Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Teror?


__ADS_3

DALAM hitungan menit jarum pendek jam akan singgah di angka sebelas tepat. Siklus simpang siur kendaraan mulai melenggang, membuat Billar dengan lihai memainkan motornya berkelok-kelok seraya tertawa kecil. Entah ke berapa kali, Lesti memukul kecil punggungnya akibat dari candaan ini.


Sejenak Billar menghentikan aksinya, setelah beberapa menit Billar kembali melakukan hal serupa. Selain untuk menghibur diri, Billar ingin benar-benar merasa dekat dengan Lesti dari berbagai sisi.


“Billar! Kalo jatuh gimana?” bentak Lesti.


“Ya kalo jatuh ke bawah, masa ke atas,” canda Billar, cengengesan.


“Billar, gue serius! Gue gak suka!” bentak Lesti, lagi.


Billar menghentikan aksinya dan tertawa puas sementara Lesti sangat kesal atas apa yang dilakukannya. Lesti enggak habis pikir, kenapa dia melakukan hal yang bisa mencelakai diri dan orang lain? Bukannya keren, malah terlihat sok asik seolah memiliki nyawa sembilan.


“Gue minta maaf, lagian diem mulu. Kenapa sih?” tanya Billar.


“Enggak ada apa-apa,” balasnya.


“Gak usah nutupi masalah dengan bilang enggak apa-apa, terbuka aja, siapa tahu gue bisa bantu. Kecuali kalo masalahnya karena kedekatan gue ke lo, jelas banget kalo itu gue tolak mentah-mentah,” terang Billar. “Ayo cerita,” lanjutnya.


“Kalo lo dapat tuduhan yang menyesakkan, apa yang akan lo lakukan?” tanya Lesti, setelah berpikir apakah ia perlu mengungkapkan DM itu atau biarkan saja.


“Selagi enggak ganggu kehidupan gue, sama jauh dari kata fakta, biarin aja. Emang sudah zamannya manusia memerankan banyak peran. Ada yang mulus di depan tapi minus di belakang. Ada yang baik di depan, tapi buruk di belakang. Hal ini tuh udah menjadi siklus di zaman sekarang.” Tatapan Billar fokus ke jalanan, dengan kecepatan motor ia turunkan guna untuk menikmati perjalanan. “Emang lo dituduh apa?” lanjutnya.


“Entahlah, gue merasa di antara fakta dan tidak,” balas Lesti seperlunya.


“Lo minta maaf aja, biarpun yang nuduh gak nerima seenggaknya lo udah minta maaf,” timpal Billar.


Setelah itu keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Billar tersentak ketika bapak Rahman tengah menunggu di teras depan sambil ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi.


Lesti langsung berlari menyalami ayahnya dan masuk ke rumah begitu saja. Sedangkan Billar setelah salam, ia duduk berdampingan dengan ayahnya Lesti. Sebelum memulai percakapan Billar membenahi duduknya agar terasa lebih nyaman.


“Maaf Pak, agak telat beberapa menit soalnya tadi kita ngambil jalan yang agak jauhan dikit,” ujar Billar dengan kekehan pelan di ujung kalimatnya.


“Enggak apa-apa, kenapa Lesti?”


“Tadi saya ngobrol dengannya, ada tuduhan yang membuatnya sesak, tapi, saya enggak tahu apa dan siapa yang menuduhnya,” jelas Billar.


Rahman menoleh ke arah Billar. “Kamu mau ngopi juga?” tawarnya.


“Enggak Pak, saya mau pamit sekarang,” balas Billar seraya bangkit dari duduknya dan kembali menyalimi Rahman. “Assalamualaikum.”


“Wa Alaikumsalam.”


O0O


Lesti mengempaskan tubuhnya ke atas kasur, meluapkan segala lelah terhadap benda empuk ini. Lagi-lagi ucapan Billar membuat dadanya terenyuh, larut di dalamnya. Memang DM itu tidak membuatnya terganggu, tapi kata ‘munafik’ yang tertoreh di sana cukup tajam di hatinya. Lesti berharap ini cuma orang iseng saja.


Detik ini juga, Lesti mengalihkan pikirannya kepada apa saja yang sudah ia lewati dengan Billar. Hari ini nyaris sempurna jika tanpa kehadiran DM itu. Di mana awalnya ia sangat keberatan sama hukuman Billar, dan di luar dugaan laki-laki itu malah membuat hukuman itu terasa manis dan ... candu.


Hal ini membuat Lesti ingin lekas-lekas kembali bertemu dengan Billar, ingin kembali menjelajahi semesta yang dipenuhi warna ini. Lesti mengecek kembali foto-foto hasil jepretan Billar satu persatu. Laki-laki itu memang fotografer profesional, hasil jepretannya sangat memuaskan.


Lesti tersenyum ketika slide selanjutnya menunjukkan foto dirinya dengan Billar, ah senyum yang Billar pancarkan dari foto tersebut sangat menular. Ini benar-benar menakjubkan. Semesta tengah tertawa menyayangkan aksi sok enggak terima dekat dengan Billar. Menyedihkan.

__ADS_1


Pandangan Lesti beralih pada benda yang melingkar di tangan kanannya yang saling berimpitan dengan gelang pemberian Putra. Jam kayu dengan ukiran indah itu menjadi saksi awal atas kisah mereka yang sesungguhnya.


“Billar Aswindra.” Begitulah sepenggal nama yang terpampang di akun Instagramnya.


Bayangan itu lenyap, berotasi menunjuk ke kejadian di mana Putra mengungkapkan perasaannya. Laki-laki berkacamata itu berhasil membuatnya membeku tak bersuara, dilingkup kebingungan, dan debar tak menentu. Ada seberkas kesedihan ketika ia menjawab atas apa yang diungkapkannya, dengan hela napas dia meninggalkannya. Senyum yang terlihat tulus kala itu, berubah kaku pada malam ini.


Lesti memejamkan matanya, berusaha mengakhiri segala yang merasuki pikirannya. Tubuhnya berguling sana-sini mencari alas ternyaman untuk menopangnya. Berharap mimpi malam ini tak menyangkut apa yang terjadi hari ini, peri mimpi harus membawanya jauh-jauh dari sana.


Tak perlu banyak menit, peri mimpi itu membawa jiwa Lesti berkelana ke negeri antah berantah. Syukurlah di negeri itu Lesti tidak bertemu Billar atau pun Putra. Negeri itu terlihat sangat indah dan berwarna. Lesti tak mau menyia-nyiakan dan mengubah mimpi ini menjadi mimpi yang tak diharapkannya. Lesti berlari dengan senyum merekah di sana.


Seekor kupu-kupu menjadi incarannya, dan membawanya ke dua tempat yang saling berdampingan. Kupu-kupu itu terbang ke sebuah bangunan yang didominasi warna biru, dan masuk. Sedangkan Lesti tersentak saat siluet manusia tertangkap di oleh matanya. Kakinya melangkah untuk mendekati siluet tersebut, namun sesuatu membuatnya terempas dan jatuh ke sebuah pelukan seseorang. Siluet itu berontak dan mengubah uluran tangannya menjadi sebuah lambaian. Apa maksudnya?


Lesti menoleh cepat kepada sosok yang menangkapnya, namun seberkas cahaya membuatnya kalap dan hanya menangkap senyum dari sosok itu. Cahaya itu membangunkannya dari mimpi.


“Ah ... uh!”


Cekatan Lesti bangun dari tidurnya, melihat jam yang melingkar di tangannya. Ah, mimpi singkat itu menyita banyak waktu. Sekarang sudah menunjukkan pukul tiga lebih tiga puluh lima menit. Lesti melenguh dan membayangkan sosok yang hadir dalam mimpinya, apa ini sebuah jawaban atas doa-doanya? Entahlah, mimpi itu masih sangat tidak jelas.


Setelah jiwa raganya beradaptasi dengan sekitarnya, Lesti bangkit dari tempat tidurnya hendak melangsungkan salat sunah. Ia ingin berkhalwat dengan Allah pagi ini, ingin curhat tentang semua masalahnya.


“Lesti?” sapa Mala.


Lesti tersenyum, memeluk ibunya dengan rasa kantuk yang masih tinggal di matanya.


“Tadi malam mamah udah cerita sama bapak tentang permintaan kamu, tapi, bapak tolak karena percaya kalau Billar itu anak baik. Bapak sudah mengetahui kisah Billar, jadi ya begitu. Kamu enggak di apa-apain kan sama Billar?” Mala menatap serius anak sulungnya ini.


Lesti mengangguk. “Dia memang baik, tapi menyebalkan.”


“Ya udah kamu mau salat kan?”


Lesti melepaskan pelukannya dan segera berwudu. Air di jam sepagi ini telah menyusuri lekuk mulut, wajah, tangan, kepala, dan kakinya. Sungguh menyegarkan. Selesai berwudu, Lesti menggelar sajadah dan mulai fokus.


“... ya Allah berilah hamba petunjuk atas apa yang sedang hamba alami. Hamba bimbang, hamba tidak mau jika apa yang hamba pilih akan menimbulkan sakit bagi yang lain ...”


O0O


Diam-diam seseorang telah memasuki kamar Lesti. Bibirnya mengulum senyum, dan kakinya melangkah pelan sampai enggak terdengar suara jejaknya. Setelah kemarin-kemarin disibukkan kuliah di jam pagi hingga sore, akhirnya ia bisa menghirup udara kebebasan yang akan berakhir beberapa jam ke depan. Ya ia akan kuliah di jam siang hari ini.


Hatinya menghitung mundur ketika jaraknya tinggal beberapa langkah lagi. Tepat di hitungan satu, ia melempar tubuhnya ke atas kasur Lesti sambil berteriak.


“KAK LESTI!!!”


Lesti tesentak kaget bukan main. Kenapa adiknya ini selalu mengganggunya. Setelah bersyukur kemarin karena Tiara kuliah dari pagi hingga sore, kini perempuan mungil ini kembali kepada kebiasaan enggak ada akhlaknya.


“Bangun dong, udah siang ini sejam lagi zuhur!” ujar Tiara seraya menggoyang-goyang tubuh Lesti.


Lesti mendengkus kesal, dan semakin menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Ia masih mengantuk, tubuhnya masih terasa lelah.


Karena usaha membangunkan kakaknya gagal, Tiara tersenyum usil ketika sepercik ide muncul di otaknya. “Kakak ini sulit banget dibangunin, mau laki-laki ganteng itu yang bangunin?”


Lesti membelalak dan segera bangkit. Jiwa yang belum sepenuhnya siap di raganya, mendadak menerkamnya. Pandangannya langsung menoleh ke arah Tiara dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


“Siapa? Ada siapa?” tanya Lesti dengan tangan gesit membenahi kerudungnya yang tak beraturan.


“Lihat aja sendiri,” balas Tiara, yang sebenarnya sudah tidak tahan untuk tertawa.


Lesti berjalan mengendap-endap ke arah ruang tamu, tapi kosong tidak ada apa-apa. Tatapannya beralih ke luar pintu, dan menangkap sosok Mala yang baru saja pulang dari warung.


“Cari apa?”


“Katanya ada tamu, mana?” tanya Lesti.


Mala mengerutkan dahinya. “Tamu, gak ada kok.”


Artinya, Tiara telah membohonginya. Keterlaluan sekali adiknya ini telah mengganggu kenyamanan tidur dengan ide murahan seperti ini. Tunggu ... sudah tahu murahan kenapa ia menunaikan ide itu.


“TIARA!!!”


Lesti kembali berjalan ke kamarnya. Melihat Tiara yang sudah tertawa puas, Lesti langsung mengejarnya dan melempar bantal-guling ke arah Tiara, hingga akhirnya Tiara menyerah dan membiarkan dirinya mencubit gemas pipi Tiara sampai merah.


“Aw! Sakit tahu, lagian Kakak ini kalo dibanguni susah banget!” keluh Tiara.


“Ish nyebelin deh!”


Tiara menampakkan deretan giginya. “Kak, kata bapak, Kakak lagi dekat dengan laki-laki baru ya?”


“Iya, dia ganteng banget ngalahin oppa-oppa korea yang selalu kamu manja-manjain itu,” jawab Lesti kesal.


“Dih, gak usah bawa-bawa oppa deh! Mana lihat dong fotonya, aku penasaran. Soalnya bapak muji-muji terus,” pinta Tiara.


“Muji gimana?”


“Dia baik, ganteng, kalo ngobrol asik, terus dia berdoa kalo kalian itu jodoh,” terang Tiara.


Lesti mendadak beku, apa ia tidak salah dengar kalau bapaknya mendoakan hubungannya dengan Billar?


“Eh, malah bengong! Mana fotonya!” Tiara menepuk halus bahu kakaknya, dan mengedarkan pandangannya mencari benda pipih itu. Dan tertangkap. Cekatan Tiara meraihnya dan berusaha menggasak ponsel kakaknya.


Melihat apa yang dilakukan adiknya itu, Lesti langsung merebutnya. “Kebiasaan deh.” Lesti membuka paswordnya dan mengaktifkan data ponselnya.


“Mana Kak? Lihat,” ujar Tiara.


Lesti malah membelalakkan kedua bola matanya, ketika sepenggal nama yang sudah tak asing lagi di matanya memenuhi notifikasi Instagram. Perempuan yang menuduhnya sebagai perempuan munafik kembali menerornya. Sekarang Lesti paham, akun ini bukanlah orang iseng melainkan memang kesengajaan.


­@ayu_liyanti


Lah dikacangin! Dasar munafik!


Lesti menghela napas, lalu kembali memeriksa akun tersebut. Ia melihat postingan terbaru dari akun ini, dan akun ini kembali melampiaskan kekesalannya di sana.


Dichat diabaikan, harus diapain nih orang? Ya kali gue kirim santet, canda santet. Wkwkwk.


“Kak, kenapa?” tanya Tiara ketika mengetahui raut wajah Lesti berubah masam.

__ADS_1


Lesti mengerjap dan menggelengkan kepalanya. “Enggak apa-apa.”


...O0O...


__ADS_2