Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
See You


__ADS_3

DI MALAM yang penuh bintang ini, di tengah kesiur angin malam yang tenang, di antara jutaan cahaya yang terpacar, Billar tiada henti memaparkan senyum untuk semesta. Perempuan manis berhasil berada dalam boncengannya. Enggak apa-apa hanya sebatas duduk, jika sudah nyaman pasti perempuan yang belum ia ketahui namanya akan memeluk tubuhnya. Pelan-pelan, nanti juga kalian tahu apa yang sudah Billar rencanakan untuk masa depan.


“Gimana, lo mau kan temenin gue makan?” Billar masih menunggu jawaban dari sosok perempuan ini. “Kalo takut dimarahin, nanti gue yang tanggung jawab. Mau ya? Serius gue lapar banget. Lo gak mau, kan, gue mati kelaparan di tengah kedinginan ini?”


“I-iya deh, terserah lo! Tapi, jangan lama-lama nanti repot!” balas perempuan di belakangnya.


Billar semakin melebarkan senyumnya. “Tapi, repot kenapa?”


“Lo pikir sendiri, perempuan hijaban kayak gue pulang tengah malam sama cowok lagi!” Perempuan itu menampakkan rasa khawatirnya.


“Emang kenapa? Orang gua gak akan ngapa-ngapain lo. Gue cuma mau ngajak lo pulang bareng, tapi, karena gue lapar ya gue ajak lo makan. Telat sejam mah lo bisa bilang lembur kali! Lagian kenapa hari minggu kerja?”


Perempuan itu mendengkus, sembari mengelus-elus tubuhnya yang kedinginan meskipun tubuhnya telah diringkus jaket. “Cepetan kek, jangan banyak bicara, kedinginan nih!”


“Ya, kalo lo dingin tinggal peluk aja, ribet amat sih!” celetuk Billar membuat, tangan perempuan itu memukul punggungnya.


“Ya kali gue meluk lo!”


Billar terkekeh mendapati perlakuan perempuan manis ini. Belum genap satu jam perempuan ini sudah berhasil membuatnya nyaman. Kenapa semesta baru memberitahukan kalau di dunia ini ada perempuan yang tanpa berucap pun membuat dirinya jatuh di antara ribuan jenis kenyamanan.


Setelah hampir setengah jam menyisir jalanan, Billar menghentikan motornya di restoran berarsitek mewah di tengah-tengah kota Bandung. Billar mengerutkan dahinya, kala perempuan yang baru saja turun dari boncengannya celingukkan kebingungan.


“Kenapa?” tanya Billar.


“Lo gak salahkan bawa gue ke tempat ini?” Perempuan itu masih belum percaya kalau dirinya membawanya ke tempat mewah ini.


“Ya enggaklah. Yuk! Katanya tadi cepetan!” Billar meraih tangan dia dan menyeretnya masuk ke tempat mewah ini dan duduk di bangku paling sudut di ruangan ini.


Dia mengedarkan tatapannya ke penjuru restoran mewah ini. Deretan lampu yang bercahaya redup menghiasi setiap bangku di sini, warna bangunan yang didominasi warna klasik ini mengalunkan denting musik yang menenangkan. Para pengunjung pun larut dalam suasana restoran ini yang sangat tenang.


“Lo baru ke sini ya?” tanya Billar membuyarkan lamunannya.


“Iya, mana bisa gue pergi ke tempat mewah seperti ini. Ya, mungkin suatu hari nanti bisa, tapi, setelah semua mimpi gue tercapai,” jawabnya masih terpengaruh akan tempat ini.


Billar membenahi duduknya, menatap penuh ke arah perempuan berbalut jaket ini. “Emang mimpi lo apa?”


Perempuan itu membiarkan kedua tangannya memberikan tumpangan untuk wajahnya. “Gue pengin punya banyak perusahaan. Setelah dapat banyak uang, baru gue ngeraih mimpi-mimpi gue. Salah satunya memberangkatkan keluarga gue naik haji. Kalo e’lo?”

__ADS_1


Billar menarik wajahnya sedikit menjauh dari tatapan mematikan perempuan di hadapannya ini. “Gue? Apa ya? Gue masih bingung, tapi, yang jelas setelah mendapat kekayaan gue pengin keluarga gue bahagia.”


Perempuan itu menarik napas, lalu mengembuskan napasnya. “Baiklah, sekarang gue percaya kalo lo emang orang baik.”


Demi apa pun, Billar tersentak ketika kalimat itu berotasi mengelilingi telinganya. “Jadi lo anggap gue orang jahat? Astaga, empang tampang gue keliatan kayak orang jahat?”


Dia malah terkekeh melihat respons yang ditonjolkan Billar. “Ya, enggak sih. Lagian, lo tau kali kalo tindak kejahatan enggak dilihat dari tampang entah itu pelaku atau korban. Gue Cuma bertindak hati-hati doang!”


Billar mendengkus, tapi, segera mengangguk.


“Gue Lesti Andriyani!” Lesti mengulurkan tangannya ke hadapan Billar.


“Oh, iya, lupa belum kenalan. Gue Billar Aswindra.” Billar membalas uluran tangan Lesti, dalam beberapa detik keduanya terjebak dalam saling pandang penuh arti. “Ups! Sorry.” Billar segera melepaskan genggamannya, begitu juga dengan Lesti.


O0O


Selama perjalanan pulang dari restoran mewah itu tiada henti pikiran Lesti dihantui sosok Billar ini. Kenapa, hatinya ini sangat lancang dan mudah menerima begitu saja kenyamanan yang telah dia berikan padanya. Tunggu, bukannya saat bersama Putra pun seperti itu? Dua laki-laki dengan kepribadian yang sedikit berbeda ini berhasil membuat perasaannya perlahan mulai melupakan sosok masa lalunya.


Lesti masih belum bisa move on dari apa yang baru saja ia lalui dengan Billar. Selama makan bersama, mereka tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Mulai dari mimpi, keluarga, hingga hobi mereka bahas.


“Biasanya yang anter jemput siapa?” tanya Billar setelah cukup lama hening.


Billar mengangguk kecil, mengetahui sosok laki-laki yang dekat dengan Lesti. Apakah bendera kotak-kotak berwarna hitam putih sudah dikibarkan? Apakah ini artinya ia harus bersaing dengan laki-laki bernama Putra? Baiklah, ia tidak takut, ia akan membuktikan kalau dirinya pantas bersanding dengan sosok Lesti.


“Gimana kalau mulai saat ini gue aja yang antar jemput lo?” tawar Billar.


“Enggak usah,” balas Lesti singkat.


Dari balik helm, Billar mengerutkan dahinya. “Kenapa?”


“Yang pertama, gue baru aja kenal sama lo. Kedua, gue gak mau ngerepotin lo. Ketiga jam kerja kita berbeda,” jelas Lesti.


“Emang kenapa kalo kita baru kenal? Kan lo yang bilang tadi gue orang baik. Terus gue gak merasa repot kalo harus antar jemput lo, dan gue enggak keberatan jika jam kerja kita berbeda. Mau ya?”


Lesti terdiam sejenak. “Enggak deh pokoknya.”


“Mau aja udah!”

__ADS_1


“Gue gak suka dipaksa! Lagian, mana ada cowok baik yang ngajak cewek keluyuran sampai malam seperti ini apalagi ceweknya hijaban!”


Billar membeku, ia kehabisan kata-kata untuk merespons ucapan Lesti yang berhasil menyentuh perasaannya. Billar enggak bego, tapi, kadang-kadang orang yang menyaksikan kejadian ini pikiran negatif mereka langsung mencuat. Sungguh, enggak tega jika Lesti menjadi buah bibir karena ia membawanya keluyuran malam-malam.


“Ya udah gue gak akan ngajak lo lagi keluyuran. Tapi, lo mau ya gue antar jemput?” Billar masih berusaha agar dekat dengan sosok ini.


“Bi, gue enggak mau, gak usah maksa deh!” sungut Lesti.


“Apa karena lo udah punya pacar jadi enggak mau gitu?” cetus Billar.


“Iya! Gue udah punya pacar! Makannya jangan maksa gue!” dusta Lesti.


Dada Billar berdegup kencang. Billar mendadak beku, kenapa suasana yang diberikan Lesti sangat nyaman baginya. Ketika perempuan ini membeberkan fakta itu, semua kenyamanan itu dia hancurkan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menyerah? Tidak, ia tidak akan menyerah.


“O-oh, ya udah,” timpal Billar akhirnya.


Kebekuan Billar semenjak ucapannya membuat Lesti menghela napas pendek, apa dia marah karena itu? Padahal hatinya berkata pengin banget di antar jemput olehnya, jujur sebelum kenal dengan Billar pun, Lesti mengharapkan hal yang sama pada Putra. Dua laki-laki itu memang membuatnya nyaman.


Lesti turun dari boncengan Billar. “Ma-makasih udah anterin gue. Lo mau masuk dulu?”


Baru saja Billar hendak menjawab, tapi, sosok baya muncul dari balik pintu. Billar tersenyum tipis dan mengangguk. Otaknya tersenyum lebar kala sebuah rencana muncul begitu saja dalam pikirannya. Meskipun keberhasilan rencana ini sangat kecil—tampaknya—kenapa? Raut ayah Lesti terlihat sangat tegas dan ... sedikit membuatnya berdebar.


“Malam Pak,” ujar Billar seraya menyalami pria tersebut. “Saya Billar temannya Lesti. Maaf Pak, sebelumnya. Tadi Lesti nemenin saya makan, jadi pulangnya agak larut.”


“Oh, enggak apa-apa, yang penting kamu enggak macam-macam sama putri saya. Kamu enggak apa-apa kan Ti?” ujarnya seraya memalingkan wajah ke arah Lesti.


Lesti menggeleng. “Enggak, enggak apa-apa,”


“Ya udah kamu boleh pulang, makasih udah anterin puteri saya,” pungkas Bapak seraya merangkul Lesti untuk masuk.


Billar membeliak, segera ia kembali menyahut ayah Lesti dengan raut malu-malu. Alhasil mereka menoleh bersamaan dengan ekspresi penuh tanya.


“Apa?”


“Pak, boleh enggak, hm....” Billar menjeda, menyiapkan segalanya. Ia menghela napas panjang dan tersenyum. “Saya antar jemput Lesti?”


Lesti tersentak bukan main. Kenapa dia sangat berani melakukan ini? Padahal sebelumnya Lesti menebak kalau dia tidak akan berani berkata seperti itu lagi, toh, ia mengaku kalau dirinya sudah punya pacar.

__ADS_1


Apa jangan-jangan dia....


...O0O...


__ADS_2