta waktu buat Lesti, gue mau ngobrol sebentar dengannya.” Billar mengedarkan pandangannya lagi. “Di sini semua pelanggannya sudah terpenuhi, jadi boleh kan gue minta waktu dengan Lesti?”


****! Apa laki-laki di hadapannya enggak tahu, kalau permintaannya ini sangat mengganggu perasaannya.


“Boleh, kan?” Billar mengulang permintaannya.


Putra enggak memiliki alasan yang bagus, apalagi suasana karyawan di sekitarnya terlihat santai. Ya sudahlah. Putra akhirnya mengangguk, dan memajangkan senyum kikuknya. “Silakan, sepuluh menit.”

__ADS_1


Billar tersenyum penuh kemenangan.


...O0O...


__ADS_2