Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Kesedihan dan Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah hasil tes keluar dada Amanda benar-benar sesak dan lega di waktu bersamaan. Sesaknya, siapa yang sudah melakukan hal ini kepadanya? Kenapa dia melakukannya? Amanda benar-benar sangat menyesal menandaskan banyak gelas minuman yang memabukkan saat di pesta itu. Semuanya terasa kacau, ia tidak ingat apa pun kecuali pria bertopeng yang membopongnya ke dalam kamar Billar.


Rasa lega turut hadir, terlebih pria yang merupakan mantannya ini tersenyum singkat meskipun di matanya Amanda bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Amanda mengakui kalau Billar bukan orang sembarangan, dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat ini padanya. Dia selalu mengumbar ketulusan kepadanya, meskipun tekadnya untuk meraih mimpi membuat dirinya harus berpisah dengan Billar.


Perlahan tapi pasti, Billar mengelus tangan Amanda menenangkan. “Cepat atau lambat kita bakal menemukan pelakunya. Aku akan mencari tahu tentang semua ini.”


Amanda menggeleng. “Kamu tidak perlu melakukan hal ini, Bi. Kamu harus fokus dengan pernikahanmu.”


“Bagaimana pun, aku tetap denganmu saat kejadian itu. Aku ingin semuanya benar-benar selesai.” Billar menatap penuh wajah Amanda yang diselimuti kesedihan.


“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Amanda.


“Karena kamu pernah menjadi kepingan terbaik dalam hidupku, aku akan menyelesaikan ini.”


Keduanya keluar dari ruangan ini, menyusul dokter yang sudah keluar dan menjelaskan semuanya pada dua keluarga. Amanda langsung menyambut hangat rentangan tangan dari ayah, yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.


“Maafin aku, Yah. Aku telah mengecewakanmu!” ujar Amanda dalam isak tangis.


Keluarga Billar sudah berpamitan sebelumnya, dan pergi meninggalkan keluarganya di lorong rumah sakit.


“Tidak, Manda. Ayah enggak pernah kecewa sama kamu,” balas Ayah seraya mengelus-elus punggung Amanda.


Amanda melepaskan pelukannya, dan beralih menatap Ibu. Wanita yang menyayanginya, dan tidak pernah absen mengingatkannya makan, olahraga, dan sebagainya, wajahnya tampak pucat dan sudah berderai air mata.


“Maafin Ibu, Manda,” sambut Ibu.


Kesesakan yang Amanda rasakan semakin mencengkeram raganya, kenapa Ibu minta maaf. Amanda mewajarkan jika beliau marah padanya, ini kesalahannya.


“Bu, maafin Manda, ya, Bu. Manda udah ngancurin kepercayaan Ibu,” sesal Amanda.


Ibu menggeleng pelan. “Kamu tetap mutiaranya Ibu, Manda.”


Kesedihan ini masih sangat terasa hingga mereka tiba di rumah, Reina yang merupakan adik Amanda langsung memeluk mereka bertiga. Reina sudah duduk di kelas tiga SMA yang dalam hitungan minggu akan melangsungkan kelulusan.


Tidak perlu bertanya, Reina sudah mengetahui jawabannya dari ekspresi mereka. Reina sudah dengar semuanya kalau kakaknya ini tengah mengandung seorang bayi. Meskipun jawabannya bukanlah Billar, Reina masih belum bisa menerima pria itu bisa lolos begitu saja. Reina bakal mencari tahu semuanya setelah lulus nanti, bisa saja Billar menyembunyikan sesuatu dari kakaknya.


Ayolah, ini zaman sudah maju. Orang-orang dengan mudah bisa mengakses segalanya melalui internet. Bisa saja pria itu telah merencanakan semua ini, toh dia pria berada semuanya akan mulus dengan harga plus-plus.


“Aku besok akan beres-beres di apartemen dan menyelesaikan kontrak, setelah itu aku akan tinggal di sini,” ucap Amanda masih dengan sesak di dada.


“Iyalah, kamu enggak usah kerja lagi jadi model. Sekarang kan udah serba teknologi, kamu bisa jualan online, nanti Ayah carikan pemasok barangnya,” terang Ayahnya.


“Iya, Kak. Temen-temenku juga pada jualan gitu,” timpal Reina.

__ADS_1


“Terus kenapa kamu enggak ikutan jualan?” semprot Ayah.


“Males!” jawab Reina enteng.


“Hilih, terus kamu ingin jadi apa?” tanya Ibu sambil menyiapkan makan malam.


“Artis.” Reina langsung memasang wajah sok cantik di depan keluarganya.


O0O


Lesti dan Billar menepi sejenak dari acara makan-makan ini, mereka berjalan menyusuri taman yang berdiri di tengah-tengah restoran.


“Aku masih belum bisa melupakan kejadian tadi,” ujar Lesti seraya menatap langit yang bertabur bintang. “Amanda dan keluarganya benar-benar sedih banget.”


“Terus aku harus tanggung jawab dan mengakui semua itu?” kata Billar bercanda.


Lesti menoleh dan cemberut. “Bukan gitu, ish! Aku cuma ngungkapin apa yang aku rasakan aja. Lagian kok bisa tiba-tiba listrik di hotel mati, kek kok bisa tepat gitu loh!”


Billar duduk di kursi taman di susul Lesti. “Entah. Suasana pesta benar-benar rame banget. Pusing lihatnya.”


“Untung kamu enggak ikut pesta,” ujar Lesti sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Billar. “Aku takut kamu kenapa-kenapa.”


“Sejak kapan kamu suka sama aku?” tanya Billar.


“Mungkin sejak kamu maksa pulang bareng,” ungkap Lesti.


“Awal banget dong!” cetus Billar kemudian terbahak. “Nah, kan? Aku ini memang memikat dari awal, kamu aja sok jual mahal! Enggak mau-enggak mau, padahal mau kan?” ejek Billar.


“Iya, kan, ngetes aja!” timpal Lesti seraya memutar bola matanya. “Siapa tau kamu ini spesies buaya darat, yang cuma modal kegantengan dan gombal doang!”


Billar mengarahkan wajahnya ke hadapan Lesti, hingga embusan napas mereka bertegur sapa di udara. “Apa wajah ini terlihat seperti buaya darat?”


Sontak Lesti memundurkan tubuhnya, meskipun sempat terpaku bebera detik karena terhipnotis oleh tindakan Billar saat ini. Bisa-bisanya dia melakukan sesuatu yang sangat tidak baik untuk degup jantungnya.


“Ish! Iya mirip banget!” ketus Lesti.


Billar mendengkus kesal, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya senyum jailnya terbit. Dengab secepat kilat, Billar menyambar pinggang Lesti dan menggelitikinya.


“Aku buaya, kamu pawangnya!”


Mata Lesti terbelalak dengan diikuti tawa meriah karena tingkah Billar yang menyebalkan ini. “Lepasin! Ish!”


Lesti beranjak dan berlari menjauhi Billar yang masih menatapnya layaknya seeekor mangsa. Namun, Lesti harus menghentikan lariannya kala sepasang manusia yang tak asing di matanya muncul begitu saja.

__ADS_1


“Ra-Raziq?” Lesti terkejut.


“Lesti? Kamu di sini?” Raziq malah balik bertanya.


“I-iya, aku lagi—”


“Hai!” sapa Billar. “Aku Billar, calon suaminya Lesti.”


Lagi dan lagi mata Lesti melotot, dan refleks menyiku perut Billar. “Sst!”


“Apaan sih?”


“Oh, saya Raziq dan ini istri saya. Senang berkenalan denganmu,” balas Raziq sopan. “Kalian gimana kabarnya?”


Sebenarnya ada tanya dalam benak Raziq, setahunya laki-laki yang diajak ke pernikahannya bukanlah Billar tapi laki-laki lain. Namun Raziq tidak ambil pusing, lagi pun itu sudah lama banget dan perihal ras memang rahasia sulit untuk diterka.


“Kita baik-baik saja, kalian gimana?” tanya Lesti yang kehilangan fokus karena perut istri Raziq yang besar.


“Alhamdulillah baik juga, kalian lagi makan-makan di sini?” Raziq kembali bertanya.


“Iya, sambil diskusi tentang pernikahan kita, nanti kalian datang ya?” bala Billar membuat Lesti kembali kaget dan langsung menyiku perut Billar untuk yang kedua kalinya.


“Eh, hmm, kita pergi dulu, maaf jadi ganggu acara kalian, dah!” Lesti langsung beranjak meninggalkan Billar yang malah celingak-celinguk keheranan.


“Maaf ya, sampai jumpa lagi!” pamit Billar sambil menyusul Lesti yang udah duduk di hadapan orang tuanya.


“Kamu kenapa sih?” bisik Billar.


Lesti menatap Billar dengan napas tersengal-sengal. “Kamu tau, tadi itu mantan aku!”


“Ada apa?” tanya Ayah. “Apa ada masalah? Apa Billar menyakiti kamu, Lesti?”


Lesti dan Billar menoleh bersamaan. “Iya, Yah. Tadi Billar godain orang di taman!”


Billar langsung melotot tidak menyangka dengan jawaban Lesti yang jelas sangat jauh dari fakta. “Ih, e-enggak kok!”


“Billar! Kamu ini mau nikah! Jangan macam-macam!” tegas Ibu. “Kamu pikir ini bahan candaan, hah?”


“E-enggak, kok, Bu, sumpah!”


Lesti hanya tertawa kecil melihat kepanikkan Billar, enggak apa-apa hitung-hitung membalas hal-hal menyebalkan yang selalu Billar lakukan kepadanya.


“Awas ya!”

__ADS_1


...O0O...


__ADS_2