
Setelah kejadian di malam itu, Billar, Reina dan Arfan diamankan di kantor polisi. Billar menginap di sana, sementara Reina langsung dikirimkan ke psikiater. Reina mengalami trauma setelah mendapatkan perlakuan tak senonoh dari Arfan. Bahkan ia sempat pingsan, karena masih belum bisa menerima segalanya.
Sementara Arfan dilarikan ke rumah sakit untuk diobati terlebih dahulu luka baku hantam di wajahnya. Semua yang Billar lakukan benar-benar brutal pada malam itu, toh orang yang ia percaya selama ink ternyata dalang di balik kasus Amanda. Dan Billar baru tersadar sekarang tentang semua ucapan Arfan, yang memanipulasi pikirannya.
Di ruangan ini, Billar menjelaskan semuanya. Bahwa Arfanlah yang menodai Amanda dan membunuh Amanda sebagaimana yang Reina ucapkan pada saat itu. Billar juga melaporkan kalau sampai saat ini Lesti belum ditemukan.
“Untuk istri Anda, kami sudah mengamankannya. Dia sedang dalam perjalanan dari Bogor ke sini, menurut warga di sana Lesti diasingkan di sebuah Vila di Bogor.”
Mendengar penjelasan ini, Billar kembali teringat dengan lembaran kertas di meja kerja Arfan. Ternyata laki-laki itu sudah menyiapkan segalanya dengan baik, demi apa pun sampai detik ini Billar masih belum percaya kalau Arfan akan melangkah sejauh ini.
Tiba-tiba orang tua Billar datang dan langsung memeluk Billar yang kini tengah menunggu kedatangan Lesti. Apa dia baik-baik saja?
“Ibu benar-benar tidak menyangka kalau Arfan akan melakukan tindakan ini, Bi!” ujar Ibu dalam peluknya.
“Sudah-sudah, enggak usah bahas itu. Lesti mana?” tanya Ayah.
“Dia masih dalam perjalanan dari Bogor ke sini, Yah.” Billar terduduk lemah di kursi tunggu bersama kedua orang tuanya.
“Kondisi Riena sekarang gimana?” tanya Ibu.
“Dia sedang dalam perawatan. Dia trauma berat,” terang Billar.
O0O
Bogor dalam pagi itu benar-benar memiliki hawa yang menggigit, bahkan ketika azan berkumandang langit sempat menumpahkan air meskipun enggak deras. Tepat pukul tujuh pagi, Lesti di bawa ke kantor polisi setempat untuk dimintai keterangan.
Lesti menjelaskan segalanya, sedetail mungkin. Sementara dua sosok bertopeng itu sudah diamankan ke dalam sel tahanan. Dan dengan sigap, polisi setempat menghubungi polisi daerah Jakarta di mana Lesti dan Billar tinggal.
Setelah itu Lesti diantarkan pulang dan tersisa beberapa menit lagi Lesti akan tiba di kantor polisi yang dituju. Katanya Billar sudah menunggu di sana, Lesti sangat merindukan sosoknya. Dan ya, Lesti juga tidak pernah menyangka dengan fakta yang terungkap di balik kasus Amanda.
Ya, Arfan. Yang masih ada hubungannya dengan keluarga Billar yang melakukan kekejian itu.
“Kita udah sampai!”
“Terima kasih Pak, Bu,” ujar Lesti langsung turun.
Lesti terdiam ketika matanya memandang Billar yang berdiri di beranda kantor yang juga sedang memandangnya. Lesti dan Billar langsung berpelukan, dengan sangat erat.
__ADS_1
“Aku merindukanmu!” ucap Lesti sembari menitikkan air mata.
“Aku juga!” balas Billar. “Kamu enggak apa-apa, kan?” Billar melepaskan pelukannya memandang wajah Lesti serius seraya menyeka air mata Lesti.
Lesti menggeleng. “Aku enggak apa-apa, kok.”
Billar mengecup dahi Lesti lalu memeluknya lagi. Detik berikutnya, Ibu dan Ayah menghampirinya dan larut dalam pelukan kerinduan yang memberantas segala keresahan yang menghantui mereka akhir-akhir ini.
“Ekhem!” seseorang tiba-tiba berdeham, membangunkan mereka semua untuk menoleh ke belakang.
Seorang perempuan mungil dengan rambut sepunggung menyunggingkan senyum, kala melihat orang-orang tersayangnya berkumpul. Meskipun seharian kemarin hingga tadi sebelum polisi menjemputnya, pikirannya masih dihantui oleh fakta yang ia dapatkan dari teman Amanda. Bagaimana bisa ia melakukan aksi yang luar biasa terhadap temannya sendiri, tapi sudahlah semuanya sudah berlalu. Dia mengakui perbuatannya, dan memilih untuk menyerahkan diri pada polisi.
“Tiara?” seru Lesti yang langsung memeluknya erat. “Kenapa kamu ada di sini?”
Tanpa aba-aba dua orang polisi mengawal wanita cantik yang menunduk dengan tangis sesenggukkan. Setidaknya ia mengakui segalanya, dibandingkan dihantui oleh rasa bersalah.
Billar menghampiri kakak beradik itu. “Namira?”
“Dia ikut andil dalam rencana itu, dia yang menaruh racun di minuman Amanda,” terang Tiara.
Lesti dan Billar terkejut, sama-sama tidak menyangka apalagi Billar. Setahunya, persahabatannya dengan Amanda sangat baik-baik saja. Mereka selalu tampak bersama, tapi faktanya di balik keindahan persahabatan mereka ada satu noda yang mendiami salah satu dari mereka.
“Aku enggak bisa ngapa-ngapain tanpa Tiara, Sayang!” balas Billar seraya merangkul Lesti.
“Heh! Bisa-bisanya kalian bermesraan di depan aku!” ketus Tiara.
Orang tua Billar yang sembari mesem-mesem melihat tingkah mereka, mendekat. “Kita pulang yuk! Ibu udah masak makanan yang enak buat kalian subuh-subuh!” kata Ibu sambil menyeka bekas air mata di pipinya.
Ayah mengangguk. “Sebaiknya kita enggak perlu membahas hal ini lagi. Sangat menyebalkan jika kita membahasnya lagi.”
Kemudian mereka pulang, dan begitu sampai Lesti memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Begitu juga dengan Billar.
“AAAA!!!” teriak Lesti saat Billar membuka baju di hadapannya.
Billar terkejut dan langsung menoleh. “Ish! Ngagetin aja!”
“Kamu yang ngagetin!” ketus Lesti sambil memalingkan wajahnya dari Billar.
__ADS_1
“Kamu ini kenapa sih, kita ini suami istri. Udah sah, udah halal!” Billar berlalu dari hadapan Lesti menuju kamar mandi. “Kamu sendiri gak sadar nutupin badan pake handuk!”
Sontak Lesti membeliak dan menatap tubuhnya. “Astaga!”
Cepat-cepat Lesti meraih selimut menutupi seluruh tubuhnya, sementara Billar malah terbahak. Sampai saat ini Lesti masih belum terbiasa dengan ini, rasanya aneh sekali dan tentu saja malu.
“Apa selama di Sumba nanti kamu akan tetap seperti ini?” tanya Billar sembari mendekati Lesti.
“Emang kita mau ngapain di Sumba? Kita cuma main doang, kan?” Lesti masih laput dalam rasa terkejut bercampur malu.
Billa mengagguk. “Iya main, main sana-sini. Aturan mainnya, kau milliku, dan aku milikmu. Paham? Kau itu istriku, dan aku suamimu. Kita sudah melewati malam pertama dan malam-malam selanjutnya dengan hampa. Kita akan mengisi kehampaan itu di Sumba nanti.”
Lesti hanya diam, larut dalam imajinasinya. Intinya, Lesti masih shock dan terkadang ia tidak sadar kalau dirinya sudah menikah. Namun, tetap saja wajah suaminya itu tampak menyebalkan dan selalu memancingnya untuk terus berdebat.
“Ya-ya udah cepetan mandi!” suruh Lesti.
Billar menggeleng. “Enggak. Cium aku dulu nanti aku mandi!”
Manik hitam Lesti membulat sempurna. “Apa?”
“Cium dulu.” Billar memberikan pipi kanannya ke depan Lesti.
“Enggak!”
“Ya udah enggak bakalan mandi sampai kapan pun sebelum kamu cium,” ujar Billar sambil merebahkan tubuhnya.
“Ish, ya udah sini,” balas Lesti membuat Billar kembali bangkit dan memberikan pipi kanannya. Bibir Lesti maju dengan ragu hingga kecupan lembut nan singkat berhasil mendarat di sana.
“Pipi kiri, terus dahi, terakhir bibir,” terang Billar sambil tersenyum.
“Heh!” Lesti kembali melotot.
“Ya udah kalo gak mau aku enggak bakalan mandi!” Baru saja Billar hendak merebahkan tubuhnya, Lesti langsung menahannya.
“Ya udah.” Lesti mengecup pipi kiri Billar, kemudian dahinya, dan ketika hendak mencium bibir suaminya itu, Lesti sempat terpaku hingga akhirnya Billar yang maju lebih dulu. Lesti hendak berontak, tapi sesuatu yang menjalar di hatinya membuatnya terpejam dan menikmati ciuman itu.
“I love you, baby!”
__ADS_1
...O0O...