Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Ketika Kau Menyebut Nama Amanda


__ADS_3

Di tengah rasa lelah, Billar berusaha fokus mengendarai motornya melawati deretan mobil dan motor yang saling menyalip di hadapannya. Pikiran Billar masih belum menerima jika Amanda mengakhiri hidupnya dengan sengaja. Billar pun baru tahu jika beberapa hari sebelum pernikahannya, Amanda mengadakan pesta di apartemennya.


Hati Billar sudah bertekad untuk mencari tahu siapa dalang di balik ini semua, dugaan bunuh diri benar-benar membuat perasaannya tidak puas. Ayolah, Billar sudah mengenal Amanda bertahun-tahun. Billar mengenali sosok Amanda dengan baik, Amanda tidak mungkin melakukan hal itu.


Sementara itu, perasaan Lesti masih tidak menentu setelah berita Amanda mulai memasuki kehidupannya. Ia tidak tahu kenapa, yang jelas ia mempertanyakan kenapa Billar secemas ini terhadap Amanda. Apakah hanya sebatas rasa iba saja? Atau ada sesuatu yang lain, yang Billar sembunyikan darinya. Lesti berusaha tenang, membuang semua pikiran negatif tentang Billar dan Amanda. Meskipun rasanya sangat susah sekali.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh orang tua Billar, dia menyambutnya dengan senyum dan pelukan. Dan semua basa-basi yang terjadi setelah kedatangannya, berakhir di meja makan. Aneka hidangan menggiurkan di depannya benar-benar menghipnotis, setidaknya semua pikiran tentang Amanda dapat teralihkan beberapa saat.


Namun, semua itu tidak benar-benar terjadi. Ibu Billar malah membahasnya, dan semua tentang Amanda menjadi soundtrack dari acara makan-makan ini. Menyebalkan, bahkan Lesti sempat kehilangan nafsu makannya.


“Jadi bagaimana? Apa semuanya sudah selesai?” tanya Ibu sambil menatap Billar, sementara Lesti hanya diam memandangi hidangan yang tersaji di piring hadapannya.


Billar menggeleng ragu. “Polisi akan memeriksa kembali, untuk memastikan dugaan mereka. Amanda bunuh diri.”


“Ya Tuhan,” pekik Ibu.


“Aku tidak pernah percaya jika Amanda melakukan ini, Bu. Dia tidak mungkin overdosis, atau meminum racun. Ibu tau kan dia perempuan yang baik?” terang Billar sedikit menggebu.


Lesti menahan napas beberapa saat, apakah semua ini lucu? Kenapa suaminya selalu menggebu dan berkeringat jika membahas Amanda? Apa dia masih mencintainya? Kalau masih cinta, kenapa pendekatan dan keseriusan laki-laki di sampingnya harus terpancar? Lesti cemburu mendengar semua celoteh tentang Amanda ini.


Ibu mengangguk. “Ibu tahu. Dia memang perempuan yang baik. Ibu juga kaget mendengar kabar ini.”


“Aku akan cari bukti untuk ini,” ungkap Billar serius. “Aku yakin ada seseorang di balik ini semua. Aku merasa orang ini adalah orang yang sama yang menjebakku saat di Bali.”


“Kau tidak usah berlebihan, Bi. Kamu tidak bersalah atas apa yang terjadi, sebaiknya kau fokus terhadap Lesti. Kamu sudah berkeluarga.” Ibu menyeruput minumnya. “Kamu bisa suruh Arfan untuk nyelidikin ini jika kau mau mendapatkan jawabannya.”

__ADS_1


Lesti menghela napas lega ketika Ibu memberikan wejangan seperti itu kepada Billar, sangat tidak lucu jika di usia pernikahannya ini yang masih muda menyelidiki kasus yang sebenarnya tidak ada sangkut paut dengannya. Amanda hanya bongkahan masa lalu, Lesti tahu kalau dia memutuskan Billar karena mimpinya. Sudah sebatas itu, kisah Billar dengan Amanda sudah selesai, jangan ditambah lagi.


Billar menatap Lesti sejenak, kemudian merangkulnya lantas mengecup ujung kepalanya lembut.


Lesti tersenyum miris, baru kali ini ia merasakan sensasi beda dari kecupan suaminya. Bukan bahagia, melainkan kecewa. Kendatipun Lesti masih berusaha tenang dan menyangkal semuanya. Cukup satu yang ia tekankan. Billar adalah suaminya, dia miliknya, bukan milik orang lain.


Di sela-sela acara makan-makan ini, tiba-tiba Arfan datang dengan senyum lalu menyalami semuanya. Dia duduk di kursi samping Ibu hadapan Billar.


“Gimana lo udah ke kantor polisi?” tanya Arfan yang tanpa disuruh langsung mencomot satu persatu hidangan di sini.


“Kok gue gak tau kalo Amanda ngadain pesta di apartemennya?” tanya Billar sambil menatap Arfan.


“Lo itu harus udah fokus dengan pernikahan lo! Emang kalo gue kasih tau lo mau datang?” balas Arfan, lalu menyuapkan sesendok nasi yang berlumur sayur. “Itu juga pesta dadakan yang diadain para model.”


“Ya seenggaknya lo kasih tau gue, dia kan lagi hamil, gue cuma mau ngingetin sama kondisi dia!” cetus Billar dengan raut muka kesal.


Billar langsung meraih tangan Lesti, dan menariknya ke hadapannya. Sekali lagi Billar mengecup Lesti. “Kamu istirahat ya, nanti aku nyusul setelah selesai makan.”


Lesti hanya mampu mengangguk dan tersenyum tipis, batinnya sudah campur aduk merasakan tamparan-tamparan halus yang terlahir dari topik ini.


“Heh! Ini bukan pesta miras! Ini cuma pesta biasa, ngobrol, gosip, sambil ngemil makanan ringan!” terang Arfan sambil menatap Billar serius. “Lagian, Amanda juga udah sadar kalo dia lagi hamil.”


“Ya tetap aja, gue kan cuma mau ngingetin!” Billar kukuh dengan ucapannya.


“Ingat ya Bi, lo itu cuma mantannya Amanda, lo juga enggak terbukti sebagai ayah dari anak yang dikandung Amanda. Jadi apa masalahnya? Bukannya lo bete ketika Amanda mutusin lo, dan bertekad buat move on dengan stay di Bandung, hingga lo ketemu Lesti di sana? Dan sekarang dia udah jadi istri lo! Inget lo itu udah berkeluarga!” cecar Arfan.

__ADS_1


“Udah-udah! Kenapa jadi ribut?” Ibu menatap Billar serius. “Apa yang Arfan ucapin itu benar, Bi. Kamu udah berkeluarga, biarkan pihak yang berwajib yang menyelesaikan ini semua. Apa pun hasilnya nanti, ya begitulah faktanya.”


“Tapi, Bu—“


“Udah, mending kamu sekarang istirahat, kamu capek. Dan kamu Arfan ada perlu apa?” Ibu melerai pertikaian di hadapannya ini.


“Enggak ada apa-apa, cuma nyapa doang,” balas Arfan seraya menampakkan deretan giginya.


Ibu Billar menggeleng pelan. “Tapi, kamu bakal ke kantor lagi atau ada acara?”


“Iya, ke kantor lagi. Datang ke sini cuma mau ngobrol aja sama Billar, tapi ya gini.” Arfan menatap sekilas ke arah Billar yang masih bersungut-sungut.


Dengan malas, Billar mendelik lalu beranjak dari bangku menyusul istrinya yang mungkin sudah terbujur indah di atas kasur. Namun, Billar salah Lesti baru saja selesai mandi. Dia sedang mengusap rambut sepunggungnya di hadapan cermin.


“Cepatlah kamu mandi, terus tidur, kamu tampak kecapean!” ujar Lesti tanpa menatapnya.


Billar menurut saja, dan langsung mengorek lemarinya untuk memungut handuk di sana. “Kita ke Sumba lusa aja ya?”


Lesti menoleh. “Terserah, aku ngikut kamu aja. Tapi, bukannya kamu mau nyelesain dulu semuanya? Enggak apa-apa kok, kita menunda Sumba.”


“Masalah ini benar-benar membuatku tidak tenang,” ujar Billar, bukannya mandi malah duduk di kasur. “Ini terlalu aneh, dan kenapa Amanda melakukan ini?”


Lesti kembali fokus terhadap bayangannya di cermin. “Cepetan mandi. Jangan terlalu dipikirkan, serahkan semuanya pada Allah.”


Setelah mendengar celoteh Lesti, Billar beranjak memasuki kamar mandi. Sementara Lesti mengembuskan napas panjang, lalu duduk seraya menatap ke arah jendela. Langit biru, awan merangkak, dan terik matahari lumayan menggigit kulitnya. Lesti tidak peduli, keposesifannya nyaris menutup sekeliling batin, hanya karena sang pangeran lebih memilih menatap ke belakang di bandingkan ke depan, menatapnya.

__ADS_1


...O0O ...


__ADS_2