Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Fitnah


__ADS_3

ENTAH apa yang terjadi pada perempuan cantik itu dan ruangan ini yang tiba-tiba menggelap. Kesadarannya seolah direnggut secara perlahan. Untuk terakhir kalinya, sebelum pandangannya memburam hanya laki-laki tampan berjaket navy yang terlihat, dikeroyok? Ah, seseorang yang menariknya membuat tidak tahu apa yang terjadi pada laki-laki itu. Dia salah satu fotografernya.


Ia diseret lembut, menjauh dari pesta. Seseorang membawanya ke sebuah ruangan, dan tepat di sana lampu kembali menyala. Ia masih sadar, bahkan sekarang laki-laki bertopeng tersenyum kepadanya.


Siapa dia?


Saat mulutnya hendak berucap, dia langsung ******* ganas bibirnya. Sial, semuanya menjadi tak terkendali. Laki-laki itu tiada henti memberikan serangan kepadanya, membuat dirinya mendesah tak karuan.


Ia memukul pelan tubuh laki-laki itu, yang malah memberikan energi baru terhadapnya. Tubuhnya terlalu lemah untuk melawannya, apalagi pandangannya semakin lama semakin hilang. Tetapi, raga laki-laki itu masih terasa hangat di tubuhnya, seiring dengan desah yang kian detik kian melemah dan hilang ditelan masa.


Laki-laki itu telah merenggut semuanya. Perempuan itu terbaring tanpa sehelai benang di sana. Dia telah menghancurkan mimpinya. Dosa yang berusaha ia hindari, malah dengan senang hati menghampiri melalu laki-laki bertopeng ini.


Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tidak ada lagi mimpi indah di hidupnya, tidak ada lagi kebahagiaan. Semua orang akan mengutuknya.


Semesta tidak adil kepadanya. Di saat mimpi sudah terlihat dekat, dia malah memberikan noda yang sangat membandel di hidupnya. Jika semesta tak mengizinkannya untuk mendapatkan mimpinya, maka laki-laki bejat yang sudah menidurinya juga berhak hancur atas semua mimpinya.


O0O


Suara yang keluar dari pengeras suara ponsel, membuat laki-laki yang tengah merebahkan tubuhnya pengin lekas-lekas besok, kemudian sore. Ia sudah memutuskan untuk pulang lebih awal dari pada teman yang lainnya. Artinya, Billar akan memaksimalkan pekerjaannya esok hari setelah itu pamit.


Jika bukan karena rasa kantuk dan mengingat jadwal kerja, mungkin semalaman ini ia akan menghabiskan waktu mengobrol dengan Lesti. Billar belum puas meluapkan kerinduannya, mungkin terlihat aneh karena baru saja sehari ia sudah merindukannya. Rasa sulit ditebak, apalagi sudah pada level jatuh cinta. Rasa rindu akan mudah menyerang kapan saja, saat jarak memisahkan.


Sebelum alam bawah sadarnya menarik sepenuh jiwanya, Billar tersenyum untuk malam ini. Mengajak bunga tidur untuk merangkai rencana apa saja yang akan ia lakukan di kemudian hari. Memberi hadiah? Ah, itu sudah pasti. Sebelum pesawat itu terbang menuju Soekarno-Hatta, ia akan membeli banyak hadiah untuk perempuan yang dicintainya.


Namun, sepertinya hal itu tidak akan berjalan mulus. Di tengah kencannya dengan bunga tidur, beberapa orang bertopeng memasuki kamarnya dengan mudah. Aroma dari gelas yang dibawa salah satu dari mereka, terhirup habis olehnya.


Mereka sangat cekatan melakukan aksi menutupi sesuatu demi harga diri seseorang. Mengorbankan harga diri orang lain adalah jawabannya. Tak peduli jika ia menderita, bahkan seseorang itu akan senang melihatnya demikian.


Aksi terakhir setelah mengospek tubuh Billar, mereka menidurkan perempuan yang tak sadarkan diri terlentang tanpa busana di sampingnya. Mereka menyelimutinya. Tidak lupa, topeng mata turut dipasangkan di wajah Billar.


Setelah aksi ini selesai, mereka bergegas pergi ke sebuah tempat dengan menukar kembali pakaian lalu memasang ekspresi biasa, seperti tak ada yang terjadi di antara mereka. Huft pekerjaan ini, membuat mereka bersimbah peluh, namun segera menarik napas dan tersenyum ketika cek dari seseorang mendarat di rekeningnya.


O0O

__ADS_1


Matahari perlahan mulai menampakkan keberadaannya, samar-samar kilatan cahaya mulai menembus dinding kaca melewati sela tirai. Tubuh yang hanya terbalut celana pendek di atas lutut, dengan kedua mata dibentengi topeng , laki-laki itu terbangun dan tersentak bukan main.


Kesadarannya yang baru saja hinggap, mencuat sepenuhnya dengan kedua mata terbelalak dan kedua tangan refleks menutup area sensitifnya. Ia tidak tahu harus bereaksi apa, yang jelas semalam ia langsung tidur tidak pernah mengundang siapa pun ke sini.


Sialnya, Haris dengan sedikit terlihat teler mendadak mendapatkan separuh nyawanya kala teman sekamarnya terpergok nyaris telanjang dengan seorang wanita yang terbalut selimut di sana.


“Bi? Lo-lo, apa yang udah lo lakuin sama Amanda?” tanya Haris gugup.


Billar terbata-bata, sebelum akhirnya meraih celana dan baju yang terserak di samping ranjang. Sungguh demi apa pun, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia ingat hanya setelah menelepon dengan Lesti ia tertidur. Hanya itu.


“Ris, gue gak tahu!” bantah Billar.


Haris menggeleng pelan dengan raut wajah masih sangat shock atas apa yang baru saja dilihatnya. Di dalam kamar ini ia melihat Billar dan Amanda dalam kondisi nyaris telanjang, mungkin tubuh Amanda full naked, terlihat dari pakaian Amanda yang berserakan di sana.


Kegaduhan ini terus berlanjut, hingga Arfan dan William hadir yang tak kalah terkejutnya dari Haris. Entah ke berapa kali Billar bersikeras kalau semua ini adalah fitnah, ia menjelaskan kalau sebelum pesta itu berakhir ia langsung pergi ke kamar, tak turut berkecimpung atau larut dalam pesta itu.


Amanda yang tertidur di sana mulai melenguh dan meringis menahan sakit yang mendera tubuhnya. Perempuan itu berteriak, dan tambah terkejut ketika tubuhnya telanjang dan terdapat empat laki-laki di sini. Giginya menggertak, matanya memanas, apalagi saat laki-laki bertopeng itu meringkusnya. Amarahnya semakin meluap saat topeng mata mendarat di tangan Billar—mantan kekasihnya.


Dengan amarah yang meluap, Amanda beranjak dari tempat tidurnya dengan masih menyelimutkan selimut di tubuhnya. Tanpa basa-basi ia langsung menampar Billar sekuat tenaga.


“Anjing lo!” kalimat itu berhasil terucap dengan lugas dan tajam. “Gila! Lo gila! Gila! Gila!” Ekspresi Amanda terlihat hancur, air matanya sudah berderai ke segala arah. Kedua tangannya terus berontak memukuli tubuh Billar yang masih bergeming.


“Manda, Manda, dengerin gue dulu—“ tenang Billar.


“Lo emang biadab!” pungkas Amanda seraya memungut pakaiannya, dan masuk ke toilet.


Ketiga temannya masih memandang tak percaya. Bahkan ketiganya terlihat berselimut kesedihan, dengan bulir air mata yang juga menutup bola matanya tanpa tumpah. Arfan menenangkan Billar setelah meracau sembari melemparkan topeng mata itu.


“Fan, gue gak lakuin seperti apa yang kalian lihat!” ujarnya. “Kalian tahu sendiri kalau gue pergi dari pesta itu sebelum pesta itu berakhir. Gue teleponnan sama Lesti setelah itu gue tidur, gue gak tau apa yang terjadi selanjutnya!”


“Lo tenang dulu, kita luruskan,” balas Arfan.


Billar kembali mengingat-ingat kejadian semalam, meyakinkan kalau dirinya tidak melakukan apa pun selain mengobrol dengan Lesti melalui whats app. Bahkan kamar pun terkunci, tidak mungkin seseorang bisa membobolnya kecuali mereka mempunyai kartu. Tunggu ... tatapannya kini mengarah ke arah Haris yang bergeming.


Tanpa aba-aba Billar bangkit dan melayangkan tinju ke wajah Haris, membuat laki-laki berjaket navy itu terperosok.

__ADS_1


“Ini pasti ulah lo!” tuduhnya, meski tak mungkin. Toh, Haris adalah sahabatnya sejak SMA semua keluh kesah telah mereka lewati bersama selama ini. “Hanya lo dan pelayan di hotel ini yang punya akses ke kamar ini!” lanjutnya.


“Ah!” Haris meringis.


Arfan segera menenangkan Billar, sementara William membantu Haris bangkit dari jatuhnya. Apa yang Billar lakukan kali ini benar-benar di luar dugaan, apalagi kedekatannya dengan Haris sudah terekam banyak waktu dan mereka tak pernah memiliki konflik seberat ini.


“Gue emang punya akses ke kamar, tapi, gue juga gak tau! Gue gak lakuin itu, bahkan gue juga gak tau apa yang terjadi setelah mati lampu di pesta itu!” jelas Haris. “Sadar-sadar gue sedang tertidur di kursi bersama yang lainnya.”


Klek!


Pintu WC terbuka, Amanda benar-benar terlihat hancur. Ia masih tersedu-sedu, dan memberikan tatapan jijik kepada Billar. Hidupnya sudah berakhir. Mimpi-mimpi yang telah ia rancang sedemikian rupa, mendadak hancur berubah menjadi kesedihan bercampur amarah. Amanda tidak tahu bagaimana respons keluarganya ketika mengetahui hal ini.


“Manda?” seru Billar. “Gue berani sumpah di hadapan semua orang, kalau gue gak ngelakuin sesuatu ke lo!” terangnya.


“Terus siapa? Sebelum gue tak sadarkan diri, hanya laki-laki bertopeng yang gue lihat. Dan faktanya sudah jelas, kalo lo adalah laki-laki bertopeng itu!” balasnya, pilu.


“Enggak! Sampai kapan pun gue gak akan pernah nerima. Dan gue yakin seratus persen kalo gue dijebak!” tegasnya.


“Terus lo mau apa?” Amanda menatap nyalang ke arah Billar.


“Tes DNA!” jawabnya.


Suasana kamar ini mendadak tegang. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani mengusik hal ini. Bahkan air mata yang ditahan-tahan oleh Billar akhirnya tumpah, menjadi saksi atas kesungguhan dan keyakinannya atas apa yang terjadi antara dirinya dengan Amanda.


“Kita akan lakukan tes DNA!” ujar Billar lagi.


Amanda memutar tubuhnya, kembali ke kamarnya. Sementara Billar menghela napas panjang, menenangkan semua saraf yang mendadak tegang beberapa menit ini. Sekujur tubuhnya mendadak lemas, kenapa takdir memberikan sesuatu dalam hidupnya ini. Ia tahu, Tuhan tidak akan memberikan sesuatu di luar kemampuan hamba-Nya. Pasti ada sesuatu di balik ini semua.


Billar tidak akan memaafkan siapa yang melakukan fitnah sejauh ini atasnya. Di saat niat baik untuk hidupnya terancang indah, ujian ini datang menghambat segalanya. Billar akan menyelesaikan ujian ini dengan tuntas, dan berharap hasilnya yang terbaik.


Kamar ini mendadak lengang setelah Arfan memberikan aba-aba untuk projeknya, dan Haris meraih handuknya untuk membersihkan badannya lebih awal. Bekas tonjokkan Billar membuat bibirnya berdarah dan memar. Laki-laki itu membuatnya kesal setengah mati, tapi, ia sadar jika dirinya berada di posisi Billar mungkin akan melakukan hal yang sama.


Sungguh, Haris tidak ingat banyak. Setelah meminum dari gelas yang disodorkan seseorang, yang ia anggap adalah pelayan pesta kesadarannya seolah direnggut. Sampai orang-orang yang entah siapa menarik dan menyeretnya ke sebuah sofa. Ia juga masih ingat, kejadian ini berbarengan dengan putusnya aliran listrik di hotel ini.


Haris menyimpulkan, jika apa yang menimpa dirinya, Billar, dan Amanda adalah sebuah kesengajaan artinya sudah direncanakan. Terlalu aneh jika semua ini disebut dengan suatu kebetulan.

__ADS_1


“Ah!” Haris meringis, saat membersihkan luka itu.


...O0O ...


__ADS_2