Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Sah!


__ADS_3

Balutan kain putih berpadu renda keemasan melingkup setiap sudut ruangan besar nan luas ini. Deretan meja bundar dan kursi tamu berbalut kain putih memenuhi ruangan ini, beberapa orang dengan berbagai seragam batik berseliweran sana-sini mengecek satu persatu fasilitas yang menjadi bagian penting pada resepsi ini.


Di ruangan lain di gedung ini, seorang perempuan dengan balutan gaun putih dan hijab yang setiap sisinya dihiasi renda merasakan getaran hebat dalam dadanya. Tak perlu menunggu banyak waktu, ia akan resmi menjadi seorang istri dari sosok pemuda baik hati yang hadir dan selalu menamaninya selama ini.


Sekarang, getaran itu semakin hebat kala salah satu dari orang yang terlibat di pernikahan ini memberitakan kalau calon pasangannya telah tiba. Berkali-kali Lesti mengembuskan napasnya yang perlahan memburu ini. Ini adalah momen bahagia sekaligus mendebarkan yang akan membuatnya terharu penuh makna.


Suara selawat mulai membungkam gedung ini, getaran di dada Lesti semakin memeluk jiwa raganya. Kini sudah saatnya waktu bahagia itu tiba, Lesti dituntunnya untuk duduk di samping laki-laki yang sampai detik ini belum dilihatnya. Sebagian wajah Lesti tertutup cadar, dan tatapannya hanya fokus terhadap tangan menelungkup; berdoa.


Sambutan demi sambutan telah berlalu, beberapa orang telah melingkup di sekitar keduanya. Sejenak Billar menarik napas kemudian memaparkan senyum, beberapa karyawannya sedari tadi sigap mengabadikan momen bahagia. Bagaimana tidak? Setelah ini mereka akan resmi menjadi karyawan tetap.


“Bismillahirahmanirrahim ...”


Lagi-lagi Billar menarik napas, menenangkan kobaran semangat yang menggebu. Tatapannya begitu fokus terhadap laki-laki yang akan menjadi orang tuanya. Keduanya saling menjabat tangan dengan percaya diri.


“Saya nikahkan engkau ananda Billar Aswindra bin Aswindra Muhammad dengan Lesti Andriyani binti Abdul Rahman dengan maskawin perhiasan senilai lima puluh gram dibayar tunai.”


“Saya terima nikahnya Lesti Andriyani binti Abdul Rahman dengan maskawin perhiasan senilai lima puluh gram dibayar tunai.” Ucapan Billar terdengar berwibawa dan lancar dalam satu helaan napas.


“Gimana para saksi, sah?”


“SAH!”


Semua orang yang menyaksikan ini segera mengangkat kedua tangannya, melafalkan doa untuk sepasang manusia yang kini telah sah menjadi pasangan suami istri.


“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”


Billar menoleh ke arah Lesti dengan memajangkan senyum paling manis, dan tatapan bahagia penuh makna. Lesti mencium tangan Billar, kemudian sebagai balasan Billar mencium kening Lesti dengan begitu mesra.


Penantian selama tiga bulan, dan memastikan agar komitmen yang mereka buat tetap kuat bukanlah hal yang mudah. Berbagai macam kisah dengan segala permasalahan dan kebahagiaan berhasil mereka lewati hingga titik di mana mereka dipersatukan oleh ikatan yang mudah-mudahan abadi hingga surga nanti.


Keduanya berdiri menghadap banyak kamera yang berjejer di hadapannya, banyak pose mereka lakukan hingga di mana mereka menuju singgasana, teman-teman Billar pada bersorak meminta agar sang istri dipangkunya.


Tak perlu menunggu persetujuan Lesti, Billar langsung memangku Lesti bak putri raja dengan pangerannya. Melihat pemandangan seperti itu, semua tamu yang memenuhi gedung megah ini bersorak dan terharu sambil menyenandungkan tepuk tangan yang begitu meriah.


Billar menatap penuh cinta kepada wajah Lesti yang kini telah terlihat sepenuhnya, senyumnya tak pernah Billar pudarkan dari bibirnya. Begitu pula dengan Lesti yang tak pernah menenggelamkan ekspresi bahagianya. Mereka dipertemukan dengan takdir, juga dipersatukan oleh takdir. Mereka saling mencintai, dan tak ada ruang untuk membenci.


“Assalamualaikum bidadari surgaku?” ucap Billar lembut.


“Wa Alaikumsalam pangeran surgaku,” balas Lesti sama lembutnya dengan Billar.


Sebelum Billar menurunkan Lesti, para karyawannya pada heboh untuk tetap mempertahankannya. Entah berapa jepretan yang mereka dapatkan dari pose ini.


Lebih dari setengah jam, mereka memamerkan berbagai macam pose romantis di hadapan tamu undangan. Dan sampai saat ini rona kebahagiaan itu bertahan, hingga semua tamu menghadap mereka memberikan doa dan selamat kepadanya.

__ADS_1


“Selamat ya Bro!” ucap Arfan, disusul William dan Haris.


Ketiganya memberikan salaman kemudian berfoto dengan berbagai macam gaya. Sebelum turun dari singgasana, Arfan kembali menghadap Billar dan berbisik. “Jangan lupa live streaming malam pertamanya,” candanya.


“Anj*y!” balas Billar.


Arfan terkekeh lalu menyusul kedua temannya yang sudah antre untuk memuaskan perutnya. Sementara Billar dan Lesti terus melayani tamu yang hadir, hingga tiba saatnya mereka mengganti gaun pernikahan dengan pakaian adat sunda.


Balutan kebaya cokelat berhasil meringkus tubuh Lesti dengan sempurna, begitu juga dengan Billar. Namun, saat Lesti kembali duduk di singgasananya, ia terkejut bukan main atas kehadiran sang mantan lengkap dengan istrinya yang ia tebak sedang mengandung.


Seharusnya Lesti bersikap biasa saja, karena memang dari awal ia mengundangnya. Tadinya, ia tak akan mengundangnya, tapi, karena Billar yang menyuruh pada akhirnya satu undangan berhasil diterima sang mantan.


Dada Lesti berdegup kencang, tapi karena Billar mengetahui apa yang membuat istrinya tegang segera tangannya merangkul menenangkannya.


“Kenapa harus tegang, sayang?” tanya Billar. “Ini tuh untuk memperpanjang silaturahmi kita,” tambahnya.


Raziq beserta istrinya mengucapkan selamat juga melayangkan doa kepada Lesti dan Billar, begitu juga Billar yang tanpa Lesti duga bisa secepat itu akrabnya. Billar memberikan doa juga untuk Raziq, juga terhadap bayi yang tengah dikandungnya.


Dari ekor matanya, Lesti melihat Raziq dan ayah tampak berbincang sambil tersenyum bahagia. Melihat hal itu bibir Lesti kembali mengembang, dan menyetujui apa yang diucapkan Billar beberapa menit yang lalu.


Mata Lesti dan Billar melukiskan binar saat seluruh karyawan Kejora Coffe and Bakery turut hadir. Bahkan Lesti langsung melambaikan tangannya terhadap mereka semua dengan bahagia.


“Selamat, Ti!” seru Ardia yang langsung memeluk Lesti dengan erat. “Sorry datangnya telat padahal kita pengen nyaksiin ijab qabulnya, eh pak Ghifar malah kesal sendiri,” kesal Ardia.


“Lo kapan nyusul Ar?” tanya Lesti.


“Dih, mentang-mentang udah sah nanyanya gitu,” sewot Ardia. “Dahlah, mending kita foto dulu.” Ardia kembali menoleh ke Lesti, “Billarnya dong ajak,” sambung Ardia.


“Sayang, ayo selfie dulu,” kata Lesti.


Akhirnya mereka bertiga berfoto ria, lalu Ardia turun dari singgasana mengantre untuk melahap perjamuannya.


Putra, laki-laki itu tersenyum bahagia. Dia melayangkan doa dan selamat kepadanya, dan Lesti kembali dibuat terkejut oleh Billar yang malah merangkul laki-laki berkacamata ini.


“Cepet nyusul ya Put!” ujar Billar.


“Siap!” balasnya.


Dirasa tak ada lagi tamu yang datang, keduanya kembali memajangkan banyak pose. Mulai dari yang romantis hingga jenaka.


“Sayang kita nyanyi yuk?” ajak Billar sembari menatap podium yang diatasnya menampung penyanyi dan bandnya.


“Serius nyanyi?”

__ADS_1


“Udah ayo!” Billar langsung memapah Lesti menuju podium yang tak jauh dari pelaminan. Billar berbisik kepada pemain keyboard tentang lagu yang akan dinyanyikannya itu. Setelah itu, tatapannya menatap Lesti dengan penuh arti.


Kini terlewat sudah, masa penuh nestapa


Kutemukanmu di sini, di akhir pencarianku


Kusematkan janji, sehidup dan semati


Menghabiskan sisa hidup, hanya denganmu


Billar menghampiri Lesti yang menggoyangkan kepalanya anggun lengkap dengan senyum manis di bibirnya. Ia merangkul Lesti lalu mencium kepalanya penuh cinta.


Tak pernah kusangka, kau terima


Seluruh lebihku, bahkan kurangku


Tuhan aku bersumpah, biar langit saksinya


Dialah cinta terakhir, takkan ada yang lain


Keduanya tersenyum bahagia, di tengah alunan yang melaju tenang. Beberapa dari tamu undangan, banyak yang mengabadikan momen mereka kemudian men-share-nya ke sosial media.


Sekarang, Lesti meraih mik yang diberikan penyanyi. Ia akan mendampingi Billar menyanyi lagu ini. Lagu yang selalu Billar agungkan ketika masa komitmen dulu, dan dia juga berjanji akan menyanyikan lagu ini pada saat menikah. Dan dia menyanyikannya untuknya.


Kusematkan janji, sehidup dan semati


Menghabiskan sisa hidup, hanya denganmu


Tak pernah kusangka, kau terima


Seluruh lebihku, bahkan kurangku


Tuhan aku bersumpah, biar langit saksinya


Dialah cinta terakhir, takkan ada yang lain


Selamat datang di kisah baru Lesti dan Billar. Takdir telah menyatukan mereka dalam ikatan abadi, dan takdir selalu berperilaku adil pada siapa pun. Jangan pernah salahkan takdir, karena takdir mengetahui waktu terbaik untuk seluruh tokoh yang berada di dalamnya.


Bahkan, takdir telah mempersiapkan kejutan lain untuk mereka. Ini bukanlah akhir kisah mereka, melainkan awal untuk mendapatkan banyak kejutan yang mungkin salah satunya berbentuk ujian.


Takdir berkata kepada kalian, apakah mereka berhasil melewati ujian itu atau goyah hingga melupakan ikatan abadi?


...O0O...

__ADS_1


__ADS_2