Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Tiara dan Reina


__ADS_3

Sebelum memutuskan ke Jakarta, Tiara dan kedua orang tuanya sempat terkejut mendengar pernyataan Billar. Bagaimana bisa kakaknya diculik? Tiara melihat mereka tampak hancur, sedih, tiada henti untuk terus memanjatkan doa. Namun, bapak tetap percaya pada Billar, dia serahkan semuanya pada Tuhan dan keseriusan Billar. Hingga tiba waktu itu, waktu di mana Billar meminta bantuannya.


Awalnya Tiara enggak yakin, apalagi orang tuanya tampak ragu. Mereka enggak mau dirinya kenapa-kenapa, tapi sebisa mungkin ia meyakinkannya. Tiara juga enggak mau melihat semuanya menderita karena kehilangan kakak kandungnya. Meskipun sebenarnya, Tiara juga merasa takut, ia takut bernasib sama dengan kakaknya. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk melawan semua rasa takutnya demi kakak dan orang-orang yang merasa kehilangan kakaknya.


Tiara sudah bersiap untuk masuk ke kantor agensi yang Billar berikan alamatnya. Ia akan berpura-pura untuk menjalin kerja sama dengan salah satu model di sana, ia akan berpura-pura memilih Amanda. Kendatipun Tiara sudah mengetahui berita mengenai Amanda, kalau dia ditemukan tewas dan diduga bunuh diri.


Sebelum benar-benar berangkat, Tiara membeli sarapan dulu di depan indekosnya. Bubur ayam, sambil melakukan panggilan dengan kakak iparnya.


“Kak, aku berangkat sekarang!”


Kamu harus hati-hati jangan sampai yang lainnya pada curiga. Sasaran kamu Amanda sama Namira. Sebisa mungkin kau pancing, siapa tau ada titik terang yang kamu dapatkan.


“Iya, oke!”


Tanpa berlama-lama lagi, begitu suapan terakhir dihabiskan Tiara langsung beranjak ke tempat tujuan menggunakan ojek online. Hanya perlu dua puluh menit, Tiara sudah tiba di kantor agensi. Ia langsung masuk dan menghadap resepsionis.


“Permisi, kenalin saya Tiara, saya ingin mengajukan kerjasama untuk iklan produk sepatu dan tas,” ucap Tiara begitu berhadapan dengan wanita cantik di depannya.


“Boleh, silakan duduk dulu, biar saya siapkan katalog dari model-model yang tergabung dalam agensi kami,” balas wanita itu sambil berlalu, dan kembali dengan sebuah buku lalu diberikannya kepada Tiara.


Dengan saksama Tiara menatap satu persatu model cantik dan tampan yang ada di katalog. Tiara benar-benar terkejut dengan Amanda, perempuan ini memanglag sangat cantik. Terus ia menggulir halaman selanjutnya dan bertemu dan Namira. Berbeda dengan Amanda, Namira memiliki mata seperti pemeran antagonis, tapi dia memang sangat cantik.


“Hmmm, aku pengen pilih Amanda,” kata Tiara setelah berakting melihat-lihat banyak model.


Wajah si resepsionis tampak terkejut. “Ah, khusus untuk Amanda, mohon maaf kami tidak bisa. Karena beberapa hari lalu ada insiden yang menewaskannya. Kami belum sempat untuk memperbaiki katalog kami. Mohon maaf.”


Tiara terkejut. “Astaga! Padahal keleihatannya dia memiliki aura yang kuat di sini. Hm, ya udah aku pilih Namira aja.”


Setelah berbincang cukup lama, model yang akan melakukan kerja sama keluar. Tiara diarahkan untuk duduk di sofa dan memulai pembicaraan. Tiara menjelaskan banyak hal tentang produk yang ditawarkan, padahal demi apa pun produk yang Tiara jelaskan hanya imajinasinya. Tak lupa Tiara menghidupkan alat perekam di ponselnya, untuk menangkap kemungkinan yang akan keluar dari mulut Namira.


“Tadinya aku mau pilih kamu sama Amanda, namun sayangnya dia sudah tidak ada. Padahal aku yakin, dia model yang luar biasa, aura yang dipancarkannya begitu kuat, sekali lirik pasti orang-orang akan menoticenya.”


Namira tersentak sejenak. “Dia memang model yang luar biasa.”


“Benarkan? Sudah kuduga! Tapi takdir berkata lain, Tuhan sudah membawanya. Aku turut berduka cita. Apa dia sakit?” Tiara berusaha tenang.


Namira menggeleng ragu. “Entahlah, dia ditemukan tak bernyawa tiga hari kemudian.”


“Kalau sakit, sekarang dia udah enggak akan ngerasain sakit lagi. Dan jika ada sesuatu yang salah, seperti ada orang yang menyakitinya semoga segera terungkap. Keadilan harus tetap berjalan.”


Namira sedikit membuang muka dari Tiara, tak terasa air matanya menyembul.


“Eh, kamu kenapa? Pasti Amanda temen baik kamu! Aku minta maaf aku tidak bermaksud untuk mengingat kembali,” kata Tiara, meskipun tindak-tanduk Namira sedikit aneh menurutnya.


“Dia diracun!”


Tiara terkejut. “Benarkah? Siapa yang melakukannya? Tega sekali dia, astaga!!”


“Aku sudah tidak kuat, kau sudah melihatnya!”


O0O

__ADS_1


Setelah Billar memutuskan masuk, Reina terdiam kembali menimbang-nimbang kecurigaan yang ia pupuk dalam diri Billar. Bagaimana tidak orang terakhir yang berada di ranjang dan bertopeng hanya Billar bukan orang lain. Sebagai adik Amanda atau pendengar cerita dari kakaknya itu sudah pasti akan mencurigai Billar, meski pada saat itu Amanda bersikeras kalau bukan Billar pelakunya.


Begitu Reina berbicara dengan Billar barusan, sepertinya ia harus menurunkan rasa curiga pada Billar. Reina tahu kalau laki-laki itu memanglah orang baik, tapi namanya juga manusia kejahatan bisa terjadi pada siapa saja entah itu orang yang dianggap baik atau memang orang yang benar-benar jahat.


Di saat Reina hendak bangkit dari duduknya, matanya tertuju pada Arfan yang berjalan dengan sekeresek makanan yang di belinya. Dia tersenyum, dan tiba-tiba duduk di sampingnya. Reina mengurungkan niat untuk pergi masuk, ia menghargai Arfan yang kini menatapnya.


Reina memang sudah tahu Arfan, karena beberapa kali selalu ikut kakak kerja. Ia selalu melihat pemotretannya, dan ya Arfan memang sangat baik. Matanya cokelat terang, kalem, dan pada saat lamar pekerjaan dia sedikit jenaka. Tunggu ... apa ia tidak terlalu berlebihan memuji sosok di sampingnya ini? Tapi faktanya, Reina benar-benar jatuh terhadap pesona yang ditawarkan Arfan. Mungkin jika ia adalah Amanda, mungkin akan lebih memilih Arfan dibandingkan Billar sebagai pacarnya. Namun semua itu kembali pada sudut pandang masing-masing.


“Kok kamu di luar terus, Re? Kenapa enggak gabung?” Pertanyaan ini hampir sama dengan yang dilontarkan Billar baru saja.


“Lagi pengen sendiri, Kak. Masih kepikiran sama Kakak,” balas Reina sediih.


“Kamu yang sabar ya, Re. Mungkin memang ini jalannya, tidak ada yang bisa menyangkalnya. Semua berjalan secara tiba-tiba,” balas Arfan seraya mengelus pelan bahu Reina.


Sedikit kaget, tapi tubuh Reina tetap pada ketenangan saat Arfan memegang bahunya. “I-iya, terima kasih.”


“Malam ini kamu mau ikut enggak malam ini? Siapa tau sedih kamu hilang, meskipun kehilangan seseorang yang disayangi akan sangat butuh waktu lama untuk bangkit. Tapi, setidaknya kamu merasa sedikit baikkan.” Arfan menatap penuh Reina.


“Ke mana, Kak?” tanya Reina.


“Rahasia, yang jelas pasti kamu happy, kalo mau ikut nanti aku jemput kamu,” balas Arfan.


Reina menimbang-nimbang tawaran Arfan, memang ada benarnya mungkin dengan sedikit hiburan malam ini setidaknya ia akan merasa sedikit lebih baik dari biasanya. Dan dengan begini mungkin, rasa ingin mengenali lebih jauh tentang Arfan akan berhasil. Reina menyukai Arfan, tanpa perdebatan.


“Baiklah, nanti aku hubungi Kakak.” Reina tersenyum manis. “Makasih udah ajak aku, Kak.”


“Iya, jangan lupa harus tampil cantik ya!” Arfan beranjak meninggalkan Reina. Memang dari dulu, Reina dan Amanda membuat dirinya kagum. Selain baik, wajah mereka pun mirip, bahkan sekilas mereka seperti saudara kembar. Arfan tidak sabar untuk bersenang-senang dengan Reina.


“Kenapa lo, datang-datang kesemsem kek gitu?” tanya Vio, menatap sekilas sebelum akhirnya fokus lagi pada projek pertamanya di MRB.


“Lagi bucin kayaknya,” timpal Arif yang tengah memgutak-atik kamera digital yang di talinya dikalungkan.


“Kak Arfan ngajak gue main malam ini,” bisik Reina, membuat Vio menghentikan pekerjaannya. Begitu pula Arif, yang tiba-tiba mendekat karena penasaran.


“Demi apa?” Vio tidak percaya. Jujur kesan pertama yang Vio dapatkan dari Kak Arfan agak sedikit menakutkan, dia sangat serius pada saat itu, bahkan tersenyum pun sepertinya jarang sekali, berbanding terbalik dengan Kak William.


“Ada apa, nih?” serobot Arif.


“Re, kayaknya Kak Arfan bakalan nembak lo malam ini,” kata Vio.


“Hah?” Arif tidak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.


Vio menatap Arif. “Lo tau, Reina diajak main tuh sama Kak Arfan malam ini.”


“Wuih!!!”


“Gue setuju sih, dan gue harap lo nerima dia kalo beneran nembak,” terang Vio kesenangan.


Reina mengerutkan dahinya. “Apaan sih, ini cuma main doang, siapa tau Kak Arfan udah punya pacar.”


“Kali dia punya pacar, gak bakalan ngajak lo main,” ketus Arif.

__ADS_1


“Betul! Kalo misalkan lo jadi pacar Kak Arfan, lo bisa minta dia buat angkat kita jadi karyawan tetap, kan enak. Iya gak, Rif?”


Arif membeliak. “Betul! Kita gak bakalan susah lagi cari kerja sana-sini!”


“Ada apa nih?” gebrak William tiba-tiba, membuat ketiganya terkejut, saling pandang dan salah tingkah.


“E-enggak ada kok, Kak Will,” balas Reina cepat.


O0O


Malamnya Reina sudah bersiap, demi acara ini Reina berbohong pada orang tuanya. Baru kali ini ia main bersama laki-laki malam hari, tentu saja orang tuanya tidak akan mengizinkannya. Reina berkata kepada orang tuanya, kalau ia akan nonton bersama teman-temannya, ya teman-temannya yang ia tumbalkan agar dirinya bisa main dengan Arfan. Meskipun sebenarnya, keluarganya sudah tahu siapa Arfan. Namun, tetap saja Reina takut tidak diizinkan.


Reina berjalan sendirian dari komplek rumah ke luar komplek, sambil melayangkan pesan kepada Arfan kalau dirinya sudah berada di depan komplek. Tidak perlu menunggu lama, Arfan tiba di depannya.


“Hai, kamu siap untuk bersenang-senang malam ini?” tanya Arfan.


“Siap, dong!” balas Reina sedikit malu-malu.


Arfan tersenyum, begitu Reina duduk di boncengannya, segera Arfan menarik gasnya. Arfan membawa Reina berkeliling jalanan kota, kemudian berhenti di salah satu tempat makan jalanan. Mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sini, tempat jual ayam bakar, goreng, dan soto.


“Kita makan dulu, ya?” Arfan memandang Reina.


Reina mengangguk dan duduk di samping Arfan.


Arfan dan Reina sama-sama memesan soto, dan langsung menyantapnya begitu dua soto tersaji di depannya. Di tengah-tengah ritual ini, Arfan menjelaskan kalau tempat ini adalah langganannya.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan menyusuri jalanan kota, hinggap di monas, hinggap di beberapa taman, dan sekarang sebuah tempat yang gemerlap ada di hadapan mereka. Reina terkejut ketika Arfan membawanya ke tempat ini, demi apa pun Reina belum pernah bermain ke tempat ini atau semacamnya.


“Kak?” Reina meminta kejelasan kepada Arfan.


“Ayolah Re, tenang aja. Di sana kita cuma bersenang-senang. Tidak apa-apa, kamu tidak perlu takut,” terang Arfan yang langsung menarik Reina.


Gemerlap lampu disko yang beradu dengan musik yang menggema membuat dada Reina turut berdebar mengimbanginya. Arfan membawanya duduk di depan bar, dan dia memesan sebuah minuman yang Reina sendiri tidak tahu minuman apa.


“Kak aku mau pulang,” kata Reina.


“Re, tidak apa-apa. Kita santai dulu, setelah itu kita pulang. Sebentar saja.” Arfan meyakinkan Reina.


Arfan menuangkan sebotol minuman itu ke dua cangkir, diikuti dengan sebuah serbuk yang juga tertuang di sana. Sayang sekali, Reina tidak melihatnya, perempuan itu malah mengedarkan matanya yang berselimut rasa takut.


“Coba kau minum,” kata Arfan.


Reina mengerutkan dahi, lalu menggeleng lemah. “E-enggak, Kak.”


Arfan menatap penuh wajah Reina. “Re, percaya padaku. Kamu enggak akan kenapa-kenapa.”


Arfan memberikan isyarat agar Reina menegaknya, dan dengan perasaan tak menentu Reina meminumnya. Aneh, sedikit panas ditenggorokan. Reina melihat Arfan tersenyum, dan ia membalasnya meskipun terpaksa.


“Gimana?” Arfan menatap bahagia Reina. “Apa kamu merasakan kebahagiaan setelah meminumnya, Re?”


Sial! Siapa sebenarnya Arfan ini? Kenapa dia tampak berbeda dengan Arfan yang berada di studio?

__ADS_1


...O0O ...


__ADS_2