Terakhir Untuk Selamanya

Terakhir Untuk Selamanya
Kekeliruan Lesti


__ADS_3

DI RUANGAN hangat ini Billar dan Lesti duduk satu meja dengan hidangan yang sama ditemani alunan musik tenang yang keluar dari pengeras suara di tempat ini. Billar tiada henti memajangkan senyum menatap Lesti yang menyantap makanannya dengan anggun.


“Minggu liburkan?” tanya Billar.


“Ya, gue libur. Kenapa?” Lesti menatap Billar sejenak kemudian fokus terhadap makanannya.


“Gue mau ngajak lo jalan-jalan. Dari pagi hingga malam,” balas Billar.


“Kalo gue gak mau, gimana?”


Billar menghela napas pendek, yang diikuti dengan senyum singkat di bibirnya. Billar harus ekstra hati-hati dan semangat tanpa batas untuk menghadapi spesies manusia seperti Lesti. Padahal dulu saat pendekatan dengan Amanda enggak seribet ini, tapi kenapa perempuan ini begitu hobi membuatnya mempertebal rasa sabar. Apa dia sedang mengujinya?


“Gak mau kenapa?” sengit Billar.


“Ya, gak mau aja,” jawab Lesti santai.


“Walaupun miliyaran kata gak mau keluar dari mulut lo, gue tetap akan ngejemput lo.” Billar memajangkan senyumnya. “Tanggung jawab lo belum kelar, malah rasa nyaman itu semakin tebal menyelimuti diri gue,” lanjutnya.


“Terserah. Makasih rotinya, gue mau lanjut kerja,” balas Lesti seraya beranjak dari hadapan Billar yang masih setia dengan senyumnya.


Entah sampai kapan Lesti menyembunyikan secercah cahaya untuk Billar, ia benar-benar gengsi mengutarakan kenyamanan terhadapnya. Dulu ia berusaha untuk menghindarinya, tapi setelah berbagi cerita dan segalanya, ia malah terperosok untuk tetap berada di sampingnya atau bahkan dalam peluknya.


Lesti harus tetap menahannya, jangan terlalu cepat menunjukkan. Ia enggak mau apa yang lalu kembali terjadi, biarlah berjalan senyamannya seiring dengan waktu. Jika memang Tuhan menghendaki kedekatan ini, Lesti selalu berdoa agar dimudahkan jalannya.


“Sejak kapan kamu kenal sama itu cowok?” sambut Ardia yang masih santai karena tidak ada pengunjung sore ini.


“Baru-baru ini. Lo udah baikkan?” tanya Lesti.


“Ah, entahlah, jangan hiraukan masalah gue.” Ardia bangkit dari istirahatnya dan mulai bersiap kala pengunjung berjalan menuju bar untuk membayar. “Gue udah punya rencana buat ngebalas semuanya,” lanjutnya.


“Oke, semoga berhasil dengan rencana lo,” pungkas Lesti mulai menyambut pengunjung yang baru saja datang dan singgah di meja kosong.


Dari ekor matanya Lesti melihat Billar beranjak dari tempatnya ke arah Ardia. Tanpa sadar dirinya tersenyum, berharap kalau minggu nanti Billar akan memberikan kejutan seperti halnya hari ini. Mungkin dengan memendam segalanya, adalah jalan bagaimana Lesti mengharapkannya.


Lesti kembali fokus bekerja mengabaikan lambaian tangan dan senyuman Billar yang baru saja berlalu dari tempat ini.


“Sepertinya kamu memang suka sama dia,” cetus Putra.


Lesti tersentak dan segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. “Enggak, baru juga kenal masa udah suka aja,” balas Lesti gelagapan.


“Namanya juga rasa, bisa timbul kapan saja. Mau gak sebelum pulang nanti kita ngobrol sebentar ada sesuatu yang mau aku sampein?” ucap Putra.


Lesti mengangguk. “Oke.”


Keduanya kembali ke pekerjaannya masing-masing. Mulai dari membuat adonan, memanggang, menyeduh, hingga menyampaikan pesanan. Terus berputar seperti ini, hingga langit jingga kelelahan meminta sang malam menggantikannya.

__ADS_1


Pukul setengah delapan, Lesti kembali melihat Billar datang ke restoran ini. Dia duduk di bangku biasa, dengan ekspresi seperti biasa. Dia terlihat sangat menawan malam ini, wajahnya tampak bersinar efek dari kesegaran air wudu dan hangatnya lampu di restoran ini. Beberapa karyawan di sini mulai menyorot kepadanya, seolah mereka menyuruhnya untuk bersigap melayani dia.


“Enak ya didekati dua cowok sekaligus,” celetuk rekan kerjanya seraya mengulum senyum.


“Gue selama kerja di sini gak pernah tuh ada yang deketin,” timpal yang lainnya.


“Lo punya ilmu apa sih, Ti?”


“Yang jelas lo harus ditinggal dulu sama mantan lo, lalu pergi ke pernikahannya. Alhasil seperti inilah jadinya.”


Lesti mendengkus, sungguh obrolan mereka sangat mengganggu pikiran dan perasaannya. Meskipun konteksnya mereka bercanda, tapi kenanya malah sesakit ini. Lupakan ucapan mereka, jangan terpancing. Ingat mereka hanya bercanda, enggak serius.


“Yaelah Ti, gak usah baper kali,” pungkas mereka.


“Kalian ini gibah mulu, udah pergi kerja lagi!” ketus Ardia seraya menghampiri Lesti lalu mengelusnya.


“Mereka pada kenapa sih?” tanya Lesti.


“Mereka itu hanya iri sama lo, makannya begitu.” Ardia terdiam memandangi Lesti. “Mending lo jawab pertanyaan gue, lo pilih mana Putra atau si fotografer itu?” tanya Ardia.


Lesti mengembuskan napas pelan. “Gue serahin semuanya pada Yang Di Atas. Gue gak tau, gue cuma ngejalanin apa yang terjadi.”


Lesti beranjak menghampiri Billar dan menanyakan pesanannya, karena yang lainnya malah pergi ke belakang. Entah untuk istirahat sejenak atau melanjutkan hobi mereka, gibah. Dulu Lesti sempat masuk ke topik gibah mereka karena sering berantem sama Putra dan di antar jemput Raziq. Mereka selalu menyindirnya, apalagi posisinya selalu dipuji sama pak Ghifar, bisa-bisa gibahan mereka berubah menjadi sebuah novel tebal.


“Bisa gak kalo lagi kerja profesional. Lo harus bedain waktu sama teman dan waktu lo kerja,” ucap Billar.


Cekatan Lesti mengubah gelagatnya, dan berusaha tersenyum kepadanya. “Permisi, mau pesan apa, biar saya catat pesanan Bapak?”


“Saya mau pesan dua potong roti keju, dengan dua kopi hangat capucino,” balas Billar seraya tersenyum manis kepada Lesti.


“Baik. Di makan di sini atau dibungkus?”


“Di sini aja.”


“Mohon maaf, memesan dua roti dan dua kopi, kalo boleh tahu satu lagi buat siapa?”


“Buat kamu. Malam ini aku butuh kamu,” balas Billar dengan senyum menawan dan tatapan memesonanya.


“Ya ampun Bapak ini suka gombal, tapi, mohon maaf saya sudah kenyang,” jawab Lesti seraya mendelik.


“Gue gak gombal, tapi gue serius. Lo harus nemenin gue makan di sini,” timpal Billar kembali ke logat biasanya.


“Gue juga serius, kalo gue udah kenyang.” Tanpa menunggu Billar merespons, Lesti sudah berbalik badan meninggalkan Billar yang cekikikan. Ingin sekali Lesti melayangkan buku pesanannya, gara-gara dirinya mengajak makan sore tadi teman-temannya jadi menyindir dan membicarakannya.


Ketika Lesti hendak menyiapkan pesanan Billar, ponselnya bergetar berkali-kali. Lesti merogoh saku celananya dan mengecek notifikasi ponselnya. Ah, dari aplikasi Instagram. Seseorang ingin mengirimkan pesan kepadanya.

__ADS_1


@ayu_liyan


Halo wanita munafik!


Lagi kerja, ya? Hahaha


Lesti terkejut bukan main, tiba-tiba saja mendapatkan pesan yang menusuk dari orang yang entah siapa. Cekatan, Lesti mengecek akun yang melayangkan pesan ini. Pengikutnya baru sepuluh orang, dan postingannya berupa curahan hatinya tentang orang munafik.


Gue mau cerita tentang teman cewek gue yang ternyata munafik. Ternyata, hijab yang dia kenakan enggak bisa menutup kemunafikannya. Jijik!


Lesti menarik napas dalam-dalam, apakah postingan ini ditujukan untuknya. Kalau iya, siapa orang dibalik akun ini. Ayu? Lesti mengingat-ingat tentang sepenggal nama ini. Apakah ini temannya, atau orang iseng? Dulu Lesti memang mempunyai teman bernama Ayu, tapi, masa iya dia melakukan ini.


“Kenapa, Ti?” kejut Putra dari sampingnya.


Kedua mata Lesti mengerjap, dan langsung memasukkan ponselnya ke saku. Ia kembali fokus terhadap pesanan Billar dengan hati terus berharap agar apa yang baru saja terjadi hanya orang yang nyasar.


“Enggak kok Put,” balas Lesti.


O0O


Lesti telah bersiap-siap untuk pulang, yang lainnya telah beranjak duluan tersisa dirinya, Lesti dan Ardia. Mereka masih sibuk membereskan barang-barangnya, mengemas barang-barang restoran yang masih bergeming bukan ditempatnya.


“Ti, Put, gue duluan ya. Ojek pesanan gue udah datang,” pamit Ardia.


“Hati-hati!” seru Lesti.


Akhirnya beres. Putra mengajak Lesti untuk duduk di kursi yang membeku di luar restoran. Putra mengawali percakapan dengan berbasa-basi, tak tentu topik. Hingga ketika senyum keduanya surut, Putra mengubah ekspresinya menjadi serius.


“Ti, aku mau bicara serius sama kamu,” ucap Putra. Berkat keheningan yang terjadi, suara Putra terdengar begitu lugas dan membuat Lesti menoleh kepadanya.


“Apa?”


“Rasa itu bisa hadir tiba-tiba, kan? Entah suka, duka, kecewa, atau pun cinta.” Putra menjeda sejenak, dan Lesti kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan yang sekarang sepi. “Aku ingin mengungkapkan rasa yang hadir itu ... cinta. Aku mencintaimu, Lesti.”


Dada Lesti menggebu keras, mendengar sebongkah kalimat akhir yang Putra ungkapkan. Dari awal Putra mengajaknya untuk berbicara secara empat mata, Lesti sudah bisa merasakan aura yang berbeda pada diri Putra.


Lesti menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia bingung harus menjawab apa, mulutnya mendadak kelu. Satu harapan yang timbul pada diri Lesti malam ini hanya satu, hilangkan saja dirinya dari hadapan Putra. Hanya itu. Namun, hal itu tidak akan pernah terjadi. Lesti ditakdirkan untuk mendengar hal ini dari mulut tulus Putra.


“Sejak kita ditetapkan untuk kerja di sini, aku sudah merasakan cinta untukmu. Tapi, aku sadar kamu sudah dimiliki, maka selama itu aku memendamnya. Aku sangat mencintaimu, Lesti,” terang Putra.


Sebisa mungkin Lesti menoleh ke arah Putra. “Put, a-aku bu-butuh waktu untuk ini. Maaf.” Berat sekali Lesti mengucapkan ini. Lesti takut responsnya ini menyakiti perasaan Putra. Lesti memang meminta agar mempermudah jalan bagi siapa saja jodohnya, tapi, entah kenapa dadanya berdetak seperti ini dan mulutnya berkata demikian. Lesti hanya ingin kembali mengadu kepada Tuhan, apakah ini jawabannya? Apakah Putra, seseorang yang kelak akan menjadi imamnya?


Ya Allah, berikan hamba jawaban untuk kebingungan yang menyelimuti hamba ini.


...O0O...

__ADS_1


__ADS_2