
Beberapa menit sebelum azan berkumandang, Lesti terbangung dari tidur siangnya. Ia mengerjap beberapa kali beradaptasi dengan cahaya yang mengurung ruangan yang sangat luas jika dibandingkan dengan kamarnya di rumah orang tuanya. Sejenak Lesti menatap suaminya, teringat masa-masa indah yang dilaluinya. Terkadang Lesti tidak percaya jika laki-laki ‘baru’ ini berhasil memgambil seluruh semestanya. Dia hanya fotografer menyebalkan, yang sedikit memaksa untuk mengantarnya pulang pada saat itu.
Ah, karena kenangan itu Lesti kembali teringat akan alur waktu ketika dirinya bekerja di Kejora Cofee and Bakery. Lesti habiskan semua waktunya di sana, seminggu begitu dinyatakan lulus sekolah Lesti dan Ardia langsung keterima kerja.
Lesti bangkit menuju balkon, menatap hawa kota Jakarta yang panas juga diiringi dengan angin sepoi-sepoi meskipun sedikit gagal dalam mengusir panas dan gerah. Setelah itu Lesti kembali dan menutup pintu balkon, dan terdiam beberapa saat ketika Billar melenguh, dan berguling ke arahnya.
“Amanda....” Bibir Billar mengatup menyebut nama Amanda nyaris mendesah.
Sontak tatapan Lesti terbelalak mendengar nama yang terucap, dada Lesti berdetak lebih cepat dari biasanya. Seakan ada yang mencabik perasaannya, kaki Lesti mendadak kehilangan tenaga yang membuatnya runtuh dalam sandaran pintu.
“Manda....”
Tak terasa dua mata Lesti berkaca-kaca mendengar nama yang sama untuk kedua kalinya, apa dia sedang memimpikannya? Sebesar itu kah perasaan khawatir Billar terhadap mantannya itu? Bagaimana dengan Lesti? Entahlah. Perempuan yang kini memeluk lututnya guna menahan isak, hanya bisa terdiam. Apa yang Billar katakan seakan kata magis yang mengutuknya menjadi batu.
Ya Allah, kenapa rasanya sakit sekali ketika mendengar itu....
Tangan Lesti menyeka air mata yang perlahan turun membasahi dua belah pipinya, lantas ia kembali membuka pintu balkon lalu duduk di kursi sana menatap semesta. Lesti hanya kaget mendengarnya, ia tahu ini terjadi ketika dia tidak sadar, tapi apa maksudnya? Lesti tahu hubungan Billar dan Amanda berlangsung lama, tapi lucukah hal ini terjadi ketika ia dan Billar bersatu dalam ikatan suci.
Sekali lagi Lesti menyeka air mata yang kembali menunjukkan keberadaannya, sesekali ia beristighfar diiringi dengan helaan napas panjang mengatur deru yang menggebu dalam dada.
Bersamaan dengan azan zuhur berkumandang, Lesti bangkit dan berlalu menuju kamar mandi sambil menenteng handuknya. Selain gerah, Lesti ingin menghapus bekas kesedihannya yang terlukis di pipi.
Sementara Billar, baru bangun ketika suara entakkan dari pintu kamar mandi terdengar. Samar-samar ia juga mendengar kumandang azan, ia tidak menyangka jika selama tidurnya ini dipenuhi dengan kenangannya bersama Amanda. Dia hanya mantan—seharusnya—namun entah kenapa kasus yang menimpanya itu membawanya kembali pada kisah yang ia anggap telah selesai.
“Amanda....” gumamnya.
Billar bangkit dari tempat tidurnya, lalu mematikan AC dan membuka pintu balkon selebar-lebarnya. Ia duduk memandangi gedung-gedung pencakar langit yang di beberapa kaca di sana memantulkan cahaya matahari dengan intensitas lumayan besar.
Ting!
Ting!
Ponsel Billar berdering, dengan sebal ia menoleh ke belakang melihat ponselnya yang bergoyang di atas nakas. Segera ia meraihnya, seketika dahinya berkerut, bukannya beberapa jam lalu dia datang kemari?
“Halo?”
Bi, sorry gue lupa tadi mau ngasih tau lo, gue buka loker buat gantiin Opi di depan. Beberapa kandidat udah ada yang datang, mereka sedang nunggu karena kantor lagi istirahat.
__ADS_1
“Oke, buat admin, kan?”
Admin sama editor buat majalah soalnya William udah gak bisa handle lagi, kerja sama dengan perusahaan pun makin bertambah
“Iya, serah lo. Yang penting jangan sampe keteteran, dan gak buat pihak sana kecewa. Banyak ya yang lamar?”
Sejauh ini sekitar lima belas, mungkin. Gue share info lokernya kemarin sore
“Gue nanti ke sana, udah lama juga enggak ngontrol!”
Sekalian aja lo yang tes deh
“Lo aja, gue cuma ngecek doang, gue gak bisa fokus. Gue masih kepikiran sama kasus Amanda, gue pengen cari tau dulu orang di balik kehamilan Amanda.”
Okedeh, serah lo aja. Tapi lo harus inget lo itu udah punya istri, lo punya tanggung jawab. Kalo gitu bye!
Billar terdiam sejenak, ia tahun kalau dirinya sudah menikah. Lesti pun menyetujuinya untuk kasus ini. Setelah ke Sumba, Billar memutuskan untuk ke Bali mencari bukti di hotel yang ia tempati waktu itu. Meskipun bukti berupa rekaman CCTV sangatlah mustahil, toh ini terjadi ketika listrik padam.
Namun, Billar berharap ada seseorang yang sadar akan sesuatu yang menjurus terhadap kasus ini. Tunggu ... bukannya Amanda memiliki mantan? Billar menggeleng ragu. Selama ia menjalin asmara dengan Amanda, tidak pernah sedikit pun ia menyinggung masa lalu Amanda. Bukan hanya kepada Amanda, tetapi kepada Lesti juga.
Billar tersentak dan menoleh. “Kamu mandi lagi, gerah ya?”
Lesti mengangguk seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Kayaknya kalo aku tinggal di sini, bakalan ngabisin waktu dengan berendam deh.”
Billar terkekeh kemudian menyimpan ponselnya di atas nakas, ia terduduk sebentar sambil memandangi Lesti. Ya, setelah menikah, Billar bisa menikmati Lesti tanpa hijab. Rambutnya indah, lurus, sepunggung.
“Kenapa liatin terus?” singgung Lesti.
“Kamu cantik,” puji Billar.
“Sa ae! Cepetan mandi, atau wudu, kita salat bareng,” ujar Lesti.
“Cie mentang-mentang dah jadi suami pengen diimamin, padahal dulu gak mau,” goda Billar yang sebenarnya setelah pesta pernikahannya selesai, ia yang pertama kali menyuarakan untuk salat berjamaan terus.
“Apaan sih, kan emang suamiku, mada iya aku yang jadi imam,” kesal Lesti.
Akhirnya Billar bangkit dari duduknya dan menatap penuh wajah Lesti. “Iya, iya, nanti abis ini kita ke studio. Kita ngontrol. Sekarang kan kamu jafi Bu Bos Mrs. Lesti Aswindra.”
__ADS_1
“Iya cepetan, jangan ngomong terus!”
Sebagai akhir dari obrolan ini, tiba-tiba Billar mencubit dua belah pipi Lesti yang memggemaskan itu. Lalu memcium keningnya, sebelum akhirnya ia berlari sambil meraih handuk, menghindari amarah Lesti yang sebenarnya tak kalah menggemaskan.
“Ish!” Lesti mengejar Billar dan tertahan di depan pintu. Matanya membelalak, ketika tatapan Billar berubah menjadi menyeramkan. Dia menggigit bibir bawahnya perlahan. Dia mendekat, sambil hendak membuka kaosnya.
“Ma-mau ngapain kamu?” tanya Lesti, gugup.
“Menurut kamu?”
Begitu kaos yang membungkus tubuh Billar terlepas seutuhnya, Lesti langsung berlari keluar dan setengah berteriak.
“AAAaaaa!!!”
Billar yang sudah serius terkejut sebelum akhirnya terkekeh melihat tingkah istrinya itu, padahal dirinya belum beraksi, bahkan pemanasan pun belum. Ya, keduanya sepakat untuk trip semanis madu ke Sumba. Disanalah mereka akan bersenang-senang.
Ternyata teriakan Lesti terdengar oleh Ibu, bahkan mereka hampir saja bertabrakan. Ibu menatap khawatir kepada Lesti. “Kamu kenapa?”
Lesti terdiam cukup lama, ada rasa malu yang menjalar pada tubu Lesti. “A-A-nu, Bu. Em, e-enggak apa-apa. “
Seakan bisa membaca gelagat Lesti, Ibu malah terkekeh geli seraya menepuk pelan bahu Lesti. “Billar terlalu aktif? Maklum dia emang spesial, ‘anak sapi'. Selama balita dia pake susu formula soalnya.”
“Eh, e-enggak, Bu. Bukan itu,” sangkal Lesti malu. “Ta-tadi ada kecoa.”
“Kecoa? Enggak apa-apa. Yuk, eh—mau Ibu anter atau sendiri?” Rona menggelikan dari wajah Ibu masih tergambar di sana, ah pasangan ini membuatnya nostalgia.
Bukannya hilang malah tambah malu. “E-enggak usah Bu. Kalo gitu aku ke kamar dulu ya?”
“Iya!” Ibu kembali terkekeh, sebelum akhirnya berlalu.
Lesti menghela napas panjang, sikap suaminya benar-benar menyebalkan. Ketika Lesti membuka pintu, matanya kembali membeliak. Ia melihat suaminya telanjang dada di atas kasur dan betselimut.
“Sayang,” godanya.
“AAAAA!!!!”
...O0O ...
__ADS_1